
Setelah sampai di rumah Ana, mereka berempat pun turun dari motornya dan diam di depan teras rumah Ana.
"Masuk aja kedalem, nanti kedinginan kalau diluar" ucap Ana.
"Tapi baju kita basah, Na" ucap Clara.
"Gak apa-apa, yaudah ayo masuk" ucap Ana.
Akhirnya mereka pun segera masuk kedalam rumah.
"Na, gue ikut mandi ya" ucap Clara.
"Oh iya, mandi nya di kamar gue aja, Ra" ucap Ana.
"Na, ada kamar mandi lagi gak? gue mau mandi" tanya Gilang.
"Ada, disamping dapur" ucap Ana.
"Luh bawa baju, Lang?" tanya Lino.
"Bawa, kan tadi habis dari rumah Clara kita langsung ke rumah gue terus kesini deh" ucap Gilang.
"Yaudah, gue ke toilet dulu ya" ucap Gilang sambil meninggalkan kita berdua.
"No, luh gak bawa baju ganti?" tanya Ana.
"Enggak lah, kan tadi gue langsung kesini" kata Lino.
"Mau pake baju gue gak?" tanya Ana.
"Gak! masa gue pake baju cewek" ucap Lino.
"Gue ada kok jaket unisex" ucap Ana.
"Dari pada luh kedinginan kan" ucap Ana lagi.
"Terus kalau celananya gimana?" tanya Lino.
Ana pun berpikir sejenak.
"Pake celana olahraga gue aja" ucap Ana.
"Emang bakal cukup?" tanya Lino.
"Kayaknya sih cukup, soalnya di gue celananya kebesaran" ucap Ana.
"Yaudah, gue pinjem" ucap Lino.
"Bentar, gue ambilin dulu" ucap Ana.
Ana pun segera mengambilkan pakaian untuk Lino.
Setelah mengambil pakaian tersebut, ia pun kembali ke ruang tamu untuk menghampiri Lino.
"Nih" ucap Ana sambil memberikan pakaiannya kepada Lino.
"Makasih" ucap Lino
"Iya, sama-sama" ucap Ana.
"Nanti luh mandinya udah Gilang ya" ucap Ana.
"Iya" ucap Lino.
Clara pun menghampiri Ana dan Lino.
"Udah mandinya?" tanya Ana.
"Udah" ucap Clara.
"Yaudah, gue mau mandi dulu ya" ucap Ana sambil pergi ke kamarnya.
Gilang pun sudah selesai mandi, dan ia pun langsung pergi ke ruang tamu.
"Luh bawa baju, No?" tanya Gilang.
"Gak, ini punya Ana" ucap Lino.
"Emang cukup?" tanya Clara.
"Gak tahu, yaudah gue mandi dulu ya" ucap Lino.
Lino pun segera menuju ke toilet samping dapur.
Setelah Ana dan Lino selesai mandi, mereka pun langsung menuju ke ruang tamu.
"No, kok luh jadi aneh sih kalau pake pakaian gitu" ucap Gilang sambil tertawa.
"Aneh, gimana?" tanya Lino.
"Aneh aja, kayak bukan style luh banget" ucap Gilang sambil menahan tawanya.
"Gak apa-apa, dari pada Lino kedinginan" ucap Ana
"Oh iya, kalian lapar gak?" tanya Ana.
"Lapar banget!" ucap Clara dan Gilang bersamaan.
"Yaudah, gue buatin mie instan ya" ucap Ana.
"Mau gue bantu gak?" tanya Lino.
"Boleh" ucap Ana.
"Oh iya, kalian mau mie kuah atau goreng?" tanya Ana.
"Mie kuah" ucap Gilang.
"Kalau gue, mie goreng" ucap Clara.
"Oke, tunggu ya!" ucap Ana.
Ana dan Lino pun segera ke dapur untuk membuat mie instan.
"No, maaf tuangin bumbunya ke mangkuk" ucap Ana.
"Oke" ucap Lino.
"Pake" sahut Clara dan Gilang yang berada di ruang tamu.
Ana pun langsung memotong sayuran tersebut.
"Aww" ringis Ana.
Lino pun langsung menoleh kearah Ana.
"Kenapa?" tanya Lino.
"Kegores pisau" ucap Ana.
"Ada p3k gak?" tanya Lino.
"Gak usah, No! lagian cuma kegores doang kok" ucap Ana.
"Setidaknya pake plester" ucap Lino.
"Dimana kotak p3k nya? Biar gue yang ambil" ucap Lino.
"Dibawah meja ruang tamu" ucap Ana.
Lino pun segera menuju ke ruang tamu untuk mengambil plester.
"Nyari apa, No?" tanya Gilang.
"Plester" jawab Lino.
"Buat apa?" tanya Clara.
"Buat Ana, tadi tangannya kegores pisau" ucap Lino.
"Perhatian banget" ucap Clara sambil tersenyum.
Lino pun tidak menanggapi ucapan Clara, dan ia pun segera kembali ke dapur untuk memberikan plester kepada Ana.
"Nih" ucap Lino sambil memberikan plester kepada Ana.
"Makasih" ucap Ana.
Ana pun langsung memakaikan plester pada jarinya yang tergores.
"Oh iya, ayo bantu gue bawa mie nya ke ruang tamu" ucap Ana.
Lino pun membantu Ana untuk membawa mangkuk berisi mie instan tersebut.
"Nih guys!" ucap Ana.
Ana, Lino, Clara dan Gilang pun segera memakan mie tersebut sambil mengobrol santai.
"Wah! enak banget kelihatannya" ucap Gilang.
"Udah lama gue gak makan mie" ucap Clara.
"Emang terakhir makan mie kapan?" tanya Ana.
"Dua Minggu yang lalu, soalnya waktu itu gue diet mulu" ucap Clara.
"Kenapa sih cewek tuh suka diet? padahal kan badan mereka udah kurus" ucap Gilang.
"Ya, karena mereka merasa gendut" ucap Ana.
"Gendut dari mana, orang kurus gitu" ucap Gilang.
"Menurut gue nih, dengan luh diet berarti luh udah gak mencintai diri sendiri" ucap Gilang lagi.
"Apa hubungannya?" tanya Ana.
"Ya, karena luh gak bisa makan bebas. Dan itu berarti menyiksa diri luh sendiri" ucap Gilang.
"Gue setuju, lagian emang kalau gendut kenapa? kan kecantikan seseorang tidak dilihat dari berat badan" ucap Lino.
"Ra, biasanya cowok cuma ngomong doang. Iya, gak?" tanya Ana kepada Clara.
"Iya bener, kalau nanti ceweknya gendut pasti dia selingkuh sama cewek yang langsing" ucap Clara.
"Gue ngomong apa adanya kok" ucap Lino dengan serius.
"Bohong sekali" ucap Ana.
"Jaman sekarang nyari pasangan tuh dilihat dari kenyamanan bukan dari fisik. Karena fisik bisa berubah" jelas Lino.
"Kata-kata luh bagus juga tuh kalau dijadiin caption Instagram" sahut Gilang.
"Definisi nyaman menurut kalian gimana?" tanya Ana.
"Menurut gue sih definisi nyaman tuh ketika luh bisa cerita tentang hal sekecil apapun kepada seseorang" ucap Lino.
"Berarti gue nyaman dong sama kalian bertiga" ucap Ana.
"Bisa dibilang begitu" ucap Lino.
"Menurut luh, Ra?" tanya Ana kepada Clara.
"Definisi nyaman menurut gue itu ketika luh gak jaga image didepan seseorang dan gak malu kalau ngelakuin tingkah konyol didepan orang itu" ucap Clara.
"Kalau menurut luh" ucap Ana kepada Gilang.
"Gak tahu, gue gak bisa mendeskripsikan soalnya gue belum menemukan cewek yang buat gue nyaman" ucap Gilang.
"Kalau menurut luh, Na?" tanya Clara kepada Ana.
"Menurut gue, definisi nyaman itu ketika luh bisa cerita tentang masalah luh sambil menangis didepan orang itu" ucap Ana.
"Oh iya, No. Besok bawa ya gambarnya, gue mau ngewarnain nya di sekolah aja biar cepet tuntas tugasnya" kata Ana.
"Yaudah, besok gue bawa gambarnya" ucap Lino
"Oh iya, gue pamit pulang ya! soalnya udah mau malam" ujar Lino.
"Gue juga pamit ya" ujar Gilang.
"Iya, hati-hati ya pulangnya" ucap Ana dan Clara.
Lino dan Gilang pun segera pergi menuju rumahnya masing-masing.