ARLINO

ARLINO
Episode 261



Hari Jumat


"No, bangun!" teriak Alex.


Lino langsung membuka kedua matanya.


"Cepet mandi! habis itu baru makan" suruh Alex.


"Sekarang jam berapa, Lex?" tanya Lino.


"Jam 6" jawab Alex.


"Oh iya, No! luh udah bilang belum ke mamah luh kalau luh diusir?" tanya Alex.


"Gue gak bakal bilang, Lex" ucap Lino.


"Kenapa gak bilang?" tanya Alex.


"Tanpa gue bilang juga nanti mamah pasti tahu" ucap Lino.


Lalu Lino segera pergi menuju kamar mandi.


Skip


Setelah selesai mandi, Lino segera sarapan bersama Alex.


"Lex, luh gak sekolah?" tanya Lino.


"Gue udah keluar dari sekolah, No" ucap Alex.


"Kapan keluarnya?" tanya Lino.


"Satu Minggu yang lalu" ucap Alex.


"Luh kenapa keluar, Lex?" tanya Lino.


"Soalnya gue udah gak ada biaya buat sekolah" ucap Alex.


Lino langsung terdiam saat mendengar ucapan Alex.


"Luh gak usah sedih kayak gitu, No" ucap Alex saat melihat raut wajah Lino yang seperti kasihan kepada Alex.


Trining...trining


Lino melihat ke layar ponselnya dan ternyata ada panggilan telepon dari mamahnya.


"Siapa, No?" tanya Alex.


"Mamah" ucap Lino.


Lino segera mengangkat panggilan telepon tersebut.


"Hallo, mah" ucap Lino.


"No, kamu diusir ya sama papah?" tanya mamah.


"Iya, mah" ucap Lino.


"Kamu kenapa sih pake pergi dari rumah, lagian kan itu rumah kado ulang tahun buat kamu. Jadi kamu gak berhak pergi dari rumah itu" ucap mamah.


"Oh iya, kamu sekarang dimana?" tanya mamah.


"Lino di rumah temen, mah" ucap Lino padahal sebenarnya ia berada di basecamp miliknya.


"Ya udah kamu kirim ya alamatnya, sekarang mamah mau kesana" ucap mamah.


"Gak usah, mah. Soalnya bentar lagi Lino mau berangkat sekolah" ucap Lino.


"Kamu udah sarapan belum?" tanya mamah.


"Ini Lino lagi sarapan kok, mah" ucap Lino.


"Lagian papah ngapain sih pake jodoh-jodohin kamu segala. Mana cewek nya jelek lagi" ucap mamah.


"Lebih cantik juga Ana daripada anak temennya papah" ucap mamah.


Lino langsung tersenyum saat mendengar ucapan mamahnya.


"No, nanti pulang sekolah mamah jemput ya" ucap mamah.


"Gak usah, mah! soalnya Lino bawa mobil" ucap Lino.


"Ya udah kalau gitu habis kamu pulang sekolah, kita ketemuan ya" ucap mamah.


"Emang mamah mau ngapain ketemu Lino?" tanya Lino.


"Mamah mau ngembaliin kunci rumah kamu" ucap mamah.


"Kok kuncinya bisa ada di mamah" heran Lino.


"Iya soalnya kemarin papah ngasih tahu mamah soal kamu yang pergi dari rumah" jelas mamah.


"Terus mamah langsung marahin deh si papahnya. Enak aja dia marahin anak kesayangan mamah" ucap mamah.


"Mah, udah dulu ya teleponnya. Soalnya Lino lagi sarapan nih" ucap Lino.


"Oh ya udah. Makannya yang banyak ya" perintah mamah.


"Iya" ucap Lino.


Lalu Lino segera mematikan panggilan teleponnya.


"Kenapa, No?" tanya Alex.


"Itu mamah gue mau ngembaliin kunci rumah" ucap Lino.


"Pasti mamah sama papah luh berantem ya?" tanya Alex.


"Iya" ucap Lino.


...****...


Sesudah makan, Lino segera pergi menuju rumah Ana dengan mengendarai mobilnya.


Sesampainya di rumah Ana, Lino segera turun dan ia langsung menekan bel rumah Ana.


Tidak menunggu lama, Ana langsung menghampiri Lino.


"No, kamu udah sarapan belum?" tanya Ana.


"Udah" ucap Lino.


"Beneran?" tanya Ana memastikan.


"Iya udah kok" ucap Lino.


"Padahal aku udah bikin sarapan loh buat kamu" ucap Ana.


"Perhatian banget sih kamu" ucap Lino.


"Ya iyalah, kan aku khawatir sama kamu. Takutnya kamu belum makan" ucap Ana.


"Emang sarapannya apa?" tanya Lino.


"Sandwich" ucap Ana.


"Ya udah nanti pas istirahat aku makan deh sandwich nya" ucap Lino.


"Ya udah ayo berangkat" ucap Lino.


Lino dan Ana segera masuk kedalam mobil. Kemudian Lino segera melajukan mobilnya menuju sekolah.


Setelah sampai diparkiran sekolah, Ana dan Lino segera turun dari mobil.


Setelah itu, mereka berdua segera pergi menuju kelasnya.


* Kelas


"Na" panggil Lino.


"Iya ada apa?" tanya Ana.


"Lia sekolah gak?" tanya Lino.


"Enggak" ucap Ana.


"Emangnya kenapa?" tanya Ana.


"Aku duduk dikursi Lia ya" kata Lino.


"Oh ya udah" ucap Ana.


"Gak apa-apa kan?" tanya Lino.


"Iya gak apa-apa" ucap Ana.


Lino segera menyimpan tas nya di meja.


"Ya udah ayo ke lapangan" ajak Lino.


"Emang udah ada guru nya?" tanya Ana.


"Belum sih" ucap Lino.


"Terus kenapa ke lapangan kalau guru nya belum ada?" tanya Ana.


"Ya gak kenapa-napa, aku cuma mau kesana duluan aja" ucap Lino.


"Ya udah tunggu dulu, aku mau ambil ikat rambut dulu" ucap Ana sambil mengambil ikat rambut didalam tas nya.


"Ya udah ayo ke lapangan" ajak Ana.


Akhirnya mereka berdua segera pergi menuju lapangan.


* Lapangan


"Na" panggil Lino.


"Hmm?" ucap Ana.


"Aku lupa gak bawa Dora dan Dori" ucap Lino.


"Lah! terus gimana dong? pasti mereka kelaparan" ucap Ana.


"Iya pastinya" ucap Lino.


"Terus pas pulang sekolah kamu mau ke rumah kamu gak?" tanya Ana.


"Mau" ucap Lino.


"Terus kuncinya gimana? kan kuncinya ada sama papah kamu" ucap Ana.


"Kuncinya ada sama mamah aku, nanti pulang sekolah aku mau ketemu sama mamah buat ambil kunci rumah" jelas Lino.


"Gak apa-apa kan kita ketemu dulu sama mamah?" tanya Lino.


"Iya gak apa-apa, lagian masih untung aku dianterin pulang sama kamu" ucap Ana.


"Oh iya, No! kalau misalnya mamah aku beliin aku motor. Kamu mau gak ajarin aku belajar motor" ucap Ana.


"Gak mau ah!" ucap Lino sambil tersenyum.


"Harus dibayar dulu ya, baru mau ngajarin" ucap Ana.


"Iya, harus bayar dulu" ucap Lino.


"Bayarnya berapa?" tanya Ana.


"Bayarnya cuma pake kecupan aja" canda Lino.


"Ih Lino!" ucap Ana sambil mencubit tangan Lino.


"Bercanda, Na" ucap Lino sambil tertawa kecil.


"Tapi kalau dibayar pake itu juga gak apa-apa kok" ucap Lino sambil tersenyum.


"Gak mau ah!" tolak Ana.


"Emang kamu kenapa sih mau belajar motor?" tanya Lino.


"Aku pingin belajar motor supaya gak jadi beban kamu" ucap Ana.


"Soalnya kamu pasti capek bolak-balik nganter jemput aku" ucap Ana.


"Gak capek kok, lagian kan aku pake motor" ucap Lino.


"Ya tetep aja kamu pasti capek" ucap Ana.


"Enggak, sayang" ucap Lino sambil menatap wajah Ana.


"Udah jangan sambil lihatin aku" ucap Ana sambil menutup wajah Lino dengan tangannya.


"Merah tuh pipinya" ucap Lino sambil tersenyum.


"Enggak kok" ucap Ana sambil menahan senyumnya.


"Na, lihat deh" tunjuk Lino.


Ana langsung melihat kearah yang ditunjuk Lino.


Chup


Lino mencium pipi Ana sekilas. Kemudian ia segera lari karena takut Ana memukulnya.


"LINO!!!!" teriak Ana sedikit kesal.


Ana langsung melihat ke sekitar lapangan dan untung saja teman-teman sekelasnya belum ke lapangan.


Lalu Ana segera mengejar Lino dan mereka berdua berlari-lari mengelilingi lapangan basket.


"No, capek" ucap Ana sambil berjongkok.


"Ya udah jangan ngejar terus" teriak Lino dari jarak jauh.


Karena merasa pusing, Ana tidak melanjutkan mengejar Lino.


Lalu Lino langsung menghampiri Ana.


"Capek banget ya?" tanya Lino.


"Iya" ucap Ana.


"Oh iya, No! sekarang olahraga apa?" tanya Ana.


"Basket kali" ucap Lino.


"Tapi kok anak-anak kelas belum kesini ya" heran Ana.


"Apa mungkin olahraga sepakbola ya?" tanya Lino.


"Ya udah ayo ke lapangan sepak bola" ajak Ana.


Mereka berdua segera pergi menuju lapangan sepak bola.


Setelah sampai di lapangan sepak bola, ternyata guru dan teman-teman sekelasnya sedang melakukan pemanasan.


"Maaf, pak! kami telat" ucap Ana.


"Cepet push up 10 kali!" perintah pak Lukman.


"Pak, hukuman Ana biar saya aja yang tanggung" ucap Lino.


"Ya sudah cepat push up 20 kali!" perintah pak Lukman.


Lino segera menuruti perintah pak Lukman.


"Wah! gentleman banget Lino" ucap Clara.


"Lang! kalau kita berdua telat, kamu bakal ngelakuin hal yang sama gak?" tanya Felisa.


"Ya bakal lah" ucap Gilang.


...****...


Skip


Setelah selesai berolahraga, anak-anak kelas XII MIPA 4 segera beristirahat.


"No, makasih ya" ucap Ana.


"Makasih buat apa?" tanya Lino.


"Makasih udah mau nanggung hukuman aku" ucap Ana.


"Iya sama-sama" ucap Lino.


"Oh iya, No! sandwich buatan aku mau dimakan gak?" tanya Ana.


"Ya mau lah" ucap Lino.


"Ya udah kalau gitu kita beli minuman dulu ya, baru habis itu kita ke kelas" ucap Ana.


Ana dan Lino segera pergi menuju kantin. Setelah sampai di kantin, mereka berdua segera membeli air mineral.


"Na, air mineral nya jangan yang dingin" ucap Lino.


"Emang kenapa gak boleh yang dingin?" tanya Ana.


"Soalnya kan kamu habis olahraga, jadi jangan minum-minuman yang dingin" ucap Lino.


Ana segera menukar air mineral nya menjadi air mineral yang tidak dingin.


Setelah membayar air mineral tersebut, mereka berdua segera pergi menuju kelasnya.


* Kelas


Sesampainya di kelas, mereka berdua segera duduk di kursi.


Lalu Ana segera mengambil kotak makannya yang berisi sandwich.


"Ini" ucap Ana sambil memberikan satu sandwich kepada Lino.


"Makasih" ucap Lino.


"Iya sama-sama" ucap Ana.


Mereka berdua langsung memakan sandwich tersebut.


"No" bisik Ana.


"Kenapa?" tanya Lino.


"Dia kenapa?" tanya Ana sambil melihat kearah teman sekelas nya.


Sontak Lino langsung melihat kearah Zahra.


"Ra, luh kenapa?" tanya Lino.


"Gak kenapa-napa" ucap Zahra sambil mengelap air matanya.


"Oh iya, No! Bayu gimana kabarnya?" tanya Zahra.


"Dia baik-baik aja kok" ucap Lino.


"Sekarang dia sama siapa?" tanya Zahra.


"Maksudnya?" tanya Lino.


"Pacar dia siapa?" tanya Zahra.


"Gue gak tahu" ucap Lino.


"Luh kan sahabatnya, masa gak tahu sih" ucap Zahra.


"Emangnya luh kenapa nanya tentang pacarnya Bayu?" tanya Lino.


"Ya gue pingin tahu aja" ucap Zahra.


"Oh iya, luh sama Bayu tuh sempet jadian gak sih?" tanya Lino.


"Enggak, kita cuma sebatas pdkt doang" ucap Zahra.


"No, Bayu tuh yang kemarin ke rumah kamu ya?" tanya Ana.


"Iya" ucap Lino.


"Na, luh beneran hilang ingatan ya?" tanya Zahra.


Ana hanya mengangguk.


"Emang luh kenapa sih? kok bisa sampe gitu" ucap Zahra.


"Kepala gue dipukul pake balok kayu sama begal" ucap Ana.


"Ih ngeri banget" ucap Zahra.


"Terus begal nya ditangkap belum?" tanya Zahra.


"Udah" ucap Ana.


"Pantes aja luh lama banget sakitnya" ucap Zahra.


"Oh iya, Na! gue minta maaf ya karena gue waktu dulu julid banget ke luh" ucap Zahra.


"Julid?" bingung Ana.


"Iya, dulu gue suka julid ke luh gara-gara rumor-rumor luh" ucap Zahra.


"Rumor apa?" tanya Ana kebingungan.


"Rumor tentang-" ucap Zahra terpotong.


"Udah jangan dibahas, Ra!" sahut Lino.


"Rumor apa sih?" tanya Ana.


"Gak ada rumor tentang kamu kok" ucap Lino.


"Guys, gue keluar dulu ya" ucap Zahra karena suasana dikelas sedikit canggung.


Zahra buru-buru pergi keluar.


"Rumor apa sih, No?" tanya Ana.


"Gak ada rumor, Na" ucap Lino.


"Kamu pasti bohong ya? pasti ada kan rumor tentang aku" ucap Ana.


"Enggak ada, Na" ucap Lino.


"Jangan ngebohong, kalau ngebohong dosa loh" ucap Ana.


Lino hanya terdiam.


"Tuh kan, diam. Pasti yang diomongin sama Zahra itu bener" ucap Ana.


"Enggak" ucap Lino.


"Ya udah deh nanti aku tanyain sama temen-temen aku soal ini, biar tahu tentang yang sebenarnya" ucap Ana.


"Ya udah tanyain aja. Lagian pasti mereka bakal jawab gak ada rumor tentang kamu" ucap Lino.


Skip


Krining...krining


Bel masuk berbunyi.


Semua siswa dan siswi segera masuk ke kelasnya.


"Ra, Fel! gue mau nanya dong" ucap Ana sambil melihat kearah belakang.


"Mau nanya apa?" tanya Clara dan Felisa bersamaan.


"Gue mau nanya tentang rumor gue" ucap Ana.


"Rumor?" tanya Clara memastikan.


"Iya" ucap Ana.


Lino menatap tajam kearah Clara dan Felisa.


"Luh gak ada rumor kok, Na" ucap Clara.


"Serius?" tanya Ana.


"Iya serius. Iya kan, Fel?" ucap Clara.


Felisa hanya mengangguk mengiyakan ucapan Clara.


"Tapi kata Zahra katanya waktu dulu ada rumor tentang gue" ucap Ana.


"Iya emang ada" ucap Felisa.


Sontak Clara dan Lino langsung melihat kearah Felisa.


"Rumor tentang apa?" tanya Ana.


"Tentang luh sama Lino yang jadian" ucap Felisa.


"Tapi masa cuma gara-gara itu gue dijulidin Zahra" ucap Ana.


"Iya soalnya dulu Zahra pernah suka sama Lino. Makanya dia julid sama luh" ucap Felisa ngasal.


"Zahra pernah suka sama kamu?" tanya Ana.


"Iya" pasrah Lino padahal sebenarnya Zahra tidak menyukai Lino.


"Kamu pasti banyak disukai cewek ya, No" ucap Ana.


"Ya iyalah, Na! secara kan Lino kaya dan pastinya cewek-cewek pada suka sama Lino" ucap Felisa.


"Emang mereka suka nya karena Lino kaya ya?" tanya Ana.


"Bukan! mereka suka nya karena aku ganteng" ucap Lino.


"Idih! percaya diri banget luh" ucap Clara.


"Tapi Lino emang ganteng kok" ucap Ana.


"Gantengan juga Gilang" ucap Felisa.


"Enggak! gantengan Lino" ucap Ana.


"Gantengan Bobby lah" sahut Clara.


"Lagi bahas apa nih?" tanya Gilang yang penasaran dengan obrolan mereka.


"Ini loh kita lagi bahas tentang siapa yang paling ganteng" ucap Felisa.


"Ya jelas gue lah yang paling ganteng" ucap Gilang.


"Ih enggak!" ucap Ana dan Clara bersamaan.


"Ada guru woy!" ucap Ryan sambil duduk di kursinya.


Gilang buru-buru duduk dikursinya.


...****...


Pulang sekolah


Ana dan Lino segera berjalan menuju parkiran sekolah.


"No, mamah kamu nunggu dimana?" tanya Ana.


"Di cafe Kenanga" jawab Lino.


"Katanya dia pingin ngobrol-ngobrol dulu sama aku dan kamu" ucap Lino.


"Mau ngobrol apa?" tanya Ana.


"Aku gak tahu" ucap Lino.


"No, aku jadi deg-degan deh" ucap Ana.


"Deg-degan kenapa?" tanya Lino.


"Soalnya aku malu ketemu sama mamah kamu" ucap Ana.


"Kenapa mesti malu? lagian kan kamu pernah ketemu sama mamah aku, bahkan kita pernah makan di rumah orang tua aku" ucap Lino.


"Aku pernah makan bareng sama orang tua kamu?" tanya Ana.


"Iya pernah" ucap Lino.


"Orang tua kamu setuju gak kalau aku pacaran sama kamu?" tanya Ana.


"Kalau mamah sih setuju, tapi kalau papah enggak" ucap Lino.


"Tapi kamu tenang aja, lama-kelamaan pasti papah bakal setuju kok" ucap Lino.


"Tahu dari mana?" tanya Ana.


"Feeling aja sih. Soalnya kan kamu anak baik-baik, jadi pasti nanti papah bakal restuin hubungan kita kok" ucap Lino.


Setelah sampai di parkiran sekolah, mereka berdua segera masuk kedalam mobil.


Lalu Lino segera melajukan mobilnya menuju cafe Kenanga.


* Cafe Kenanga


Sesampainya di cafe, Ana dan Lino segera turun dari mobil. Setelah itu, mereka segera masuk kedalam cafe tersebut.


"Mamah kamu mana?" tanya Ana.


"Itu" tunjuk Lino.


"Ya udah ayo kesana" ajak Lino.


Lino dan Ana segera berjalan menghampiri mamahnya.


"Mah" panggil Lino.


"Eh ayo duduk" suruh mamah.


"Tante" sapa Ana sambil salam kepada mamahnya Lino.


"Makin cantik aja kamu" ucap mamah Lino.


"Makasih, tante. Tante juga cantik banget" ucap Ana.


"Bisa aja kamu" ucap mamah Lino.


"Ya udah ayo duduk" ucap mamah.


Lino dan Ana segera duduk.


"Na, kamu baik-baik aja kan?" tanya mamah Lino.


"Ana baik-baik aja kok, tante" ucap Ana.


"Makasih ya waktu itu udah nolongin anak tante" ucap mamah Lino.


"Gak usah berterima kasih, tante" ucap Ana.


"Ya harus berterima kasih dong, kan kamu udah nolongin Lino" ucap mamah.


"Oh iya, kalian mau pesan apa?" tanya mamah.


"Lino mau ice americano aja deh" ucap Lino.


"Kalau kamu mau apa, Na?" tanya mamah Lino.


"Ana samain aja deh kayak Lino" ucap Ana.


"Kamu kan gak suka ice americano, Na" ucap Lino.


"Aku suka kok" ucap Ana.


"Mas" panggil mamah Lino kepada pelayan cafe.


Pelayan cafe tersebut segera menghampiri mereka.


"Mau pesan apa, bu?" tanya pelayan cafe.


"Pesan tiga ice americano" ucap


"Oke tunggu sebentar ya" ucap pelayan cafe.


Lalu ia pelayan cafe tersebut segera pergi.


"Mah, kunci rumah Lino mana?" tanya Lino.


"Oh iya mamah lupa" ucap mamah Lino sambil membuka tas nya.


"Ini kuncinya" ucap mamah sambil memberikan kunci tersebut kepada Lino.


"Makasih, mah" ucap Lino sambil mengambil kunci tersebut.


"Iya sama-sama" ucap mamah.


"Na, kamu kenapa sih lihatin tante mulu?" tanya mamah Lino.


"Soalnya tante cantik banget" ucap Ana.


"Cantikan juga kamu, Na. Iya kan, No?" tanya mamah.


"Iya, cantikan Ana" ucap Lino sambil tersenyum kepada Ana.