
Skip
Pulang sekolah
"Nay, kayaknya gue gak bisa main ke rumah luh deh" ucap Ana.
"Loh kenapa? kan kita sekalian mau ngerayain jadian luh sama kakak gue" ucap Naya.
"Udah, Na! ikut aja" ucap Felisa.
"Ana!!!" teriak Bagas sambil melajukan motornya menuju Ana dan teman-temannya.
"Ayo naik! aku anter kamu pulang" ucap Bagas.
"Kak, anter Ana ke rumah kita aja soalnya kita mau main" ucap Naya.
"Oh yaudah" ucap Bagas.
"Ayo naik!" perintah Bagas.
Akhirnya Ana pun segera menaiki motor Bagas.
Sedangkan Clara dan Felisa naik mobil yang dikendarai oleh Naya.
Setelah sampai di rumah, Ana dan Bagas pun segera turun dari motor. Lalu mereka berdua pun segera masuk kedalam rumah.
"Duduk dulu, Na" ucap Bagas.
Ana pun langsung menuruti perkataan Bagas.
"Bentar ya, aku mau ganti baju dulu" ucap Bagas.
"Iya" ucap Ana.
Bagas pun segera pergi menuju kamarnya untuk berganti baju.
Tok...tok
Ana pun segera membuka pintu rumah Naya dan Bagas.
Cklek
"Non Naya nya ada?" tanya wanita paruh baya itu.
"Naya nya belum datang, tapi Bagas ada kok didalem" ucap Ana.
"Jadi gini, saya ditugaskan sama non Naya buat masak katanya bakal ada temen-temennya yang datang"
Tin...tin
Mobil Naya pun telah sampai, setelah itu mereka bertiga pun keluar dari mobil tersebut.
"Bi, langsung ke dapur aja" ucap Naya.
"Baik ,non"
Lalu pembantu itu pun segera pergi ke dapur untuk memasak makanan untuk mereka semua.
"Ya udah ayo masuk, kok malah diem" ucap Naya.
Akhirnya mereka semua pun masuk kedalam rumah Naya, setelah itu mereka pun langsung duduk di sofa.
"Guys, gue ganti baju dulu ya" ucap Naya.
"Iya" ucap Ana, Clara dan Felisa.
"Bagas mana?" tanya Felisa.
"Bagas lagi ganti baju" ucap Ana.
"Na, kok luh bisa jadian sama Bagas sih? padahal gue lihat, luh gak deket banget sama dia" ucap Felisa.
"Ekhem! luh ngomong apa sih. Udah jelas-jelas kita deket" ucap Bagas sambil duduk disebelah Ana.
"Iya gak, Na?" tanya Bagas sambil merangkul Ana.
"Iya" ucap Ana pasrah.
"Luh terpaksa kan nerima dia?" tanya Clara memastikan.
"Gue enggak terpaksa kok" ucap Ana berbohong.
"Luh apa-apaan sih nanya kayak gitu" kesal Bagas.
"Siapa tahu kan terpaksa" ucap Clara.
Ana pun merasa tidak nyaman sebab Bagas merangkulnya, akhirnya ia pun memutuskan untuk pergi ke toilet.
"Aku ikut ke toilet bentar ya" ucap Ana.
"Iya" ucap Bagas sambil melepaskan rangkulannya.
Ana pun segera pergi menuju toilet.
Trining...trining
Ana pun melihat kearah layar ponselnya, dan ternyata Raka meneleponnya.
"Hallo, Ka" ucap Ana pelan.
"Ana luh serius pacaran sama Bagas?" tanya Raka.
"Iya, emang kenapa?" tanya Ana.
"Kan bukannya luh bilang lebih baik gue jadian sama dia" ucap Ana lagi.
"Iya, gue emang ngomong gitu. Tapi gue kesel aja sama dia, masa gue gak boleh deket sama luh" ucap Raka.
"Luh nerima dia karena emang luh suka atau cuma pelampiasan aja karena ditolak Lino?" tanya Raka.
"Udah ah! gue mau berak nih" ucap Ana berbohong.
Ana pun segera mematikan ponselnya, dan ia pun segera menuju ruang tamu kembali.
Setelah sampai ruang tamu, Ana pun segera duduk disofa dekat Clara.
"Na, disini aja duduknya" ucap Naya yang berada disebelah Bagas.
Naya pun segera berdiri untuk berganti posisi dengan Ana, lalu dengan terpaksa Ana pun duduk disamping Bagas.
"Nih makanan nya" ucap asisten rumah tangga.
"Makasih, bi" ucap semuanya.
Lalu setelah menaruh makanan dimeja, pembantu itu pun segera kembali ke dapur untuk mengambil minuman untuk kita semua. Setelah mengambil minuman, pembantu itu pun segera menaruh minuman diatas meja. Lalu ia pun segera pergi lagi ke dapur.
Kemudian kita semua pun segera mencicipi masakan asisten rumah tangga itu.
"Sumpah enak banget ini makanannya" ucap Clara heboh.
"Iya bener, lebih enak ini daripada masakan mamah gue" ucap Felisa.
"Dasar anak laknat luh" ucap Bagas sambil tertawa.
"Gue kan ngomong jujur" ucap Felisa.
Semua pun langsung tertawa mendengar ucapan Felisa.
Trining...trining
Ana pun tidak mengangkat panggilan telepon tersebut karena panggilan telepon tersebut dari Raka.
"Kenapa gak diangkat?" tanya Bagas.
"Ini telepon dari Raka" ucap Ana.
"Ya udah angkat aja" ucap Bagas.
"Kok Bagas aneh sih, bukannya tadi dia gak ngebolehin gue deket sama cowok" batin Ana.
Ana pun segera mengangkat panggilan telepon dari Raka.
"Kenapa, Ka?" tanya Ana.
"Luh dimana? tadi mamah luh ke rumah gue nanyain luh" ucap Raka.
"Oh iya gue lupa gak ngasih tahu mamah dulu" ucap Ana.
"Emang luh dimana sekarang?" tanya Raka.
"Gue dirumahnya Naya" ucap Ana.
"Lagi sama Bagas?" tanya Raka.
"Iya, sama Clara dan Felisa juga" ucap Ana.
"Ya udah, gue mau chat mamah gue dulu ya" ucap Ana sambil mematikan panggilan teleponnya.
Lalu Ana pun segera mengirim pesan kepada mamahnya untuk mengatakan bahwa dia sedang berada di rumah temannya.
"Kenapa, Na?" tanya Bagas.
"Mamah tadi ke rumah Raka, terus nanyain aku dimana" ucap Ana.
"Orang tua luh strict parents banget ya kayaknya" ucap Felisa.
"Iya" ucap Ana.
"Orang tua luh tahu gak kalau luh sama Bagas pacaran?" tanya Clara.
"Tahu kok, malah gue nembak Ana dihadapan orang tuanya" ucap Bagas terus terang.
"Serius?" tanya Clara dan Felisa bersamaan.
"Ya iyalah" ucap Bagas.
"Kalau orang tua luh tahu kalau Bagas suka balapan gimana, Na?" tanya Clara kepada Ana.
"Luh tahu dari mana kalau gue suka ikut balapan?" tanya Bagas dengan serius.
Ana pun langsung menatap tajam kearah Clara.
"Gue tahu dari Naya, kan katanya luh suka balapan ngejar maling" ucap Clara.
"Maksud Clara itu ngeronda" ucap Ana.
"Emang luh suka ngeronda malam?" tanya Felisa.
"Iya" ucap Bagas berbohong.
"Kok gue gak yakin sih" ucap Felisa.
"Ya udah sih kalau gak percaya" ucap Bagas.
"Awalnya gue kira luh pacaran sama Lino, eh tahunya sama kakak gue" ucap Naya.
"Iya bener! deket nya sama siapa, jadian nya sama siapa" ucap Felisa.
"Si Lia kenapa gak diajak?" tanya Bagas.
"Biasalah dia sibuk belajar" ucap Naya.
"Ambis banget tuh anak" ucap Bagas.
"Bagus dong! dari pada luh, gak ada ambisi sama sekali" ucap Clara.
"Jangan salah, gue itu sebenarnya ambisius banget orangnya. Apa yang gue inginkan harus tercapai" ucap Bagas.