ARLINO

ARLINO
Episode 133



"No, ada apa sih?" tanya Clara.


"Kayaknya Naya nyuruh Ana buat ngejauhin kita deh" ucap Lino.


"Kayaknya sih iya, No" ucap Felisa.


"Tapi kenapa Ana mau ngelakuin perintah Naya?" tanya Clara.


"Mungkin dia diancam sama Naya" ucap Lino.


"Kira-kira Naya ngancem apa ya? kok sampe Ana mau nurutin perintah dia" ucap Felisa.


"Gue juga gak tahu" ucap Lino.


"Ya udah lebih baik sekarang kita pulang aja, nanti kita bahas lagi tentang hal ini" ucap Lino.


"Ya udah" ucap Clara dan Felisa bersamaan.


Lalu Clara dan Felisa segera pergi. Sedangkan Lino, ia segera pergi menuju rumah Raka untuk mengambil motornya.


...****...


"Ana, kamu kenapa sih? kok ngusir Lino sama temen-temen kamu" tanya mamah namun tidak dijawab oleh Ana.


"Mah" panggil Ana.


"Iya kenapa?" tanya mamah.


"Ana pingin pindah sekolah" ucap Ana.


"Masa pindah sekolah sih, kan bentar lagi kamu kelas dua belas" ucap mamah.


"Aku gak nyaman sekolah di SMA Tunas Bakti" ucap Ana.


"Emang gak nyaman kenapa? bukannya kamu seneng ya sekolah disana" ucap mamah.


"Apa kamu dibully ya sama temen-temen kamu?" tanya mamah.


"Enggak kok, cuma" ucap Ana.


"Cuma apa?" tanya mamah.


"Cuma Ana pingin pindah aja" ucap Ana.


...****...


Tok...tok...tok


"Nay, buka!" teriak Bagas.


"Mereka udah pada pergi" ucap Bagas.


"Cepet buka!" teriak Bagas.


Lalu Naya segera membuka pintu kamarnya.


"Apaan?" tanya Naya.


"Jadi luh beneran penguntit nya?" tanya Bagas.


"Kalau iya kenapa?" ucap Naya dengan nada tinggi.


"Luh kenapa ngelakuin itu?" tanya Bagas.


"KARENA GUE SUKA SAMA LINO!" ucap Naya sambil menangis.


"Kalau luh suka sama Lino, luh jangan nyelakain Ana!" bentak Bagas.


"Luh ngomong gitu karena luh gak ngerasain diposisi gue" ucap Naya.


"Dari dulu gue suka sama Lino tapi kenapa Lino selalu suka sama temen gue, kenapa enggak gue yang disukai Lino?" ucap Naya sambil menangis.


"Ya kalau gitu luh harusnya marah ke Lino nya, bukan ke Ana" ucap Bagas.


"Gue gak nyangka luh bakal sejahat itu sama sahabat luh sendiri" ucap Bagas.


"DIA BUKAN SAHABAT GUE!" ucap Naya.


"Luh ngomong gue jahat ke Ana? padahal luh sendiri juga jahat ke Ana sampe-sampe luh kasar ke Ana" ucap Naya.


"Kapan gue kasar sama Ana?" tanya Bagas.


"Jangan pura-pura bego deh luh, gue lihat sendiri kok kalau luh nampar Ana" ucap Naya.


"Gue nampar Ana karena gue sayang sama dia, lagian waktu itu dia deket-deket sama cowok lain makanya gue cemburu" jelas Bagas.


"Udah lah jangan sok paling baik luh" ucap Naya.


Lalu Naya langsung menutup dan mengunci pintunya.


Tingtong...tingtong


Bagas segera keluar rumahnya untuk menemui orang yang membunyikan bel.


Lalu ia segera membuka pagar rumahnya.


"Ada apa lagi?" tanya Bagas.


"Naya mana?" tanya Lino.


"Dia lagi di kamar" ucap Bagas.


"Emang kenapa lagi sih?" tanya Bagas.


"Naya ngancem Ana" ucap Lino.


"Ngancem apaan?" tanya Bagas.


"Gue juga gak tahu, tapi yang pasti dia ngancem Ana sampe-sampe Ana gak mau ketemu gue sama temen-temennya" ucap Lino.


Bagas langsung membuang nafasnya dengan kasar.


"Terus luh kesini mau marahin Naya lagi atau mau nampar dia lagi?" tanya Bagas.


"Gue cuma mau nasehatin dia supaya jangan ngancem Ana" ucap Lino.


"Gue boleh ketemu Naya gak?" tanya Lino.


"Boleh, tapi gue gak yakin kalau Naya bakal keluar soalnya tadi dia ngunci pintu kamarnya" ucap Bagas.


"Oh iya, tadi Naya emang ngomong ke gue kalau dia emang yang nguntit Ana" ucap Bagas.


"Ya udah kalau gitu gue boleh masuk gak?" tanya Lino.


"Ya udah masuk aja" ucap Bagas.


Lalu mereka segera masuk kedalam.


Setelah itu, Lino dan Bagas segera menuju kamar Naya.


"Nay, buka! Lino mau ketemu luh" ucap Bagas sambil mengetuk pintu kamar Naya.


"Cepet, buka! atau mau gue laporin ke mamah kalau luh nyelakain Ana" ancam Bagas.


Cklek


Kemudian Naya segera membuka pintu kamarnya.


"Gue gak ngancem apa-apa kok" ucap Naya.


"Luh gak usah bohong! gue tahu kok, luh ngancem Ana" ucap Lino.


Kemudian Bagas segera masuk kedalam kamar Naya dan ia langsung mengambil ponsel Naya.


"Jangan ambil handphone gue" ucap Naya sedikit kesal.


"Password nya apa?" tanya Bagas.


"Ih siniin!" kesal Naya yang berusaha mengambil ponselnya.


"No, ulang tahun luh kapan?" tanya Bagas.


"22 Januari" ucap Lino.


Lalu Bagas segera memasukan password di ponsel Naya dan ternyata tebakannya benar bahwa password Naya adalah tanggal dan bulan ulang tahun Lino.


"Bagas!!!" kesal Naya.


"No, pegangin tangan Naya" perintah Bagas.


Lalu Lino segera menuruti perintah Bagas.


Kemudian Bagas segera membuka isi chat Naya bersama Ana.


Sontak Bagas langsung terdiam karena tidak menyangka terhadap perbuatan Naya.


"Nay, luh jahat banget jadi orang" ucap Bagas.


"Kenapa, Gas?" tanya Lino.


"Lihat sendiri deh, No" ucap Bagas sambil memberikan ponsel milik Naya.


Lalu Lino segera mengambil ponsel tersebut dan ia langsung membaca isi chat nya.


"Cepet hapus videonya!" murka Lino.


"Gak mau" ucap Naya.


"Mana videonya?" tanya Lino.


Naya pun hanya terdiam.


"Nay, hapus sekarang cepet! kalau enggak, gue bakal laporin ke mamah sama ke papah" ancam Bagas.


Lalu Bagas langsung menelpon mamah Naya.


"Mah" ucap Bagas.


"Iya, kenapa?" tanya mamah Naya.


"Gas, jangan please!" mohon Naya.


"Ya udah cepet hapus" bentak Bagas.


"Iya, gue bakal hapus videonya" ucap Naya.


"Bagas, kamu berantem ya sama Naya?" tanya mamah.


"Enggak kok, mah" ucap Bagas.


"Ya udah mah, Bagas tutup dulunya teleponnya" ucap Bagas.


Lalu Bagas langsung mematikan panggilan teleponnya.


"Cepet hapus!" ucap Lino.


Lalu Naya segera mengambil laptopnya dan ia langsung menghapus video tersebut.


"Kalau luh nyelakain Ana lagi, gue bakal laporin luh ke polisi" ucap Lino.


Lalu Lino segera pergi.


"Nay, luh apa-apaan sih! itu udah termasuk kriminal tahu gak" ucap Bagas.


Kemudian Bagas pun segera pergi.


Lalu Naya segera menyusul Bagas.


"Gas" panggil Naya sambil memegang tangan Bagas.


Lalu Bagas langsung menghempaskan tangan Naya.


"Jangan laporin masalah ini ke mamah ya" mohon Naya sambil berlutut didepan Bagas.


"Gue gak bakal laporin, kalau luh nya minta maaf ke Ana" ucap Bagas.


"Iya nanti gue bakal minta maaf ke dia" ucap Naya.


"Awas aja ya kalau luh ngelakuin hal itu lagi" ucap Bagas.


"Iya, gue janji gak akan kayak gitu lagi" ucap Naya.


Kemudian Bagas langsung menarik tangan Naya agar Naya berdiri.


"Kalau soal Acha? apa luh juga yang nyelakain dia?" tanya Bagas.


"Enggak, gue gak nyelakain dia" ucap Naya.


"Serius luh?" tanya Bagas.


"Iya gue serius, gue gak nabrak Acha" ucap Naya.


"Mana berani gue nabrak orang" ucap Naya lagi.


"Ya udah cepet luh minta maaf ke Ana" ucap Bagas.


"Iya nanti gue bakal minta maaf kok ke Ana" ucap Naya.


"Sekarang aja minta maaf nya" suruh Bagas.


Lalu Naya segera menelepon Ana.


"Loud speaker cepet!" perintah Bagas.


Kemudian Ana pun menjawab telepon dari Naya.


"Hallo, Nay" lirih Ana.


"Na, gue udah hapus video luh" ucap Naya.


"Beneran, Nay?" tanya Ana.


"Iya" ucap Naya.


"Makasih ya, Nay" lirih Ana.


"Gue minta maaf ya" ucap Naya.


"Iya, gue maafin kok" ucap Ana.


Lalu Naya segera mematikan panggilan teleponnya.