
"Na, lebih baik kita ke tempat lain aja yuk! bosen kalau disini mulu" ucap Lino.
"Mau kemana?" tanya Ana.
"Pokoknya luh ikut gue aja" ucap Lino sambil berdiri.
"Ayo" ucap Lino sambil mengulurkan tangannya.
Ana pun segera memegang tangan Lino lalu ia pun berdiri.
Lalu mereka pun segera pergi dengan mengendarai motor.
"Mau kemana sih, No?" tanya Ana.
"Nanti juga luh bakal tahu" ucap Lino sambil menahan tawanya.
Skip
Setelah sampai, Lino pun segera memberhentikan motornya.
Lalu Lino dan Ana pun segera turun dari motor.
"Mau kemana sih?" tanya Ana.
"Na, luh tutup mata deh" ucap Lino.
"Kenapa gue harus tutup mata?" tanya Ana.
"Gue ada kejutan buat luh" ucap Lino sambil tersenyum.
"Kejutan buat gue?" tanya Ana memastikan.
"Iya" ucap Lino sambil menahan tawanya.
"Ya udah luh tutup mata dulu" perintah Lino.
Ana pun segera menuruti perintah Lino.
Lalu Lino pun memegang tangan Ana supaya tidak terjatuh. Lalu Lino pun segera membawa Ana masuk kedalam sebuah cat cafe.
"Na, buka matanya" ucap Lino.
Lalu Ana pun segera membuka matanya.
"Lino!!!" teriak Ana.
Lino pun langsung tertawa karena teriakan Ana.
"Ngapain bawa gue kesini" ucap Ana sambil bersembunyi dibelakang Lino.
"Biar luh gak takut sama kucing lagi" ucap Lino.
"Kalau kayak gini yang ada gue tambah takut" ucap Ana.
"Kalau luh mau trauma luh hilang, maka luh harus hadapi trauma itu" ucap Lino.
"Ya udah, lebih baik luh duduk dulu disana. Gue mau pesan minum dulu buat kita berdua" ucap Lino.
"Gue ikut" ucap Ana sambil memegang pergelangan tangan Lino.
"Ya udah" ucap Lino.
Akhirnya mereka berdua pun segera memesan minuman.
Setelah itu mereka pun duduk dikursi yang telah disediakan.
"Luh beneran takut atau pura-pura takut sih?" tanya Lino.
"Sebenernya gue tuh gak takut, tapi kalau kucing nya nyamperin, gue nya jadi takut" jelas Ana.
"Luh persis banget sama Acha" ucap Lino.
"Hah?" bingung Ana.
"Acha juga awalnya takut kucing, tapi lama kelamaan dia jadi suka kucing deh" ucap Lino.
"Luh yakin bakal pulang malam?" tanya Lino tiba-tiba.
Ana pun hanya mengangguk mengiyakan ucapan Lino.
"No, itu kucing nya nyamperin" ucap Ana.
Lalu Lino pun membawa kucing tersebut dan diletakkan pada pahanya.
"Lucu banget kucing nya" ucap Lino.
"Enggak ah biasa aja" ucap Ana.
"Gue gak nanya pendapat luh" ucap Lino.
"Fotoin gue sama kucing nya dong" ucap Lino.
"Jangan foto! nanti dori cemburu" ucap Ana.
"Dori atau luh yang cemburu?" tanya Lino.
"Ya dori lah" ucap Ana.
"Ya udah cepet fotoin" ucap Lino.
"Mana handphone nya?" tanya Ana.
"Pake handphone luh dulu, nanti luh kirim ke whatsapp gue" ucap Lino.
Akhirnya Ana pun segera memfoto Lino bersama kucing.
"Makasih" ucap Lino.
"Iya" kata Ana.
"Oh iya, ulang tahun luh kapan?" tanya Lino.
"Kenapa nanyain ulang tahun gue?" ucap Ana.
"Gue pingin tahu aja" ucap Lino.
"Kalau gue kasih tahu, luh bakal kasih kado gak?" tanya Ana.
"Gue bakal kasih kado kok" ucap Lino.
"Beneran?" tanya Ana memastikan.
"Iya, kadonya kucing" ucap Lino sambil tertawa kecil.
"Ih nyebelin banget" keluh Ana.
"Emang luh mau nya kado apa?" tanya Lino.
"Kok gak tahu sih" heran Lino.
"Habisnya gue bingung, soalnya baru kali ini gue ditanyain kayak gitu sama cowok" ucap Ana.
"Emang Raka gak pernah nanya kayak gitu?" tanya Lino.
"Enggak, dia langsung ngasih kado tanpa nanya dulu gue maunya apa" ucap Ana.
"Oh gitu" ucap Lino.
"No, kucingnya tidur" tunjuk Ana pada kucing yang berada diatas paha Lino.
"Pingin pegang boleh gak?" tanya Ana.
"Katanya takut" ucap Lino.
"Kan kucing nya tidur, jadi gue gak takut" kata Ana.
"Ya udah kalau mau pegang ya pegang aja" ucap Lino.
Lalu Ana pun segera menghampiri Lino dan ia pun berjongkok sambil mengelus kucing tersebut.
Kemudian Ana pun segera memotret kucing tersebut dengan menggunakan ponselnya. Bahkan Ana pun memotret dirinya bersama kucing yang sedang tidur dipaha Lino.
Setelah selesai berfoto, Ana pun langsung duduk kembali ke kursinya.
"Kenapa?" tanya Ana karena Lino melihat Ana sambil tersenyum.
"Gak apa-apa" ucap Lino.
"Udah dari sini kemana lagi?" tanya Ana.
"Ke hati gue mau gak?" tanya Lino.
Ana pun langsung tersipu malu saat Lino berkata seperti itu.
Lino pun langsung tersenyum karena melihat Ana yang tersipu malu.
"No, gue mau ke toilet dulu" ucap Ana sambil berlari kecil.
"Lucu banget sih" gumam Lino.
* Toilet
"Aduh gimana nih! gue deg-degan banget" batin Ana.
"Ana tenang Ana!" batin Ana.
Ana pun menarik nafas dalam-dalam dan langsung menghembuskannya.
Setelah itu ia pun segera pergi menghampiri Lino. Lalu ia pun segera duduk dikursinya.
"Ya udah yuk pergi!" ajak Lino.
Akhirnya mereka berdua pun segera pergi dari kafe tersebut.
"Mau kemana?" tanya Ana.
"Ke rumah gue" ucap Lino.
"Mau ngapain?" tanya Ana.
"Mau ngasih makan si dori" ucap Lino.
****
Setelah sampai di rumah Lino, mereka berdua pun segera turun dari motor.
Lalu Lino pun segera membuka pagar
rumahnya, setelah itu Lino pun langsung memasukan motornya ke garasi.
Setelah itu, Lino pun segera menghampiri Ana.
"Ayo masuk" ajak Lino.
Lalu Lino pun segera membuka pintu rumahnya.
Kemudian mereka berdua pun segera masuk kedalam rumah.
Lalu Ana pun segera duduk disofa ruang tamu.
"Bentar, gue mau ambilin minum sama snack dulu" ucap Lino sambil pergi menuju dapur.
Setelah mengambil minum dan snack, Lino pun segera menghampiri Ana.
"Nih" ucap Lino sambil menaruh jus kemasan dan beberapa snack.
"Luh tunggu disini ya, gue mau ngasih makan dori dulu" ucap Lino.
"Gue ikut" ucap Ana.
"Katanya takut" ucap Lino.
"Kan gue udah bilang, gue takut kalau kucing nya itu nyamperin gue, kalau dia gak nyamperin gue, gue gak bakal takut" ucap Ana.
"Ya udah ayo" ajak Lino.
Lalu mereka berdua pun segera pergi menuju taman kecil yang berada didalam rumah Lino.
"Dori" ucap Lino sambil menggendong kucing miliknya.
"Gendut banget si dori" ucap Ana.
"Heh gak boleh body shaming" ucap Lino sambil ketawa.
"Ya kan dia emang gendut" ucap Ana.
"Luh mau coba gendong gak?" tanya Lino.
"Enggak ah!" ucap Ana.
"Cobain dulu deh" ucap Lino.
"Gue takut" ucap Ana.
"Gak takut kok" ucap Lino.
"Cepet gendong" suruh Lino sambil memberikan kucingnya kepada Ana.
Akhirnya Ana pun memberanikan diri untuk menggendong kucing milik Lino.
"Gak takut kan?" tanya Lino.
"Iya enggak" ucap Ana.