
Tiga hari kemudian...
* Rumah sakit
"Ana" panggil mamah saat melihat jari tangan Ana bergerak.
"Dokter!" teriak mamah.
Pintu ruangan Ana dibuka.
"Ada apa, Bu?" tanya suster.
"Ana saya udah sadar" ucap mamah Ana.
"Tunggu sebentar ya, saya akan panggilkan dokter dulu" ucap suster sambil pergi keluar.
"Ana" panggil mamah.
"Akhirnya kamu sadar juga, Na" ucap mamah.
"Ibu siapa?" tanya Ana.
Mamah Ana terdiam sejenak.
"Mamah ini mamah kamu sayang" ucap mamah.
"Mamah?" ucap Ana.
"Iya, ini mamah kamu" ucap mamah.
Dokter dan suster datang ke ruangan Ana.
"Bu, saya periksa dulu Ana nya ya" ucap dokter.
Mamah Ana segera menjauh agar dokter dapat memeriksa Ana.
"Dok, kok anak saya gak inget saya ya" cemas mamah Ana.
"Mungkin karena cedera dikepalanya cukup parah, makanya dia jadi kehilangan ingatannya" ucap dokter.
...****...
* Sekolah
"No" panggil Clara.
Clara, Lia dan Felisa segera menghampiri Lino.
"Kenapa?" tanya Lino.
"Nanti pulang sekolah gue, Felisa sama Lia mau jenguk Ana. Luh mau ikut gak?" tanya Clara.
"Gue kan udah bilang kalau gue gak diijinin kesana sama papahnya Ana" ucap Lino.
"Nanti kalau ada papahnya Ana, luh ngumpet aja" ucap Felisa.
"Masa cuma gara-gara papahnya Ana ngomong gitu, luh jadi gak mau ketemu Ana" ucap Lia.
"Sebenernya gue pingin ketemu Ana, cuma gue merasa gak pantes aja gitu ketemu sama dia" ucap Lino.
"Gak pantes gimana maksud luh?" ucap Felisa.
"Ya gak pantes aja. Kan harusnya jadi cowok tuh gue ngelindungi dia, bukan malah dia yang ngelindungi gue" ucap Lino.
"No, sebagai pasangan tuh bukan hanya cowok yang harus lindungi cewek. Tapi sebagai pasangan tuh harus saling melindungi satu sama lain" ucap Clara.
"Tapi gue gagal ngelindungi Ana, Ra" ucap Lino.
"Setidaknya luh kan udah berjuang diawal buat ngelawan begal itu" ucap Clara.
"Ada apa nih ngumpul dibangku gue?" tanya Gilang.
"Ini kita lagi mau ngejenguk Ana, tapi Lino nya gak mau" ucap Felisa.
"Mana sih Lino yang dulu gue kenal? perasaan dulu luh gak takutan deh orangnya, tapi kok sekarang penakut banget. Masa cuma gara-gara papah Ana ngomong gitu, luh jadi takut sih" ucap Gilang.
"Gue bukan takut sama papahnya Ana, tapi gue ngerasa gak pantes buat datang kesana" ucap Lino.
Skip
Pulang sekolah
"No, ayo!" ajak Clara.
"Iya, No! ayo ke rumah sakit" ucap Felisa.
"Ayo" ucap Lia sambil menarik tangan Lino agar Lino ikut bersama mereka.
"Ya udah iya" ucap Lino sambil melepaskan tangan Lia.
"Lang, ayo berangkat!" ucap Felisa
"Ya udah ayo" ucap Gilang.
Mereka berlima segera pergi menuju rumah sakit untuk menjenguk Ana.
* Rumah Sakit
Setelah sampai, mereka berlima segera masuk kedalam rumah sakit.
"Raka" panggil Clara.
"Eh kalian kesini juga" ucap Raka.
"Iya" ucap Clara.
"Ana udah sadar belum, Ka?" tanya Lino.
"Dia udah sadar kok, tapi dia gak inget gue" ucap Raka.
"Maksud luh?" bingung Lino.
"Ana hilang ingatan. Mungkin karena cedera dikepalanya" ucap Raka.
"Didalem ada siapa, Ka?" tanya Lino.
"Cuma ada mamahnya Ana doang kok" ucap Raka.
"Tante" sapa Lino.
"Kamu kenapa baru kesini, No?" tanya mamah Ana.
"Maafin Lino, tante. Lino gak kesini karena Lino merasa bersalah sama Ana" ucap Lino.
"Kalau kamu merasa bersalah sama Ana, harusnya kamu nungguin dia sampe dia sadar" ucap mamah Ana sedikit kesal.
"Maafin Lino, tante" ucap Lino merasa bersalah.
"Dia siapa, mah?" tanya Ana.
"Dia temen kamu" ucap mamah.
Sontak Lino langsung melihat kearah mamahnya Ana. Kemudian Lino langsung menundukkan kepalanya.
Cklek
Pintu dibuka oleh Raka.
"Tante" panggil Raka.
"Iya kenapa, Ka?" tanya mamah Ana.
"Temen-temen Ana katanya pingin ngejenguk Ana" ucap Raka.
"Ngejenguk nya nanti aja waktu Ana udah pulang ke rumah, soalnya sekarang Ana masih butuh istirahat" ucap mamah Ana.
"Oh ya udah kalau gitu" ucap Raka.
Lalu Raka segera pergi keluar.
"No, lebih baik kamu pulang sana. Soalnya sekarang Ana masih butuh istirahat" ucap mamah Ana.
"Sebelum Lino pulang, Lino boleh ngomong sesuatu dulu gak sama Ana?" tanya Lino.
"Ya udah, tapi jangan lama-lama" ucap mamah Ana karena ia merasa kasihan sama Lino, tetapi disatu sisi ia juga kesal kepada Lino karena Lino baru menjenguk Ana lagi.
Lalu mamah Ana segera pergi keluar.
"Ana" panggil Lino sambil tersenyum.
Ana langsung melihat kearah Lino.
"Maafin aku ya" ucap Lino.
Ana hanya diam saja, karena ia tidak mengerti maksud ucapan Lino.
"Emang kamu salah apa?" bingung Ana.
"Salah aku yaitu aku gagal ngejagain kamu" ucap Lino.
"Maafin aku ya" ucap Lino sambil meneteskan air matanya.
"Kamu kenapa nangis?" tanya Ana.
"Soalnya aku kangen banget sama kamu, makanya aku jadi nangis" ucap Lino sambil mengusap air matanya.
"Ya udah kalau gitu aku pulang dulu ya" ucap Lino.
"Kamu harus banyak istirahat ya, supaya ingatan kamu kembali lagi" ucap Lino.
Ana hanya mengangguk mengiyakan ucapan Lino.
"Ya udah kalau gitu aku pulang dulu ya" ucap Lino.
Ana hanya mengangguk.
Lino segera keluar dari ruangan tersebut.
"Tante, Lino pulang dulu ya" ucap Lino sambil salam kepada mamahnya Ana.
"No, tante boleh minta tolong gak sama kamu?" tanya mamah Ana.
"Minta tolong apa, tante" ucap Lino.
"Kamu jangan bilang ke Ana bahwa kamu pacarnya" ucap mamah Ana.
Sontak teman-teman Ana langsung melihat kearah mamahnya Ana.
"Kenapa Lino gak boleh bilang bahwa Lino pacar Ana?" tanya Lino.
"Karena kalau dia tahu bahwa kamu pacarnya, pasti dia bakal sering main lagi sama kamu" ucap mamah Ana.
"Dan tante gak mau kalau kamu ajak Ana main lagi, soalnya tante takut kejadian kemarin terulang lagi" ucap mamah Ana.
"Lino gak bakal ajak Ana main lagi kok, tante" ucap Lino padahal sebenarnya Ana yang ingin pergi ke rumah Lino.
"Kalau gitu Lino pergi dulu ya, tante" ucap Lino.
"Iya" ucap mamah Ana.
Akhirnya Lino segera pergi.
"Tante, harusnya tante jangan gitu ke Lino" ucap Raka.
"Habisnya tante kesel sama dia, harusnya dia tuh nemenin Ana waktu Ana koma" ucap mamah Ana.
"Dia gak kesini mungkin karena gak diijinin sama om Hanif" ucap Raka.
"Walaupun gak diijinin sama papahnya Ana, harusnya dia datang kesini disaat papahnya Ana gak ada" ucap mamah Ana.
"Guys, pulang aja yuk!" bisik Lia.
"Ya udah ayo" bisik Clara.
"Tante, kita pulang dulu ya. Nanti kita jenguk Ana kok kalau Ana udah di rumah" ucap Clara.
"Oh ya udah, kalau gitu hati-hati ya pulangnya" ucap mamah Ana.
"Iya" ucap Clara.
Lalu Clara, Lia, Felisa dan Gilang segera pergi.