ARLINO

ARLINO
Episode 118



"Sejak kapan luh suka seblak?" tanya Gilang.


"Gue gak suka seblak kok" ucap Lino.


"Terus luh ngapain beli seblak?" tanya Gilang.


"Ya gue mau nyobain aja" ucap Lino.


"Itu seblak, No?" tanya Raka.


"Iya" ucap Lino.


"Kok kayak gak pake bumbu pedes sih" ucap Raka.


"Emang gak pake" ucap Lino.


"Terus ngapain luh beli seblak kalau gak pake pedes" ucap Raka.


"Suka-suka gue dong" ucap Lino.


"Kalian berdua mau nyobain gak?" tanya Ana kepada Raka dan Gilang.


"Enggak ah! pasti pedes banget" ucap Raka dan Gilang bersamaan.


"Oh iya, Na! tulisan-tulisan anak dikelas gue ada yang mirip gak sama tulisan penguntit itu?" tanya Raka.


"Gak ada" ucap Ana.


"Tulisan yang mirip sama tulisan penguntit itu ada dikelas gue" ucap Lino.


"Maksud luh penguntit itu ada di kelas Ana sendiri?" tanya Raka.


"Ada apa sih?" bingung Gilang.


"Itu loh tentang penguntit yang nguntit Ana" ucap Raka.


"Penguntit nya ada dikelas kita?" tanya Gilang.


"Gue gak tahu" ucap Ana.


"Katanya ada dikelas luh" ucap Raka.


"Guys! tulisan orang tuh kan pasti ada yang sama, makanya gue gak mau kalau gue tuh salah nuduh" ucap Ana.


"Emang tulisannya mirip sama tulisan siapa?" tanya Raka.


Saat Lino mau bicara, tiba-tiba Ana langsung menutup mulut Lino.


"No, jangan dikasih tahu! siapa tahu kan aku nya yang salah ngira, bisa jadi kan tulisan mereka emang mirip" ucap Ana.


"Kalau mirip ya berarti itu penguntitnya, Na" ucap Gilang.


"Siapa sih? gue kok jadi penasaran" ucap Raka.


"Apa jangan-jangan Bagas ya?" tanya Gilang memastikan.


"Bukan" ucap Ana.


"Terus siapa?" tanya Raka.


"Apa jangan-jangan tulisannya mirip sama tulisan gue lagi" ucap Gilang.


"Iya mirip tulisan luh, Lang" ucap Lino.


"Tapi gue bukan penguntitnya kok, sumpah deh" ucap Gilang.


"Kalau menurut luh bukan luh, terus kenapa luh mikirnya tulisan luh sama kayak tulisan penguntit itu" ucap Lino.


"Ya karena gue takut aja tulisannya mirip gue" ucap Gilang.


"Tulisannya gak mirip luh, Lang! soalnya tulisan luh jelek, sedangkan tulisan penguntit itu rapih banget" ucap Ana.


"Enak aja! tulisan gue bagus tahu" ucap Gilang.


"Iya bagus banget, saking bagusnya gak bisa kebaca" ucap Lino.


"Oh iya, No! malem mau ikut balapan gak?" tanya Gilang.


"Sama anak geng motor mana?" tanya Lino.


"Sama anak geng motor the boyz" ucap Gilang.


"Oke, nanti malam gue ikut" ucap Lino.


"No, aku ikut" ucap Ana.


"Jangan, Na! soalnya anak cowok semua" ucap Lino.


"Tapi nanti kamu gak bakal kenapa-napa kan?" tanya Ana.


"Gak kenapa-napa kok, kan cuma balapan doang" ucap Lino.


"Nanti balapannya jangan ngebut-ngebut ya" ucap Ana.


Lalu Lino, Raka dan Gilang pun langsung tertawa karena mendengar ucapan Ana.


"Na, yang namanya balapan tuh pasti ngebut lah" ucap Raka.


"Ya ampun ngakak banget" ucap Lino sambil tertawa.


"Bego nya natural banget si Ana" ucap Gilang sambil tertawa terbahak-bahak.


Lalu Ana pun langsung menatap tajam kearah Gilang.


"Habisnya aku kan takut kamu kenapa-napa" ucap Ana.


"Gak akan kenapa-napa kok, kamu tenang aja" ucap Lino.


"Janji ya gak bakal kenapa-napa" ucap Ana.


"Aku gak bisa janji, soalnya kan kita gak tahu nanti bakal gimana. Siapa tahu aku nanti jatuh atau ketabrak, kan kita gak tahu takdir kita kayak gimana" ucap Lino.


"Ih jangan ngomong gitu" ucap Ana.


"Sama Clara doang?" tanya Lino.


"Gak tahu sih, mungkin sama yang lain juga" ucap Ana.


"Kalau ada Naya lebih baik jangan ikut deh" ucap Lino.


"Emang kalau ada Naya kenapa, No?" tanya Gilang.


"Soalnya dia kan adiknya Bagas, jadi Lino gak mau gue deket-deket Naya. Soalnya takut gue nya jadi canggung" sahut Ana.


Sontak Lino pun langsung melihat kearah Ana.


"Iya kan, No?" ucap Ana sambil menatap Lino.


"Iya" ucap Lino.


"Na, seblaknya udah habis?" tanya Lino.


"Udah" ucap Ana.


"Ya udah sini, biar aku buang" ucap Lino.


Lalu Ana pun segera memberikan sterofoam bekas seblak kepada Lino.


Kemudian Lino pun segera mengambil sterofoam tersebut.


"Sekalian buang punya gue dong" ucap Raka.


"Sekalian punya gue juga" ucap Gilang.


"Buang aja sendiri" ucap Lino sambil pergi membuang sampah.


Setelah itu, Lino pun segera kembali menghampiri Ana.


"Ke kelas yuk!" ucap Lino.


"Udah disini aja, ngapain ke kelas. Lagian di kelas gak ada siapa-siapa" ucap Raka.


"Pengumuman...pengumuman! untuk seluruh siswa dan siswi SMA Tunas Bakti diharapkan pulang ke rumah masing-masing dikarenakan guru-guru sedang rapat" ucap seseorang melalui speaker.


"Ayo pulang" ucap Lino.


"Kalau tahu kayak gini, harusnya gue gak sekolah aja tadi" ucap Gilang.


"Ya udah ayo pulang" ucap Ana.


Lalu mereka berempat pun segera pergi menuju kelasnya masing-masing.


Setelah sampai dikelas, Ana pun segera mengambil tas nya.


"Mau pulang langsung atau mau main dulu?" tanya Lino.


"Mau main dulu" ucap Ana.


"Mau main kemana?" tanya Lino.


"Terserah kamu" ucap Ana.


"Terserah kamu aja, jangan terserah aku" ucap Lino.


"Jalan-jalan kemana aja deh" ucap Ana karena ia sangat bingung.


"Kalau jalan-jalan tuh harus ada tujuannya dong" ucap Lino.


"Habisnya aku bingung" ucap Ana.


"Ya udah deh, pulang aja" ucap Ana lagi.


"Gak mau jalan-jalan?" tanya Lino.


"Enggak, nanti aja jalan-jalannya" ucap Ana.


"Ya udah ayo" ucap Lino.


"Na" panggil Clara.


Lalu Clara, Felisa, Lia dan Naya pun segera menghampiri Ana.


"Kenapa?" tanya Ana.


"Jadi kan malem?" tanya Clara.


"Ke pasar malem?" tanya Ana memastikan.


"Iya lah" ucap Clara.


"Sama siapa aja?" tanya Ana.


"Sama Felisa dan Naya" ucap Clara.


"Lia gak ikut?" tanya Ana.


"Enggak, soalnya gue gak dibolehin sama orang tua gue" ucap Lia.


"Ana juga gak dibolehin" sahut Lino.


Sontak Clara, Naya, Lia dan Felisa pun langsung melihat kearah Lino.


"Kenapa luh semua ngelihatin gue?" tanya Lino.


"Gak dibolehin sama siapa?" tanya Felisa kepada Lino.


"Gak dibolehin sama gue" ucap Lino.


"Luh kok gitu sih, No! masa luh gak ngebolehin Ana main sih" ucap Clara.


"Gue bukan gak ngebolehin dia main, tapi gue khawatir aja sama dia soalnya kan malem hari tuh bahaya banget apalagi kan kalian cewek-cewek, masa mainnya malem" ucap Lino.


"Tapi kan kita berempat, jadi luh gak usah khawatir" ucap Clara.


"Pokoknya jangan!" kata Lino.