ARLINO

ARLINO
Episode 29



Setelah menyimpan pembalut, Ana pun segera kembali menghampiri Clara, Lino dan Raka.


Pada saat kembali ke ruang tamu, Ana pun melihat Raka yang sedang memakan snack yang telah dibeli oleh Ana.


"Raka!!!" teriak Ana.


"Kenapa?" bingung Raka.


"Itu kan snack punya Ana" kesal Ana.


"Gue minta" ucap Raka.


"Tapi jangan yang itu" kesal Ana.


"Emangnya kenapa?" tanya Raka.


"Itu snack favorit Ana" kata Ana.


"Yaudah nih" ucap Raka sambil memberikan snack itu pada Ana.


Ana pun mengambil snack itu dan melihat isinya, dan isinya cuma tinggal sedikit.


"Gak mau! ambil aja buat Raka" ucap Ana sambil mengembalikan snack itu pada Raka


"Jangan marah dong, nanti gue beliin lagi deh" ucap Raka.


"Gak usah! Ana bisa beli sendiri" sahut Ana.


"Biar gue aja yang beliin" ujar Lino.


"Gak usah" ucap Ana.


Ana pun langsung pergi keluar untuk membeli snack yang sama persis dengan snack yang dimakan Raka.


Saat keluar dari rumah Clara, Ana pun melihat seseorang yang menggunakan masker dan topi sedang berada didepan rumah Clara.


Ana pun berlari mengejar orang itu.


Greb


Dan tangan orang itu terpegang oleh Ana.


"Luh siapa?" tanya Ana.


Srett


Seseorang itu pun menggoreskan gantungan kunci berbentuk pedang yang berada pada tasnya pada tangan Ana.


"Aww sakit!!!" teriak Ana.


Ana pun melepaskan tangannya karena kesakitan.


Darah segar di tangan Ana pun keluar sangat banyak.


Lalu seseorang itu pun segera berlari meninggalkan Ana.


Lino, Raka dan Clara pun langsung keluar rumah karena mendengar teriakan Ana.


"Hiks hiks sakit" tangis Ana.


"Ana, luh kenapa?" tanya Clara.


"Tangan luh berdarah" ucap Raka.


Lino pun langsung mengeluarkan sapu tangan miliknya, dan ia pun langsung melilitkan sapu tangannya pada luka ditangan Ana.


"Ayo ke rumah sakit!" ucap Lino.


"Ra, Luh ikut sama gue" ucap Raka sambil menyalakan mesin motornya.


"Bentar, gue kunci pintu rumah dulu" ucap Clara.


Lino pun membawa Ana agar segera menaiki motornya.


Ana pun segera menaiki motor Lino.


Lino pun langsung menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi.


"Hiks hiks sakit, No" ringis Ana.


"Sabar ya, bentar lagi sampe kok" ucap Lino.


Sekitar dua puluh lima menit, mereka pun sampai ke rumah sakit.


Lalu mereka berdua pun segera masuk kedalam rumah sakit.


"Dok, tolongin temen saya! tangan dia luka" ucap Lino.


"Yaudah ayo ikut saya" ucap dokter itu kepada Ana.


"Saya boleh ikut kedalam kan, dok?" tanya Lino


"Boleh" ucap dokter tersebut.


Mereka pun segera masuk kedalam ruangan yang ditunjuk oleh dokter tersebut.


Kemudian Ana pun diobati oleh dokter itu. Setelah diobati, dokter itu pun menyarankan Ana untuk membeli obat luka terbuka diapotek.


Lalu setelah itu, dokter tersebut meninggalkan Ana dan Lino didalam ruangan.


"Ini kegores karena apa?" tanya Lino sambil mengobati tangan Ana.


"Gantungan kunci" ucap Ana.


"Masa gantungan kunci sampe parah gitu?" bingung Lino.


"Gantungan kuncinya bentuk pedang" ucap Ana.


"Luh ceroboh banget sih" ucap Lino.


"Bukan gue, tapi orang lain yang bikin gue luka kayak gini" kata Ana.


"Penguntit itu" ucap Ana.


"Padahal tadi penguntit itu udah ketangkap sama gue, tapi dia nya malah goresin gantungan kunci itu ke tangan gue" jelas Ana.


"Tangan luh masih sakit?" tanya Lino.


"Ya masih lah" sahut Ana.


"Ya udah, ayo kita ke apotek" ucap Lino.


Lino dan Ana pun ke apotek untuk membeli obat yang diresepkan oleh dokter.


Sesampainya di apotek, Ana dan Lino pun langsung membeli obat untuk luka terbuka, setelah itu Lino pun langsung membayar obat tersebut.


"Nanti uang nya gue ganti" ujar Ana.


"Gak usah" ucap Lino.


"Makasih udah bawa gue ke rumah sakit" ucap Ana.


"Iya sama-sama" ucap Lino


"Luh mau minum?" tanya Lino sambil memberikan air mineral kepada Ana.


"Mau" ucap Ana


Ana pun segera meminum air mineral yang diberikan oleh Lino.


Trining...trining


Ponsel Lino pun berdering.


Lino pun melihat layar ponselnya, dan ternyata yang meneleponnya adalah Clara.


"Hallo, Ra" ucap Lino.


"Luh berdua dimana sih?" tanya Clara.


"Kita ada di apotek, lagi beli obat buat Ana" ucap Lino.


"Luh cepet banget sih bawa motornya, kita berdua kan jadi ketinggalan" ucap Clara.


"Luh berdua putar balik aja ke rumah luh, sekarang kita berdua mau kesana kok" ucap Lino.


"Tapi Ana gak apa-apa kan?" tanya Clara.


"Gak apa-apa" ucap Lino.


"Yaudah gue tutup ya teleponnya" ucap Clara lalu ia pun mematikan panggilan teleponnya.


"Gak apa-apa gimana? tangan gue sakit banget tahu" ucap Ana.


"Gue bilang gak apa-apa biar Clara gak khawatir sama luh" ucap Lino.


"No, luh jangan kasih tahu mereka berdua ya" ucap Ana.


"Jangan kasih tahu apa?" tanya Lino.


"Jangan kasih tahu kalau gue luka karena penguntit itu" ucap Ana.


"Kenapa jangan dikasih tahu?" tanya Lino.


"Karena kalau mereka dikasih tahu, mereka bakal khawatir sama gue" ucap Ana.


"Terus luh kenapa kasih tahu gue kalau luh luka karena si penguntit?" tanya Lino.


"Karena luh gak mungkin khawatir sama gue" ucap Ana.


"Kalau gue khawatir gimana" ucap Lino sambil menatap Ana dengan serius.


Ana pun terdiam sejenak karena Lino menatap dirinya dengan serius.


"Gak mungkin luh khawatir sama gue" ucap Ana.


"Yaudah ayo pulang" ucap Ana lagi.


Mereka berdua pun akhirnya pergi ke rumah Clara.


(Di perjalanan menuju rumah Clara)


"Na, besok kan libur. Gimana kalau kita ke rumah orang yang bully sahabat luh" ucap Lino.


"Gak mau! gue udah susah payah buat ngehindar dari mereka, kenapa luh nyuruh gue kesana" kesal Ana.


"Gue mau nyuruh mereka buat gak nguntit luh lagi" ucap Lino.


"Yaudah kalau luh gak mau ikut, biar gue aja yang ke rumah mereka. Nanti luh kasih tahu aja alamat mereka" ucap Lino.


"Gak mau! nanti kalau luh kenapa-napa gimana? Gimana kalau mereka ngelukain luh sama kayak yang mereka lakuin ke gue" ucap Ana.


"Gak bakal! gue kan cowok, tenaga gue lebih kuat dari mereka" ucap Lino.


"Pokoknya jangan! gue gak mau luh kenapa-napa" ucap Ana.


"Luh khawatir kan sama gue?" tanya Lino.


"Gak! gue takut aja nantinya yang disalahin jadi gue" ucap Ana berbohong.


"Bilang aja luh khawatir sama gue" ucap Lino sambil menahan tawanya.


"Ih percaya diri banget jadi orang" ucap Ana.


"Udah ngaku aja! luh suka kan sama gue?" canda Lino.


Ana pun terdiam sejenak.


"Tuh kan luh diem aja, berarti luh suka sama gue" ucap Lino.


"Enggak" ucap Ana berbohong.