
Setelah membeli air mineral, Bagas pun segera pergi ke UKS.
* UKS
"Eh, No! ngapain kesini?" tanya Bagas.
"Gue cuma mau ngasihin gelang Ana doang, tadi jatuh dilapangan" ucap Lino berbohong.
Clara pun langsung melihat kearah Lino karena mendengar kebohongan Lino yang bilang bahwa dia menemukan gelang Ana dilapangan.
"Oh gitu" ucap Bagas.
"Ya udah kalau gitu gue pergi dulu ya" ucap Lino.
"Iya" ucap Clara dan Bagas bersamaan.
Lalu Lino pun segera pergi.
Ana pun segera membuka matanya.
"Na, luh gak apa-apa kan?" tanya Clara.
"Gue cuma pusing doang, Ra" ucap Ana.
"Ini, minum dulu" perintah Bagas.
Bagas pun segera membantu Ana untuk minum.
"Makasih" ucap Ana.
"Iya sama-sama" ucap Bagas.
"Oh iya, Na! ini gelang punya luh, tadi jatuh dilapangan" ucap Clara berbohong.
"Makasih, Ra" ucap Ana.
"Bukan gue yang nemuin, tapi Lino" ucap Clara.
Ana pun langsung terdiam setelah mendengar nama Lino.
"Kamu pagi udah makan?" tanya Bagas memastikan.
"Belum" ucap Ana.
"Pantes aja pingsan" ucap Bagas.
"Lain kali gak boleh kayak gitu lagi ya" ucap Bagas lagi.
Ana pun hanya mengangguk mendengar ucapan Bagas.
"Ra, luh boleh tinggalin kita berdua dulu gak?" tanya Bagas.
"Luh ngusir gue?" tanya Clara.
"Bukan ngusir, tapi gue mau ngomong berdua dulu sama Ana" ucap Bagas.
Akhirnya Clara pun segera pergi meninggalkan mereka berdua di UKS.
"Kamu mau ngomong apa?" tanya Ana.
"Boleh gak aku minta satu permintaan sama kamu" ucap Bagas.
"Permintaan apa?" tanya Ana.
"Jauhin cowok-cowok yang deket sama kamu, soalnya aku cemburu lihat nya" ucap Bagas.
"Maksud kamu siapa?" tanya Ana.
"Kamu pasti tahu kok siapa yang aku maksud" ucap Bagas.
"Maksud kamu Raka?" tanya Ana.
"Itu salah satunya" ucap Bagas.
"Tapi aku sama Raka cuma sahabatan" ucap Ana.
"Tapi kan dia mantan kamu" ucap Bagas.
"Iya, emang dia mantan aku. Tapi kan sekarang dia sahabat aku" ucap Ana.
"Enggak ada yang namanya sahabatan antara cewek dan cowok" kata Bagas.
"Ada kok, aku sama Raka buktinya" ucap Ana.
"Kalau ada pasti salah satunya suka, jadi aku gak mau kamu deket-deket sama dia" ucap Bagas.
"Kok kamu jadi ngatur aku sih" ucap Ana.
"Wajar lah aku kan pacar kamu! aku gak mau kalau cewek aku direbut orang" ucap Bagas.
Ana pun langsung terdiam.
"Aku ngelakuin ini karena aku gak mau kehilangan kamu" ucap Bagas sambil memeluk Ana.
Setelah itu, Bagas pun melepaskan pelukannya dari Ana.
"Aku gak bermaksud ngatur kamu kok, aku ngomong kayak gitu karena aku gak mau kalau hubungan kita berakhir" ucap Bagas.
"Kamu mau ke kantin gak? atau aku aja yang beliin makan buat kamu?" tanya Bagas.
"Aku ke kantin aja" ucap Ana.
"Udah gak pusing kan?" tanya Bagas memastikan.
"Udah enggak kok" kata Ana.
Lalu Bagas pun memegang tangan Ana, lalu mereka berdua pun segera pergi ke kantin.
Setelah sampai kantin, mereka pun segera memesan makanan lalu setelah itu mereka pun duduk ditempat yang telah disediakan. Setelah itu mereka pun memakan makanan yang mereka pesan.
"Ana!!" teriak Raka sambil menghampiri Ana dan Bagas.
Ana pun tidak menjawab ucapan dari Raka karena takut Bagas cemburu
"Ka, luh bisa pergi gak? gue sama Ana lagi makan, kasihan Ana jadi keganggu makannya karena luh" ucap Bagas.
"Luh sensi amat sih, lagian gue kesini cuma mau nanya keadaan Ana doang kok" ucap Raka sedikit kesal.
"Kenapa nanyain keadaan pacar gue?" tanya Bagas.
"Ya karena dia sahabat gue" ucap Raka.
"Mana ada sahabatan antara cowok dan cewek" ucap Bagas.
"Luh kenapa sih, Gas!" ucap Raka kesal.
"Ana luh beneran jadian sama dia? kok gue gak yakin sih" tanya Raka memastikan.
"Maksud luh apa ngomong kayak gitu? ngajak ribut luh sama gue" tanya Bagas sambil memegang kerah seragam Raka.
"Gas, udah!" mohon Ana.
"Ka, lebih baik luh pergi aja dari sini" ucap Ana yang ketakutan.
Raka pun menghempaskan tangan Bagas dari kerah seragamnya. Lalu ia pun segera pergi.
"Gas, aku ke kelas dulu ya mau ganti baju" ucap Ana.
"Ya udah bareng ke kelasnya" ucap Bagas.
"Tapi kan kamu belum selesai makannya" ucap Ana.
"Gak apa-apa, lagian aku udah gak mood makan" ucap Bagas.
Akhirnya mereka pun segera pergi ke kelasnya.
Setelah sampai dikelas, Ana pun langsung mengambil baju seragamnya yang berada didalam tas nya. Kemudian ia pun segera pergi menuju toilet untuk berganti pakaian menjadi memakai seragam.
Setelah itu Ana pun mengirim pesan kepada Raka.
Ana :
Ka, maaf atas kejadian tadi
Setelah mengirim pesan, Bina pun buru-buru pergi menuju kelasnya.
Saat menuju ke kelas, tidak sengaja Ana pun bertemu Lino.
"Na" panggil Lino.
"Kenapa?" tanya Ana tanpa melihat kearah Lino.
"Maafin gue" ucap Lino.
Ana pun langsung pergi tanpa menjawab ucapan Lino.
Setelah sampai kelas, Ana pun langsung duduk dikursinya.
"Luh udah gak apa-apa, Na?" tanya Felisa yang duduk disampingnya.
"Udah gak apa-apa kok" ucap Ana sambil tersenyum.
"Oh iya, nanti pulang sekolah ke rumah gue yuk!" ajak Naya.
"Mau ngapain?" tanya Clara.
"Makan-makan, sekalian ngerayain Ana sama kakak gue jadian" ucap Naya.
"Emang luh bisa masak?" tanya Felisa.
"Enggak, tapi nanti gue telepon pembantu gue kok biar dia datang ke rumah" ucap Naya.
"Orang tua luh emang gak ada dirumah?" tanya Ana.
"Gak ada, orang tua gue sibuk mulu" ucap Naya.
"Oh iya, Lia ikut gak?" tanya Felisa.
"Lia!!" panggil Clara.
Lalu Lia pun melihat kearah Clara.
"Kenapa?" tanya Lia.
"Luh mau ikut gak ke rumahnya Naya?" tanya Clara.
"Enggak" ucap Lia.
Lalu Lia pun segera fokus lagi dengan bukunya.
"Lia, rajin banget sih" ucap Clara.
"Ya iyalah, orang dia peringkat satu dikelas" ucap Naya.
"Lia pinter banget ya, gue jadi iri sama dia" ucap Ana.
"Iya dia pinter banget sama kayak Acha, bahkan dulu mereka rangking nya rebutan. Terkadang Acha yang pertama kadang juga Lia yang pertama" jelas Clara.
"Luh dulu inget gak sih waktu Acha sama Lia berantem gara-gara Acha ngejahilin Lia" tanya Clara.
"Yang katanya Acha, peringkat Lia turun jadi ke sepuluh?" tanya Naya memastikan.
"Iya, Lia marah banget sama Acha karena Acha bohong sama dia" ucap Clara.
"Sumpah lucu banget kalau inget kejadian itu" sahut Felisa.
"Kayaknya Acha seru banget ya orangnya" ucap Ana.
"Iya, emang seru banget kalau main sama dia" ucap Clara.