
"Ya udah kalau mau pulang ya pulang aja, aku gak apa-apa kok sendirian juga" ucap Ana.
"Enggak, kan aku udah bilang kalau aku pulangnya nanti" ucap Lino.
Tok...tok...tok
Lalu Ana pun segera pergi untuk membukakan pintu.
"Ada apa, Ka?" tanya Ana.
"Ini, buat luh sama mamah luh" ucap Raka.
"Makasih" ucap Ana.
"Iya sama-sama" ucap Raka.
"Na, ada Lino ya didalam?" tanya Raka.
"Tahu dari mana?" ucap Ana.
"Itu kan ada motornya" ucap Raka.
"Oh iya" ucap Ana sambil nyengir
Lalu Raka pun langsung menerobos masuk kedalam.
"Belum juga disuruh masuk, udah main masuk aja nih anak" batin Ana.
"Astaghfirullah, luh berdua nonton kayak gituan" ucap Raka saat melihat ada adegan kissing.
"Luh ngapain kesini?" tanya Lino sedikit kaget.
"Gue mau bertamu lah" ucap Raka.
Lalu Ana pun segera menghampiri Lino dan Raka.
"Ana, luh nonton kayak gitu sama Lino?" tanya Raka.
"Iya, emangnya kenapa?" tanya Ana.
"Kalau nonton yang kayak gitu jangan bareng cowok, Na" ucap Raka.
"Emangnya kenapa gak boleh bareng cowok?" tanya Ana.
"Nanti takutnya si Lino kerasukan setan terus dia ngelakuin yang enggak-enggak sama luh" ucap Raka.
"Tapi gue sama Lino gak nonton film hantu jadi gak mungkin Lino kerasukan" ucap Ana polos.
"Aduh! cape gue ngejelasinnya" ucap Raka.
"Ya udah jangan dijelasin kalau cape" ucap Ana.
"No, luh gak macem-macem kan sama Ana?" tanya Raka memastikan.
"Kaga ya ampun! suudzon mulu luh" ucap Lino.
"No, udahan aja ya nontonnya" ucap Ana.
"Tapi kan belum selesai filmnya" ucap Lino.
"Nontonnya dilanjut nanti aja" ucap Ana.
"Iya terserah kamu aja deh" ucap Lino.
"Kok udahan sih? padahal gue pingin nonton adegan kissing nya loh" ucap Raka.
"Gara-gara luh sih, jadi Ana gak mau nonton lagi" ucap Lino.
"Kok jadi nyalahin gue sih" ucap Raka.
"Kan emang salah luh" ucap Lino.
"Udah jangan berantem!" ucap Ana.
"Siapa juga yang berantem" ucap Raka.
"Ya udah kalau gitu aku simpen laptop dulu ya di kamar" ucap Ana.
"Iya" ucap Lino.
Lalu Ana pun segera pergi menuju kamarnya untuk menyimpan laptopnya. Setelah itu, ia pun segera kembali menghampiri Lino dan Raka.
"Kenapa nih? kok serius banget mukanya" ucap Ana sambil duduk disebelah Lino.
"Jadi aku ngasih tahu Raka tentang gantungan kunci ini" ucap Lino.
"Berarti penguntit itu anak Tunas Bakti dong" ucap Raka.
Lino pun hanya mengangguk mengiyakan ucapan Raka.
"Apa jangan-jangan Bagas?" ucap Raka.
"Bukan!" ucap Ana.
"Terus siapa?" tanya Raka.
"Gue juga gak tahu" ucap Ana.
"Oh iya, Na! kamu masih inget gak tulisan tangan orang yang nulis surat itu?" tanya Lino.
"Inget" ucap Ana.
"Ya udah, nanti kita lihat aja catatan-catatan di buku temen sekelas kita. Nanti kalau gak ada, kita cari ke kelas lain" ucap Lino.
"Masa kita harus pinjem semua bukunya" ucap Ana.
"Ya cuma lihat sekilas aja" ucap Lino.
"Oh iya, Ka! nanti luh tolong fotoin ya catatan-catatan temen sekelas luh" ucap Lino.
"Oke" ucap Raka.
"Gak mungkin gak ada! udah jelas-jelas gantungan kunci itu ada di sekolah kita" ucap Lino.
"Kalau ternyata itu bukan gantungan kunci punya penguntit itu gimana? kan gantungan kunci kayak gitu bukan cuma ada satu" ucap Ana.
"Bener juga apa kata Ana, No. Kalau ternyata bukan gimana?" ucap Raka.
"Tapi seenggaknya kita pastiin dulu tulisan tangan orang-orang, kalau gak ada yang mirip berarti emang cuma sama aja gantungan kuncinya" ucap Lino.
"Oh iya, nanti gue kirim foto catatan nya ke siapa?" tanya Raka.
"Ke Ana lah! kan dia yang tahu tulisannya" ucap Lino.
"Jangan ke aku ngirimnya! memori aku penuh" ucap Bina.
"Ya udah kirim ke gue aja" ucap Lino.
"Ya udah, nanti gue kirim ke luh" ucap Raka.
"Oh iya, kalau gitu gue balik dulu ya" ucap Raka.
"Ya udah sana! lagian ganggu banget luh" canda Lino.
"Anjir! luh ngusir gue?" tanya Raka.
"Iya, emang kenapa?" tanya Lino.
"Gak kenapa-napa sih, lagian gue juga pingin pulang" ucap Raka.
Lalu Raka pun segera pergi menuju rumahnya.
"No, udah sore loh" ucap Ana sambil melihat jam dinding yang menunjukan pukul 15.30 wib.
"Oh iya! ya udah aku pulang dulu ya" ucap Lino.
"Iya" ucap Ana.
"Nanti kunciin aja ya rumahnya, soalnya takut penguntit itu datang kesini" ucap Lino.
"Iya" ucap Ana.
"Ya udah cepet pulang" ucap Ana.
Lalu Ana pun segera mengantar Lino keluar.
Kemudian Lino pun segera menaiki motornya dan ia pun segera menyalakan mesin motornya.
"Aku pulang dulu ya" ucap Lino.
"Iya" ucap Ana.
"Hati-hati ya" ucap Ana lagi.
"Iya sayang" ucap Lino.
Sontak Ana pun langsung terkejut saat mendengar ucapan Lino barusan.
Lalu Lino pun segera melajukan motornya.
Setelah Lino pergi, Ana pun segera masuk kedalam rumahnya dan ia pun langsung mengunci pintu rumahnya.
Setelah itu, ia pun segera pergi menuju kamarnya, lalu Ana pun segera mengambil baju dan celananya. Kemudian ia pun segera pergi menuju kamar mandi.
Setelah selesai mandi, Ana pun segera tidur karena ia sangat lelah.
...****...
Malam hari
Cklek
Mamah pun segera masuk kedalam kamar Ana. Lalu ia pun segera duduk dipinggir kasur.
"Ana, bangun" ucap mamah sambil menepuk pundak Ana.
"Kenapa, mah?" tanya Ana sambil membuka matanya sedikit.
"Ayo makan dulu" ucap mamah.
"Enggak ah, Ana males turun kebawah nya" ucap Ana.
"Kamu kok gitu sih, padahal mamah masak banyak loh" ucap mamah.
"Ya udah iya" ucap Ana.
"Ya udah ayo" ucap mamah sambil menuntun Ana menuju ruang makan.
Setelah sampai, mereka berdua pun segera duduk.
"Na, kamu kenapa? kok kayak lesu gitu" ucap mamah.
"Ana gak enak badan, mah" ucap Ana.
"Ya udah makannya yang banyak ya biar gak sakit" ucap mamah.
"Tapi Ana gak nafsu makan, mah" ucap Ana.
"Walaupun kamu gak nafsu makan, kamu harus tetap paksain supaya kamu gak sakit" ucap mamah.
"Ya udah iya" ucap Ana.
Lalu Ana pun segera memakan makanan yang telah dibuat oleh mamahnya.
Beberapa menit kemudian, Ana pun telah selesai makan.
Lalu setelah itu Ana pun segera mencuci piring dan gelas yang ia gunakan.
Setelah selesai mencuci piring dan gelas, Ana pun segera pergi menuju kamarnya.
Saat tiba di kamar, Ana pun segera tidur karena kepalanya sangat pusing.