ARLINO

ARLINO
Episode 114



"Ekhem" ucap Lino.


Sontak Ana dan lelaki yang bernama Fahmi itu pun langsung melihat kearah Lino.


"Dia siapa, Na?" tanya Lino.


"Fahmi" ucap Ana.


"Temen kamu?" tanya Lino.


"Bukan sih, tapi tadi dia tiba-tiba ngajak aku kenalan" ucap Ana.


"Luh naksir cewek gue?" tanya Lino dingin.


"Enggak, cuma mau kenalan doang" ucap Fahmi.


"Ya udah gue pergi dulu ya" ucap Fahmi sambil buru-buru pergi.


Kemudian Lino pun segera duduk disebelah Ana.


"Nih" ucap Lino sambil memberikan ice chocolate kepada Ana.


Lalu Ana pun segera mengambil ice chocolate tersebut.


"Oh iya, ini sosis kamu" ucap Ana sambil memberikan sosis bakar milik Lino.


Kemudian Lino pun segera mengambil sosis tersebut.


"Sosis punya kamu mana?" tanya Lino sambil memakan sosis.


"Udah habis" ucap Ana.


"Cepet banget habisnya" ucap Lino.


"Kan aku lapar, makanya cepet habis" ucap Ana.


"Kamu mau lagi gak sosis nya?" tanya Lino.


"Enggak ah, aku udah kenyang" ucap Ana.


"Udah selesai makan, kita mau ngapain?" tanya Ana.


"Naik bianglala" ucap Lino.


"Lebih baik naik yang lain aja, nanti terakhir baru naik bianglala" ucap Ana.


"Terus mau naik apa?" tanya Lino.


"Naik itu" tunjuk Ana pada kora-kora.


"Enggak mau" ucap Lino.


"Lebih baik ke rumah hantu aja" ucap Lino.


"Enggak! udah tahu aku takut, lagipula ini kan malem. Nanti kalau ada setan benerannya gimana coba" ucap Ana.


"Ya gak apa-apa, kalau kamu takut kan kamu bisa peluk aku" ucap Lino.


"Dasar modus" ucap Ana.


"Emang kalau modus kenapa?" tanya Lino.


"Ya gak apa-apa sih" ucap Ana sambil tersenyum.


"Gimana kalau kita suit aja, yang kalah harus nurutin kemauan yang menang" ucap Lino.


"Ayo siapa takut" ucap Ana.


Lalu mereka pun suit untuk menentukan siapa yang menang dan ternyata yang menang adalah Lino.


"Kamu curang" ucap Ana.


"Sekali lagi ah!" kesal Ana karena ia kalah.


"Ya udah ayo" ucap Lino.


Lalu mereka pun kembali melakukan suit Jepang dan ternyata Lino kembali menang.


"Kok kamu jago banget sih" ucap Ana.


"Iya dong" ucap Lino dengan sombong.


"Bararti nanti kita ke rumah hantu ya" ucap Lino.


"Kamu aja deh sendiri, soalnya aku sakit perut" bohong Ana.


"Pokoknya kamu harus ikut" ucap Lino.


"Tapi aku takut" ucap Ana.


"Jangan takut, kan ada aku" ucap Lino.


"Tapi janji ya kamu jangan ninggalin aku" ucap Ana.


"Iya aku janji gak bakal ninggalin kamu" ucap Lino.


"Awas loh kalau ninggalin" ucap Ana.


"Aku gak bakal ninggalin kok" ucap Lino.


"Janji ya?" ucap Ana.


"Iya sayang, aku janji kok" ucap Lino.


"Hah? tadi kamu bilang apa?" tanya Ana sambil tersenyum.


"Iya aku janji" ucap Lino.


"Tadi yang sebelumnya" ucap Ana.


"Sayang?" ucap Lino.


Ana pun langsung tersenyum karena mendengar ucapan Lino.


"Kamu mau dipanggil sayang?" tanya Lino.


Ana pun hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Beneran mau dipanggil sayang?" tanya Lino.


"Iya" ucap Ana tanpa melihat kearah Lino.


"Ya udah cium dulu, baru nanti aku panggil sayang" ucap Lino sambil menunjuk pipinya.


"Enggak mau, malu dilihatin orang" ucap Ana.


"Perasaan gak ada yang lihatin kita kok" ucap Lino.


Lalu Ana pun langsung melihat ke sekitar.


Kemudian Ana pun langsung mencium pipi Lino sekilas.


Lino pun hanya tersenyum.


"Ya udah ayo ke rumah hantu" ucap Lino sambil memegang tangan Ana.


Lalu mereka berdua pun segera pergi membeli tiket rumah hantu. Setelah itu, mereka pun mengantri untuk masuk kedalam rumah hantu tersebut.


Setelah beberapa menit, akhirnya mereka pun segera masuk kedalam rumah hantu tersebut.


"No, jangan dilepas ya genggamannya" ucap Ana.


"Iya sayang" ucap Lino.


Lalu Ana pun jadi salah satu saat Lino memanggilnya dengan sebutan sayang.


"Aaaa" teriak Ana saat ada kuntilanak yang mendekatinya.


Lino pun hanya tertawa karena mendengar teriakan Ana.


"No, tolong usir dong" ucap Ana sambil menutup matanya.


"Kuntilanak nya udah pergi kok" ucap Lino.


"Beneran?" tanya Ana.


"Iya, udah" bohong Lino.


Lalu Ana pun segera membuka matanya.


"Aaaa" teriak Ana sambil bersembunyi dibelakang Lino.


"Ya udah ayo sambil jalan, kasihan orang-orang dibelakang kamu" ucap Lino.


Lalu mereka pun kembali berjalan untuk menemukan jalan keluar.


Setelah beberapa menit kemudian mereka pun akhirnya menemukan jalan keluarnya.


"Cape ya, No" ucap Ana.


"Cape? perasaan tadi kita cuma jalan deh, gak sambil lari-larian" ucap Lino.


"Tadi kan aku teriak-teriak makanya jadi cape" ucap Ana.


"Mau minum gak?" tanya Lino.


"Mau" ucap Ana.


"Ya udah bentar, aku beliin dulu" ucap Lino.


"No" panggil Ana.


"Kenapa sayang?" tanya Lino.


"Aku pinginnya air putih" ucap Ana.


"Iya" ucap Lino.


"Ya udah kamu tunggu disini dulu ya," ucap Lino.


"Iya" ucap Ana.


Lalu Lino pun segera pergi membeli air mineral untuk dirinya dan juga Ana.


Kemudian Ana pun melihat ada anak kecil yang sedang menangis. Lalu ia pun segera mendekati anak kecil tersebut.


"Kamu kenapa nangis?" tanya Ana kepada anak kecil itu namun tidak dijawab oleh anak kecil tersebut.


"Mamah kamu mana?" tanya Ana.


"Gak tahu" ucap anak tersebut sambil menangis.


Kemudian Lino pun segera menghampiri Ana.


"Itu siapa?" tanya Lino kepada Ana.


"Aku juga gak tahu" ucap Ana.


"Nama kamu siapa?" tanya Lino kepada anak kecil tersebut namun tidak dijawab oleh anak kecil itu dan anak kecil tersebut hanya menangis.


"Icha" teriak seseorang sambil menghampiri anak kecil tersebut.


"Mamah" ucap anak kecil tersebut.


Lalu anak kecil tersebut langsung memeluk mamahnya.


Ana pun langsung terharu saat anak kecil itu berpelukan dengan mamahnya.


"Ya udah ayo pergi, udah ketemu ini" bisik Lino.


"Makasih ya udah nolongin anak saya" ucap ibu dari anak tersebut.


"Saya enggak nolong apa-apa kok, Bu! tadi saya cuma nemenin dia aja" ucap Ana.


"Ya udah kalau gitu saya sama temen saya pergi dulu ya, Bu" ucap Ana.


"Oh iya" ucap ibu tersebut.


Lalu Ana pun segera menarik tangan Lino.


"Temen?" ucap Lino sedikit kesal.


"Apa, No?" bingung Ana.


"Tadi kok kamu bilangnya temen sih" ucap Lino.


"Emang iya?" tanya Ana.


"Iya, tadi kamu bilangnya temen" ucap Lino.


"Ya maaf" ucap Ana.


"Maafin aku ya" ucap Ana lagi.


"Hmmm" ucap Lino.


"Kok hmm sih" ucap Ana.


"Maafin aku ya" ucap Ana.


"Iya" ucap Lino.


"Senyum dong jangan cemberut" ucap Ana.


"Gak bisa senyum" ucap Lino.


"Jangan marah dong" ucap Ana.


"Aku gak marah kok, cuma kesel dikit" ucap Lino.