ARLINO

ARLINO
Episode 10



* Malam Hari


Brrmm...brrmm


Suara motor pun terdengar sangat nyaring.


Mereka semua pun segera menonton dan mensupport sesama geng nya.


"No semangat, luh pasti menang" ucap Bayu.


"Yoi bang" ucap Lino.


"Jangan sampai kalah, No" ucap Bagas.


"Sip" ucap Lino.


Lino pun menatap tajam lawannya yang bernama Yuda, dan sebaliknya Yuda pun menatap Lino dengan tatapan tajam.


Cie tatap-tatapan, tatap aku aja mas - author


1....2....3


Pritttt


Mereka berdua pun segera menjalankan motor dengan kecepatan yang sangat tinggi.


Awalnya Yuda yang berada didepan, kemudian Lino pun menikung Yuda. Lalu karena tidak mau kalah oleh Lino, Yuda pun menikung Lino lagi. Dan seterusnya mereka saling tikung-menikung.


Dan beberapa menit kemudian, Lino pun sampai duluan di garis finish.


Kemudian Yuda juga telah sampai ke garis finish.


"Gue udah nebak, luh pasti bakalan menang, No" ucap Gilang.


Lino pun hanya tersenyum.


"Siniin kunci motor luh sama dompet luh" ucap Lino kepada Yuda.


"Sial" batin Yuda.


"Nih"-ucapnya lagi sambil melemparkan kunci motor dan dompet miliknya.


"Lex , ini motornya buat luh aja" ucap Lino sambil memberikan kuncinya ke Alex.


"Serius buat gue nih?" tanya Alex.


"Iya, hadiah ulang tahun buat luh. Maaf kalau bekas orang. Tapi kalau luh gak mau pakai, jual aja. Harganya pasti lumayan mahal kok" ucap Lino dengan santai.


"Thanks bro" ucap Alex.


"Kita gak dikasih nih?" ucap Bayu, Bobby, Bagas, dan Gilang.


"Gue traktir kalian semua makan!" ucap Lino sambil menunjukan dompet Yuda yang telah diambil alih olehnya.


Akhirnya mereka pun segera pergi ke restoran untuk menghabiskan uang yang telah diberikan oleh Yuda.


* Restoran


Sesampainya di restoran, mereka pun segera duduk di kursi restoran tersebut.


"Pelayan!" panggil Lino.


Pelayan restoran pun segera menghampiri ke meja mereka.


"Mau pesan apa?" tanya pelayan restoran tersebut.


"Pesan semua menu yang ada di restoran ini" ucap Lino.


"Tunggu ya! saya akan segera buatkan pesanannya" ucap pelayan restoran lalu ia pun pergi.


"Serius luh, No?" tanya Bayu.


"Ya iyalah" ucap Lino.


"Kalau makanannya gak habis gimana?" tanya Alex.


"Tenang aja bakal habis kok, kan ada gue" ucap Gilang sambil tersenyum lebar.


"Uang nya cukup gak, No?" tanya Bobby.


"Cukup kok, kalian tenang aja" ucap Lino.


Beberapa menit kemudian, beberapa pelayan restoran itu pun segera menghampiri mereka dan memberikan semua menu yang Lino pesan.


Setelah itu mereka pun segera menikmati makanan dan minuman yang diberikan oleh pelayan tersebut.


...****...


Trining..trining


Ana pun segera membuka isi pesan tersebut.


Raka :


Ana, luh udah tidur belum?


^^^Ana :^^^


^^^Belum^^^


Raka :


Gue mau ngomong sesuatu sama luh


^^^Ana :^^^


^^^Mau ngomong apa?^^^


Raka :


Luh boleh kesini gak? Bentar aja


^^^Ana :^^^


^^^Kemana?^^^


Raka :


Ke taman


^^^Ana :^^^


Raka :


Bisa sih, tapi gue udah terlanjur ke taman nih


^^^Ana :^^^


^^^Ya udah gue ke sana sekarang^^^


Ana pun segera menuju taman karena ia tidak tega kalau Raka sendirian di sana.


Skip


* Taman


Ana pun segera menghampiri Raka dan segera duduk di sampingnya.


"Kenapa? luh ada masalah?" ucap Ana.


"Itu bunga buat siapa?" ucap Ana lagi.


"Buat luh" kata Raka sambil memberikan bunga tersebut.


"Buat gue?" tanya Ana bingung sambil mengambil bunga yang dikasih oleh Raka.


"Iya"


"Gue suka sama luh" ucap Raka lagi.


"Gue juga suka sama luh, karena luh itu baik banget sama gue" ucap Ana.


"Kamu mau gak jadi pacar aku?" tanya Raka.


Ana pun terdiam sejenak.


"Gimana yah,gue tuh sayang sama dia tapi gue gak cinta. Tapi kalau nolak, gue kasian sama dia" batin Ana.


"Ya udah iya, gue mau" ucap Ana.


"Itu aja yang mau gue sampaikan ke luh" ucap Raka.


"Ya udah sekarang gue anterin luh pulang ya, biar luh bisa istirahat" ucap Raka.


Raka pun segera mengantarkan Ana ke rumah, namun pada saat di jalan mereka bertemu sekelompok orang yang membawa motor.


Lalu mereka segera menghampiri kita berdua dan mereka pun membuka helm yang dipakainya.


"Udah lama ya gak ketemu" ucap Bayu.


"Mau ngapain kalian?" tanya Raka.


"Heh! harusnya kita yang nanya sama luh berdua. Ngapain jam 11 malam berduaan? Curiga gue" sinis Lino.


"Apaan sih, No! gue sama Raka gak ngapa-ngapain kok" ucap Ana.


"Udah jangan diladenin, Na! lebih baik gue anter luh pulang aja" ucap Raka.


"Eh, tunggu. Raka luh pergi bukan gara-gara luh takut ketahuan kan karena luh yang nabrak Acha?" tanya Lino.


"Maksud luh apa nuduh gue kayak gitu!" kesal Raka.


"Terus kalau luh gak nabrak dia kenapa luh keluar dari geng motor skz tanpa bilang ke kita semua? Luh takut ketahuan kan kalau luh masih ada di geng motor skz?" tanya Lino.


"TERUS GUE GAK BOLEH GITU KELUAR DARI GENG MOTOR YANG ISI NYA BERENGSEK SEMUA" teriak Raka karena ia sangat kesal kepada mereka.


Bughhh


Lino pun memukul Raka, dan Raka pun terbaring lemah di tanah.


"JANGAN PUKUL RAKA!!!" teriak Ana sambil menghalangi Lino yang berusaha memukul Raka.


"No, udah No!" ucap Bayu sambil memegang tangan Lino namun ditepis oleh Lino.


Lino pun terdiam karena ada Ana yang menghalanginya.


"Awas, kalau enggak minggir gue tonjok luh" tegas Lino.


"Udah, No! dia cewek!" ucap Bagas dan Gilang.


"BENER KATA RAKA, LUH BERENGSEK. BERANINYA MAIN PUKUL!!!"-? teriak Ana.


"APA LUH BILANG?"


"LUH BERENGSEK!!!" teriak Ana dengan kencang.


Plakk


Satu tamparan mendarat di pipi Ana.


"Aww, sakit" ringis Ana.


"No, luh apa-apaan sih kasar banget sama cewek" ucap Bayu, Gilang dan Bagas bersamaan.


Lino pun menaiki motornya dan pergi, kemudian Alex dan Bobby pun mengikuti Lino dengan menggunakan motornya.


"Ana luh gak apa-apa?" tanya Bagas.


Ana pun menangis akibat ditampar oleh Lino.


"Lebih baik luh pulang sama Bagas, nanti gue yang anterin Raka ke rumahnya" ucap Bayu.


"Kalian gak bakal mukul Raka kan?" tanya Ana sambil nangis.


"Kita janji kok, kita gak bakal mukul Raka" ucap Bayu.


"Udah percaya aja sama kita" ucap Gilang.


"Ya udah iya" ucap Ana.


Raka pun ditatih oleh Bayu untuk naik ke motornya, sedangkan Ana diantar oleh Bagas, sedangkan Gilang pulang ke rumahnya.


Setelah sampai rumah, Ana pun berniat masuk ke rumah. Tiba-tiba Bagas pun memegang tangan Ana.


"Gak bilang makasih gitu" tanya Bagas.


"Makasih" singkat Ana.


"Maafin si Lino ya, dia kayak gitu karena dia gak rela kehilangan Acha dan dia juga punya banyak masalah di keluarganya" ucap Bagas.


Ana pun segera masuk ke rumah tanpa memperdulikan perkataan Bagas.