ARLINO

ARLINO
Episode 140



"Lebih baik kita ke rumah Bagas aja yuk! kasihan juga dia sama keluarganya pasti sedih" ucap Lia.


"Iya, lebih baik kita kesana yuk" ucap Lino.


"Ya udah ayo" ucap Clara.


Lalu mereka semua segera pergi menuju rumah Bagas.


Setelah sampai, Ana dan Lino segera turun dari motor.


Trining...trining


Lalu Lino segera melihat ke layar ponselnya dan ternyata ada panggilan telepon dari Gilang.


"Na, kamu masuk duluan ya sama mereka. Soalnya aku mau angkat telepon dulu" ucap Lino.


"Iya" ucap Ana.


Lalu Ana segera masuk kedalam rumah Bagas.


Setelah Ana pergi, Lino segera menjawab telepon tersebut.


"Hallo, No" ucap Gilang.


"Iya kenapa, Lang?" tanya Lino.


"Naya beneran meninggal?" tanya Gilang.


"Iya" ucap Lino.


"Emang bener ya, umur tuh gak ada yang tahu" ucap Gilang.


"Jenazah Naya nya udah dimakamkan?" tanya Gilang.


"Udah" ucap Lino.


"Luh kapan kesini?" tanya Lino.


"Udah istirahat gue, Raka sama Aldi kesana" ucap Gilang.


"Lang, gue tutup dulu ya teleponnya" ucap Lino.


"Oh ya udah" ucap Gilang.


Lalu Lino segera mematikan panggilan teleponnya.


Kemudian Lino segera masuk kedalam rumah, lalu Lino segera menghampiri Ana dan ia segera duduk disebelah Ana.


"Maafin Naya ya kalau punya salah sama kalian semua" ucap mamah Naya.


"Iya, kita udah maafin kok tante" ucap Lia.


"Dan makasih ya kalian udah nyempetin datang kesini" ucap mamah Naya.


"Iya sama-sama tante" ucap Lia lagi karena Clara, Felisa dan Ana hanya diam saja sambil melamun.


"Yang namanya Ana mana?" tanya mamah Naya.


Sontak Ana langsung melihat kearah mamah Naya.


"Saya, tante" ucap Ana.


"Maafin Naya ya, Ana" ucap mamah Naya sambil menangis.


"Iya tante, Ana udah maafin Naya kok" ucap Ana sambil menangis.


"Bagas udah cerita ke tante soal kamu dan Naya" ucap mamah Naya.


"Maafin Ana ya tante, ini semua gara-gara Ana" lirih Ana.


"Enggak, Ana. Ini semua udah takdir" ucap mamah Ana.


"Luh gak usah nyalahin diri luh sendiri" ucap Bagas.


"Tante" ucap Ana.


"Iya" ucap mamah Naya.


"Semalem Naya chat Ana katanya dia pingin banget dipeluk sama tante" ucap Ana sambil menangis.


Lalu mamah Naya langsung menangis setelah mendengar ucapan Ana. Karena memang ia tidak pernah memeluk Naya.


Kemudian Bagas langsung memeluk mamah Naya untuk menenangkannya.


"Mamah merasa bersalah banget, Gas. Andai aja waktu itu mamah mikirin perasaan dia, mungkin dia bakal bahagia karena bisa dipeluk mamah" ucap mamah Naya sambil menangis.


"Mamah jangan nyalahin diri mamah sendiri" ucap Bagas.


...****...


Setelah beberapa jam, mereka semua segera pulang.


"No" ucap Ana.


"Kenapa?" tanya Lino.


"Aku gak mau pulang" ucap Ana.


"Terus mau kemana?" tanya Lino.


"Kemana aja, yang penting jangan pulang ke rumah" ucap Ana.


Lalu Lino segera melajukan motornya menuju taman.


Setelah sampai taman, Lino dan Ana segera turun dari motor.


"Duduk disana yuk" ajak Lino.


Lalu Ana dan Link segera duduk di kursi taman.


"No" ucap Ana sambil menunduk.


"Apa" ucap Lino sambil menatap wajah Ana.


"Padahal semalem Naya kirim pesan ke aku. Dia curhat tentang dirinya ke aku dan dia semalem udah nganggap aku sahabatnya" ucap Ana sambil meneteskan air matanya.


"Padahal aku udah seneng banget semalem karena akhirnya Naya nganggap aku sahabatnya" ucap Ana.


"Oh iya! kamu tahu gak alasan dia suka kamu itu karena apa?" tanya Ana.


"Emang karena apa?" tanya Lino.


"Karena kamu orang pertama yang peluk dia" jelas Ana.


Flashback On


* Rooftop


"Hiks...hiks" tangis Naya.


"Luh kenapa nangis?" tanya Lino yang sedang duduk di kursi.


Sontak Naya langsung melihat kearah Lino.


"Luh ngapain disini?" tanya Naya sambil mengusap air matanya.


Lalu Lino segera menghampiri Naya.


"Luh kenapa nangis?" tanya Lino.


"Gak kenapa-napa" ucap Naya.


"Berantem sama Bagas ya?" tanya Lino.


"Enggak" ucap Naya.


"Atau berantem sama temen-temen luh?" tebak Lino.


"Enggak" ucap Naya.


"Terus kenapa?" tanya Lino.


"Gue kangen seseorang" ucap Naya.


"Siapa?" tanya Lino.


"Papah gue" batin Naya.


"Kok malah diem" ucap Lino.


Lalu Naya kembali meneteskan air matanya.


"Loh kok jadi nangis lagi sih" ucap Lino.


Tangisan Naya pun semakin menjadi-jadi.


Kemudian Lino langsung memeluk Naya untuk menenangkannya agar Naya tidak menangis lagi.


"Udah jangan nangis" ucap Lino.


Lalu Lino segera melepaskan pelukannya.


"Luh berantem sama siapa sih?" bingung Lino.


"Kalau perlu gue bakal tonjok orang yang bikin luh nangis" ucap Lino.


"Gak usah, lagian gue nangis bukan karena berantem kok" ucap Naya.


"Gue bilangin ke Bagas ya kalau luh habis nangis" ucap Lino.


"Ih jangan!" ucap Naya.


"Bilang ah!" usil Lino.


"Jangan!" ucap Naya.


"Gue bakal bilangin ke Bagas" ucap Lino sambil berlari.


"Lino!!!" teriak Naya sambil mengejar Lino.


Flashback Off


"No, kenapa diem?" tanya Ana.


"Aku lagi nginget kejadian dulu" ucap Lino.


"Oh iya, Naya juga cerita tentang Acha" ucap Ana.


"Tentang Acha?" tanya Lino memastikan.


"Iya, tentang Acha" ucap Ana.


"Kata Naya katanya dia pernah iri ke Acha karena Naya pikir hidup Acha enak. Padahal kenyataannya hidup Acha sama aja kayak kehidupan dia" ucap Ana.


"Maksudnya?" bingung Lino.


"No, kamu tahu gak kalau Acha tuh anak broken home?" tanya Ana.


"Broken home?" bingung Lino.


"Iya, dia anak broken home. Mamahnya Acha tuh udah meninggal dan papahnya Acha nikah lagi sama selingkuhannya" ucap Ana.


"Jadi itu bukan mamah kandung Acha?" ucap Lino.


"Kata Naya sih bukan" ucap Ana.


"Pantes aja Acha ngajakin aku jalan-jalan terus, eh ternyata waktu itu dia pingin jalan-jalan karena dia gak pingin ada dirumahnya" ucap Lino.


"Pantesan setiap kali aku ke rumahnya, Acha selalu canggung saat ada tante Salma" ucap Lino


"Acha pasti canggung lah, No! kan mamah tirinya itu selingkuhan papahnya" ucap Ana.


"Tapi Acha sabar banget ya, dia rela bertahan di rumah itu padahal udah jelas-jelas mamah tirinya itu selingkuhan papahnya" ucap Ana.


"Mungkin dia terpaksa tinggal disana, karena kan orang tua yang dia punya cuma papahnya" ucap Lino.


"Iya juga sih" ucap Ana.


"Na" ucap Lino.


"Apa?" ucap Ana.


"Kalau ada masalah, cerita ya sama aku. Mau itu masalah sama aku, keluarga atau masalah sama temen-temen kamu pokoknya kamu harus cerita ke aku" ucap Lino.


"Iya" ucap Ana.


"Janji?" ucap Lino.


"Iya janji" ucap Ana.


"Kamu juga harus janji ya" ucap Ana.


"Iya, aku janji bakal ceritain masalah aku sama kamu" ucap Lino.


"Oh iya! aku sebenernya ada masalah nih" ucap Lino.


"Ya udah ceritain" ucap Ana.


"Aku lagi bingung banget nih" ucap Lino.


"Bingung kenapa sih, No?" tanya Ana.


"Menurut kamu, aku adopsi kucing lagi jangan ya?" tanya Lino.


"Jangan! satu aja gak ke urus, gimana dua coba" ucap Ana.


"Enak aja! Dori ke urus tahu sama aku" ucap Lino.


"Jangan kucing" larang Ana.


"Terus apa?" tanya Lino.


"Piara ayam aja, nanti kan kalau udah gede tinggal di goreng" ucap Ana.


"Enggak mau" ucap Lino.


"Kenapa gak mau?" tanya Ana.


"Soalnya lebih lucu kucing dari pada ayam" ucap Lino.