
"Ya udah ayo masuk, No" ucap Ana.
Akhirnya mereka segera masuk kedalam rumah.
"Kamu duduk dulu disini ya" perintah Ana.
Lalu Lino segera duduk di sofa.
Ana segera pergi menuju dapur untuk mengambil air minum.
Setelah selesai mengambil air minum, ia segera kembali menghampiri Lino.
"Ini" ucap Ana sambil memberikan air kepada Lino.
"Makasih" ucap Lino.
"Iya sama-sama" ucap Ana.
Lino segera meminum air tersebut karena ia sangat haus.
"Eh tunggu! kamu bolos ya?" tanya Ana.
"Iya" ucap Lino.
"Kamu ngapain bolos sih, No" ucap Ana.
"Soalnya aku mau jengukin kamu, makanya aku bolos" ucap Lino.
"Oh iya, kamu sakit apa?" tanya Lino.
"Aku sebenernya gak sakit" ucap Ana.
"Terus itu di grup?" tanya Lino.
"Oh yang di grup, itu aku ngebohong biar aku gak dialfa-in" jelas Ana.
"Aku kira kamu sakit beneran" ucap Lino.
"Enggak, aku gak sakit" ucap Ana.
"Aku tuh lupa gak bawa seragam, makanya aku cari alesan supaya aku gak sekolah" ucap Ana.
"Oh gitu" ucap Lino.
"No, kamu kemarin putusin aku karena disuruh mamah kan?" tanya Ana memastikan.
Lino hanya terdiam.
"Tuh kan bener dugaan aku" ucap Ana.
"Maafin mamah aku ya, No" ucap Ana.
"Iya" ucap Lino.
"Sebenernya kemarin aku sempet kaget karena kamu bilang suka cewek yang nakal" ucap Ana.
"Kamu kaget?" tanya Lino.
"Ya iyalah, secara kan aku udah nakal. Masa iya masih diputusin" ucap Ana.
"Kamu nakal?" ucap Lino sambil menahan tawanya.
"Iya aku nakal. Kan aku pernah bolos sekolah dan aku juga udah pernah mabuk" ucap Ana.
"Enggak, kamu tuh gak nakal. Kamu kan mabuk karena dipaksa sama Rafly dan Elma" ucap Lino.
"Tapi tetep aja nakal, kan aku pernah keluar malam" ucap Ana.
"Enggak, kamu tuh anak baik-baik" ucap Lino.
"Kamu juga sama" ucap Ana.
"Kalau aku ya emang nakal" ucap Lino.
"Enggak kok, kamu gak nakal" ucap Ana.
"Aku nakal, kan aku suka ngerokok terus aku suka balapan bahkan aku sering bolos sekolah" ucap Lino.
"Tapi kan itu wajar" ucap Ana.
"Wajar apanya?" ucap Lino sambil tertawa kecil.
"Kan kamu anak cowok, jadi wajar kalau ngelakuin hal itu" ucap Ana.
"Oh iya, No! kamu mau balik lagi ke sekolah gak?" tanya Ana mengalihkan pembicaraan.
"Ya enggak lah, kalau aku balik lagi mungkin aku bakal langsung dihukum" ucap Lino.
"Terus habis dari sini, kamu mau kemana?" tanya Ana.
"Ya aku mau pulang" ucap Lino.
"Aku boleh ikut gak?" tanya Ana.
"Mau ikut kemana?" tanya Lino.
"Ke rumah kamu" ucap Ana.
"Mau ngapain ke rumah aku?" tanya Lino.
"Mau main, soalnya aku bosen disini" ucap Ana.
"Kamu disini aja deh, soalnya aku takut orang tua kamu marah kalau kamu ke rumah aku" ucap Lino.
"Mereka gak bakal marah kok, lagian kan mereka gak tahu kalau aku ke rumah kamu" ucap Ana.
"Ya udah deh terserah kamu aja" ucap Lino.
"Ya udah ayo pergi" ucap Ana.
"Mau ke rumah aku sekarang?" tanya Lino.
"Iya" ucap Ana.
"Nanti dulu lah, aku baru aja sampe masa langsung berangkat lagi" ucap Lino.
"Ya udah deh" ucap Ana.
"Oh iya! ini kenapa, No?" tunjuk Ana pada pelipis Lino.
"Kemana waktu balapan, aku berantem sama orang" ucap Lino.
"Berantem sama siapa?" tanya Ana.
"Berantem sama anggota geng motor lain" ucap Lino.
"Kenapa berantem?" tanya Ana.
"Soalnya dia gak terima kalau kalah balapan dari aku, makanya dia pukul aku" ucap Lino.
"Tapi aku udah pukul balik sih" ucap Lino lagi.
"Oh iya, kamu kemarin kenapa pingsan?" tanya Lino.
"Aku kemarin gak sarapan terus aku ke sekolah nya jalan kaki, makanya aku jadi lemes terus pingsan deh" jelas Ana.
"Kamu yang bawa aku ke UKS kan?" tanya Ana memastikan.
"Iya" ucap Lino.
"Kamu juga yang nyuruh Clara buat ngasih roti sama air mineral ya?" ucap Ana.
"Iya" ucap Lino.
"Kemarin kenapa gak dimakan rotinya?" tanya Lino.
"Soalnya kamu gak datang ke UKS, makanya aku gak makan maupun minum" kata Ana.
"Iya, soalnya aku kesel sama kamu. Aku nya sakit eh kamunya kayak yang gak peduli sama aku" ucap Ana.
"Aku peduli kok, buktinya kan aku yang gendong kamu ke UKS. Terus aku juga yang nyuruh Clara buat beliin makanan dan minuman untuk kamu" ucap Lino.
"Tapi aku gak butuh makanan atau minuman, yang aku butuhin cuma kamu. Aku mau kamu ada disamping aku" ucap Ana.
Lino hanya menatap Ana sambil tersenyum dengan tulus.
"Kamu sayang banget ya sama aku?" tanya Lino.
"Ya iyalah, No" ucap Ana.
"Bahkan kayaknya rasa sayang aku lebih besar dibandingkan sama rasa sayang kamu ke aku" ucap Ana.
"Kata siapa?" tanya Lino.
"Kata aku lah" ucap Ana.
"Kalau ternyata rasa sayang aku lebih besar dari pada kamu gimana?" tanya Lino.
"Kalau itu sih gak mungkin, soalnya yang kelihatan banget sayangnya itu ya cuma aku" ucap Ana.
"Emang aku gak kelihatan nunjukin kasih sayang aku ke kamu?" tanya Lino.
"Ya kelihatan sih, tapi lebih kelihatan aku yang sayang banget sama kamu" ucap Ana.
Trining...trining
"Siapa?" tanya Lino.
"Clara" ucap Ana.
Ana segera mengangkat panggilan telepon dari Clara.
"Hallo, Ra" ucap Ana.
"Na, katanya luh putus ya sama Lino?" tanya Clara.
"Kata siapa?" tanya Ana.
"Kata Bobby" ucap Clara.
"Enggak kok, gue gak putus sama Lino" ucap Ana.
"Kata Bobby semalem Lino galau katanya gara-gara putus sama luh, bahkan katanya Lino ngebanting handphone nya" ucap Clara.
"No, kamu bilang ke temen-temen kamu?" tanya Ana.
"Iya, semalem aku bilang" ucap Lino.
"Luh sama Lino?" tanya Clara.
"Iya" ucap Ana.
"Gue kira dia bolos ke rooftop" ucap Clara.
"Enggak, dia bolos ke rumah papah gue" ucap Ana.
"Terus tas dia gimana?" tanya Clara.
"No, kamu gak bawa tas?" tanya Ana kepada Lino.
"Enggak" ucap Lino.
"Terus tas kamu gimana?" tanya Ana.
"Tas aku nanti dibawa sama Gilang" ucap Lino.
"Tas nya nanti dibawa Gilang katanya" ucap Ana kepada Clara.
"Iya, gue tahu. Kan gue denger" ucap Clara.
"Oh iya, luh sakit apa?" tanya Clara.
"Gue sakit demam" bohong Ana.
"Boho-" ucap Lino namun terpotong karena Ana membekap mulutnya.
"Semoga cepet sembuh ya" ucap Clara.
"Iya makasih, Ra" ucap Ana.
"Ya udah kalau gitu gue tutup dulu ya teleponnya" ucap Clara.
"Iya" ucap Ana.
Clara langsung mematikan panggilan teleponnya.
Ana langsung terkejut karena posisinya sekarang sedikit menindih tubuh Lino.
Lalu Ana segera melepaskan bekapannya.
"Maaf" ucap Ana sambil bangun dengan posisi duduk dengan tegak.
"Iya gak apa-apa" ucap Lino sambil duduk dengan tegak.
"Ekhem!"
"Kenapa?" tanya Ana.
"Gak kenapa-napa, aku cuma batuk aja" ucap Lino.
"No, kamu ngebanting handphone kamu ya?" tanya Ana.
"Iya" ucap Lino.
"Terus handphone kamu rusak gak?" tanya Ana.
"Rusak sih enggak, cuma layarnya aja yang pecah" ucap Lino.
"Kenapa handphone nya dibanting?" tanya Ana.
"Gak kenapa-napa" ucap Lino.
"Kamu semalem marah ya sama mamah aku?" tanya Ana.
"Enggak kok" ucap Lino padahal sebenarnya semalam ia sedikit sakit hati dengan mamahnya Ana.
"Maafin mamah aku ya" ucap Ana merasa bersalah.
Lino hanya mengangguk mengiyakan ucapan Ana.
"Oh iya, No! aku lupa gak bikinin kamu bekel kemarin" ucap Ana.
"Oh iya ya" ucap Lino.
"Terus gimana dong?" tanya Ana.
"Ya gak gimana-gimana" ucap Lino.
"Tapi kan aku kalah taruhan sama kamu" ucap Ana.
"Ya udah nanti aja bikin bekal buat aku nya" ucap Lino.
"Ya udah besok aku bikinin bekal buat kamu ya" ucap Ana.
"Tapi kan besok libur, Na" ucap Lino.
"Oh iya, aku lupa" ucap Ana.
"Ya udah kalau gitu hari Senin aja ya" ucap Ana lagi.
"Iya boleh" ucap Lino.