ARLINO

ARLINO
Episode 32



"Luh mohon-mohon nya sampe nangis?" tanya Naya memastikan.


"Iya" ucap Ana.


"Lino nurutin permohonan luh cuma gara-gara luh nangis? mustahil banget" ucap Lia.


"Tapi emang kayak gitu kok" ucap Ana.


"Pasti ada sesuatu antara luh dan Lino yang enggak kita ketahui" ucap Lia.


"Enggak ada" ucap Ana.


"Luh pacaran sama Lino?" tanya Naya.


"Enggak!" sahut Ana.


"Gak mungkin Lino pacaran sama Ana, kan Lino masih cinta sama Acha" ucap Felisa


"Guys! udah jangan bahas tentang Lino mulu" ucap Clara.


...****...


Malam hari


Ana pun melamun karena memikirkan kejadian saat penguntit itu menggoreskan gantungan kunci berbentuk pedang kepadanya.


"Apa jangan-jangan emang bener kata Lino, kalau penguntit itu sama dengan yang nyelakain Acha" batin Ana.


"Tapi kenapa gue yang diuntit? gue kan gak terlalu deket sama Lino" batin Ana.


"Terus kenapa lagi, orang-orang pada nyangka gue sama Lino ada hubungan" batin Ana.


"Gue jadi kasihan sama Lino, pasti hidupnya hancur banget karena orang tuanya yang gak akur, terus pasti dia juga punya banyak musuh" batin Ana.


"Mereka berdua jadi nginep gak sih?" tanya Naya.


"Gue juga gak tahu" ucap Clara.


"Mereka kok lama banget sih datangnya" ucap Lia.


"Mungkin macet kali" ucap Felisa.


"Mana ada macet, orang mereka pake motor. Pasti cepet lah kesininya" ucap Lia.


Tingtong...tingtong


Clara pun mengintip dari jendela untuk memastikan siapa yang datang.


"Siapa?" tanya Naya.


"Raka" ucap Clara.


Clara pun segera keluar rumah untuk membuka pagar rumahnya.


"Masukin aja motornya" ucap Clara.


Raka pun menuruti ucapan Clara.


Setelah itu Clara dan Raka pun masuk kedalam rumah.


"Si Lino mana?" tanya Raka sambil duduk disebelah Ana.


"Belum datang" ucap Clara.


"Luh kok lama banget sih datangnya" ucap Lia.


"Tadi gue disuruh bantuin orang tua gue dulu" ucap Raka.


"Lino kok lama banget ya datangnya" batin Ana.


"Ana, luh kenapa bengong?" tanya Raka tetapi tidak dijawab oleh Ana.


Raka pun menggoncang tubuh Ana.


"Ana!!!" teriak Raka tepat ditelinga Ana.


"Luh kapan kesini?" tanya Ana.


"Gue dari tadi disini" kesal Raka.


"Maaf gue gak tahu" kata Ana.


"Luh bengong karena mikirin kejadian yang tadi?" tanya Raka.


Ana pun hanya mengangguk mengiyakan ucapan Raka.


"Udah jangan dipikirin" ucap Raka.


"Guys! gue ke toilet dulu ya" ucap Ana.


Ana pun segera pergi ke toilet.


Didalam toilet, Ana pun mengirim pesan kepada Lino.


Setelah mengirim pesan, Ana pun kembali menuju ruang tamu.


Lalu Ana pun duduk disamping Raka.


Tingtong...tingtong


Clara pun membuka pintu rumahnya.


"Sini masuk" teriak Clara.


"Motornya masukin aja, No" ucap Clara.


Lino pun memasukkan motornya. Sedangkan Clara sedang mengunci pagar agar tidak ada orang yang masuk.


Setelah itu mereka berdua pun masuk kedalam rumah. Dan mereka pun segera duduk di sofa.


Ting


(Suara pesan masuk)


Lino pun mengambil ponselnya yang berada disaku celananya.


Saat Lino melihat ponselnya, ternyata ada pesan masuk dari Ana.


Lino pun langsung menatap kearah Ana karena ia heran kenapa Ana mengirim pesan sedangkan dirinya ada ditempat yang sama dengan Lino.


Karena penasaran, akhirnya Lino pun membuka isi pesannya.


Ana :


No, luh dimana?


Luh gak apa-apa kan?


Lino pun segera membalas pesan Ana walaupun keduanya ditempat yang sama.


Lino :


Di rumah Clara


Gue gak apa-apa


Lalu Ana pun membalas pesan tersebut.


Ana :


Telat banget balas nya.


Lino pun melirik kearah Ana.


"Oh ternyata pesannya telat nyampe ke gue nya" batin Lino


"Kenapa, No?" tanya Raka karena ia merasa Lino melihat kearahnya padahal sebenarnya Lino melihat kearah Ana.


"Gak apa-apa" ucap Lino.


"Guys gue lapar" keluh Lia.


"Itu kan udah gue simpen disitu, biar luh semua makan" ucap Clara sambil menunjuk tas belanjaan yang berisi makanan dan minuman.


"Oh itu buat kita?" tanya Lia memastikan.


"Ya iyalah" ucap Clara.


"Gue mau ya" ucap Naya dan Felisa bersamaan.


"Silahkan aja kan itu buat kalian semua" ucap Clara.


Lia, Naya dan Felisa pun memakan makanan dan minuman yang telah disediakan oleh Clara.


"Na, kenapa gak makan snack nya? kan itu ada snack favorit luh" ucap Clara.


"Enggak, Ra. Gue lagi gak mood makan" ucap Ana.


"Bilang aja lagi diet" ucap Raka.


"Gue gak diet kok" ucap Ana.


"Kalau gak mood makan ya minum aja, sayang kan kalau gak dihabisin" ucap Clara.


Akhirnya Ana pun mengambil kopi kemasan botol.


"Jangan minum kopi dimalam hari!" ucap Raka.


"Emang kenapa?" tanya Ana.


"Nanti luh susah tidur" ucap Raka.


"Gak apa-apa" ucap Ana.


Ana pun segera meminum kopi tersebut.


"Lino, Raka, ayo makan makanannya" ucap Clara.


Lino dan Raka pun langsung mengambil snack dan minuman yang telah disediakan oleh Clara.


"Orang tua luh kemana?" tanya Naya kepada Clara.


"Keluar kota" ucap Clara.


"Oh gitu" ucap Naya.


"Ana nginep di rumah luh sampe kapan?" tanya Felisa.


"Sampe orang tua Ana udah pulang" ucap Clara.


"Oh gitu" ucap Felisa.


Trining...trining


(Suara ponsel Naya)


Naya pun segera mengangkat panggilan telepon dari kakaknya.


"Hallo, kak" ucap Naya.


"Luh dimana?" tanya Bagas.


"Di rumah Clara" ucap Naya.


"Luh mau nginep disana?" tanya Bagas.


"Iya" ucap Naya.


"Lagian disini rame banget yang nginep, jadi seru deh" ucap Naya.


"Emang ada siapa aja?" tanya Bagas.


"Ada Clara, Felisa, Lia, Ana, Lino sama Raka" ucap Naya.


"Ngapain si Lino sama si Raka nginep disana?" tanya Bagas.


"Mau ngejagain Ana" ucap Naya.


"Emang Ana kenapa?" tanya Bagas.


"Katanya ada yang nguntit Ana" ucap Naya.


"Nguntit Ana?" tanya Bagas memastikan.


"Iya" ucap Naya.


"Tapi Ana gak kenapa-napa kan?" tanya Bagas sedikit khawatir.


"Ana luka ditangan nya" ucap Naya.


"Kalau gitu, gue kesana ya" ucap Bagas.


"Mau ngapain?" tanya Naya.


"Mau nginep di rumah Clara" ucap Bagas.


Lalu Bagas pun segera mematikan panggilan teleponnya, dan ia pun segera pergi ke rumah Clara.


"Kebiasaan banget matiin telepon tanpa bilang dulu" kesal Naya.


"Kenapa, Nay?" tanya Lia.


"Kakak gue katanya mau nginep disini" ucap Naya.


"Kenapa Bagas mau nginep disini?" tanya Raka.


"Mungkin dia khawatir banget sama Ana" ucap Naya.


"Khawatir? emangnya ada hubungan apa dia sama Ana?" bingung Raka.


"Dia suka sama Ana" ucap Naya.


"Kok jadi bawa-bawa nama gue sih" ucap Ana.


"Bukannya dia bilang udah gak suka ya sama Ana" ucap Felisa.


"Dia ngomong gitu karena dia ngalihin pembicaraan aja, soalnya kan Aldi waktu itu keceplosan bocorin rahasia dia" jelas Naya.