
Pelayan restoran segera menghampiri Ana dan juga Lino. Lalu pelayan tersebut langsung meletakan pesanan Ana dan Lino.
"Terima kasih" ucap Ana sambil tersenyum.
"Iya sama-sama" ucap pelayan tersebut.
Lalu pelayan tersebut segera pergi.
"Udah jangan dilihatin mulu" ucap Lino.
"Habisnya pelayan restoran nya ganteng" ucap Ana.
"Gantengan juga aku" ucap Lino.
"Ih! percaya diri banget" ucap Ana sambil tertawa kecil.
"Aku kan emang ganteng, Na" ucap Lino.
"Kata siapa?" tanya Ana.
"Ya kata kamu lah" ucap Lino.
"Kapan aku ngomong gitu?" tanya Ana.
"Sebelum kamu hilang ingatan, kamu selalu ngomong aku ganteng" ucap Lino.
"Kamu emang ganteng sih" ucap Ana.
Lino langsung tersenyum bangga.
"Tapi kalau dilihat dari ujung sedotan" canda Ana sambil tertawa kecil.
"Gak lucu" ucap Lino sedikit kesal.
"Idih marah. Padahal kan aku cuma bercanda" ucap Ana.
"Udah cepet makan, jangan banyak omong" ucap Lino.
"Ini ditraktir kamu kan?" tanya Ana memastikan.
"Enggak, bayar masing-masing" canda Lino.
"Ya udah gak jadi deh, buat kamu aja" ucap Ana.
"Ya ampun aku cuma bercanda" ucap Lino.
"Jadinya ditraktir?" tanya Ana.
"Iya" ucap Lino.
"Makasih" ucap Ana sambil tersenyum.
"Iya sama-sama" ucap Lino sambil tersenyum.
Lalu mereka berdua langsung menikmati makanan dan minuman tersebut.
"Enak gak?" tanya Lino.
Ana hanya mengangguk.
"Oh iya, Na! mamah kamu udah gak marah ya sama aku?" tanya Lino memastikan.
"Iya, dia udah gak marah kok" ucap Ana.
"Kalau udah gak marah, berarti aku boleh dong antar jemput kamu ke sekolah?" tanya Lino.
"Gak tahu" ucap Ana.
"Kok gak tahu sih" ucap Lino.
"Kamu harus bilang dulu ke mamah" ucap Ana.
"Kamu aja deh yang bilang" ucap Lino.
"Kok aku sih yang bilang" heran Ana.
"Soalnya kalau aku yang bilang nanti pasti dimarahin" ucap Lino.
"Ih gak gentle banget jadi cowok" sindir Ana.
"Ya udah deh nanti aku bilang ke mamah kamu" ucap Lino karena ia tidak mau disebut tidak gentle.
"Nah gitu dong" ucap Ana.
"Oh iya, No! dulu aku tuh orangnya kayak gimana sih?" tanya Ana.
"Kamu tuh orangnya bawel banget, terus cengeng" ucap Lino.
"Kok nyebutnya yang jelek-jelek sih" kesal Ana.
"Tapi kan itu fakta" ucap Lino.
"Sebutin yang baik nya dong!" suruh Ana.
"Kamu tuh orangnya pemaaf" ucap Lino.
"Cuma pemaaf doang?" tanya Ana.
"Sebenernya masih banyak sifat baik yang lainnya, tapi aku males nyebutin satu persatu" ucap Lino.
"No, soal video aku waktu di club. Itu beneran aku atau orang lain sih?" tanya Ana karena takutnya memang benar dia yang ada didalam video tersebut.
"Itu editan" bohong Lino.
"Syukur deh kalau bukan aku, soalnya aku kepikiran banget tentang video itu" ucap Ana.
"Iya itu bukan kamu kok" ucap Lino.
"Waktu itu kamu kenapa sih pake nonjok Faisal segala?" tanya Ana.
"Soalnya dia udah fitnah kamu dan ngasih tahu guru BK" ucap Lino padahal memang benar bahwa itu video Ana.
"Padahal jangan sampe nonjok segala" ucap Ana.
"Ya kan sebagai cowok kamu aku berhak nonjok dia karena dia udah fitnah kamu" ucap Lino.
"Sebagai cowok aku?" ucap Ana sambil tersenyum.
"Ya iyalah, masa sebagai cowok orang" ucap Lino.
"Kamu romantis juga ya sampe bela-belain nonjok orang demi ngebela pacarnya" ucap Ana.
"Sebenernya aku gak terlalu romantis sih" ucap Lino.
"Gak terlalu romantis gimana? orang romantis gitu" ucap Ana.
"Oh iya, No! ngomong-ngomong kasihan juga ya Cindy" ucap Ana tiba-tiba.
"Kasihan?" bingung Lino.
"Iya kasihan. Soalnya kan dia masih terbilang anak baru dikelas dan pastinya dia gak ada temen deket" ucap Ana.
"Padahal Cindy udah bohongin kamu, tapi kamu masih aja baik sama dia" heran Lino.
"Tadinya aku sih emang kesel sama dia, tapi makin kesini aku jadi kasihan" ucap Ana.
Trining...trining
Lino segera melihat ke layar ponselnya dan ternyata ada panggilan telepon dari Gilang.
Lalu Lino langsung mematikan panggilan telepon tersebut.
"Kenapa ditolak?" tanya Ana.
"Soalnya ini yang nelpon Gilang" ucap Lino.
"Emang Gilang kenapa? kok ditolak panggilan nya" heran Ana.
"Soalnya dia suka ngobrolin yang gak penting" ucap Lino.
"Telepon lagi aja, siapa tahu kali ini penting" kata Ana.
Dengan terpaksa Lino langsung menuruti perkataan Ana.
Tidak menunggu lama, Gilang langsung menjawab panggilan telepon dari Lino.
"Hallo, No" ucap Gilang.
"Iya" ucap Lino.
"Luh dimana, No?" tanya Gilang.
"Gue di restoran" ucap Lino.
"Sama siapa?" tanya Gilang.
"Sama cewek gue" ucap Lino.
"Luh ada apa sih nelpon gue?" tanya Lino.
"Gue mau nginep di rumah luh" ucap Gilang.
"Ya udah nanti aja jam 10 ke rumah gue nya, soalnya ini gue masih sama cewek gue" ucap Lino.
"Ya udah deh kalau gitu" ucap Gilang.
Lalu Lino segera mematikan panggilan teleponnya.
"Kenapa, No?" tanya Ana.
"Gilang katanya mau nginep di rumah aku" ucap Lino.
"Nginep? bukannya besok sekolah ya?" tanya Ana.
"Ya emang, tapi kan dia bawa seragam, tas sama alat-alat tulisannya" ucap Lino.
"Kalian tuh sahabatan ya?" tanya Ana.
"Iya" ucap Lino.
"Oh iya, No! kan waktu di chat katanya kamu mau ke rumah orang tua kamu. Berarti kamu gak tinggal bareng dong sama orang tua kamu" ucap Ana.
"Iya, aku gak tinggal bareng" ucap Lino.
"Kenapa gak tinggal bareng?" tanya Ana.
"Gak kenapa-napa, aku pingin tinggal sendiri aja" ucap Lino.
"Padahal kalau aku sih pingin banget tinggal bareng orang tua" ucap Ana.
"Tapi kan kamu emang tinggal bareng orang tua kamu" ucap Lino.
"Emang sih, tapi aku ngerasa aku tinggal barengnya sama mamah doang. Soalnya aku gak pernah lihat papah di rumah, dia sibuk mulu sama pekerjaannya" ucap Ana.
"Apa mamah Ana gak bilang ya ke Ana kalau mereka udah cerai" batin Lino.
"Kenapa diem, No?" tanya Ana.
"No" panggil Ana.
"Kenapa?" ucap Lino.
"Orang itu dari belakang mirip papah aku tahu" tunjuk Ana.
Sontak Lino langsung melihat kearah yang ditunjuk Ana.
"Na, kita pergi yuk dari sini" ucap Lino.
"Tapi kan makanan kamu belum habis" ucap Ana.
"Aku udah kenyang" ucap Lino.
"Ya udah ayo" ucap Lino sambil menarik Ana menuju kasir.
"Oh iya, ini jas kamu" ucap Ana sambil memberikan jas kepada Lino.
Lino segera mengambil jas tersebut, kemudian ia segera memakainya.
Setelah sampai di kasir, Lino segera membayar makanan dan minuman yang ia pesan.
Setelah itu, Lino segera membawa Ana keluar dari restoran.
"No, kenapa sih buru-buru amat" ucap Ana.
"Soalnya aku pingin nunjukin sesuatu ke kamu" bohong Lino padahal sebenarnya ia sangat takut apabila Ana melihat papahnya bersama seorang cewek.
"Nunjukin apa?" tanya Ana.
"Ayo masuk ke mobil dulu" suruh Lino.
Mereka berdua segera masuk kedalam mobil.
"Mau nunjukin apa sih?" tanya Ana penasaran.
"Nanti juga kamu tahu" ucap Lino sambil melajukan mobilnya.
"Aduh! gue harus nunjukin apa nih?" batin Lino.
"Kamu mau kemana sih, No?" tanya Ana..
"Nanti juga kamu tahu" ucap Lino padahal ia juga bingung harus kemana.
Karena tidak ada pilihan lain, akhirnya Lino segera pergi menuju pantai.
Sesampainya di pantai, Lino langsung memberhentikan mobilnya.
"Jadi kamu mau nunjukin pantai di malam hari gitu?" tanya Ana.
"Iya" ucap Lino.
"Ya udah ayo turun, Na" ucap Lino.
Mereka berdua segera turun dari mobil.
"No" panggil Ana.
"Apa?" tanya Lino.
"Kita duduk disana yuk!" ajak Ana.
"Ya udah ayo" ucap Lino.
Ana dan Lino segera duduk diatas pasir pantai.
"No" panggil Ana.
"Iya kenapa, Na?" tanya Lino.
"Aku ngerasa dejavu deh, apa aku pernah ngalamin ini juga ya sebelum aku hilang ingatan?" tanya Ana.
"Iya pernah" ucap Lino.
"Dingin banget ya udara nya" ucap Ana.
"Ya ampun, kenapa gak ngomong dari tadi" ucap Lino sambil membuka jas nya.
Lalu Lino segera memakaikan jas tersebut kepada Ana.
"Eh gak usah, nanti kamu kedinginan" ucap Ana.
"Gak apa-apa, pake aja sama kamu. Lagian aku suka angin" ucap Lino sambil tersenyum.
"Kamu gak kedinginan, No?" tanya Ana.
"Enggak" ucap Lino.
"Yah! padahal tadinya kalau kedinginan mau aku peluk" ucap Ana.
"Eh iya, aku kedinginan nih" ucap Lino sambil tersenyum.
"Gak jadi deh peluk nya" ucap Ana sambil tertawa kecil.
"Ih ngeselin banget sih" ucap Lino sambil mencubit pipi Ana.
"Aww" ringis Ana.
"Sakit ya, Na?" tanya Lino.
"Ya iyalah, pake nanya lagi" ucap Ana.
"Maaf" ucap Lino.
"Iya, aku udah maafin kok" ucap Ana.
"Oh iya tadi sebelum ke restoran kamu minta bayaran kan?" tanya Lino.
"Bayaran karena bilang sayang?" tanya Ana memastikan.
"Iya" ucap Lino.
"Tadi tuh aku cuma bercanda, No" kali ucap Ana.
"Tapi aku mau bayar, karena kamu kan udah mau ikut aku makan malem" ucap Lino.
"Gak usah, emangnya aku barang apa pake dibayar pake uang segala" ucap Ana.
"Tapi aku bukan mau bayar pake uang" ucap Lino.
"Terus pake apa dong?" tanya Ana.
Lino mendekatkan wajahnya ke Ana, lalu ia langsung mencium bibir Ana.
Ana hanya bisa diam mematung saat Lino menciumnya.
Karena merasa kehabisan nafas, Ana langsung memukul Lino.
Sontak Lino langsung melepaskan ciumannya.
"No, aku mau pulang" ucap Ana dengan wajah yang memerah.
Lino melihat kearah jam tangan nya.
"Ya udah ayo kita pulang" ucap Lino.
Ana dan Lino segera menghampiri mobil. Setelah itu, mereka berdua segera masuk kedalam mobil.
Tiba-tiba Lino mendekat kearah Ana.
Sontak Ana langsung menutup matanya.
"Kamu kenapa, Na?" tanya Lino sambil menahan tawanya.
Ana kembali membuka matanya dan ternyata dugaannya salah.
Ternyata Lino mendekat kearahnya karena ia sedang memakaikan Ana sabuk pengaman.
"Kamu ngira kalau aku bakal nyium kamu ya, Na?" tanya Lino sambil tersenyum.
"Enggak kok" ucap Ana sambil menahan malu.
"Terus kenapa kamu tutup mata?" tanya Lino.
"Tadi aku cuma kelilipan" bohong Ana.
"Oh kelilipan" ucap Lino sambil menahan tawanya.
"Ya udah ayo pulang" ucap Ana.
Lalu Lino segera melajukan mobilnya menuju rumah Ana.
Skip
Setelah sampai, Lino segera memberhentikan mobilnya.
"Sayang, bangun" ucap Lino sambil menepuk pundak Ana.
Ana langsung membuka kedua matanya.
"Udah sampe, Na" ucap Lino sambil membuka sabuk pengaman Ana.
Ana segera melepas jas milik Lino.
"Ini, makasih ya" ucap Anas sambil memberikan jas milik Lino.
"Iya" ucap Lino sambil mengambil jas nya.
"Maaf ya aku ketiduran" ucap Ana.
"Iya gak apa-apa" ucap Lino.
"Ya udah aku pulang dulu ya" ucap Ana.
"Iya" ucap Lino.
Lalu Ana segera keluar dari mobil Lino.
"Hati-hati, No" ucap Ana sambil menutup pintu mobil Lino.
"Iya" ucap Lino.
"Ya udah sana masuk!" perintah Lino.
"Aku nunggu kamu pergi dulu, baru nanti aku masuk" ucap Ana.
"Udah kamu masuk duluan aja" ucap Lino.
"Ya udah deh kalau gitu aku masuk ya" ucap Ana.
"Iya" ucap Lino.
Ana segera masuk kedalam rumahnya.
Setelah Ana masuk, Lino segera melajukan mobilnya menuju rumahnya.