ARLINO

ARLINO
Episode 40



Skip


* Kantin


Lino dan Gilang pun menghampiri kearah Ana, Clara, Naya, Lia dan Felisa.


"Kita boleh gabung disini gak?" tanya Gilang.


"Boleh" ucap Felisa.


Lalu Lino dan Gilang pun segera duduk dan mereka pun langsung memakan makanan yang mereka pesan.


"Na, luh kenapa?" tanya Gilang.


"Gue gak kenapa-napa kok" ucap Ana gugup karena ada Lino.


"Tapi kok luh kayak jadi pendiem gitu" kata Gilang.


"Emang kalau Ana jadi diem kenapa?" tanya Felisa.


"Lebih anggun aja gitu" ucap Gilang.


"Anggun dari mananya coba?" kata Lino sambil menahan tawanya.


"Ngeselin banget sih Lino" batin Ana.


"Luh lagi badmood ya, Na?" tanya Clara.


"Enggak" ucap Ana.


"Apa jangan-jangan luh diteror lagi sama penguntit itu?" tanya Clara.


Ana pun hanya terdiam.


"Penguntit itu masih ngikutin luh?" tanya Gilang.


Ana pun tidak menjawab ucapan Gilang dan ia malah pergi menjauh dari teman-temannya.


"Dia kenapa pergi?" tanya Naya.


Lino pun segera mengejar Ana.


"Na" panggil Lino sambil memegang pergelangan tangan Ana.


"Lepasin, No" ucap Ana.


"Gue bakal lepasin asal luh jawab dulu pertanyaan gue" ucap Lino.


"Pertanyaan apa?" tanya Ana.


"Penguntit itu masih neror luh?" tanya Lino.


Ana pun hanya mengangguk mengiyakan ucapan Lino.


"Luh kenapa gak bilang ke gue dari awal?" tanya Lino.


"Dia datang ke rumah luh?" tanya Lino dan hanya dibalas anggukan oleh Ana.


"Dia ngirim surat ke gue" jelas Ana.


"Isi suratnya apa?" tanya Lino.


Ana pun tidak menjawab ucapan Lino.


"Jawab, Na!" ucap Lino dengan keras.


"Dia nyuruh gue buat jauhin luh" ucap Ana pelan.


"Yaudah kalau gitu mulai sekarang jauhin gue" perintah Lino.


"Gue gak bisa" ucap Ana.


"Kenapa?" tanya Lino.


Ana pun tidak mau menjawab ucapan Lino.


"Karena luh suka sama gue?" tanya Lino.


Ana pun hanya mengangguk mengiyakan ucapan Lino.


"Mulai sekarang hilangin aja perasaan luh sama gue. Lagian gue gak suka sama luh" ucap Lino.


Lalu Lino pun meninggalkan Ana sendirian.


Tanpa sadar air mata Ana pun terjatuh dikarenakan ucapan Lino.


Ana pun langsung berlari menuju kelasnya, karena ia tidak mau kalau orang lain melihat ia sedang menangis.


Setelah sampai dikelas, Ana pun menangis sambil menenggelamkan kepalanya diatas meja.


"Ana, luh kenapa gak bareng temen-temen luh?" tanya Bagas sambil duduk disamping Ana.


Ana pun tidak menjawab ucapan Bagas.


Bagas pun mengangkat bahu Ana.


"Na, luh nangis?" ucap Bagas.


Bukannya berhenti, Ana malah semakin menangis karena mendengar ucapan Bagas.


"Luh kenapa, Na?" tanya Bagas namun tidak dijawab oleh Ana.


Bagas pun langsung memeluk Ana untuk menenangkannya agar tidak menangis lagi.


Lalu semua siswa dan siswi kelas XI MIPA 4 pun segera masuk ke kelasnya.


Dan mereka semua pun melihat Bagas yang sedang memeluk Ana.


"Gas, luh kenapa meluk Ana?" tanya Gilang.


"Ana, luh nangis?" tanya Naya.


"Bagas, luh apain Ana?" tanya Clara kesal.


"Gue cuma nenangin dia doang kok" ucap Bagas sambil melepaskan pelukannya.


Lino pun langsung melihat kearah Ana lalu dengan cepat ia pun segera mengalihkan pandangannya. Kemudian ia pun langsung duduk dikursinya.


"Wah jangan-jangan Bagas sama Ana jadian nih" sahut Aldi.


"Deketnya sama siapa, jadiannya sama siapa" ucap Gilang.


Ana pun tidak menjawab ucapan Aldi dan Gilang karena ia sedang tidak mood. Sedangkan Bagas, ia pun segera duduk dikursinya yang berada disamping Lino.


"Gue gak diapa-apain kok" ucap Ana.


"Terus kenapa luh nangis?" tanya Felisa.


Ana pun tidak menjawab ucapan Felisa.


"Udah, Fel! jangan ditanya, Ana lagi badmood" kata Clara.


...****...


Skip


Pulang sekolah


"Ana!" teriak Raka sambil berlari kearah Ana.


"Maaf ya tadi pagi gue berangkat duluan, habisnya gue teken bel rumah luh, luh nya gak keluar-keluar" jelas Raka.


"Iya gak apa-apa" ucap Ana tanpa melihat kearah Raka.


"Luh kenapa?" tanya Raka.


Ana pun tidak menjawab ucapan Raka.


"Luh habis nangis ya?" tanya Raka namun tidak dijawab oleh Ana.


"Yaudah ayo naik" suruh Raka.


Ana pun segera menaiki motor milik Raka.


Lalu Raka pun segera melajukan motornya.


"Ka!" panggil Ana.


"Kenapa, Na?" tanya Raka.


"Gue gak mau pulang dulu" ucap Ana.


"Yaudah sekarang luh mau nya kemana?" tanya Raka.


"Ke pantai" ucap Ana.


Raka pun langsung menuruti ucapan Ana.


Setelah sampai di pantai, kita berdua pun langsung turun dari motor.


Ana pun langsung duduk diatas pasir sambil menatap lurus kedepan.


"Na, luh ada masalah apa?" tanya Raka.


"Gue tadi ngaku ke Lino kalau gue suka sama dia" ucap Ana sambil menunduk.


"Bagus lah! terus kenapa luh nangis?" tanya Raka memastikan.


"Dia nyuruh gue buat ngejauh dari dia" ucap Ana dengan mata yang berkaca-kaca.


"Lino beneran ngomong kayak gitu?" tanya Raka tidak percaya.


Ana pun hanya mengangguk mengiyakan ucapan Raka.


"Tapi menurut gue, dia juga suka sama luh" kata Raka.


"Dia gak suka sama gue" ucap Ana.


"Udah jangan dipikirin! lagian cowok masih banyak" ucap Raka.


"Gue nyesel banget ngakuin kalau gue suka sama dia" ucap Ana.


"Biarin kali, emang suka sama orang itu dosa? kan enggak" ucap Raka.


"Tapi gue malu sama dia karena udah ngungkapin perasaan gue yang sebenarnya" kata Ana.


"Emang tadi luh ngungkapin nya sambil lihatin semua orang?" tanya Raka.


"Enggak" ucap Ana.


"Ya udah gak usah malu, kan yang tahu cuma luh berdua" ucap Raka.


"Bertiga! kan sama luh" sahut Ana.


"Eh iya juga" ucap Raka sambil tertawa.


"Ya udah luh mau pulang kapan?" tanya Raka.


"Sekarang aja" ucap Ana.


"Ya udah ayo!" ajak Raka.


Mereka berdua pun segera menaiki motor. Lalu Raka pun langsung melajukan motornya.


Setelah sampai di rumah, Ana pun langsung turun dari motornya Raka.


"Makasih, Ka" ucap Ana.


"Iya sama-sama" ucap Raka.


"Luh jangan nangis lagi" kata Raka sambil mengelus rambut Ana.


"Ya udah gue masuk ya" ucap Ana.


"Iya" kata Raka.


Ana pun segera masuk kedalam rumahnya.


Setelah Ana masuk kedalam rumahnya, Raka pun segera pergi. Bukan pergi ke rumahnya, tapi ia pergi menuju rumah Lino.


Setelah sampai di rumah Lino, ia pun langsung menekan bel rumah Lino. Tidak lama, Lino pun segera datang menghampiri Raka.


"Ada apa?" tanya Lino.


"Gue mau ngomong sesuatu sama luh" ucap Raka.


"Pasti tentang Ana kan?" tanya Lino.


"Iya" ucap Raka.


"Ya udah ayo masuk" kata Lino.


Akhirnya mereka berdua pun segera masuk kedalam rumah. Dan mereka pun langsung duduk disofa.