
Skip
Bel pulang sekolah pun berbunyi.
"Na" panggil Raka.
Ana pun langsung menoleh kearah belakang sebab ada yang memanggilnya.
Saat mengetahui siapa yang memanggilnya, Ana pun langsung mempercepat langkah kakinya.
Raka pun langsung mengejar Ana, lalu ia pun memegang tangan Ana.
"Maafin gue, waktu itu gue emosi banget lihat luh sama Lino" ucap Raka.
"Gue udah maafin kok" ucap Ana.
"Kalau udah maafin, kenapa luh menghindar?" tanya Raka.
"Gue gak menghindar" ucap Ana.
"Mau pulang bareng gak?" tanya Raka.
"Gak usah" ucap Ana.
"Yaudah deh, kalau kamu gak mau" ucap Raka, lalu ia pun mengelus rambut Ana sebelum pergi meninggalkannya.
Ana pun segera pulang dengan menaiki ojek yang ada di sekolahnya.
Saat di perjalanan menuju rumahnya, Ana pun menoleh ke sampingnya. Dan ia melihat Raka.
"Pak, cepetan bawa motornya" perintah Ana kepada tukang ojek.
Tukang ojek itu pun segera mengikuti perintah Ana.
Saat tukang ojek itu mempercepat laju motornya, Raka pun ikut mempercepat laju motornya juga karena untuk mengikuti Ana.
"Raka kenapa sih ngikutin gue mulu" batin Ana.
"Itu pacarnya ya, neng?" tanya tukang ojek.
"Bukan, pak! dia temen saya" ucap Ana.
"Kenapa ngikutin mulu? kalian marahan ya?" tanya tukang ojek.
"Enggak kok, pak" ucap Ana
Setelah sampai di rumah, Ana pun langsung turun dan memberikan uang kepada tukang ojek tersebut.
Saat hendak ingin memasuki ke rumah, tiba-tiba tangan Ana dipegang oleh Raka.
"Kenapa lagi?" tanya Ana.
"Gue mau main ke rumah luh, boleh kan?" tanya Raka.
Ana pun hanya mengangguk.
"Yaudah masuk" ucap Ana.
Saat mau masuk kedalam rumah, Ana pun terdiam sejenak.
"Ka, luh tunggu diteras aja" ucap Ana.
"Kenapa? biasanya kan luh langsung nyuruh gue masuk" tanya Raka.
"Nanti gue jelasin" ucap Ana.
"Gue ganti baju dulu, nanti gue kesini" ucap Ana lagi.
"Oke" ucap Raka.
Ana pun segera pergi menuju kamarnya untuk berganti pakaian.
Raka pun duduk diteras rumah Ana, sambil memainkan ponselnya.
Saat Raka sedang memainkan ponselnya, tiba-tiba ia merasa ada seseorang yang sedang melihat kearahnya.
Lalu Raka pun melihat kearah tersebut, dan memang benar ada seseorang yang sedang memperhatikannya.
Saat mau mengejar orang itu, tiba-tiba Ana pun memanggil Raka.
"Ka, mau kemana?" tanya Ana.
"Enggak mau kemana-mana kok" ucap Raka.
Lalu Raka pun menghampiri Ana, dan duduk didepan teras rumah Ana.
"Tadi luh mau ngejelasin apa?" tanya Raka.
"Luh tahu gak rumor tentang gue?" tanya Ana.
"Tentang Chika?" tanya Raka.
"Bukan yang itu" ucap Ana.
"Terus yang mana?" tanya Raka.
"Rumor yang di Facebook" ucap Ana.
"Gue gak tahu, soalnya gue gak punya Facebook" ucap Raka.
"Emang rumor apa?" tanya Raka.
Ana pun langsung memperlihatkan layar ponselnya kepada Raka.
"Ini siapa yang bikin rumor?" tanya Raka.
"Gue juga gak tahu, soalnya akunnya pake nama palsu" ucap Ana.
"Si Lino ngapain ke rumah luh?" tanya Raka.
"Kita waktu itu mau curhat tentang rumor yang katanya gue penyebab Chika bunuh diri" ucap Ana.
"Berdua doang di rumah?" tanya Raka.
"Enggak kok, kita berempat sama Clara dan Gilang. Tapi waktu itu Clara sama Gilang belum nyampe ke rumah gue" jelas Ana.
"CCTV?" tanya Ana.
"Iya, soalnya ada yang nguntit luh" ucap Raka.
"Luh tahu dari mana?" tanya Ana.
"Tadi sebenernya gue lihat orang didepan gerbang rumah luh" ucap Raka pelan.
"Ka, gue takut" ucap Ana.
"Luh bilang aja ke orang tua luh kalau takut" ucap Raka.
"Tapi orang tua gue lagi pergi ke luar negeri" ucap Ana.
"Mereka pulangnya kapan?" tanya Raka.
"Enggak tahu, tapi kata mereka sih semingguan di Jepang nya" ucap Ana.
"Na, lebih baik luh nginep deh di rumah saudara luh" ucap Raka.
"Kan luh tahu sendiri kalau saudara gue pada tinggal di luar kota" ucap Ana.
"Oh iya, gue lupa" kata Raka.
"Yaudah luh nginep di rumah temen luh yang cewek aja" saran Raka.
"Yaudah deh nanti gue nginep di rumahnya Clara aja" ucap Ana.
"Telepon aja sekarang Clara nya" ucap Raka.
Ana pun segera menelepon Clara.
"Hallo, Ra" ucap Ana.
"Iya kenapa, Na?" tanya Clara.
"Gue boleh nginep gak di rumah luh" ucap Ana.
"Boleh" ucap Clara.
"Nanti kirim ya alamatnya ke WhatsApp" ucap Ana.
"Oke" kata Clara.
"Udah dulu ya, gue mau siapin barang-barang gue" ucap Ana.
"Iya" ucap Clara.
Ana pun segera menutup panggilan teleponnya.
"Ka, gue mau siapin barang-barang dulu ya" ucap Ana.
"Gue bantu ya" ucap Raka.
"Gak usah, nanti yang ada orang itu fotoin kita" ucap Ana pelan.
"Yaudah gue tunggu disini ya, gue nanti yang anter luh ke rumah Clara" ucap Raka.
Ana pun mengangguk mengiyakan ucapan Raka.
Lalu Ana pun segera pergi ke kamarnya untuk mengemasi barang-barang yang akan dibawa.
Setelah selesai mengemas barang-barang, Ana pun segera menghampiri Raka.
"Ka, orang yang tadi luh lihat itu cewek atau cowok?" tanya Ana.
"Mungkin cowok, tapi gue gak tahu juga soalnya dia pake topi bisa jadi rambut dia diiket terus dimasukin kedalam topinya" ucap Raka.
"Luh lihat mukanya?" tanya Ana.
"Enggak, dia pake masker" ucap Raka.
"Apa jangan-jangan dia orang yang ngebully temen luh itu" ucap Raka lagi.
"Iya juga sih, soalnya dia pasti dendam banget sama gue karena dia dikeluarin dari sekolah" ucap Ana.
"Hmm...tapi kalau ternyata itu yang mau maling gimana" ucap Ana lagi.
"Bukan maling deh kayaknya" ucap Raka.
"Yaudah, lebih baik sekarang kita ke rumahnya Clara" ucap Raka lagi.
Ana pun mengangguk mengiyakan ucapan Raka.
Ana pun segera mengunci pintu rumahnya.
Lalu Ana pun segera membawa tas namun ia dicegah oleh Raka.
"Biar gue yang bawa" ucap Raka.
"Gak usah" ucap Ana.
"Gak apa-apa biar gue aja yang bawa" ucap Raka.
Lalu Raka pun segera membawa tas yang cukup besar itu menuju motornya.
Setelah Raka membawa tas nya, Ana pun langsung mengunci gerbang rumahnya agar tidak ada yang masuk.
"Nanti gue bilang deh ke satpam supaya keamanannya diperketat" ucap Raka.
Ana pun hanya mengangguk.
"Yaudah naik yuk!" ucap Raka.
"Tas nya dibelakang aja, nanti ngehalangin luh" ucap Ana.
"Gak apa-apa, gue masih bisa liat jalan kok" kata Raka.
"Yaudah deh kalau gitu" ucap Ana.
Ana pun segera menaiki motor Raka.
Dan mereka berdua pun segera pergi menuju rumahnya Clara.