
Sepulang dari sekolah, Ana dan Cindy pergi menuju cafe terdekat.
* Cafe
"Oh iya, Na! kamu mau pesan apa? nanti biar aku yang traktir" ucap Cindy.
"Samain aja deh kayak luh" ucap Ana.
"Ya udah tunggu sebentar ya" ucap Cindy.
"Iya" ucap Ana.
Cindy segera pergi untuk memesankan makanan dan minuman untuk dirinya dan juga Ana.
Tiba-tiba datang seorang cowok yang menghampiri Ana.
"Hai Ana" ucap orang itu.
Sontak Ana langsung melihat kearah orang itu.
"Siapa ya?" tanya Ana.
"Jadi luh beneran hilang ingatan ya" ucap orang itu.
"Oh iya kenalin, gue Rafly" ucap Rafly sambil mengulurkan tangannya.
Ana tidak membalas uluran tangannya karena ia sama sekali tidak kenal dengan orang itu.
Karena Ana tidak membalas uluran tangannya, Rafly langsung menurunkan tangannya.
"Oh iya, luh dipanggil BK gak waktu itu?" tanya Rafly.
"Maksudnya?" bingung Ana.
"Luh tahu gak sih tentang video luh di club?" tanya Rafly.
Ana mengingat kembali saat ia melihat video tersebut di ruangan BK.
"Jadi itu beneran video gue?" tanya Ana sedikit terkejut.
"Iya, masa luh lupa sih. Padahal kan dulu kita pernah ngelakuin sesuatu waktu di club" ucap Rafly sambil tersenyum.
"Ngelakuin apa maksud luh?" tanya Ana.
"Waktu itu kan kita mabuk, terus kita ciuman" ucap Rafly.
"Oh iya, luh inget gak tentang video luh yang gak pake pakaian?" tanya Rafly.
Cindy datang menghampiri Ana dan Rafly.
"Dia siapa, Na?" tanya Cindy.
"Gue temennya Ana" ucap Rafly.
"Na, luh kenapa?" tanya Cindy saat melihat Ana yang memegang kepalanya.
"Cin, gue kayaknya harus pulang deh" ucap Ana gemetar.
Saat mau melangkah tiba-tiba Ana langsung pingsan.
"Ana, bangun!" ucap Cindy sambil mengguncangkan tubuh Ana.
"Kenapa nih?" tanya pemilik cafe.
"Teman saya pingsan, pak" ucap Cindy.
"Ya sudah ayo ke rumah sakit" ucap pemilik cafe.
Mereka segera membawa Ana ke rumah sakit.
...****...
* Rumah sakit
"Kalau begitu saya pergi lagi ya, soalnya saya harus layani pelanggan" ucap pemilik cafe.
"Iya. Makasih ya, pak!" ucap Cindy.
"Iya sama-sama" ucap pemilik cafe.
Pemilik cafe pun pergi.
"Apa jangan-jangan Ana pingsan gara-gara orang yang tadi ya" gumam Cindy.
"Oh iya! gue harus telepon Lino" ucap Cindy.
Cindy segera menelepon Lino.
Pada saat ditelepon, ternyata Lino menolak panggilan teleponnya.
Kemudian Cindy menelepon teman-temannya Ana mulai dari Clara, Felisa hingga Lia, namun pada saat ditelepon mereka semua menolak panggilannya.
"Apa mereka sebenci itu ya sama gue, sampe-sampe panggilan telepon gue gak ada yang angkat" gumam Cindy.
Akhirnya Cindy menelepon Gilang karena menurutnya Gilang dekat dengan Ana.
Tidak menunggu lama, Gilang mengangkat panggilan telepon dari Cindy.
"Hallo" ucap Gilang.
"Lang, Ana ada di rumah sakit. Tadi dia pingsan" ucap Cindy.
"Rumah sakit mana?" tanya Gilang.
Cindy memberitahu rumah sakit dan ruangan Ana dirawat kepada Gilang.
"Ya udah gue kesana sekarang" ucap Gilang sambil mematikan panggilan teleponnya.
20 menit kemudian...
Gilang masuk kedalam ruangan Ana.
"Ana kenapa, Cin? kok dia bisa pingsan kayak gini" ucap Gilang.
"Gue gak tahu, tiba-tiba dia pingsan" ucap Cindy.
"Oh iya, Lino udah ditelepon belum?" tanya Cindy.
"Udah kok, sekarang dia lagi diperjalanan mau kesini" ucap Gilang.
"Gue tadinya mau telepon orang tuanya, tapi gue gak tahu nomernya" ucap Cindy.
"Emang Ana tadi pingsan dimana?" tanya Gilang.
"Di cafe" jawab Cindy.
"Tadinya pas sampe dicafe Ana baik-baik aja kok. Tapi setelah Ana ketemu seseorang, dia jadi kayak ketakutan gitu. Terus dia pingsan deh" jelas Cindy.
"Seseorang siapa maksud luh?" tanya Gilang.
"Pasti itu Rafly" batin Gilang.
"Oh iya, luh pulang aja. Nanti Ana biar gue yang jagain" ucap Gilang.
"Gak apa-apa, gue disini aja" ucap Cindy.
*Skip
Cklek*
Pintu ruangan Ana dibuka oleh seseorang.
"Ana" panggil Lino sambil menghampiri Ana, Gilang dan Cindy.
"No, aku udah inget semuanya" ucap Ana.
"Kamu inget semuanya?" tanya Lino memastikan.
Ana hanya mengangguk.
"Guys, kalau gitu gue pulang dulu ya" ucap Cindy.
"Cin, makasih ya udah anter gue ke rumah sakit" ucap Ana.
"Iya sama-sama" ucap Cindy.
"Ya udah kalau gitu gue pulang ya" ucap Cindy.
"Iya" ucap Ana.
Cindy segera pergi.
"Dokter bilang apa waktu periksa kamu?" tanya Lino.
"Dokter nyuruh aku istirahat terus minum obat" ucap Ana.
"Obatnya udah ditebus belum?" tanya Lino.
"Obatnya udah dibayar sama gue" ucap Gilang.
"Berapa semuanya?" tanya Lino.
"Gak usah diganti" ucap Gilang.
"Thank you ya" ucap Lino.
"Iya" ucap Gilang.
"Oh iya, ini obatnya" ucap Gilang sambil memberikan plastik yang berisi obat.
Lino segera mengambil obat tersebut.
"No, aku mau pulang" ucap Ana.
"Ya udah ayo naik" ucap Lino sambil membelakangi Ana.
"Aku bisa jalan sendiri" ucap Ana.
"Gak apa-apa, biar aku gendong aja" ucap Lino.
"Sebentar, aku mau pake sepatu dulu" ucap Ana.
"Gak usah! biar Gilang aja yang bawa sepatu sama tas kamu" ucap Lino.
"Iya, luh digendong aja sama Lino. Takutnya luh pingsan lagi kalau jalan" ucap Gilang sambil mengambil tas dan sepatu Ana.
Akhirnya Ana segera naik ke punggung Lino.
"Berat gak, No?" tanya Ana.
"Enggak kok" ucap Lino.
Lalu mereka bertiga segera pergi.
Sesampainya di parkiran, Lino segera membukakan pintu mobilnya dan meletakkan Ana dikursi depan.
"Makasih" ucap Ana.
"Iya" ucap Lino.
"Na, ini tas sama sepatu luh" ucap Gilang.
Ana segera mengambil tas dan sepatunya.
"Makasih ya, Lang" ucap Ana.
"Iya sama-sama" ucap Gilang.
"Lang, kita berdua pulang duluan ya" ucap Lino.
"Iya" ucap Gilang.
Lino segera masuk kedalam mobilnya. Lalu ia langsung melajukan mobilnya menuju rumah Ana.
(Diperjalanan)
"Na, kamu beneran inget semuanya?" tanya Lino.
"Iya, No" ucap Ana.
"No, tadi aku ketemu Rafly" ucap Ana.
"Iya aku tahu, soalnya tadi Gilang ngomongin itu ditelepon" ucap Lino.
"Kamu sama Cindy ngapain di cafe?" tanya Lino.
"Tadinya kita mau ngobrol-ngobrol, soalnya kan kita berdua udah baikan" ucap Ana.
"Cindy udah minta maaf sama kamu?" tanya Lino.
"Iya, dia udah minta maaf kemarin" ucap Ana.
"Terus kamu maafin dia gitu aja?" tanya Lino.
Ana hanya mengangguk.
"Kalau dia jahat lagi sama kamu gimana?" tanya Lino.
"Cindy gak jahat kok, No. Walaupun dia pernah bohongin aku, tapi sebenarnya dia orangnya baik kok" ucap Ana.
"Yakin?" tanya Lino.
"Iya, aku yakin" ucap Ana.
"Karena setiap orang pasti punya sisi baiknya" sambung Ana.