
"Jadinya kelompok kita mau ngegambar siapa?" tanya Ana kepada Lino.
"Albert Einstein" ucap Lino.
"Oh yaudah" ucap Ana.
"Luh gak marah kan kalau gambarnya diganti?" tanya Lino memastikan.
"Enggak kok" ucap Ana.
"Alasan gue ganti gambarnya karena gue takut nanti ditanya sama guru, nanti guru bilang kenapa kamu bikin gambar tersebut, nanti kan gue bingung alasannya apa kalau ngegambar luh" jelas Lino.
"Emang bakal ditanya alasannya?" tanya Ana.
"Gak tahu juga sih, tapi gue mau nyari aman aja " ucap Lino.
"Yaudah cepet gambar" ucap Ana.
Lalu Lino pun segera membuat sketsa wajah Albert Einstein.
Setelah 30 menit, akhirnya gambar pun telah jadi.
"Nih" ucap Lino sambil memberikan gambar tersebut.
Lalu Ana pun segera mewarnai gambar tersebut.
"Na" panggil Lino.
"Hmm" ucap Ana sambil mewarnai gambar tersebut.
"Luh udah gak marah sama gue?" tanya Lino.
"Gak tahu" ucap Ana cuek.
"Maaf ya soal waktu itu, sebenernya gue gak mau aja kalau penguntit itu nyelakain luh" ucap Lino.
"Tapi sekarang gue udah gak khawatir lagi kok soalnya penguntit itu pasti gak akan nguntit luh lagi karena penguntit itu pikir bahwa luh gak ada hubungannya sama gue, soalnya luh udah pacaran sama Bagas. Jadi luh pasti dijagain sama dia" ucap Lino lagi.
Ana pun hanya diam mendengarkan ucapan Lino.
"Emang luh salah apa sih? sampai-sampai orang yang didekat luh diteror sama dia" ucap Ana.
"Gue gak tahu, mungkin karena kalah balapan kali" ucap Lino.
"Masa cuma karena kalah balapan, dia jadi nyelakain orang-orang terdekat luh" ucap Ana.
"Ya bisa aja, kan dia pasti dendam karena motornya jadi milik gue" ucap Lino.
"Luh ngapain sih taruhan kayak gitu? kan luh kaya, kenapa balapannya harus ada taruhannya?" tanya Ana.
"Buat seneng-seneng aja" ucap Lino.
"Setiap balapan luh suka menang?" tanya Ana.
"Iya" ucap Lino.
"Berarti motor luh banyak dong" ucap Ana.
"Enggak kok" ucap Lino.
"Katanya suka menang" ucap Ana.
"Iya emang suka menang, tapi gue langsung jual itu motor terus gue traktir deh temen-temen gue atau enggak gue beliin makanan terus dibagiin ke anak-anak panti asuhan" jelas Lino.
"Masa hasil taruhan dibagiin sama anak-anak panti asuhan sih, luh gak ada akhlak banget" kata Ana.
"Emang salah ya gue ngasih makanan ke anak-anak panti asuhan?" tanya Lino.
"Niat ngasihnya sih gak salah, tapi masalahnya luh ngasih makanan dari hasil taruhan" ucap Ana.
"Gue jadi kasihan sama anak-anak panti asuhannya" ucap Ana lagi.
"Kasihan kenapa?" tanya Lino.
"Mereka jadi makan makanan yang haram" ucap Ana.
"Gue gak ngasih mereka daging babi kok, Na" ucap Lino.
Ana pun hanya tertawa mendengar ucapan Lino.
"No, luh waktu kecil sekolah agama gak sih?" tanya Ana.
"Enggak" ucap Lino.
"Pantes aja akhlak luh minus" ucap Ana.
"Yang namanya taruhan itu haram, No" ucap Ana.
"Kata siapa?" tanya Lino.
"Enggak tahu ah! pusing gue ngejelasinnya" ucap Ana sambil melanjutkan mewarnainya.
Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya Ana pun selesai mewarnai gambarnya.
"Gambarnya disimpan sama luh aja, gue suka lupa bawa soalnya" ucap Lino.
"Oke" ucap Ana.
"Yaudah gue pulang dulu ya" ucap Ana lagi.
"Mau dianterin gak?" tanya Lino.
Saat hendak keluar, tiba-tiba hujan pun turun. Akhirnya Ana pun diam dulu di teras rumah Lino.
"Yah, hujan" ucap Ana.
Lalu Lino pun segera menghampiri Ana.
"Mau gue anter pake mobil gak?" tanya Lino.
"Gak usah, nanti juga hujan nya reda sendiri kok" ucap Ana.
"Yaudah kalau gitu masuk dulu aja, tunggu sampai hujannya reda" ucap Lino.
Akhirnya Ana pun menuruti perintah Lino.
"Na, luh bisa masak gak?" tanya Lino.
"Bisa, emang kenapa? luh lapar?" tanya Ana.
"Iya" ucap Lino.
"Mau gue buatin makanan?" tanya Ana.
Lino pun hanya mengangguk mengiyakan ucapan Ana.
"Bahan-bahannya ada kan?" tanya Ana.
"Ada kok dikulkas" ucap Lino.
"Yaudah ayo, temenin" ucap Ana karena ia merasa tidak nyaman kalau memasak di rumah orang sendirian.
Lalu Ana dan Lino pun segera ke dapur untuk memasak.
"Luh beli daging sapi sebanyak ini?" tanya Ana.
"Iya, soalnya temen-temen gue suka main ke rumah, jadi gue beli banyak deh" jelas Lino.
"Siapa yang masaknya?" tanya Ana.
"Bobby sama Alex" ucap Lino.
"Kita bikin nasi goreng aja ya, biar gak ribet" ucap Ana.
"Ya udah terserah luh aja" ucap Ana.
Ana pun segera menanak nasi. Sambil menunggu nasinya masak, Ana pun segera memotong bawang putih, bawang merah dan sosis.
Kemudian setelah menunggu 15 menit, akhirnya nasi nya pun matang.
Lalu Ana pun segera menuangkan minyak goreng kedalam wajan. Setelah minyak nya panas ia pun langsung memasukan bawang putih dan bawang merah kedalam wajan tersebut lalu menumisnya. Setelah bumbunya harum, Ana pun segera memasukan sosis yang telah dipotong-potong menjadi beberapa bagian itu kedalam wajan, kemudian ia pun langsung memasukan nasi. Lalu Ana pun memasukan garam secukupnya, kecap dan saos sambil diaduk. Setelah selesai, Ana pun langsung mematikan kompornya dan ia pun segera menaruh nasi goreng itu dipiring.
Kemudian Ana pun menyalakan kompor satu lagi lalu ia pun menaruh teflon diatas kompor itu untuk membuat telur mata sapi. Setelah selesai membuat telur mata sapi, Ana pun langsung menaruh telur mata sapi itu diatas nasi goreng tersebut. Akhirnya masak-memasak pun telah selesai.
"Selesai deh" ucap Ana.
"Terus tugas gue dari tadi apa dong disini?" tanya Lino yang dari tadi hanya melihat Ana memasak.
"Nunggu gue lah" ucap Ana.
"Yaudah nih, nasi gorengnya" ucap Ana sambil memberikan nasi goreng itu pada Lino.
"Thank you" ucap Lino sambil mengambil nasi goreng tersebut, lalu setelah itu Lino pun segera mengambil sendok.
"No, gue pingin jus lagi ya" ucap Ana.
"Iya, ambil aja lagian banyak ini" ucap Lino sambil pergi menuju ruang tamu.
Lalu Ana pun segera mengambil dua jus kemasan dikulkas untuk dirinya dan Lino sebab Lino tadi tidak membawa minum.
"Nih" ucap Ana sambil menaruh jus kemasan diatas meja.
"Makasih" ucap Lino.
"Kok makasih sih, kan ini jus punya luh" heran Ana.
"Makasih karena udah diambilin maksudnya" jelas Lino.
"Luh mau gak?" tanya Lino.
"Enggak ah" ucap Ana.
"Gue belum pake sendoknya kok" ucap Lino.
"Enggak, buat luh aja" ucap Ana.
"Gue ngerasa gak enak aja, kan luh yang buat. Setidaknya luh nyobain dulu baru nanti gue makan" ucap Lino.
"Nih" ucap Lino sambil menyodorkan sendok berisi nasi goreng.
Saat Ana mau memakan nasi goreng itu, Lino pun dengan sengaja menjauhkan sendok nya dari mulut Ana.
"Lino!" sebal Ana karena Lino mengerjainya.
"Maaf...maaf! nih cepet makan" ucap Lino lagi.
"Gak mau ah!" kesal Ana sambil meminum jus.
"Cepetan makan, gue serius ini" ucap Lino sambil menyodorkan sendok.
"Gak mau" ucap Ana sambil cemberut.