ARLINO

ARLINO
Episode 53



"Ka, gue boleh pinjem handphone luh gak?" tanya Ana.


"Buat telepon Lino" ucap Ana.


"Gagal move on luh sama Lino?" tanya Raka.


"Ih apaan sih! gue itu telepon dia, cuma mau bilang ke dia suruh bawa handphone gue besok" ucap Ana.


"Yaudah nih" ucap Raka sambil memberikan ponselnya.


Ana pun segera mencari kontak Lino di handphone Raka. Lalu Ana pun langsung menelepon Lino.


"Ada apa, Ka?" tanya Lino.


"No" ucap Ana.


"Loh kok Ana sih?" bingung Lino.


"Iya ini gue, gue pinjem handphone nya Raka" jelas Ana.


"Oh gitu" kata Lino.


"No, handphone gue ketinggalan di mobil" ucap Ana.


"Oh iya ini ada" ucap Lino.


"Ya udah gue puter balik aja ke rumah luh" ucap Lino.


"Eh, gak usah! besok aja kembaliin nya, soalnya luh pasti cape harus bolak-balik" ucap Ana.


"Oh yaudah" ucap Lino.


"Oh iya, No! tugas kelompok nya lupa dibawa, jadi luh jangan lupa ya besok bawa juga" ucap Ana.


"Na, luh sengaja ya ninggalin barang-barang luh disini?" ucap Lino.


"Enggak kok! gue beneran lupa" ucap Ana.


"Ya udah iya, nanti besok gue bawa" kata Lino.


"No, luh langsung masukin aja deh kartonnya ke tas, biar gak lupa" kata Ana.


"Nanti aja, gue lagi mager" ucap Lino.


"Ih sekarang cepet!" suruh Ana.


"Nanti aja kalau gue ke kamar" ucap Ana.


"Sekarang, No!" perintah Ana.


"Iya bawel" ucap Lino.


"Ya udah kalau gitu gue tutup dulu ya teleponnya" ucap Ana.


Ana pun langsung mematikan panggilan teleponnya.


"Nih makasih" ucap Ana sambil mengembalikan ponsel milik Raka.


"Iya" ucap Raka sambil mengambil kembali ponselnya.


"Ka, anterin gue ke rumah dong" ucap Ana.


"Luh kan bisa pergi sendiri" ucap Raka.


"Gue takut, soalnya lampu rumah belum pada dinyalain" ucap Ana.


"Dasar penakut banget jadi orang" ucap Raka.


Akhirnya mereka berdua pun segera pergi menuju rumah Ana.


Setelah sampai, Ana pun segera membuka pintu rumahnya. Lalu Ana dan Raka pun segera masuk kedalam rumah.


Lalu Ana pun segera menyalakan lampu di ruang tengah agar tidak gelap.


"Ya udah kalau gitu gue pulang ya, udah dinyalain ini" kata Raka.


"Tapi lampu kamar gue belum dinyalain" ucap Ana.


"Ya udah deh ayo!" ucap Raka.


Mereka berdua pun segera pergi menuju kamar Ana, lalu Ana pun langsung menyalakan lampu kamarnya.


"Udah kan? ya udah gue pulang ya" ucap Raka.


"Iya" ucap Ana.


"Ka, gue anter keluar ya" ucap Ana dan hanya dibalas anggukan oleh Raka.


Lalu Ana pun segera mengantar Raka keluar.


"Na" panggil Raka.


"Kenapa?" tanya Ana.


"Pintunya jangan lupa dikunci, nanti kalau orang tua luh datang baru luh buka lagi" ucap Raka.


"Iya" ucap Ana.


"Ya udah gue pulang dulu ya" ucap Raka.


"Iya" ucap Ana.


Raka pun segera pergi menuju rumahnya.


Setelah Raka pergi, Ana pun berniat untuk mengunci pintu rumahnya namun ia urungkan niatnya karena ada Bagas yang baru datang dengan mengendarai motornya.


Lalu Bagas pun segera menghampiri Ana.


"Kamu ngapain kesini?" tanya Ana.


"Aku mau main lah ke rumah pacar aku" ucap Bagas.


"Ya udah ayo masuk" ucap Ana.


"Kamu tunggu dulu disini, aku mau ngambil minum dulu didapur" ucap Ana.


"Iya" ucap Bagas.


Lalu Ana pun segera pergi menuju dapur.


Setelah mengambil air mineral dan beberapa cemilan, Ana pun segera menghampiri Bagas kembali.


Lalu setelah itu, Ana pun menaruh air dan cemilan diatas meja. Setelah itu, Ana pun segera duduk disamping Bagas.


"Tadi ngapain Raka kesini?" tanya Bagas.


"Tadi aku nyuruh dia buat temenin nyalain lampu" jelas Ana.


"Kenapa harus sama dia? emang kamu gak bisa nyalain lampu sendiri?" tanya Bagas sedikit kesal.


"Ya aku bisa nyalain lampu, cuma masalahnya aku takut soalnya rumahnya gelap, jadi aku suruh Raka buat temenin aku" jelas Ana.


"Kamu emang takut atau emang sengaja biar berduaan sama Raka?" tanya Bagas.


"Ya karena takut lah" ucap Ana.


"Kok aku gak percaya sih" ucap Bagas.


"Ya udah sih kalau gak percaya" kesal Ana.


"Kok jadi kamu yang kesal, harusnya aku dong yang kesal sama kamu" ucap Bagas.


"Gas, bisa gak sih jangan ngelarang aku deket sama siapapun" ucap Ana.


"Gak bisa!" bentak Bagas.


"Kamu gak berhak ngelarang aku" ucap Ana.


"Aku berhak ngelarang kamu! karena aku pacar kamu" ucap Bagas dengan nada tinggi.


"Tadi juga kamu ngapain gak ngabarin aku dulu kalau mau kerja kelompok di rumah Lino" kesal Bagas.


"Tapi kan tadi Lino udah bilang sama kamu" ucap Ana.


"Kenapa gak kamu duluan yang ngabarin?" tanya Bagas.


"Ya karena aku takut kamu marah kalau aku kerja kelompok sama cowok" ucap Ana.


"Kamu sengaja kan, gak ngabarin aku dulu supaya kamu bisa main bareng cowok lain" tuduh Bagas.


"Aku gak main, Gas! aku lagi kerja kelompok" ucap Ana mempertegas.


"Tapi kata Naya, tugas kelompok kamu sama Lino udah beres" ucap Bagas.


"Iya sebenernya udah, tapi gambarnya diganti lagi" ucap Ana.


"Kenapa pake acara diganti segala?" tanya Lino.


"Ya karena" ucap Ana namun terpotong oleh Bagas.


"Karena gambarnya pake gambar wajah kamu kan?" tanya Bagas memastikan.


Ana pun hanya mengangguk.


"Pasti Lino kan yang ngegambar?" tanya Bagas.


"Iya" ucap Ana.


"Oh jadi Lino suka sama kamu?" tanya Bagas dengan kesal.


"Enggak kok, Gas" ujar Ana.


"Apa jangan-jangan kamu yang suka sama dia?" tanya Bagas.


Ana pun hanya terdiam saat mendengar ucapan Bagas.


"Kenapa diem?" tanya Bagas sambil mengangkat dagu Ana.


"KENAPA DIEM!!!" bentak Bagas.


Ana pun langsung menangis karena ketakutan saat dibentak oleh Bagas.


"JAWAB!!!" bentak Bagas.


Cklek


Pintu rumah pun terbuka, sontak Bagas pun langsung memeluk tubuh Ana.


"Kenapa nih?" tanya papah Ana.


"Ana kamu kenapa nangis?" tanya mamah Ana.


"Kamu ngapain anak saya?" kesal papah Ana.


"Dia tadi ketakutan om, makanya dia nyuruh saya datang kesini. Terus waktu saya datang kesini, dia malah nangis" ucap Bagas berbohong.


"Iya kan, Na?" tanya Bagas sambil memegang tangan Ana dengan kuat.


Ana pun hanya mengangguk.


"Kamu penakut banget sih" ucap mamah Ana.


"Ya udah om, tan! Bagas pamit dulu ya" ucap Bagas.


"Iya, hati-hati ya" ucap mamah dan papah Ana.


"Iya" ucap Bagas.


Lalu Bagas pun segera pergi dengan mengendarai motornya.


"Mah, pah! aku ke kamar dulu ya" ucap Ana.


"Iya" ucap mamah dan papah.


Lalu Ana pun segera pergi menuju kamarnya.