
Setelah selesai makan, Ana dan Lino segera kembali menuju kelasnya.
Setelah sampai kelas, mereka berdua segera duduk dikursinya masing-masing.
"No" panggil Gilang.
"Apa?" ucap Lino.
"Luh kenapa ngelarang Ana deket sama Clara, Felisa dan Lia?" tanya Gilang.
"Gue ngelarang Ana deket sama mereka karena mereka udah ngomongin Ana dari belakang" ucap Lino.
"Emang mereka ngomongin apa?" tanya Gilang.
"Mereka nuduh Ana sebagai penyebab kematian Naya" ucap Lino.
"Mereka gak nuduh Ana kok, No" ucap Gilang.
"Luh gak tahu aja, Lang. Sebenernya dibelakang mereka ngomongin kayak gitu" ucap Lino.
"Tapi Felisa sama sekali gak bilang kayak gitu kok" ucap Gilang.
"Luh ngomong gitu karena luh pacarnya Felisa, makanya luh belain dia kan?" tanya Lino.
"Gue gak bela siapa-siapa, No. Tapi yang gue tahu, Felisa gak pernah tuh jelek-jelekin Ana" ucap Gilang.
"Luh cuma salah paham kali, No" ucap Gilang.
"Salah paham gimana maksud luh? udah jelas mereka ngomongin Ana" tanya Lino.
"Emang luh denger sendiri mereka ngomong kayak gitu?" tanya Gilang.
"Ya enggak, tapi gue yakin mereka ngomongin Ana karena secara kan mereka sahabatnya Naya" ucap Lino.
"Tapi kan mereka bertiga juga sahabatnya Ana, No! mana mungkin lah mereka ngomongin Ana" ucap Gilang.
"Emang mereka pernah bilang bahwa Ana sahabatnya?" tanya Gilang.
"Ya gue gak tahu, tapi mereka pasti nganggap Ana sahabatnya kok" ucap Gilang.
"Emang luh tahu darimana sih kalau mereka ngomongin Ana?" tanya Gilang.
"Tahu dari Acha" ucap Lino.
"Acha?" ucap Gilang.
"Iya, Acha bilang katanya Lia nuduh Ana sebagai penyebab kematian Naya. Dan pastinya bukan cuma Lia yang nuduh, pasti juga Clara dan Felisa juga nuduh Ana" ucap Lino.
"Tapi kan Acha cuma ngomong Lia doang, No. Berarti Clara sama Felisa gak nuduh Ana" ucap Gilang.
"Tapi kan mereka bertiga sahabatan, pasti tiga-tiganya nuduh Ana sebagai penyebab kematian Naya" ucap Lino.
"Mereka emang sahabatan, tapi kan belum tentu Clara sama Felisa ngomongin Ana" ucap Gilang.
Lino segera berdiri dan berjalan menuju kearah Lia.
"Gue mau ngomong sama luh" ucap Lino sambil menarik tangan Lia.
Lino segera membawa Lia ke tempat yang sepi.
"Ih Lino lepasin! sakit tahu" ucap Lia.
"Luh kenapa bohongin gue?" tanya Lino.
"Bohongin apa sih maksud luh?" tanya Lia.
"Kata luh, Acha tahu kalau gue sama Acha dulunya pacaran dari orang lain. Tapi apa? ternyata dia tahu nya dari luh" ucap Lino.
"Emang kalau dia tahu dari gue kenapa? luh mau marah sama gue?" tanya Lia.
Lino hanya bisa menahan emosinya.
"Lagian luh emang gak merasa bersalah gitu sama Acha? dengan luh pacaran sama Ana, itu udah buat Acha sakit hati tahu" ucap Lia.
"Dan itu sama aja luh selingkuhin Acha, karena kan luh sama Acha belum putus" ucap Lia.
"Heh! gue gak selingkuh dari Acha! lagian luh kan tahu waktu dulu katanya Acha meninggal" ucap Lino.
"Tapi kan sekarang luh tahu kalau sekarang Acha masih hidup" ucap Lia.
"Tapi gue udah akhirin hubungan gue sama Acha" ucap Lino.
"Kasihan banget Acha, padahal dulu cowoknya bucin banget sama dia. Eh sekarang cowoknya malah suka sama cewek murahan yang mau terima cowok-cowok yang ngedeketin nya" ucap Lia.
Plakkk
Lino langsung menampar Lia.
"Aww" ringis Lia.
"Jaga ya omongan luh!" ucap Lino.
"Emang bener kan? dia kan emang murahan. Deket sama Raka, Bagas dan sekarang sama luh" ucap Lia.
"Luh benci Ana karena Bagas suka kan sama Ana?" tanya Lino.
"Kalau iya kenapa?" ucap Lia.
"Walaupun Bagas suka sama Ana, bukan berarti luh harus benci sama Ana!" kata Lino.
"No, udah!" ucap Ana yang baru datang bersama Felisa.
Sontak Lino dan Lia langsung melihat kearah Ana.
"Ana" gumam Lino.
"Udah cukup! jangan berantem lagi" ucap Ana dengan mata yang berkaca-kaca.
Lino langsung menghampiri Ana.
"No, luh bawa Ana sana ke kelas" ucap Felisa.
"Na, ayo ke kelas" ucap Lino sambil menarik tangan Ana menuju kelasnya.
"Lia, luh tega banget ya sama Ana. Padahal Ana udah baik loh sama luh" ucap Felisa.
"Terus aja luh belain dia!" ucap Lia.
"Gue belain dia karena gue tahu luh salah" ucap Felisa.
"Gue salah? EMANG! gue selalu salah dimata luh berdua" ucap Lia sambil pergi.
...****...
* Kelas
Sesampainya di kelas, Ana langsung duduk dikursinya sambil menenggelamkan wajahnya di meja.
"No, dia kenapa?" bisik Gilang.
Lino hanya diam, tidak menjawab perkataan Gilang.
Lalu Lino segera duduk disebelah Ana.
"Na, udah jangan nangis" ucap Lino sambil mengelus-elus rambut Ana.
"Luh berdua berantem?" tanya Gilang pelan.
Lino menggelengkan kepalanya seraya menjawab tidak.
"No, Ana kenapa?" tanya Clara.
"Kalian berdua duduk sana! biar gue aja yang temenin Ana" ucap Lino.
"Tapi dia kenapa, No?" tanya Clara.
"Tanyain ke Felisa aja, dia tahu kok kenapa Ana kayak gini" ucap Lino.
Clara dan Gilang langsung pergi.
"Selamat siang anak-anak" ucap guru yang baru datang.
"Siang, Bu" ucap murid-murid sambil duduk dikursinya masing-masing.
"Na, bangun! ada guru" ucap Lino.
Ana segera bangun dengan posisi duduk.
"Udah jangan nangis" ucap Lino sambil menatap Ana.
Ana langsung mengusap air matanya.
"No, kamu pindah sana! aku pingin duduk sendiri" ucap Ana.
"Ya udah, aku pindah ya" ucap Lino.
Lino segera pergi menuju kursinya.
...****...
Skip
Krining...Krining
Bel pulang sekolah berbunyi, menandakan bahwa siswa dan siswi diperbolehkan pulang.
"Ayo pulang" ucap Lino sambil memegang tangan Ana.
Mereka berdua segera pergi menuju parkiran sekolah.
Sesampainya di parkiran, mereka berdua segera naik ke motor. Kemudian Lino segera melajukan motornya menuju suatu tempat.
Setelah sampai di tempat tersebut, Lino segera memberhentikan motornya.
"Kamu ngapain bawa aku ke pantai?" tanya Ana.
"Aku bawa kamu kesini supaya kamu gak sedih lagi" ucap Lino.
"Ya udah duduk disana yuk!" ajak Lino sambil menarik tangan Ana.
Lalu mereka berdua segera duduk diatas pasir pantai.
"Kamu tadi denger semua yang aku dan Lia ucapin?" tanya Lino.
Ana hanya mengangguk.
"Sekarang kamu percaya kan kalau dia ngomongin kamu?" ucap Lino.
"Iya" ucap Ana.
"Tapi Clara sama Felisa gak ngomongin aku kok, No" ucap Ana.
"Kamu yakin?" tanya Lino.
"Iya, aku yakin mereka gak ngomongin aku" ucap Ana.
"No, nanti kamu minta maaf ya ke mereka" ucap Ana.
"Iya nanti aku bakalan minta maaf kok ke Clara dan Felisa" ucap Lino.
"Nanti kamu juga minta maaf ya ke Lia" ucap Ana.
"Ngapain aku harus minta maaf ke Lia?" ucap Lino.
"Kan tadi kamu udah nampar Lia" ucap Ana.
"Aku nampar Lia karena aku kesel sama dia, Na. Dia udah jelek-jelekin kamu" ucap Lino.
"Iya, aku tahu kamu kesel. Tapi jangan sampe nampar dia juga, dia kan cewek No" ucap Ana.
"Iya maaf, soalnya tadi aku kelepasan" ucap Lino.
"Nanti minta maaf ke dia ya" ucap Ana.
"Aku bakal minta maaf kalau dia udah minta maaf ke kamu" ucap Lino.
"No, aku mau pulang" ucap Ana tiba-tiba.
"Gak mau main dulu disini?" tanya Lino.
"Enggak, soalnya pantainya panas banget" ucap Ana.
"Ya udah ayo pulang" ucap Lino.
Lalu mereka berdua segera menghampiri kearah motor Lino. Setelah itu, mereka langsung naik ke motor. Kemudian, Lino segera melajukan motornya menuju rumah Ana.
...****...
Sesampainya di rumah, Ana segera turun dari motor Lino.
"Aku masuk ya" ucap Ana.
"Iya" ucap Lino.
Ana segera masuk kedalam rumahnya.
* Kamar
Saat berada di kamar, Ana hanya duduk sambil memikirkan ucapan Lia saat bertengkar dengan Lino.
Kemudian Ana segera berdiri dan ia segera mengambil pakaiannya. Setelah itu, ia segera pergi menuju kamar mandi untuk berganti pakaian.
Setelah selesai berganti pakaian, Ana segera memesan ojek online lewat aplikasi diponselnya.
Lalu Ana segera mengambil tasnya dan ia segera pergi keluar untuk menunggu ojek online yang ia pesan.
Beberapa menit kemudian, ojek online yang Ana pesan datang. Lalu Ana segera naik ke motor abang ojek itu. Setelah itu, abang ojek tersebut segera melajukan motornya menuju tempat tujuan Ana.
...****...
**Skip
Sore hari**
Jam 18.00
Trining...trining
Lino segera melihat ke layar ponselnya dan ternyata ada panggilan telepon dari mamahnya Ana.
"Hallo, tante" ucap Lino.
"No, Ana sama kamu?" tanya mamah Ana.
"Enggak, tante" ucap Lino.
"Oh kirain sama kamu, soalnya di rumah gak ada" ucap mamah Ana.
"Ana main ke rumah Raka kali tante" ucap Lino.
"Dia gak ada di rumah Raka" ucap mamah Ana.
"Oh mungkin Ana sama Clara kali, tante" ucap Lino.
"Oh sama Clara ya" ucap mamah Ana.
"No, tolong suruh Ana pulang dong! Soalnya tadi pas tante telepon dia, dia nya gak angkat teleponnya" ucap mamah Ana.
"Ya udah sekarang Lino telepon Ana dulu ya, tante" ucap Lino.
"Iya" ucap mamah Ana.
"Ya udah kalau gitu Lino tutup dulu ya teleponnya" ucap Lino.
"Iya" ucap mamah Ana.
Lino segera menutup panggilan teleponnya.
Setelah itu, Lino segera menelepon Ana. Namun pada saat Lino menelepon Ana, Ana tidak menjawab panggilannya.
Lalu Lino segera mengambil kunci motornya. Kemudian ia segera pergi keluar.
Saat sampai diluar, Lino segera mengunci rumahnya. Sehabis itu, ia langsung menaiki motornya dan melajukannya menuju rumah Clara.
Setelah sampai rumah Clara, Lino langsung turun dari motor dan ia segera menekan bel rumah Clara.
Tidak menunggu lama, Clara segera membuka pagar rumahnya.
"Ada apa, No?" tanya Clara.
"Ana mana?" tanya Lino.
"Ana gak ada disini" ucap Clara.
"Serius?" tanya Lino.
"Iya dia gak kesini" ucap Clara.
"Ana kemana sih?" batin Lino.
"Ya udah kalau gitu gue cabut dulu" ucap Lino.
"Tunggu, No!" ucap Clara.
Sontak Lino langsung melihat kearah Clara.
"Kenapa?" tanya Lino.
"No, gue beneran gak ngomongin Ana kok" ucap Clara.
"Iya gue tahu" ucap Lino.
"Oh iya, gue minta maaf ya karena udah nuduh luh" ucap Lino.
"Iya gak apa-apa kok" ucap Clara.
"Ya udah gue pergi dulu ya" ucap Lino.
"Iya" ucap Clara.
Lino segera mengendarai motornya dan ia segera melajukan motornya menuju rumah Felisa.
Ketika sampai di rumah Felisa, Lino segera menekan bel rumah Felisa.
Setelah bel tersebut ditekan, Felisa datang menghampiri Lino.
"Ada apa, No?" tanya Felisa.
"Ada Ana gak?" tanya Lino.
"Gak ada" ucap Felisa.
"Ana kemana sih?" ucap Lino.
"Emang di rumahnya gak ada?" tanya Felisa.
"Kata mamahnya sih gak ada" ucap Lino.
"Di rumah Clara ada gak?" tanya Felisa.
"Gak ada" ucap Lino.
"Terus dia kemana?" tanya Felisa.
"Justru itu gue juga gak tahu" ucap Lino.
"Coba luh telepon mamahnya lagi deh, siapa tahu Ana udah ada di rumahnya" ucap Felisa.
Lino kembali menelepon mamahnya Ana.
Beberapa detik kemudian, mamah Ana langsung mengangkat panggilan telepon dari Lino.
"No, gimana? Ana nya udah disuruh pulang belum?" tanya mamah Ana.
"Ana nya gak angkat telepon Lino, tante" ucap Lino.
"Lino juga udah nyari Ana ke rumah Clara ataupun Felisa, tapi di rumah mereka gak ada Ana" jelas Lino.
"Coba kamu telepon Lia deh, siapa tahu Ana ada di rumah Lia" ucap mamah Ana.
"Ana gak mungkin kesana tante, soalnya Lia sama Ana lagi kurang baik hubungannya" ucap Lino.
"Mereka berantem?" tanya mamah Ana.
"Iya" ucap Lino.
"Ya udah tante, Lino mau nyari Ana lagi ya" ucap Lino.
"Iya, tolong cariin dia ya No" ucap mamah Ana.
"Iya, Lino bakal cari Ana kok tante" ucap Lino.
"Ya udah kalau gitu Lino tutup dulu ya teleponnya" ucap Lino.
"Iya" ucap mamah Ana.
Lino segera mematikan panggilan teleponnya.
Rintik-rintik hujan mulai berjatuhan.
"No, ayo masuk dulu! nanti luh kehujanan" ucap Felisa.
Akhirnya Lino dan Felisa segera masuk dan mereka segera duduk di teras rumah Felisa.
"Fel, boleh tolong bantuin gue gak?" tanya Lino.
"Bantuin apa?" tanya Felisa.
"Tolong telepon anak-anak kelas cewek terus nanti tanyain ke mereka, ada Ana gak di rumah mereka. Nanti gue bakal tanyain ke anak-anak cowok" ucap Lino.
"Ya udah, gue telepon dulu" ucap Felisa.
Felisa segera menelepon anak-anak cewek kelasnya. Sedangkan Lino, ia menelpon anak-anak cowok.
...****...
* Rumah Bagas
Trining...trining
Bagas segera melihat ke layar ponselnya dan ternyata ada panggilan telepon dari Lino.
Lalu ia segera mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Hallo" ucap Bagas.
"Gas, luh lihat Ana gak?" tanya Lino.
"Enggak, gue gak lihat" ucap Bagas.
"Oh gitu ya, ya udah deh kalau luh gak lihat. Tadinya gue pikir luh tahu keberadaan Ana" ucap Lino.
"Ana gak ada di rumahnya?" tanya Bagas.
"Iya, dia gak ada di rumahnya" ucap Lino.
"Ya udah kalau gitu gue tutup dulu ya teleponnya" ucap Lino.
"Iya" ucap Bagas.
Lino segera mematikan panggilan teleponnya.
Lalu Bagas langsung memikirkan kejadian waktu di sekolah, saat ia melihat Lino dan Lia bertengkar.
"Apa jangan-jangan gara-gara kejadian tadi ya, Ana jadi kabur dari rumah" gumam Bagas.
Tingtong...tingtong
"Siapa lagi hujan-hujan kayak gini malah bertamu" ucap Bagas.
Bagas segera mengambil payung dan ia langsung pergi keluar untuk melihat orang yang menekan bel rumahnya.
Saat sampai luar, Bagas segera membuka pagar rumahnya.
"Ana" gumam Bagas.
"Na, ayo masuk" ajak Bagas.
"Gas, gue minta maaf ya" ucap Ana dengan mata yang sembab.
"Minta maaf buat apa?" tanya Bagas.
"Gue yang udah menyebabkan Naya meninggal" ucap Ana.
"Udah gue bilang berkali-kali, kalau itu bukan salah luh" ucap Bagas.
"Ayo masuk! pakaian luh basah, nanti luh masuk angin" ucap Bagas.
"Gak usah, lagian habis ini gue mau pulang" ucap Ana.
"Biar gue aja yang anterin luh" ucap Bagas.
"Ya udah ayo masuk dulu kedalem" ucap Bagas sambil menarik tangan Ana.
"Tapi pakaian gue basah" ucap Ana.
"Gak apa-apa" ucap Bagas.
"Gue tunggu diteras aja deh" ucap Ana.
"Udah masuk aja, sekalian ganti baju luh. Nanti luh masuk angin kalau terus pake baju itu" ucap Bagas.
"Gue kan gak bawa baju" ucap Ana.
"Luh pake baju Naya aja" ucap Bagas.
"Enggak usah" ucap Ana.
"Ayo cepet!" ucap Bagas sambil menarik tangan Ana.
Bagas segera membawa Ana masuk kedalam kamar Naya. Lalu Bagas segera memberikan baju dan celana hangat kepada Ana.
"Ya udah sana ganti baju" ucap Bagas.
Ana hanya terdiam, karena ia trauma takutnya ada CCTV di kamar mandi tersebut.
"Gue gak mau ganti baju" ucap Ana.
"Udah pake aja" ucap Bagas.
Ana terdiam sejenak.
"Luh tenang aja, gak ada CCTV kok didalam kamar mandi" ucap Bagas karena ia tahu betul bahwa Ana pasti trauma.
"Ya udah, gue tunggu di ruang tamu ya" ucap Bagas sambil pergi.
Ana segera masuk kedalam kamar mandi tersebut.
Setelah selesai berganti pakaian, Ana segera menghampiri Bagas.
"Nih kantong buat pakaian basah nya" ucap Bagas sambil memberitahu kantong plastik tersebut kepada Ana.
"Makasih" ucap Ana sambil mengambil kantong plastik tersebut.
"Iya sama-sama" ucap Bagas.
Ana segera memasukan baju nya kedalam kantong tersebut.
"Oh iya, nih minum dulu" ucap Bagas sambil memberikan teh manis hangat kepada Ana.
"Makasih" ucap Ana sambil mengambil teh manis tersebut.
"Iya" ucap Bagas.
"Ya udah ayo duduk dulu" perintah Bagas.
Ana segera duduk sambil meminum teh manis tersebut.
"Maafin gue ya, Gas" ucap Ana sambil menunduk.
"Udah jangan minta maaf mulu, Na" ucap Bagas.
"Oh iya, luh gak usah dengerin ucapan Lia ya" ucap Bagas.
Sontak Ana langsung melihat kearah Bagas.
"Gue tadi denger kok waktu Lia dan Lino berantem" ucap Bagas.
"Luh denger semua ucapan mereka berdua?" tanya Ana.
"Iya, gue denger" ucap Bagas.
"Oh iya, luh habis darimana?" tanya Bagas.
"Gue habis dari makam Naya" ucap Ana.
"Luh kesananya sendiri?" tanya Bagas.
"Enggak, tadi gue kesananya naik ojek online" ucap Ana.
"Terus tadi luh kesini juga naik ojek?" tanya Bagas.
"Enggak, gue kesininya jalan kaki" ucap Ana.
"Dari tempat pemakaman sampe sini jalan kaki?" tanya Bagas.
Ana hanya mengangguk.
"Luh kenapa jalan kaki?" tanya Bagas.
"Terus luh ngapain kesini?" tanya Bagas.
"Gue mau minta maaf" ucap Ana gemetar.
"Na, gue sama orang tua gue sama sekali gak nyalahin luh kok. Jadi luh gak usah minta maaf terus-terusan" ucap Bagas.
"Tapi gue merasa bersalah banget sama Naya" ucap Ana sambil meneteskan air matanya.
"Luh gak usah merasa bersalah, lagian kematian Naya itu udah takdir" ucap Bagas.
"Gue takut aja kalian dendam sama gue" ucap Ana.
"Enggak, Na. Kita gak dendam sama luh kok" ucap Bagas.
"Ya udah, sekarang gue anterin luh pulang aja ya soalnya udah malem" ucap Bagas.
"Gue pulang sendiri aja deh" ucap Ana.
"Jangan, soalnya kan masih hujan. Nanti pakaian luh basah lagi" ucap Bagas.
"Bentar ya, gue ambil kunci mobil dulu" ucap Bagas sambil pergi menuju kamarnya.
Setelah selesai mengambil kunci, Bagas segera kembali menghampiri Ana.
"Ya udah ayo" ucap Bagas.
Skip
( Diperjalanan menuju rumah Ana )
"Dingin ya?" tanya Bagas karena melihat Ana yang meniup-niup tangannya.
Ana hanya mengangguk.
Bagas langsung mematikan AC mobilnya.
"Gas, baju sama celana Naya nya nanti gue balikin kok" ucap Ana tiba-tiba.
"Iya, santai aja kali" ucap Bagas.
"Gue boleh pinjem handphone luh gak?" tanya Ana.
"Buat apa?" tanya Bagas.
"Buat telepon Lino, soalnya biar ngasih tahu mamah kalau gue baik-baik aja" ucap Ana.
"Kenapa gak langsung telepon mamah luh aja?" tanya Bagas.
"Soalnya gue gak hapal nomer telepon mamah gue" jelas Ana.
"Oh gitu" ucap Bagas.
"Jadi gue boleh pinjem handphone luh gak?" tanya Ana.
"Handphone gue nya ketinggalan di rumah, Na" bohong Bagas.
"Oh gitu ya" ucap Ana.
"Udah jangan ditelepon, sekarang juga kan luh pulang" ucap Bagas.
"Iya juga sih" ucap Ana.
****
Skip
Akhirnya mereka berdua telah sampai.
"Gas, makasih ya" ucap Ana.
"Iya, sama-sama" ucap Bagas sambil tersenyum.
"Ya udah, gue masuk dulu ya" ucap Ana.
"Na" panggil Bagas.
Ana langsung melihat kearah Bagas.
"Jangan nyalahin diri luh sendiri ya" ucap Bagas.
Ana hanya terdiam, karena ia merasa dirinya bersalah tiap kali orang membahas tentang kematian Naya.
Tin...tin
Sontak Ana dan Bagas langsung melihat kearah motor yang berhenti di depan mobil Bagas. Dan ternya itu adalah motor Lino.
Lino langsung membuka pintu mobil yang berada disebelah Ana.
"Na, kamu dari mana aja sih? aku dari tadi nyariin kamu" ucap Lino.
"Luh lagi, kenapa coba gak ngasih tahu gue kalau Ana ada sama luh" ucap Lino.
"No, udah jangan salahin Bagas" ucap Ana.
"Kamu kenapa gak angkat telepon dari aku?" tanya Lino.
"Soalnya handphone aku mati" ucap Ana.
"Tadi kamu darimana?" tanya Lino.
"Aku dari habis dari makam Naya" ucap Ana.
"No, udah luh jangan ajak Ana ngobrol mulu. Kasihan dia kedinginan diluar" ucap Bagas.
"Ya udah ayo masuk" ucap Lino sambil merangkul Ana menuju kedalam rumah.
Setelah Ana dan Lino masuk kedalam rumah, Bagas segera melajukan mobilnya menuju rumahnya.
......****......
"Tante, ini Ana nya" ucap Lino.
"Ana, kamu dari mana aja? mamah khawatir tahu" ucap mamah sambil memeluk Ana.
"Dia katanya habis dari makam Naya, tante" ucap Lino.
"Kamu harusnya bilang dulu kalau mau kesana" ucap mamah.
"Tadi kenapa coba telepon mamah gak diangkat?" tanya mamah.
"Soalnya handphone Ana baterai nya habis, jadi telepon mamah gak ke angkat" ucap Ana.
"Maaf ya, mah" ucap Ana.
"Minta maaf nya ke Lino, bukan ke mamah. Soalnya Lino dari tadi nyariin kamu, sampe hujan-hujanan segala" ucap mamah.
Ana langsung melihat kearah Lino.
"No, maafin aku ya" ucap Ana.
"Gak usah minta maaf" ucap Lino.
"Oh iya, itu kantong plastik apa?" tanya mamah.
"Ini pakaian Ana, mah. Tadi Ana kehujanan terus Bagas nyuruh Ana ganti baju pake bajunya Naya" jelas Ana.
"Ya udah sini, biar mamah cuci dulu pakaian kamu" ucap mamah.
Ana segera memberikan kantong plastik tersebut kepada mamahnya.
"Na, pinjemin Lino jaket kamu sana! kasihan dia pasti kedinginan" ucap mamah.
"Gak usah tante, Lino mau langsung pulang aja" ucap Lino.
"Jangan! kamu pinjem jaket Ana aja. Nanti kamu masuk angin kalau gak ganti" ucap mamah.
"Ya udah ayo, No" ucap Ana.
Akhirnya Ana dan Lino segera menuju kamar Ana.
Ketika sampai di kamar, Ana langsung mengambil jaket dan celana unisex miliknya.
"Ini, ganti dulu sana" perintah Ana.
Lalu Lino segera mengambil jaket dan celana tersebut. Kemudian ia segera pergi ke kamar mandi.
Setelah selesai berganti pakaian, Lino segera menghampiri Ana.
"Kenapa, No?" tanya Ana karena Lino hanya menatapnya.
Lalu Lino langsung memeluk Ana dengan erat.
"Kamu kenapa, No?" tanya Ana sedikit khawatir.
"No, jangan kayak gini. Aku jadinya khawatir kalau kamu meluk aku tiba-tiba kayak gini" ucap Ana.
"Aku yang khawatir, Na. Dari tadi aku nyari kamu kemana-mana" ucap Lino yang masih memeluk Ana.
"Maaf, udah buat kamu khawatir" ucap Ana.
Lalu Lino langsung melepaskan pelukannya.
"Tadi kenapa kamu bisa sama Bagas?" tanya Lino.
"Soalnya tadi setelah dari makam, aku ke rumahnya Bagas" ucap Ana.
"Ngapain kesana?" tanya Lino.
"Aku mau minta maaf" ucap Ana.
"Na, udah jangan minta maaf terus. Lagian itu bukan salah kamu" ucap Lino.
"Tapi setiap inget Naya, aku selalu merasa bersalah" ucap Ana.
"Walaupun Bagas dan orang tua nya gak nyalahin aku, aku tetep merasa bersalah, No" ucap Ana sambil meneteskan air matanya.
"Dan walaupun orang-orang juga bilang aku gak salah, tapi aku tetep ngerasa salah"
"Setiap malem aku selalu mikir bahwa orang-orang bilang kayak gitu sebenernya dibelakang mereka pada ngomongin aku dan aku selalu ngerasa orang-orang itu nyalahin aku atas kematian Naya" ucap Ana.
"Gak ada yang nyalahin kamu, Na. Itu kamu cuma overthinking aja" ucap Lino.
"Tapi aku merasa mereka nyalahin aku, No" ucap Ana.
"Kamu terlalu banyak pikiran, makanya kamu sampe berpikir kayak gitu. Padahal kan belum tentu mereka nyalahin kamu" ucap Lino.
"Ana, Lino! ayo makan dulu" ucap mamah sambil masuk kedalam kamar Ana.
"Lino langsung pulang aja, tante" ucap Lino.
"Makan dulu! tante udah masak loh" ucap mamah Ana.
"Iya, makan dulu aja, No" ucap Ana.
"Ya udah mamah tunggu di ruang makan ya!" ucap mamah.
"Iya, mah" ucap Ana.
Mamah segera pergi.
"Na, ada kantong plastik gak?" tanya Lino.
"Ada, bentar ya aku ambilin dulu" ucap Ana.
Setelah mengambil kantong plastik, Ana segera kembali menghampiri Lino.
"Ini, No" ucap Ana sambil memberikan kantong plastik kepada Lino.
Lino segera mengambil kantong plastik tersebut.
"Oh iya, baju sama celana kamu mana?" tanya Ana.
"Di kamar mandi" ucap Lino sambil pergi menuju kamar mandi.
Setelah itu, Lino segera kembali menghampiri Ana.
"Na, aku nitip baju sama celana aku di kamar mandi ya. Nanti aku ambil waktu mau pulang" ucap Lino.
"Iya" ucap Ana.
"Ya udah ayo makan, aku lapar banget soalnya" ucap Ana.
"Ya udah ayo" ucap Lino.
Lalu mereka berdua segera pergi menuju ruang tamu.
Sesampainya di ruang makan, Ana dan Lino segera duduk dan mereka segera memakan masakan buatan mamah Ana.
"Enak gak, No?" tanya mamah Ana.
"Enak banget, tante" ucap Lino.
"Syukur deh kalau enak" ucap mamah Ana.
"No, orang tua kamu sering main ke rumah kamu gak?" tanya mamah.
"Enggak sering, tante. Paling kalau ke rumah tuh waktu mereka lagi gak sibuk aja" ucap Lino.
"Orang tua kamu sibuk banget ya, No?" tanya mamah Ana.
"Iya, tante" ucap Lino.
"Mah, udah! jangan tanya Lino mulu, dia kan lagi makan" ucap Ana.
"Maaf ya, No" ucap mamah Ana.
"Enggak apa-apa kok, tante" ucap Lino.
"Na, kamu berantem ya sama Lia?" tanya mamah.
"Enggak kok, mah" ucap Ana.
"Kata Lino katanya berantem" ucap mamah.
Ana langsung melihat kearah Lino.
"Ana gak berantem kok" ucap Ana.
"Udah jangan bohong, Lino udah cerita ke mamah" ucap mamah.
Ana hanya terdiam.
"Sampe kapan sih mau bohongin mamah terus?" tanya mamah.
"Maaf, mah. Ana cuma gak mau mamah tahu aja, soalnya kan ini masalah Ana bukan masalah mamah" ucap Ana.
"Tapi kan kamu anak mamah, jadi mamah harus tahu masalah kamu" ucap mamah.
"Tapi kan ini masalah Ana, mah. Jadi mamah gak usah ikut campur" ucap Ana.
"No, pacar kamu keras kepala banget ya anaknya" ucap mamah Ana.
"Iya, tante. Ana emang keras kepala" ucap Lino sambil tersenyum.
"Ya iyalah keras, masa kepala lunak" ucap Ana.
"Nyaut aja kalau diomongin sama orang tua" ucap mamah.
"Terus masa Ana harus diem, nanti dikira bisu" ucap Ana.
"No, Ana bawel gak sih kalau disekolah?" tanya mamah Ana.
"Dia bawel banget, tante" ucap Lino sambil tertawa kecil.
"Enggak kok, Ana pendiem kalau di sekolah" ucap Ana.
"Mamah gak percaya" ucap mamah.
"Tapi sekarang Ana agak diem sih tante, soalnya dia terlalu banyak yang dipikirin" ucap Lino.
"Kamu mikir apa, Na?" tanya mamah.
"Mikirin pelajaran lah, mah" bohong Ana.
"Pelajarannya emang susah banget ya?" tanya mamah.
"Iya susah banget, sampe bikin Ana stres" ucap Ana.
...****...
Setelah selesai makan, Lino segera pamit kepada Ana dan mamahnya Ana.
"Hati-hati ya, No" ucap mamah Ana.
"Iya, tante" ucap Lino.
"Oh iya, No! pakaian kamu ada di kamar mandi" ucap Ana.
"Oh iya" ucap Lino.
"Kamu tunggu aja disini, nanti biar sama aku aja ambilnya" ucap Ana.
Ana segera pergi menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar, Ana segera masuk kedalam kamar mandi. Lalu ia segera mengambil kantong plastik yang berisi pakaian Lino. Sesudah itu, Ana segera kembali menghampiri Lino.
"Ini, No" ucap Ana sambil memberikan kantong plastik kepada Lino.
"Makasih ya udah diambilin" ucap Lino.
"Iya sama-sama" ucap Ana.
"Ya udah Lino pamit dulu ya, tante" ucap Lino lagi.
"Iya" ucap mamah Ana.
Lino segera salam kepada mamah Ana.
"No, aku anterin sampe depan ya" ucap Ana.
"Iya boleh" ucap Lino.
Mereka berdua segera pergi keluar.
"Aku pulang dulu ya" ucap Lino.
"Iya" ucap Ana.
"Hati-hati ya" ucap Ana.
"Iya" ucap Lino.
"Nanti langsung minum obat ya, biar gak sakit" ucap Ana.
"Iya" ucap Lino sambil menaiki motornya.
"Jangan ngebut" ucap Ana.
"Iya bawel" ucap Lino sambil tersenyum.
"Dadah" ucap Lino.
"Dadah" ucap Ana.
Lino segera melajukan motornya menuju rumahnya.
Setelah Lino pergi, Ana segera masuk kedalam rumah.
"Na" panggil mamah.
"Apa, mah?" tanya Ana.
"Tolong kunciin pagar sama pintunya" ucap mamah.
"Oke, mah" ucap Ana.
Lalu Ana segera keluar untuk mengunci pagar rumahnya. Setelah itu, ia segera mengunci pintu rumahnya.
Setelah selesai mengunci pintu, Ana segera pergi menuju kamarnya.
...****...
Skip
* Kamar Lino
Trining...trining
Cklek
Lino segera membuka pintu kamar mandi.
Trining...trining
"Siapa sih?" gumam Lino.
Lino segera melihat ke layar ponselnya dan ternyata ada panggilan video call dari Ana.
Lalu Lino langsung mengangkat panggilan video call tersebut.
"Ada apa, Na?" tanya Lino.
"No, kamu kemana gak pake baju?" tanya Ana sambil menutup matanya dengan satu tangan.
"Aku habis mandi tadi" ucap Lino.
"Ya udah pake baju dulu sana!" perintah Ana.
"Ya udah aku pake baju dulu ya" ucap Lino sambil meletakan ponselnya.
Lino segera memakai pakaiannya.
Setelah itu, Lino kembali mengambil ponselnya.
"Kenapa video call, Na?" tanya Lino sambil menyender di headboard kasurnya.
"Soalnya aku gak bisa tidur, makanya aku telepon kamu" ucap Ana.
"Kenapa gak bisa tidur?" tanya Lino.
"Soalnya aku banyak pikiran, jadi gak bisa tidur" ucap Ana.
"Aku kan udah bilang, jangan mikirin hal yang gak penting" ucap Lino.
"No, kayaknya aku harus beli obat tidur deh. Supaya aku bisa tidur nyenyak" ucap Ana.
"Jangan minum obat tidur! lebih baik kamu minum susu hangat aja" ucap Lino.
"Emang kalau minum susu hangat nanti cepet ya tidurnya?" tanya Ana.
"Kata orang sih iya" ucap Lino.
"Oh iya, No! kamu kenapa mandi malem-malem?" tanya Ana.
"Soalnya gerah" ucap Lino.
"Perasaan dingin deh" ucap Ana.
"Rumah kita kan beda, Na. Jadi pasti suhu ruangannya juga beda" ucap Lino.
"Kan siapa tahu suhunya sama" ucap Ana.
"Oh iya, No! besok kamu mau sekolah gak?" tanya Ana.
"Ya mau lah" ucap Lino.
"Kalau kamu mau sekolah gak?" tanya Lino balik.
"Tadinya sih gak mau, tapi kalau kamu mau sekolah ya aku juga bakalan sekolah" ucap Ana.
"Kalau aku gak sekolah, berarti kamu juga gak sekolah gitu?" tanya Lino.
"Iya" ucap Ana.
"Emang kamu mau di alfa-in sama guru gitu?" ucap Lino.
"Kan nanti aku tinggal ijin aja, jadi gak bakal di alfa-in" ucap Ana.
"Ijin apa?" tanya Lino.
"Ijin sakit" ucap Ana.
"Emangnya kamu sakit?" tanya Lino.
"Ya enggak" ucap Ana.
"Jangan ngebohong sama guru, nanti kalau ketahuan pura-pura sakit bisa-bisa kamu dikeluarin dari sekolah" ucap Lino.
"Emang iya?" tanya Ana.
"Iya" ucap Lino.
"Kalau ngebohongin kepala sekolah?" tanya Ana.
"Ya sama, nanti kamu bakal dikeluarin dari sekolah" ucap Lino.
"Kalau gosipin guru-guru, nanti bakal dikeluarin gak dari sekolah?" tanya Ana.
"Iya bakal dikeluarin, tapi kalau kamu ngomong nya dihadapan mereka" ucap Lino.
"Kalau ngomong nya dihadapan mereka bukan cuma bakal dikeluarin, tapi juga bakal di jewer" ucap Ana.
"Kamu pernah dijewer guru gak?" tanya Lino.
"Enggak pernah" ucap Ana.
"Kalau kamu pernah gak?" tanya Ana balik.
"Kalau aku sih sering" ucap Lino.
"Oh pasti karena kamu sering bolos ya?" tanya Ana.
"Iya" ucap Lino.
"Sakit gak dijewer sama guru?" tanya Ana.
"Ya sakit lah, namanya juga dijewer" ucap Lino.
"Sakit dijewer atau ditampar?" tanya Ana.
"Dua-duanya sakit, Na" ucap Lino.
"Pilih salah satu" ucap Ana.
"Hmm...mungkin lebih sakit ditampar" ucap Lino.
"Oh iya, No! besok olahraga kan?" tanya Ana.
"Iya" ucap Lino.
"Aku gak bakal olahraga ah" ucap Ana.
"Kenapa gak bakal olahraga?" tanya Lino.
"Soalnya pasti disuruh lari, jadi aku gak mau" ucap Ana.
"Tahu dari siapa kalau besok lari?" tanya Lino.
"Nebak aja" ucap Ana.
"Menurut aku sih besok bakalan main basket" ucap Lino.
"Menurut aku sih lari" ucap Ana lagi.
"Taruhan yuk!" ajak Lino.
"Taruhan apa?" bingung Ana.
"Yang tebakannya bener, nanti ditraktir sama yang tebakannya kalah" ucap Lino.
"Ayok" ucap Ana.
"Eh jangan traktir deh, gimana kalau yang tebakannya kalah nanti harus turutin apa kata yang tebakannya bener" ucap Lino.
"Ya udah ayo" ucap Ana.
"Inget ya, harus dituruti!" ucap Lino.
"Iya...iya" ucap Ana.
"Awas jangan curang" ucap Lino.
"Iya, lagian aku kan gak pernah curang" ucap Ana.
"Ya udah kamu tidur gih! soalnya udah malem, nanti kesiangan lagi bangunnya" perintah Lino.
"Ya udah iya" ucap Ana.
"Selamat tidur, Lino" ucap Ana.
"Selamat tidur juga, Ana" ucap Lino sambil tersenyum.
Lalu Ana segera mematikan panggilan video call nya.
Setelah Ana mematikan panggilan video call, Lino langsung tidur karena ia sangat mengantuk.