
Setelah sampai di pantai, mereka berdua pun segera duduk di kursi yang telah disediakan.
"Oh iya, kamu mau beli makanan sama minuman gak?" tanya Lino.
"Mau" ucap Ana.
"Mau apa?" tanya Lino.
"Ice chocolate sama roti bakar" ucap Ana.
"Ya udah tunggu bentar ya" ucap Lino.
"Iya" ucap Ana.
Lalu Lino pun segera pergi untuk membeli makanan dan minuman.
5 menit kemudian...
Lalu Lino pun segera menghampiri Ana dengan membawa makanan dan minuman yang ia dan Ana beli.
"Ini" ucap Lino sambil meletakkan makanan dan minuman diatas meja.
"Makasih" ucap Ana.
"Iya sama-sama" ucap Lino.
Lalu mereka pun segera memakan makanan yang telah dibeli.
"No" ucap Ana.
"Kenapa?" tanya Lino sambil menatap Ana.
"Kira-kira papah aku sekarang ada dimana ya" ucap Bina sambil menahan tangisnya.
"Mungkin papah kamu ke rumah orang tuanya" ucap Lino.
"Beneran kesana?" tanya Ana.
Lino pun bingung harus menjawab apa.
"Apa papah aku tinggal sama selingkuhannya ya" ucap Ana.
"Enggak, Na. Papah kamu pasti tinggal ke rumah kakek sama nenek kamu" ucap Lino.
Tanpa sadar Ana pun meneteskan air matanya.
"Na, jangan nangis" ucap Lino sambil mengusap air mata Ana.
"Kalau papah aku tinggal di rumah selingkuhannya gimana, No?" tanya Ana dengan gemetar.
"Enggak, Na. Percaya deh sama aku" ucap Lino.
"Aku kangen sama papah, No" ucap Ana sambil menangis.
"Walaupun papah selingkuh dari mamah, tapi aku masih sayang sama dia" ucap Ana sambil nangis sesenggukan.
"Iya aku tahu kok kamu kangen sama papah kamu" ucap Lino.
"Udah ya jangan nangis, nanti kalau kamu nangis aku jadi sedih" ucap Lino sambil mengusap air mata Ana.
"Ya udah kalau kangen, kamu telepon aja papah kamu" ucap Lino.
"Tapi aku gak mau telepon papah" ucap Ana.
"Katanya kangen" ucap Lino.
"Ya udah mana nomer telepon papah kamu? biar aku aja yang telepon. Kalau bisa aku bakal marahin papah kamu karena udah bikin anaknya nangis" canda Lino.
"Gak usah, biar aku aja yang telepon" ucap Ana.
"Nah gitu dong" ucap Lino.
Lalu Ana pun segera menelpon papahnya.
"Hallo, Na" ucap papah.
"Pah" ucap Ana.
"Iya, kenapa sayang?" ucap papah.
"Papah udah makan?" tanya Ana sambil gemetar.
"Udah sayang" ucap papah.
"Papah sekarang dimana?" tanya Ana sambil meneteskan air matanya.
"Papah ada dirumah orang tua papah" ucap papah.
"Ana, maafin papah ya" ucap papah.
Ana pun tidak menjawab ucapan papahnya. Dan ia pun langsung menutup panggilan teleponnya.
"Hiks...hiks" tangis Ana.
Lalu Lino pun segera memeluk Ana untuk menenangkannya.
"Jangan nangis, Na" ucap Lino sambil menepuk pelan punggung Ana.
"Tuh, lihat deh! kamu dilihatin sama anak kecil" ucap Lino sambil melepaskan pelukannya.
Lalu Ana pun langsung melihat kearah anak kecil yang sedang memperhatikannya.
"Dia dari tadi lihatin kamu nangis" ucap Lino.
"Emang iya?" tanya Ana.
"Iya" ucap Lino.
"Dia pasti ngomongin kamu loh didalam hati" ucap Lino.
"Maksudnya?" bingung Ana.
"Dia pasti bilang gini di dalam hatinya, kakak itu kenapa ya? pasti kakak cowok itu yang bikin dia nangis" ucap Lino.
"Tahu dari mana coba?" ucap Ana.
"Kan aku bisa baca pikiran" bohong Lino.
"Aku gak percaya" ucap Ana.
"Kan waktu dulu juga aku pernah baca pikiran kamu" ucap Lino.
"Kapan?" tanya Ana.
"Waktu itu loh, yang aku nebak kalau kamu lagi lapar" ucap Lino.
"Gak tahu, aku udah lupa" ucap Ana.
"Ya udah, lebih baik kamu habisin dulu deh makanan sama minumannya" ucap Lino.
"Iya" ucap Ana.
Lalu Ana pun segera melanjutkan makannya.
"Ya udah chat aja sekarang" ucap Lino.
Lalu Ana pun segera mengirim pesan kepada mamahnya.
"Oh iya, kamu mau main air gak?" tanya Lino.
"Enggak ah! aku kan gak bawa baju" ucap Ana.
"Ya kalau masalah baju tinggal beli aja, lagian banyak tuh yang jualan baju pantai" tunjuk Lino pada orang-orang yang berjualan pakaian.
"Ya terus kalau itunya?" tanya Ana.
"Apanya?" bingung Lino.
Ana pun sulit untuk mengungkapkannya kepada Lino. Karena itu merupakan privasi wanita.
"Apanya sih?" tanya Lino ulang.
"Gak jadi deh" ucap Ana.
"Ya udah mau gak?" tanya Lino.
"Enggak ah" ucap Ana.
Lino pun segera menggendong Ana.
"Lino!!!" teriak Ana.
Lino pun hanya tersenyum.
Lalu Lino pun membawa Ana menuju pantai.
"Lino!!! aku gak mau main air" teriak Ana.
"Satu...dua...tiga" ucap Lino.
Byurrrr
Lino pun hanya tertawa melihat Ana.
"Ih Lino!!" kesal Ana.
Lalu Ana pun langsung mengejar Lino.
Saat Ana mau mengejar Lino, Lino pun terlebih dahulu berlari.
"Aww" ringis Ana pura-pura.
Ana pun langsung duduk dan ia langsung melihat telapak kakinya.
Kemudian Lino pun segera menghampiri Ana.
"Kenapa, Na?" tanya Lino.
Lalu Ana pun segera menjewer telinga Lino.
"Awww sakit sakit" ucap Lino.
"Rasain" ucap Ana sambil melepaskan jewerannya.
Lino pun langsung mengelus-elus telinganya.
"Ayo" ucap Ana sambil menarik tangan Lino.
"Mau kemana?" tanya Lino.
"Pokoknya ikut aku" ucap Ana.
"Kamu mau ngapain?" tanya Lino.
"Aku mau ceburin kamu" ucap Ana.
"Enggak...enggak" ucap Lino sambil melepaskan tangan Ana.
"Ih kamu curang banget sih, masa aku doang yang basah" kesal Ana.
"Ya udah deh ayo" ucap Lino sambil menarik tangan Ana.
Lalu mereka pun bermain air bersama.
"Ke tengah yuk! biar seru" ucap Lino.
"Enggak ah, takut" ucap Ana.
"Gak takut kok, kan ada aku" ucap Lino.
"Aku takut ada hiu" ucap Ana.
Lino pun langsung tertawa karena mendengar ucapan Ana.
"Kamu kenapa ketawa?" bingung Ana.
"Soalnya kamu lucu" ucap Lino.
"Ayo ke tengah" ucap Lino.
"Kamu aja yang ke tengah" ucap Ana.
"Ih penakut banget" ucap Lino.
"Kamu juga sama" ucap Ana.
"Aku gak penakut" ucap Lino.
"Gak penakut tapi kok waktu udah naik wahana histeria, mukanya jadi pucet" ucap Ana sambil tertawa kecil.
"Kan waktu itu aku gak enak badan jadi mukanya pucet" bohong Lino.
"Ngeles aja" ucap Ana.
"Tuh lihat! anak kecil aja berani ke tengah, masa kamu yang udah besar gak berani sih" ucap Lino.
"Lemah" ledek Lino.
"Ya udah iya" ucap Ana.
Lalu mereka berdua pun segera ke tengah pantai.
"No" panggil Ana.
"Kenapa?" tanya Lino.
"Pegangan" ucap Ana yang sedikit takut.
Lalu Lino pun tersenyum karena melihat ekspresi Ana yang sedikit takut.
"Ya udah sini" ucap Lino.
Lalu Lino pun segera memegang pergelangan tangan Ana.