
"Guys, boleh gabung gak?" tanya Gilang yang baru datang bersama Lino.
"Boleh" ucap Felisa.
Lalu Gilang segera duduk disebelah Felisa, sedangkan Lino duduk disebelah Ana.
"Lang, katanya luh temennya Ardan kan?" tanya Clara.
"Iya" ucap Gilang.
"Luh waktu itu ke pemakamannya Ardan gak?" tanya Clara.
"Iya, gue kesana" ucap Gilang.
"Ardan emang sakit apa, Lang?" tanya Clara.
"Katanya sih sakit jantung" ucap Gilang.
"Oh iya, kenapa kalian gak bareng Lia?" tanya Lino.
"Soalnya Lia bawa bekal, jadi dia gak ikut ke kantin" ucap Ana.
"Oh gitu" ucap Lino.
"Oh iya, Ra! luh gimana sama Bobby?" tanya Ana.
"Gak gimana-gimana" ucap Clara.
"Luh gak terima dia gitu?" tanya Ana.
"Terima apanya? ditembak juga enggak" ucap Clara.
"Oh jadi luh pingin cepet-cepet ditembak Bobby, Ra?" tanya Gilang.
"Ya gak mau cepet-cepet juga kali" ucap Clara.
"Kenapa gak mau cepet-cepet pacaran?" tanya Felisa.
"Soalnya gue belum bisa ngelupain Ardan" ucap Clara.
"Udah lupain aja, lagian Ardan udah tenang dialam sana" ucap Gilang.
"Bukannya waktu itu luh udah move on ya, Ra?" tanya Ana.
"Iya, tapi gue gagal lagi move on nya" ucap Clara.
"Oh iya, luh sampe gak makan-makan ya gara-gara Ardan meninggal?" tanya Ana.
"Iya, soalnya gue jadi gak nafsu makan aja gitu setelah tahu Ardan meninggal" ucap Clara.
"Aneh ya cewek tuh, padahal dia gak jadian tapi susah banget move on nya" heran Gilang.
"Iya bener, aneh banget" ucap Lino.
"Cowok kali yang aneh, udah punya cewek masih aja ganjen sama cewek lain" ucap Felisa.
"Siapa tuh?" tanya Gilang.
"Pikir sendiri lah" ucap Felisa.
"Oh jadi kamu bahas soal aku yang waktu itu ngelirik cewek?" tanya Gilang.
"Itu tahu" ucap Felisa.
"Itu aku cuma ngelirik doang, Fel. Lagian aneh aja masa ke bukit pake pakaian kayak gitu" ucap Gilang.
"Emang pakaian kayak gimana?" tanya Clara.
"Pokoknya serba pendek lah" ucap Felisa.
"Emang ya semua cowok tuh sama aja. Ada cewek seksi aja, pasti matanya melotot" ucap Clara.
"Gak semua cowok kali, buktinya gue enggak tuh" ucap Lino.
"Emang iya, Na?" tanya Clara.
"Gak tahu" ucap Ana.
"Aku gak suka ngelihat cewek lain kok, Na. Percaya deh sama aku" ucap Lino.
"Iya, aku percaya kok sama kamu" ucap Ana.
"Jangan terlalu percaya, Na. Kan cowok suka ngebohong" ucap Clara.
"Ya udah sih kalau kamu gak percaya sama aku" ucap Lino.
"Aku percaya kok, No" ucap Ana.
"Udah bucin mah susah ya" ucap Clara.
"Iya lah, pasti percaya-percaya aja sama yang diomongin Lino" ucap Felisa.
"Oh iya, bukannya luh udah baikan ya sama Bagas dan Aldi?" tanya Clara kepada Lino.
"Iya, kita udah baikan kok" ucap Lino.
"Terus kenapa gak bareng?" tanya Clara.
"Soalnya Bagas pingin sendiri katanya" sahut Lino.
"Terus kalau Aldi?" tanya Clara.
"Kalau dia, gue gak tahu dia kemana" ucap Lino.
"Kayaknya Aldi ke perpustakaan deh" ucap Gilang.
"Ngapain ke perpustakaan?" tanya Clara.
"Ya baca buku lah, Ra" ucap Ana.
"Bukan baca buku" ucap Gilang.
"Terus ngapain dong?" tanya Ana.
"Dia lagi pdkt sama adik kelas dan adik kelas nya itu suka ke perpustakaan" jelas Gilang.
"Oh gitu" ucap Ana.
"Udah pulang sekolah, kita nongkrong di cafe yuk!" ajak Felisa.
"Gak mau ah! masa kalian berdua ada pasangannya sedangkan gue gak ada" ucap Clara.
"Ya nanti ajak Bobby aja" ucap Lino.
"Gak mau! nanti gue jadi canggung lagi kayak waktu itu" ucap Clara.
"Oh iya, waktu itu Bobby ngajak kemana?" tanya Ana.
"Ke cafe" ucap Clara.
"Luh ngobrolin apa aja sama dia?" tanya Ana.
"Ya ngomong random aja. Tapi yang ngobrol cuma dia dan gue cuma ngejawab aja" kata Clara.
"Luh garing banget ya kayaknya kalau diajak pacaran" ucap Gilang.
"Bukan garing, tapi gue belum kenal deket aja. Makanya agak canggung" ucap Clara.
"Gue tremor sumpah waktu itu" ucap Clara lagi.
"Gue juga sama sih, waktu diajak ke cafe sama Gilang, tangan gue jadi tremor gara-gara deg-degan" ucap Felisa.
"Kalau luh, Na? tangan luh suka tremor gak waktu deket sama Lino?" tanya Clara.
"Enggak" ucap Ana.
"Cuma deg-degan doang sih" jelas Ana.
"Kalau cowok suka deg-degan gak sih kalau ketemu cewek yang disukainya?" tanya Felisa kepada Lino dan Gilang.
"Kalau ngumpul bareng-bareng sih gak deg-degan, tapi kalau cuma berdua kadang suka deg-degan" ucap Gilang.
"Kenapa deg-degan nya kalau waktu berduaan doang?" tanya Ana.
"Soalnya kan kalau berdua, kitanya jadi fokus ke satu sama lain. Makanya jadi deg-degan" ucap Gilang.
"Guys jangan ngobrol mulu, cepet habisin makanannya. Nanti keburu bel masuk bunyi" ucap Lino.
Krining...krining
(Bel masuk berbunyi)
Mereka berlima segera pergi menuju kelasnya.
* Kelas
"Na" panggil Lino.
Sontak Ana langsung melihat kearah Lino.
"Iya, kenapa?" tanya Ana.
"Nanti malem aku mau ketemuan sama Acha" ucap Lino.
"Boleh kan, Na?" tanya Lino.
"Boleh kok" ucap Ana.
"Aku cuma mau minta maaf doang kok ke dia" ucap Lino agar Ana tidak salah paham.
"Iya, aku tahu kok" ucap Ana.
"Kamu gak marah kan?" tanya Lino.
"Enggak, lagian kan kamunya udah ijin dulu sama aku. Jadi aku gak bakal marah" ucap Aa.
"Oh iya, ketemuan nya dimana?" tanya Ana.
"Paling di cafe" ucap Lino.
"Ketemuan nya jam berapa?" tanya Ana.
"Jam tujuh malem" ucap Lino.
"Selamat siang anak-anak" ucap guru.
"Selamat siang, Bu" ucap semua murid yang berada didalam kelas.
"Oh iya, ada yang tahu nama ibu gak?" tanya guru tersebut.
"Enggak" ucap semuanya.
"Oke. Karena kalian belum kenal, ibu akan memperkenalkan diri kepada kalian" ucap guru tersebut.
"Perkenalkan nama saya Yuni, disini saya mengajar mata pelajaran bahasa Indonesia" ucap Bu Yuni.
"Hallo Bu Yuni" sapa Ryan.
"Iya hallo juga" ucap Bu Yuni.
Kemudian Bu Yuni segera menjelaskan materi bahasa Indonesia kepada murid-muridnya.
"Na" panggil Lino.
"Iya kenapa, No?" ucap Ana dengan pelan.
"Aku ngantuk" ucap Lino.
"Sama aku juga" ucap Ana.
"Ya udah, tidur aja yuk! lagian gurunya gak lihat ini" ucap Lino.
"Gak mau, nanti kalau ketahuan kita bisa dihukum" ucap Ana.
"Ya udah, aku aja ya yang tidur. Nanti kalau udah pulang bangunin ya" ucap Lino.
"Jangan tidur, No. Nanti ketahuan sama Bu Yuni" ucap Ana.
"Gak apa-apa, paling kalau ketahuan cuma disuruh ke toilet terus cuci muka doang" ucap Lino.
"Ya udah deh, terserah kamu aja" ucap Ana.
"Nanti jangan lupa buat bangunin aku ya" ucap Lino.
"Iya" ucap Ana.
Kemudian Lino segera tidur.
Satu jam kemudian...
"No, bangun! udah bel pulang" ucap Ana sambil menepuk-nepuk pundak Lino.
Lino langsung membuka kedua matanya.
"Udah selesai ya, Na?" tanya Lino.
"Iya, udah" ucap Ana.
"Tadi aku ketahuan tidur sama Bu Yuni gak?" tanya Lino.
"Enggak, soalnya tadi Bu Yuni diem dikursinya. Jadinya gak ketahuan deh" ucap Ana.
"Ya udah, pulang yuk!" ucap Ana.
"Bentar! aku masih pusing" ucap Lino.
"Ya udah diem dulu kalau masih pusing" ucap Ana.
Ana menatap wajah Lino sambil tersenyum.
"Kamu kenapa senyum?" tanya Lino.
"Soalnya lucu lihat kamu bangun tidur" ucap Ana.
"Lucu dari mananya coba" ucap Lino.
"Ya lucu, soalnya mukanya kayak anak polos gitu" ucap Ana.
"Kalau aslinya polos gak?" tanya Lino.
"Ya enggak lah" ucap Ana.
"Mana ada orang polos yang suka nyium" ucap Ana.
Lino langsung menahan senyumnya saat mendengar ucapan Ana.
"Ya udah ayo pulang" ucap Ana.
"Bangunin dong, Na" ucap Lino.
"Ih manja banget" ucap Ana.
Lalu Ana segera menarik tangan Lino, namun Lino segera menarik tangan Ana hingga membuat tubuh Ana mendekat kearahnya.
Sontak Ana langsung menelan saliva.
Lino dengan usil mendekatkan bibirnya.
Karena melihat Lino yang seperti itu, Ana langsung menutup kedua matanya.
Lino langsung menahan tawanya karena ia berhasil mengerjai Ana.
"Kenapa nutup mata, Na?" tanya Lino.
Lalu Ana langsung membuka kedua matanya karena mendengar perkataan Lino.
"Hmm...tadi cuma kelilipan" bohong Ana.
"Kelilipan atau minta dicium?" tanya Lino.
"Beneran kelilipan kok" ucap Ana dengan pipi yang merona.
"Yakin?" tanya Lino sambil tersenyum.
"Iya lah" ucap Ana.
"Ya uda ayo pulang" ucap Ana mengalihkan pembicaraan.
"Ya udah ayo" ucap Lino.
Mereka berdua segera pergi menuju parkiran sekolah.
Setelah sampai, Lino dan Ana segera menaiki motor. Kemudian Lino segera melajukan motornya menuju rumah Ana.