
"Ya udah sana, luh kenapa masih berdiri disini" ucap Raka.
"Luh gak ngajak gue masuk dulu gitu" ucap Ana.
"Luh kesini cuma mau ngasih kue kan?" tanya Raka.
"Iya sih" jawab Ana.
"Terus kenapa masih disini?" tanya Raka.
"Sebenernya gue pingin curhat sama luh" ucap Ana.
"Tentang Bagas? atau tentang Lino?" tanya Raka.
"Dua-duanya" jawab Ana.
"Ya udah ayo masuk" ucap Raka.
Akhirnya mereka berdua pun segera masuk kedalam rumah Raka.
"Eh, ada Ana" ucap papah Raka.
"Hallo om" sapa Ana.
"Ka, ambilin minum dong buat Ana" ucap papah Raka.
"Dia gak mau minum kok, pah. Lagian dia cuma mau curhat bentar" ucap Raka.
"Ana mau minum kok, om! lagian kan Ana pasti haus habis curhat" ucap Ana mengerjai Raka.
"Raka, cepet ambilin. Kan Ana tamu disini, jadi harus dikasih minum sama cemilin" ucap papah.
"Nyusahin aja luh" ucap Raka sambil pergi menuju dapur.
Ana pun hanya tersenyum karena ia sangat senang mengerjai Raka.
"Ana, om tinggal dulu ya" ucap papah Raka.
"Iya, om" kata Ana.
Lalu papah Raka pun segera pergi menuju kamarnya.
Setelah mengambil minum dan cemilan, akhirnya Raka pun segera kembali menuju ruang tamu.
"Nih tuan putri" ucap Raka sambil menaruh air minum dan cemilan diatas meja.
Ana pun langsung tertawa mendengar ucapan Raka.
Lalu Raka pun segera duduk disebelah Ana.
"Mau curhat apaan?" tanya Raka.
"Gue putus sama Bagas" ucap Ana.
"Bagus deh, soalnya hubungan luh sama Bagas kayak toxic banget" ucap Raka.
"Terus mau curhat apa lagi?" tanya Raka.
"Bentar gue mau minum dulu, soalnya haus habis ngomong" ucap Ana.
Ana pun langsung meminum air mineral yang ada dimeja.
"Baru juga ngomong sedikit masa jadi haus sih" ucap Raka.
Setelah minum, Ana pun segera melanjutkan obrolannya lagi.
"Tadi" ucap Ana.
"Tadi apa?" bingung Raka.
"Tadi Bagas berantem sama Lino" kata Ana.
"Gara-gara luh?" tebak Raka.
"Iya" ucap Ana.
"Terus Lino bilang" ucap Ana.
"Na, kalau ngomong jangan setengah-setengah dong" kesal Raka.
"Lino bilang bahwa dia suka sama gue" ucap Ana terus terang.
"Ya terus kenapa kalau suka?" tanya Raka.
"Gue gak tahu kalau dia bilang gitu itu karena emang dia suka beneran atau cuma karena mau ngelindungin gue supaya Bagas pergi" ucap Ana.
"Lino emang suka kok sama luh" jelas Raka.
"Beneran?" tanya Ana tak yakin.
"Bentar dulu" ucap Raka sambil memainkan ponselnya.
"Ada chat dari orang, Ka?" tanya Ana namun tidak dijawab oleh Raka.
Lalu Raka pun segera menelepon Lino. Kemudian Raka pun mengaktifkan loud speaker agar terdengar oleh Ana.
"Hallo, Ka" ucap Lino.
"No" panggil Raka.
"Ka, ngapain nelpon Lino" bisik Ana.
"Kenapa?" tanya Lino.
"Kata Ana, luh beneran suka sama dia gak?" tanya Raka.
"Raka!!!" teriak Ana.
"Enggak" ucap Lino berbohong.
Ana pun langsung terdiam setelah mendengar ucapan Lino.
"No, jawab yang jujur! si Ana jadi sedih tuh gara-gara luh" ucap Raka.
"Gue bakal jawab jujur, asal Ana yang tanya" ucap Lino.
"Na, luh yang tanya katanya" ucap Raka.
"Gak mau" ucap Ana kesal.
"Kalau luh yang tanya, mungkin jawaban gue bakal berubah" ucap Lino.
"Cepet tanya!" suruh Raka.
"No, luh beneran suka sama gue?" tanya Ana pelan.
"Apa, Na? suara luh gak kedengeran" ucap Lino.
"Luh beneran suka gak sama gue?" tanya Ana.
"Hmm..luh mau nya gue jawab apa?" tanya Lino.
"Gak tahu ah!" kesal Ana.
Ana pun segera pergi menuju rumahnya.
"No, si Ana marah tuh" ucap Raka sambil tertawa.
"Serius?" tanya Lino.
"Ya iyalah" jawab Raka.
...****...
Setelah sampai di rumah, Ana pun segera pergi menuju kamarnya.
"Nyebelin banget sih, bukannya langsung jawab" ucap Ana sambil rebahan dikasur.
"Apa susahnya sih tinggal jawab doang" kesal Ana.
Tok...tok
"Buka aja" ucap Ana.
Mamah Ana pun langsung membuka pintu.
"Na, itu ada temen kamu di ruang tamu" ucap mamah.
"Siapa?" tanya Ana.
"Clara" ucap mamah.
Ana pun segera pergi menuju ruang tamu.
"Eh, Ra! ada apa?" tanya Ana.
"Luh beneran putus sama Bagas?" tanya Clara.
"Iya" ucap Ana.
"Bagus deh kalau gitu, soalnya gue gak suka banget sama sikap dia" ucap Clara.
"Kamu putus sama Bagas?" tanya mamah yang tiba-tiba muncul.
"Iya, mah" ucap Ana.
"Kok bentar banget sih pacarannya" ucap mamah sambil duduk disofa.
"Kenapa putus?" tanya mamah.
"Gak apa-apa, mah. Pingin putus aja" ucap Ana tanpa memberitahu alasannya.
"Kenapa jadian kalau cuma bentar" ucap mamah.
"Ana terpaksa kali tante, soalnya sebenernya Ana tuh suka sama Lino" ucap Clara terus terang.
"Lino itu siapa?" tanya mamah.
"Cowok yang pernah datang kesini waktu malem karena mau kerja kelompok" jelas Ana.
"Jadi sebenarnya kamu itu sukanya sama Lino? " tanya mamah.
Ana pun hanya mengangguk mengiyakan ucapan mamahnya.
"Ra, jangan dikasih tahu ke temen-temen ya" ucap Ana.
"Iya luh tenang aja, gue gak bakal bilang ke yang lain kok" ucap Clara.
"Terus kamu kenapa terima Bagas waktu itu?" heran mamah.
"Karena dia nembaknya didepan mamah sama papah makanya Ana terima, soalnya kasihan kalau dia ditolak apalagi kan dia nembaknya didepan orang tua Ana pasti nantinya dia malu kalau Ana tolak" ucap Ana.
"Kok mamah jadi kasihan sama Bagas ya. Kalau dia tahu kamu terpaksa nerima dia waktu itu, pasti Bagas sedih banget" ucap mamah.
"Kok jadi kasihan ke Bagas sih, kan mamah harusnya kasihan ke aku" ucap Ana.
"Kenapa harus kasihan ke kamu?" bingung mamah.
"Tante sebenernya Bagas itu posesif banget sama Ana, dia gak ngebolehin Ana deket-deket sama cowok lain. Bahkan Raka sebagai sahabat Ana pun gak boleh deketin Ana" jelas Clara.
"Loh kok gitu sih" ucap mamah tak menyangka.
"Iya, mah! dia posesif banget, makanya Ana putusin dia" ucap Ana.
"Ra, ikut gue yuk ke kamar! gue pingin ngomong sesuatu" ucap Ana.
"Ya udah ayo" ucap Clara.
Lalu mereka berdua pun segera pergi menuju kamarnya Ana.
Setelah sampai, Ana pun langsung menutup pintu kamarnya.
"Kenapa, Na?" tanya Clara yang duduk dipinggir kasur.
"Gue mau ngomong sama luh" ucap Ana.
"Mau ngomong apa?" tanya Clara.
"Sebenernya gue putus sama Bagas bukan karena dia posesif" ucap Ana.
"Terus karena apa?" tanya Clara.
"Karena dia kasar sama gue" jelas Ana.
"Bagas kasar sama luh?" tanya Clara memastikan.
"Iya, dia suka nampar gue" ucap Ana.
"Serius, Na?" tanya Clara khawatir.
"Iya" ucap Ana.