
Setelah Lino pergi, Ana pun segera menutup pintunya. Lalu ia pun segera pergi menuju kamarnya.
Setelah sampai di kamarnya, Ana pun segera berganti baju.
Lalu setelah itu, ia pun segera pergi menuju ruang tamu untuk menonton televisi.
Tok...tok...tok
Pintu pun diketuk oleh seseorang.
Lalu Ana pun segera membukakan pintu rumahnya.
Cklek
"Ada apa, Ka?" tanya Ana.
"Temenin gue yuk" ucap Raka.
"Mau kemana?" tanya Ana.
"Beli kue sama kado buat mamah" ucap Raka.
"Mamah luh ulang tahun?" tanya Ana.
"Iya" ucap Raka.
"Ya udah kalau gitu gue mau ambil tas dulu ya" ucap Ana.
"Oh ya udah" ucap Raka.
Lalu Ana pun segera pergi menuju kamarnya untuk mengambil tas, dompet dan handphonenya. Setelah itu, ia pun segera kembali menghampiri Raka.
"Ya udah ayo" ucap Ana.
Lalu Ana dan Raka pun segera pergi dengan mengendarai motor milik Raka.
"Mau beli kue dulu atau kado dulu?" tanya Ana.
"Beli kado dulu" ucap Raka.
"Kira-kira kado buat ibu-ibu apa ya?" tanya Raka.
"Make up atau tas" ucap Ana.
"Gue beli tas aja kali ya" ucap Raka.
"Ya terserah luh" ucap Ana.
"Nanti kalau gitu mampir ke toko kosmetik dulu ya, soalnya gue juga mau kasih kado ke mamah luh" ucap Ana.
"Ya udah sekarang kita ke toko kosmetik dulu, baru udah itu kita ke toko tas" ucap Raka.
Lalu Raka pun segera melajukan motornya menuju toko kosmetik.
Setelah sampai di toko kosmetik, Ana dan Raka pun segera turun dari motor.
"Luh tunggu aja diluar, biar gue aja yang masuk" ucap Ana.
"Oh ya udah" ucap Raka.
"Jangan lama-lama ya" ucap Raka.
"Iya, gak akan lama kok" ucap Ana.
Lalu Ana pun segera masuk kedalam toko tersebut untuk membeli makeup untuk mamahnya Raka.
...****...
AR****LINO POV
Lino pun segera menelepon Lia karena ia ingin meminta maaf kepada Lia. Namun pada saat ditelepon, Lia tidak menjawab panggilannya.
Akhirnya Lino pun memutuskan untuk pergi ke rumah Lia.
Skip
Setelah sampai, Lino pun segera menekan bel rumah Lia.
Tidak lama kemudian, papahnya Lia pun membukakan pagar rumahnya.
"Nyari siapa?" tanya papahnya Lia.
"Saya mau ketemu Lia, om" ucap Lino.
"Ada perlu apa?" tanya papahnya Lia dengan nada dingin.
"Saya mau minta maaf sama dia" ucap Lino.
"Kamu pacarnya?" tanya papahnya Lia.
"Bukan, om!" ucap Lino.
"Siapa, pah?" tanya Lia yang tiba-tiba datang menghampiri Lino dan papahnya.
"Dia pacar kamu?" tanya papah Lia kepada Lia.
"Bukan, pah" ucap Lia.
"Kamu jangan bohong sama papah! pokoknya kamu gak boleh deket-deket sama cowok, kamu tuh harus fokus belajar" tegas papahnya Lia.
"Tapi dia bukan pacar Lia, pah" ucap Lia.
"Kamu lebih baik ke kamar sana!" perintah papah Lia.
Lalu Lia pun segera pergi menuju kamarnya karena ia tidak ingin papahnya marah kepadanya.
"Kamu juga pulang sana!" perintah papahnya Lia.
"Tapi, om! saya mau minta maaf ke Lia" ucap Lino.
Lalu papahnya Lia pun langsung menutup pagar rumahnya.
"Galak banget bapaknya Lia" batin Lino.
Lalu Lino pun segera pergi menuju rumah Naya.
Setelah sampai, Lino pun segera menekan bel rumah Naya.
Kemudian seseorang pun membukakan pagar rumah Naya.
"Eh ada Lino" ucap mamah Naya.
"Tante, Naya nya ada?" tanya Lino.
"Ya udah ayo masuk kedalam" ucap mamah Naya.
Lalu mereka berdua pun segera masuk kedalam rumah.
"Ya udah duduk dulu" ucap mamah Naya.
Lalu Lino pun segera duduk disofa ruang tamu.
"Bentar ya, tante mau panggil Naya dulu sekalian mau buat minum untuk kamu" ucap mamah Naya.
"Iya, tante" ucap Lino.
Lalu mamah Naya pun segera pergi menuju kamar Naya.
Tok..tok
"Buka aja, mah" ucap Naya.
Cklek
"Nay, ada Lino tuh di ruang tamu. Katanya sih pingin ketemu kamu" ucap mamah Naya.
"Mau ngapain?" tanya Naya.
"Mamah juga gak tahu, ya udah cepet kesana" ucap mamah Naya.
Lalu mamah Naya pun segera pergi ke dapur untuk mengambil minum untuk Lino.
Kemudian Naya pun segera pergi menghampiri Lino dan ia pun langsung duduk disebelah Lino.
"Kenapa?" tanya Naya.
"Gue mau minta maaf sama luh" ucap Lino.
"Udah gue maafin kok" ucap Naya.
"Luh gak marah kan sama gue?" tanya Lino.
"Enggak" ucap Naya.
"Kata Lia, luh nangis ya?" ucap Lino.
Naya pun hanya mengangguk mengiyakan ucapan Lino.
"No, bukan gue kok penguntitnya. Lagian ngapain juga gue nguntit Ana" ucap Naya.
"Kalau soal gantungan kunci itu, kan bukan cuma gue aja yang punya. Banyak kok yang punya gantungan kunci kayak gitu" ucap Naya.
"Kalau soal surat?" tanya Lino.
"Surat apaan?" tanya Naya.
"Tulisan tangan surat yang dikasih penguntit itu mirip sama tulisan tangan luh" ucap Lino.
"Kalau soal itu gue gak tahu, lagian banyak kok orang yang tulisannya mirip" ucap Naya.
"Emang Ana nuduh kalau gue penguntitnya ya?" tanya Naya.
"Enggak! Ana gak nuduh luh, tapi gue yang nuduh luh penguntitnya" ucap Lino.
"Sumpah bukan gue, No" ucap Naya.
"Kalian lagi ngebahas apa sih?" tanya mamah Naya yang tiba-tiba datang.
Lalu mamah Naya pun segera meletakkan gelas diatas meja.
"Enggak ngebahas apa-apa kok, tante" ucap Lino.
"Tapi kok kayak lagi serius banget" ucap mamah Naya.
"Enggak serius kok, tante" ucap Lino.
"Ya udah, di minum ya jus nya" ucap mamah Naya.
"Iya, tante" ucap Lino.
Lalu Lino pun segera meminum jus buatan mamah Naya.
"Mah, mamah mendingan kesana deh. Naya mau ngobrol dulu sama Lino" ucap Naya.
"Ya udah iya" ucap mamah Naya.
Lalu mamah Naya pun segera pergi.
"Emang luh kenapa sih nuduh gue?" tanya Naya.
"Ya karena dua hal yang tadi" ucap Lino.
"Bukan gue kok, No. Mana mungkin gue sejahat itu sama Ana, lagian kan kita sahabatan. Jadi gak mungkin ada sahabat yang jahatin sahabatnya sendiri" ucap Naya.
Lino pun hanya terdiam karena mendengar ucapan Naya.
"Luh percaya kan sama gue?" tanya Naya sambil menatap wajah Lino.
"Ya udah, kalau gitu gue pulang dulu" ucap Lino.
"No, jawab dulu pertanyaan gue" ucap Naya.
"Iya" ucap Lino.
"Iya apa?" tanya Naya.
"Iya, gue percaya sama luh" ucap Lino.
"Ya udah gue pulang dulu" ucap Lino.
"Gue anter ya keluarnya" ucap Naya.
"Gak usah" ucap Lino.
"Gak apa-apa, gue anter aja" ucap Naya.
Lalu Lino pun segera pergi dan Naya pun segera mengikuti Lino dari belakang.
Kemudian Lino pun segera menaiki motornya.
"Hati-hati, No" ucap Naya.
Lalu Lino pun segera melajukan motornya.