ARLINO

ARLINO
Episode 141



"No" ucap Ana.


"Iya, kenapa?" tanya Lino.


"Kenapa ya setiap orang yang deket sama aku pasti meninggal" ucap Ana.


"Kamu jangan ngomong gitu, Na! lagian kematian seseorang itu takdir, bukan karena dia deket sama kamu" ucap Lino.


"Kalau Naya meninggal karena overdosis berarti secara enggak langsung berarti dia bunuh diri dong, No" ucap Ana.


"Apa jangan-jangan dia bunuh diri karena aku. Karena kejadian itu" ucap Ana.


"Enggak, Na" ucap Lino.


"Naya dari dulu emang sering konsumsi obat-obatan" ucap Lino.


"Obat apa?" tanya Ana.


"Aku juga gak tahu. Tapi dia bilang kalau dia lagi panic attack, dia suka langsung makan obat" jelas Lino.


"Kamu sama Naya dulu deket banget ya, No?" tanya Ana.


"Waktu sebelum pacaran sama Acha emang deket, soalnya kan dia adiknya Bagas jadi kita sering jalan-jalan bertiga" jelas Lino.


"No" ucap Ana.


"Apa" kata Lino.


"Sebenernya Naya tuh bukan adik kandung Bagas" ucap Ana.


"Hah?" bingung Lino.


"Iya, mereka berdua bukan adik kakak kandung" ucap Ana.


"Kamu tahu dari mana?" tanya Lino.


"Tahu dari Clara" ujar Ana.


"Jadi mamahnya Naya nikah lagi sama papahnya Bagas" ucap Ana.


"Aku baru tahu loh" ucap Lino.


"No, aku jadi takut deh" ucap Ana.


"Takut kenapa, Na?" tanya Lino.


"Aku takut dijauhin Clara, Felisa atau Lia. Soalnya pasti mereka pikir kalau Naya konsumsi obat karena Naya stres sebab ketahuan kalau dia penguntit nya" ucap Ana.


"Terus mereka pasti mikir kalau aku yang buat Naya kayak gitu" ucap Ana.


"Shutt" ucap Lino sambil mendekatkan telunjuknya pada bibir Ana.


"Mereka gak bakal mikir kayak gitu kok, lagian mereka juga tahu kalau Naya sering konsumsi obat-obatan kalau lagi stres" ucap Lino.


"Katanya sih kalau makan obat, stresnya jadi sedikit hilang" ucap Lino.


"Tapi aku tetep merasa bersalah sama Naya" ucap Ana.


"Kamu udah baikan kan sama Naya?" tanya Lino.


"Udah" ucap Ana.


"Ya udah kalau gitu kamu gak perlu merasa bersalah" ucap Lino.


"No, kamu udah baikan ya sama Bagas?" tanya Ana.


"Sebenernya kalau baikan sih udah, cuma kita berdua gak minta maaf satu sama lain" ucap Lino.


"Gak minta maaf tapi kok bisa baikan sih" heran Ana.


"Ya cowok emang kayak gitu, gak minta maaf tapi bisa baikan" ucap Lino.


"Oh iya, soal video itu sebenernya Bagas yang ancam Naya buat hapus video kamu" jelas Lino.


"Bagas tuh sebenernya baik, Na. Cuma mungkin dia kasar sama kamu karena dia gak mau kamu deket cowok lain" ucap Lino.


"Nanti aku bakal minta maaf ke Bagas" ucap Ana.


"Emang kamu salah apa ke dia?" ucap Lino.


"Ya gak ada salahnya kan minta maaf. Walaupun bukan aku yang salah, tapi aku pingin minta maaf aja ke dia. Lagian dia juga udah bantuin ngehapus video itu" ucap Ana.


"Oh iya! nanti pas di sekolah, kamu mau gak temenin aku buat minta maaf ke dia" ucap Ana.


"Kenapa enggak sendiri aja?" tanya Lino.


"Sebenernya aku sedikit takut" ucap Ana.


"Ya udah nanti aku temenin" ucap Lino.


"Besok Bagas sekolah gak ya?" tanya Ana.


"Aku gak tahu" ucap Lino.


"No, berarti besok kita UAS nya enam mata pelajaran dong" ucap Ana.


"Ya iyalah" ucap Lino.


"No, pulang yuk!" ucap Ana.


"Ya udah ayo" ucap Lino.


Lalu mereka berdua segera pergi menuju rumah Ana.


Setelah sampai di rumah, Ana segera turun dari motor Lino.


"Helm nya simpen sama kamu aja ya" ucap Lino.


"Oh ya udah" ucap Ana.


"Ya udah kalau gitu aku pulang dulu ya" ucap Lino.


"Iya" ucap Ana.


"Hati-hati ya, awas jangan ngebut" ucap Ana.


"Iya, aku bakal ngebut" canda Lino.


"Iya..iya" ucap Lino.


"Ya udah aku pergi dulu ya" ucap Lino.


"Iya" ucap Ana.


Lalu Lino segera pergi.


Saat mau membuka pagar, tiba-tiba ada seseorang yang membunyikan klakson motornya.


Kemudian Ana langsung melihat kearah orang tersebut.


"Kenapa, Ka?" tanya Ana.


Lalu Raka segera turun dari motornya.


"Na, bukannya kemarin luh, Lino, Clara sama Gilang ke rumah Naya ya?" tanya Raka.


"Iya, gue kemarin kesana" ucap Ana.


"Apa jangan-jangan dia bunuh diri karena ketahuan ya bahwa dia yang nguntit luh?" ucap Raka.


Ana langsung terdiam karena ucapan Raka persis seperti apa yang dipikirannya.


"Gue bukan bermaksud nyalahin luh, Na. Gue cuma nebak aja kalau Naya bunuh diri karena itu" ucap Raka.


"Maafin gue ya" ucap Raka karena ia merasa bersalah sebab berbicara seperti itu.


"Iya gak apa-apa" ucap Ana dengan mata yang berkaca-kaca.


Lalu Ana segera masuk kedalam rumahnya.


Setelah menutup pintu rumahnya, Ana segera pergi menuju kamarnya.


Setelah sampai di kamar, Ana langsung duduk dipinggir kasur sambil memikirkan ucapan Raka barusan.


"Nay, maafin gue. Gara-gara gue, luh jadi merasa bersalah sama gue" ucap Ana sambil meneteskan air matanya.


...****...


* Pagi hari


* Ruang makan


"Na, kamu kenapa?" tanya mamah saat melihat wajah Ana yang murung.


"Naya kemarin meninggal, mah" ucap Ana.


"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un" ucap mamah.


"Dia meninggal kenapa?" tanya mamah.


"Dia meninggal karena overdosis" ucap Ana.


"Emang dia kenapa sampe bisa makan banyak obat-obatan kayak gitu?" tanya mamah.


"Katanya sih dia makan obat-obatan biar stresnya hilang" ucap Ana.


"Emang dia stres kenapa? apa dia punya masalah yang besar sampe-sampe makan obat" ucap mamah.


Ana hanya terdiam.


"Kok kamu diem sih?" tanya mamah.


"Sebenernya ini semua karena Ana, mah" ucap Ana dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ana bikin Naya jadi stres, makanya Naya makan obat-obatan itu" ucap Ana sambil meneteskan air matanya.


"Ana pamit sekolah dulu ya, mah" ucap Ana.


"Ana, habisin dulu makanannya" ucap mamah.


Ana langsung buru-buru pergi keluar tanpa menghiraukan ucapan mamahnya dan ia langsung berjalan kaki menuju sekolahnya.


...****...


Tingtong...tingtong


Mamah Ana segera pergi keluar untuk menemui orang yang menekan bel rumahnya.


"Pagi, tante" ucap Lino.


"Pagi juga, No" ucap mamah Ana.


"Ana nya ada, tante?" tanya Lino.


"Dia tadi buru-buru pergi ke sekolah, No" ucap mamah.


"Loh kenapa buru-buru, kan jam tujuh masih lama" bingung Lino.


"Tadi dia nangis, katanya penyebab Naya meninggal itu karena dia" ucap mamah.


"Ya ampun, Ana kenapa sih nyalahin dirinya sendiri" ucap Lino.


"Emang Naya sama Ana ada masalah apa sih, No?" tanya mamah Ana.


"Maaf, tante. Lino gak bisa ngasi tahu ke tante" ucap Lino.


"Oh ya udah gak apa-apa" ucap mamah Ana.


"Ya udah kalau gitu Lino pamit dulu ya, tante" ucap Lino.


"Oh iya, hati-hati ya" ucap mamah Ana.


"Iya, tante" ucap Lino.


Lalu Lino segera menaiki motornya dan ia segera melajukan motornya.


Saat diperjalanan menuju sekolah, Lino melihat Ana. Kemudian Lino segera melajukan motornya menuju Ana.


Tin...tin


"Ana!!!" teriak Lino namun Ana terus berjalan tanpa melihat kearah Lino.


Kemudian Lino segera memberhentikan motornya tepat didepan Ana. Lalu Lino segera turun dari motor dan ia langsung mendekat kearah Ana.