ARLINO

ARLINO
Episode 208



Setelah berkata seperti itu, Ana segera masuk kedalam kamar dan ia segera mengunci pintu kamar tersebut.


"Udah lah, biarin aja Ana nginep disini dulu" ucap papah.


Mamah Ana segera pergi keluar.


Saat keluar ia segera menghampiri Raka.


"Ayo masuk, Ka" suruh mamah Ana.


Raka segera masuk kedalam mobil.


"Ana nya mana, tante?" tanya Raka.


"Ana nya mau nginep di rumah papahnya" ucap mamah Ana sambil nyetir.


"Oh iya, Ka! apa bener kalau kamu anak geng motor?" tanya mamah Ana.


Raka hanya terdiam karena ia takut mamah Ana bilang kepada kedua orang tuanya.


"Jawab, tante!" ucap mamah Ana.


"Hmm...dulu iya tante, tapi sekarang udah enggak kok" ucap Raka.


"Sama Lino?" tanya mamah Ana.


"Iya, tante" ucap Raka terus terang.


"Kamu ngapain sih ikut balapan?" tanya mamah Ana.


"Soalnya Raka bosen dirumah, makanya Raka ikut balapan" ucap Raka.


"Kamu kan bisa main game atau nonton gitu, gak harus balapan" ucap mamah Ana.


"Soalnya Raka butuhnya temen curhat tante, makanya Raka ikut nongkrong bareng anak geng motor" ucap Raka.


"Tante, tolong jangan bilang ke mamah sama papah ya" mohon Raka.


"Raka beneran gak ikut balapan lagi kok, tante. Paling Raka cuma ikut nongkrong bareng doang sama mereka" ucap Raka.


"Terus kalau ditongkrongan kalian suka ngapain?" tanya mamah Ana.


"Kita cuma ngobrol sambil makan-makan doang kok, tante" jelas Raka.


"Kalian gak mabuk-mabukan kan?" tanya mamah Ana.


"Enggak, tante! kita gak mabuk-mabukan kok" kaget Raka karena ucapan mamahnya Ana.


"Emang sih anak geng motor tuh dicap gak baik sama orang, tapi nyatanya kita gak kayak gitu kok tante. Bahkan kita sering ngasih sumbangan untuk anak-anak yatim piatu" jelas Raka.


"Sumbangan untuk anak-anak yatin piatu?" ucap mamah Ana.


"Iya" ucap Raka.


"Tadinya sih kita gak ada niat buat nyumbang, cuma Lino waktu itu ada usul buat ngasih sumbangan ke anak-anak yatim berupa makanan dan minuman" ucap Raka.


"Lino yang ngusulin?" ucap mamah Ana tak percaya.


"Iya, tante" ucap Raka.


"Lino itu sebenernya orangnya kayak gimana sih, Ka?" tanya mamah Ana.


"Lino orangnya baik kok, tante. Dia tuh loyal banget sama temen-temennya, bahkan dia sengaja banyakin stok makanan dan minuman di rumahnya agar kalau ada temen-temennya yang nginep nantinya jadi gak kelaparan" ucap Raka.


"Tante kayaknya salah nilai Lino deh" ucap mamah Ana tiba-tiba.


"Salah nilai gimana maksudnya, tante?" tanya Raka.


"Tante pikir Lino suka mabuk-mabukan, terus suka main cewek" ucap mamah Ana.


"Lino gak gitu kok, tante" ucap Raka.


"Syukur deh kalau gak kayak gitu" ucap mamah Ana.


"Tadinya tante nyuruh Lino buat putusin dan jauhin Ana karena tante pikir Lino orangnya kayak gitu, tapi setelah denger penjelasan kamu, tante jadi percaya bahwa Lino gak seburuk yang tante pikir" ucap mamah Ana.


Trining...trining


Raka segera melihat ke layar ponselnya dan ternyata ada panggilan telepon dari Lino.


"Orang tua kamu ya yang nelpon?" tanya mamah Ana.


"Bukan, tante" ucap Raka.


"Lino yang nelpon" ucap Raka lagi.


Raka segera mengangkat panggilan telepon tersebut.


"Hallo, No" ucap Raka.


"Ka, gimana? Ana ada disana gak?" tanya Lino.


"Ada kok, Ana ada di rumah papahnya" ucap Raka.


"Huh, syukur deh kalau ada disana" ucap Lino.


"Ka, tante boleh bicara sama Lino bentar gak?" tanya mamah Ana sambil memberhentikan mobilnya dipinggir jalan.


"Boleh tante" ucap Raka sambil memberikan ponselnya kepada mamah Ana.


"Hallo, No" ucap mamah Ana.


"Eh iya tante, ada apa?" tanya Lino.


"Maafin tante ya" ucap mamah Ana.


"Kenapa minta maaf, tante?" tanya Lino.


"Maafin tante karena udah nyuruh kamu buat putusin Ana" ucap mamah Ana.


"Gak apa-apa kok, tante. Lagian kan tujuan tante bagus, biar Ana nya fokus belajar" ucap Lino.


"Tapi sebenernya tante nyuruh kamu agar putus sama Ana bukan karena biar Ana fokus belajar melainkan karena tante gak mau anak tante pacaran sama anak geng motor" ucap mamah Ana.


"Iya Lino ngerti, tante. Lagian Lino udah putusin Ana kok, tante. Jadi tante tenang aja" ucap Lino.


"Kamu udah putusin Ana, No?" tanya mamah Ana.


"Iya udah, tadi disekolah Lino udah putusin Ana" ucap Lino.


"Hmm...sebenernya tante sekarang nelpon kamu tuh nyuruh kamu supaya jangan jauhin Ana, No. Maafin tante ya, soalnya tante pikir kamu anak yang gak baik" ucap mamah Ana.


"Wajar kok tante berpikiran kayak gitu. Lagian kan Lino emang cowok yang baik" ucap Lino sedikit sakit hati.


"Ya udah tante kalau gitu Lino tutup dulu ya teleponnya, soalnya Lino mau ke toilet" bohong Lino.


"Oh ya udah" ucap mamah Ana.


Lalu Lino segera mematikan panggilan teleponnya.


...****...


* Basecamp


Setelah mematikan panggilan telepon, Lino langsung melempar ponselnya ke sembarang arah.


"Luh kenapa, No?" tanya Bobby.


Lino hanya diam saja tanpa menjawab perkataan Bobby.


"Dia kenapa?" bisik Bayu kepada Alex.


"Gue gak tahu" ucap Alex pelan.


Lalu Alex segera mengambil ponsel milik Lino.


Kemudian Alex segera meletakkan ponsel tersebut di meja.


"Luh berantem ya sama orang tua luh?" tanya Alex namun tidak dijawab oleh Lino.


Trining...trining


Ponsel Lino berdering.


"No, Ana nelpon" ucap Alex saat melihat nama yang tertera di layar ponsel Lino.


"Luh gak bakal angkat teleponnya, No?" tanya Bobby karena Lino hanya diam saja.


"Biarin aja, lagian gue udah putus sama dia" ucap Lino.


"Hah?!" ucap Bobby, Bayu dan Alex bersamaan.


"Perasaan baru kemarin luh bilang kalau Ana buat luh jadi orang yang lebih baik, eh kok sekarang luh berdua putus sih" heran Alex.


"Luh kenapa putus, No?" tanya Bobby.


"Gak apa-apa, gue pingin putus aja" ucap Lino.


"Ana selingkuhin luh ya?" tanya Alex memastikan.


"Kaga" ucap Lino.


"Terus luh berdua kenapa putus?" tanya Alex.


"Ana terlalu baik buat gue, makanya gue putusin" ucap Lino.


"Alasan luh gak masuk akal, No! masa gara-gara Ana terlalu baik, luh jadi putusin dia" ucap Alex.


"Yang pasti bukan itu sih alesannya, masa iya mutusin Ana cuma gara-gara dia terlalu baik" ucap Bayu.


"Sebenernya kenapa sih, No?" tanya Bobby.


Lino segera mengambil jaket dan ponselnya. Kemudian ia segera pergi keluar.


"Putus kenapa sih?" ucap Alex penasaran.


"Mungkin dia belum move on kali sama Acha, makanya dia nyari alasan yang gak masuk akal buat putus sama Ana" ucap Bayu.


"Lino gak sejahat itu kali" sahut Bobby.


...****...


Pagi hari


Tok...tok...tok


"Ana, bangun!" ucap papah sambil mengetuk pintu.


Cklek


Pintu dibuka oleh Ana.


"Kirain masih tidur" ucap papah.


"Udah bangun kok, pah" ucap Ana.


"Oh iya, kamu bawa seragam sekolah kamu gak?" tanya papah.


"Enggak, pah! Ana lupa bawa" ucap Ana.


"Kamu gimana sih, kan sekarang sekolah" ucap papah.


"Hari ini gak sekolah aja deh, pah" ucap Ana.


"Kalau gak sekolah nanti kamu di alfa-in" ucap papah.


"Ana bakal chat temen Ana kok dan bakal bilang kalau Ana lagi sakit. Jadi nanti gak bakal di alfa-in" ucap Ana


"Ya udah deh terserah kamu aja" ucap papah.


"Ya udah ayo makan" ucap papah.


Akhirnya mereka berdua segera pergi menuju ruang makan.


Saat sampai di ruang makan, Ana dan papahnya segera duduk.


"Maaf ya kalau makanan nya gak enak, soalnya ini papah buat sendiri" ucap papah.


"Enak kok, pah" ucap Ana sambil memakan nasi goreng buatan papahnya.


"Beneran?" tanya papah.


"Iya, enak kok" ucap Ana.


"Oh iya, katanya kamu udah ijin ke mamah, tapi kok dia gak tahu bahwa kamu mau nginep di rumah papah" ucap papah.


"Sebenernya Ana gak ijin ke mamah, pah. Ana tuh kemarin kesel sama mamah, makanya Ana kabur dari rumah" ucap Ana.


"Kesel gara-gara mamah kamu ngelarang kamu buat deket sama Lino ya?" tanya papah.


"Iya" ucap Ana.


"Sebenernya niat mamah kamu tuh baik tahu, dia kayak gitu karena dia gak mau kalau anaknya pacaran sama cowok yang nakal" ucap papah.


"Tapi Lino gak nakal kok, pah" ucap Ana.


"Gak nakal tapi kok balapan" ucap papah.


"Emang kalau balapan tuh nakal ya, pah?" tanya Ana.


"Ya iyalah" ucap papah.


"Tapi Lino orang baik kok, pah" bela Ana.


Ana hanya mengangguk mengiyakan ucapan papahnya.


...****...


* Sekolah


Sesampainya di parkiran sekolah, Lino segera turun dari motornya. Kemudian ia segera berjalan menuju kelasnya.


Ketika sampai, Lino segera masuk kedalam kelasnya dan ia segera duduk dikursinya.


"Ana nya mana? kok gak bareng luh" heran Gilang.


"Lang, bolos yuk" ucap Lino mengalihkan pembicaraan.


"Ayo" ucap Gilang.


"Bolos nya ke rooftop aja ya jangan keluar dari sekolah, soalnya gue males jalan-jalan" ucap Gilang.


"Ya udah ayo" ucap Lino.


Mereka berdua segera pergi menuju rooftop.


Sesampainya di rooftop, Lino langsung mengeluarkan rokok dan korek api elektrik yang berada di saku celananya.


Lalu Lino langsung menyalakan rokok tersebut dan menghisapnya.


"Tumben luh ngerokok lagi" ucap Gilang.


"Eh! cewek luh sakit ya?" ucap Gilang saat melihat chat dari Ana di grup kelasnya.


"Ana sakit?" tanya Lino.


"Katanya sih iya, lihat aja di grup chat" ucap Lino.


"Gue gak bawa handphone, soalnya handphone gue rusak" ucap Lino.


"Nih lihat" ucap Gilang sambil menunjukkan chat Ana.


"Dia sakit apa?" tanya Lino khawatir.


"Luh gimana sih, luh kan pacarnya jadi luh harusnya tahu dong" ucap Gilang.


"Gue udah putus sama Ana" ucap Lino.


"Luh bercanda kan?" ucap Gilang.


"Emang gue kelihatan bercanda?" tanya Lino.


"Ya enggak sih" ucap Gilang.


"Emang luh putus kenapa?" tanya Gilang.


"Gue putus sama Ana karena gue ngerasa gak pantes aja jadi pacar dia" ucap Lino.


"Dia terlalu baik buat gue" ucap Lino lagi.


"Gak bersyukur banget luh, udah dikasih pacar yang baik eh malah disia-siakan" ucap Gilang.


"Bukannya gak bersyukur, malah gue bersyukur banget. Tapi masalahnya gue cowok yang gak baik, gue suka kelayapan malem-malem dan sering balapan juga" ucap Lino.


"Gue juga sama kayak luh, tapi gue gak mutusin Felisa tuh" ucap Gilang.


"Masalahnya orang tua Ana udah tahu kalau gue anak geng motor, Lang" ucap Lino.


Gilang langsung terdiam sejenak karena mendengar ucapan Lino.


"Tapi luh masih suka kan sama Ana?" tanya Gilang.


"Ya suka lah" ucap Lino.


"Kalau masih suka, luh jangan nyerah dong" ucap Gilang.


"Gue nyerah karena gue ngerasa gak baik buat dia, Lang" ucap Lino.


"No, Ana tuh sayang banget loh sama luh. Masa luh tega putusin dia" ucap Gilang.


Lino hanya terdiam.


"Dia pasti sakit karena diputusin luh, No" ucap Gilang.


"Luh mau lihat Ana sakit terus-terusan?" tanya Gilang.


"Ya gak mau lah" ucap Lino.


"Makanya jangan putusin dia" ucap Gilang.


"Dia pasti sakit gara-gara gak makan tuh karena mikirin luh" ucap Gilang.


"Lang, nanti pulangnya tolong bawain tas gue ya" ucap Lino.


"Emang luh mau kemana?" tanya Gilang.


"Mau ketemu Ana" ucap Lino.


Gilang langsung tersenyum karena ucapannya berhasil membuat Lino luluh.


"Ya udah sana" ucap Gilang.


Lino segera berlari menuju parkiran sekolah.


Sesampainya diparkiran, Lino segera menaiki motornya dan ia segera melajukan motornya menuju gerbang sekolah.


"Mau kemana kamu?" tanya pak satpam.


"Saya mau ijin, pak! orang tua saya ada di rumah sakit" ucap Lino.


"Tadi saya udah ijin kok ke wali kelas saya dan wali kelas saya tadi ngebolehin saya pulang" ucap Lino.


"Wali kelas kamu siapa?" tanya pak satpam.


"Anjir! siapa lagi wali kelas gue" batin Lino.


"Kamu bohong ya?" curiga pak satpam.


"Serius, pak" ucap Lino.


"Tunggu! bukannya kamu orang yang suka bolos itu kan?" tanya pak satpam.


"Enggak, pak!" ucap Lino.


"Enggak...enggak. Udah jelas-jelas kamu yang suka bolos" ucap pak satpam.


"Pak cepet bukain! nanti takutnya saya gak bisa ketemu sama orang tua saya lagi" ucap Lino dengan serius.


"Emang orang tua kamu kenapa?" tanya pak satpam.


"Orang tua saya tadi masuk rumah sakit, pak" bohong Lino.


"Sakit apa?" tanya pak satpam.


"Sakit diare, pak" ucap Lino.


"Masa cuma sakit diare kamunya jadi ke rumah sakit" ucap pak satpam.


"Soalnya dia suka pingsan kalau sering buang air besar terus-menerus" ucap Lino.


"Ayo lah, pak!" mohon Lino.


"Ya sudah, tapi awas ya kalau bohong" ucap pak satpam sambil membuka gerbang sekolah.


"Enggak, pak! saya gak bohong, lagian saya udah bilang ke wali kelas" bohong Lino.


"Makasih ya, pak" ucap Lino karena gerbang nya sudah dibuka oleh pak satpam.


"Iya" pak satpam.


Lalu Lino segera melajukan motornya menuju rumah papahnya Ana.


...****...


* Rumah papah Ana


"Sebenernya Lino putusin gue karena mamah atau karena emang keinginan Lino sendiri sih?" pikir Ana.


"Kalau putusnya karena keinginan sendiri, apa bener ya Lino suka sama cewek nakal?"


"Tapi perasaan gue juga segitu udah nakal deh, bahkan sampe mabuk segala"


Tingtong... tingtong


Ana langsung terdiam setelah mendengar suara bel rumah papahnya.


"Gue buka jangan ya" batin Ana.


"Kalau gue buka takutnya orang jahat, soalnya tadi papah bilang kan kalau perumahan ini banyak maling nya" gumam Ana.


"Tapi kalau gak dibuka, takutnya itu emang beneran tamu" ucap Ana.


"Eh! tapi kan papah lagi kerja, mana mungkin ada tamu yang datang kalau papahnya lagi kerja" gumam Ana.


"Telepon papah aja deh" ucap Ana.


Ana segera menelepon papahnya.


Tidak menunggu lama, papah Ana mengangkat panggilan telepon dari Ana.


"Hallo, Na" ucap papah.


"Pah, diluar ada orang yang bunyiin bel" ucap Ana.


"Ana keluar jangan, pah?" tanya Ana.


"Jangan! takutnya orang jahat, lagian kan papah jarang nerima tamu di jam segini" ucap papah.


"Oh ya udah, berarti Ana gak bakal bukain pagar deh" ucap Ana.


"Ya udah kalau gitu Ana tutup dulu ya teleponnya" ucap Ana.


"Iya" ucap papah.


Ana segera mematikan panggilan teleponnya.


Tingtong... tingtong


"Kok gue jadi deg-degan gini sih" gumam Ana.


Ana segera mengintip dari jendela.


"Semoga maling nya gak loncatin pagar" batin Ana.


"Ana!!!" teriak Lino dari luar.


"Ini aku!!" teriak Lino.


"Kok suaranya mirip Lino" gumam Ana.


Ana segera pergi menuju lantai dua untuk melihat kearah luar.


Saat berada dilantai dua, Ana segera melihat ke bawah dan ternyata itu memang Lino.


Ana segera berlari keluar untuk menemui Lino.


Sesampainya di luar, Ana segera membuka pagar rumah.


Kemudian Ana langsung memeluk Lino dengan sangat erat.


Lino yang mendapat pelukan dari Ana hanya berdiri mematung karena ia bingung sebab Ana tiba-tiba memeluk nya.


"Aku gak mau putus" ucap Ana yang masih memeluk erat tubuh Lino.


"Ya udah lepasin dulu pelukannya" ucap Lino.


"Aku bakal lepasin kalau kamu narik kata-kata kamu yang kemarin" ucap Ana.


"Kata-kata yang mana?" tanya Lino.


"Yang waktu kamu bilang putus" ucap Ana.


"Ya udah, aku tarik lagi kata-kata aku" ucap Lino sambil tersenyum.


"Beneran?" tanya Ana.


"Iya" ucap Lino sambil tersenyum.


Lalu Ana segera melepaskan pelukannya.


"Jadi kita gak jadi putus kan?" tanya Ana memastikan.


"Iya, gak jadi" ucap Lino sambil tersenyum.


Ana kembali memeluk Lino dengan erat.


Lino segera membalas pelukan dari Ana.


"Maafin aku ya karena kemarin udah ngomong kayak gitu" ucap Lino sambil mengelus-elus rambut Ana.


"Iya, aku udah maafin kamu kok" ucap Ana.


Akhirnya mereka berdua segera melepaskan pelukannya.