
Skip
Ana dan Lino pun segera menuju rumah Ana. Sedangkan Clara dan gilang pergi ke rumah Clara terlebih dahulu untuk mengambil barang-barang keperluan Clara.
Setelah sampai di rumah, Ana pun mengajak Lino untuk masuk kedalam rumah.
"No, mau minum apa?" tanya Ana.
"Terserah luh aja" ucap Lino.
"Air comberan mau?" tanya Ana.
"Jangan air comberan juga kali" ucap Lino.
"Gue cuma bercanda kok" ucap Ana.
Ana pun segera ke dapur, untuk mengambil segelas jus jeruk.
Setelah itu Ana pun kembali menghampiri Lino.
"Ini" ucap Ana.
"Makasih" kata Lino.
"Iya, sama-sama" ucap Ana.
"No" panggil Ana.
"Kenapa?" tanya Lino.
"Gambar tugas kelompok kita mana?" tanya Ana.
"Ada di rumah gue lah" ucap Lino.
"Yaudah kapan dikasih ke gue nya? Kan gue belum ngewarnain gambarnya" ucap Ana.
Lino pun terdiam karena gambar yang ia buat adalah sketsa wajah Ana.
"Na, apa gue buat lagi ya gambarnya?" tanya Lino.
"Bukannya luh bilang males bikin lagi" ucap Ana.
"Iya juga sih" ucap Lino.
"Emang gambar sketsa wajah siapa sih?" tanya Ana.
"Gambar sketsa wajah luh" ucap Lino.
"Serius?" tanya Ana terkejut.
Lino pun hanya mengangguk.
"Iya, waktu kerja kelompok di rumah gue, gue sekalian gambar sketsa wajah luh" ucap Lino.
"Gue ganti aja kali ya" ucap Lino.
"Jangan! masa diganti sih" sahut Ana.
"Soalnya jelek" ucap Lino.
"Gak apa-apa, gambar luh pasti bagus kok" ucap Ana.
"Gambar gue emang bagus, tapi muka luh nya yang jelek" canda Lino.
"Iya tahu, gue emang jelek" keluh Ana.
Lino pun merasa bersalah akibat ucapannya yang membuat Ana sakit hati.
"Na, maaf! gue cuma bercanda kok" ucap Lino.
Ana pun tidak menjawab ucapan Lino.
Tok..tok..tok
Ana pun langsung membukakan pintu dan mempersilahkan Clara dan Gilang masuk.
"Yaudah yuk, kita bawa barang-barang luh ke kamar" ucap Ana sambil membantu membawa barang-barang Clara.
Ana dan Clara pun segera pergi menuju kamarnya Ana.
"Luh kenapa, No?" tanya Gilang.
"Gue tadi buat salah sama Ana" ucap Lino.
"Buat salah apa?" tanya Gilang.
"Gue bilang dia jelek, tapi tadi gue cuma bercanda" ucap Lino.
"Gak asik luh, bercandanya bawa-bawa fisik. Lagian Ana cantik gitu masa dibilang jelek. Bagas aja waktu itu naksir sama dia" ucap Gilang.
"Iya gue tahu, gue salah" ucap Lino yang merasa bersalah.
Ana dan Clara pun segera menuju ke ruang tamu.
"Bentar ya, gue ambil minum dulu buat kalian berdua" ucap Ana sambil pergi ke dapur.
Setelah itu, Ana pun langsung memberikan minuman itu kepada Clara dan Gilang.
"Na, ayo curhat tentang masalah luh" ucap Clara.
Ana pun langsung menceritakan tentang masalahnya kepada mereka bertiga.
"Jadi waktu itu luh takut dibully kalau luh ngebantuin dia" ucap Gilang.
Ana pun hanya mengangguk.
"Walaupun luh gak bantuin dia terang-terangan tapi gue salut sih sama luh udah ngelaporin mereka yang ngebully temen luh" ucap Gilang lagi.
"Terus gimana nasib yang ngebully dia?" tanya Clara.
"Mereka dikeluarin dari sekolah" ucap Ana.
"Tahu, justru itu gue pindah sekolah karena takut kalau mereka bakal bales dendam sama gue" ucap Ana.
"Mereka pasti bakal bilang kalau gue penyebab Chika bunuh diri, dengan alasan karena gue ngejauhin Chika dan gak mau berteman lagi sama Chika" jelas Ana.
"Dan sekarang kayaknya mereka udah tahu gue sekolah di Tunas Bakti karena yang nyebarin rumor digrup pasti kenal dengan mereka berdua" ucap Ana.
"Luh pernah dibully, Na?" tanya Lino.
"Pernah, waktu SMP gue dibully habis-habisan sama kakak kelas sampai gue pernah dikunci di toilet sekolah" jelas Ana.
"Gara-gara apa?" tanya Lino.
"Gara-gara dituduh ngerebut pacarnya, padahal pacarnya yang chat gue dan enggak gue respon. Tapi kakak kelas itu langsung nuduh gue yang ngegodain cowoknya duluan" ucap Ana.
"Kenapa luh gak laporin ke guru BK?" tanya Gilang.
"Karena kalau dilaporin ke guru BK, pasti guru itu bakal nyuruh dia buat minta maaf ke gue dan dia bakal minta maaf lah didepan guru itu. Terus nanti waktu guru itu udah gak ada, habis itu ya gue pasti dibully lagi sama dia dan malah makin parah dibully nya" jelas Ana.
"Bener juga sih kata luh" ucap Clara.
"Kalian tahu gak siapa yang nyebarin rumor di grup angkatan?" tanya Ana.
"Gak tahu" ucap mereka bertiga.
"Kayaknya bukan di kelas kita deh" ucap Gilang.
"Mau gue telepon gak?" tanya Lino.
"Luh kenal, No?" tanya Gilang.
"Enggak" ucap Lino.
"Mau gue telepon gak, Na? Biar ngasih tahu ke dia bahwa rumor itu salah" ucap Lino.
"Yaudah, telepon aja" ucap Ana.
Lino pun segera menelpon orang yang nyebarin rumor tersebut. Dan orang tersebut mengangkat panggilan telepon dari Lino.
Lalu Lino pun mengaktifkan loud speaker.
"Hallo" ucapnya.
"Cewek ternyata" ucap Gilang pelan agar tidak didengar oleh orang tersebut.
"Iya, hallo" ucap Lino.
"Ini, siapa?" tanya cewek tersebut.
"Lino"
"Lino XI MIPA 4?" tanya cewek tersebut.
"Iya" ucap Lino.
"Oh iya, nama luh siapa? Gue pingin kenalan sama luh" ucap Lino basa-basi.
"Gue, Wulan" ucapnya.
"Kelas mana?" tanya Lino.
"XI IPS 2" ucap Wulan.
"Besok bisa ketemu gak di kantin? Gue mau ngomong sesuatu sama luh" tanya Lino.
"Bisa, emang luh mau ngomong apa?" tanya Wulan.
"Nanti aja gue omonginnya waktu di sekolah" ucap Lino.
"Oh yaudah deh" ucap Wulan.
"Yaudah, gue tutup ya teleponnya. Sampai ketemu besok!" ucap Lino sambil mematikan panggilan teleponnya.
"Kenapa gak langsung luh omongin aja masalahnya?" ucap Gilang.
"Nanti aja di sekolah, lagian gue pingin tahu orangnya yang mana" ucap Lino.
"Bilang aja modus, pingin ketemu sama dia" ucap Clara.
"Enggak, gue gak modus kok" ucap Lino.
"Na, besok luh ikut bareng gue ke kantinnya" ucap Lino.
"Oke" ucap Ana.
"Gue sama Clara gak diajak?" tanya Gilang.
"Ngapain ngajak orang banyak-banyak, emangnya mau tawuran" ucap Lino.
"Guys! Cerita dong, cerita tentang kalian. Masa yang curhatnya cuma gue doang sih" ucap Ana.
"Yaudah, gue mau curhat deh. Tapi janji ya curhatan gue jangan dibocorin ke orang-orang" ucap Clara.
"Iya, kita janji kok gak bakal nyebarin ke orang-orang" ucap Ana, Gilang dan Lino.
"Jadi waktu kelas sepuluh, Aldi pernah nembak gue. Tapi gue tolak" ucap Clara.
"Serius luh?" tanya Gilang dan Lino.
"Serius lah, masa gue bohong sih" ucap Clara.
"Kenapa ditolak?" tanya Ana.
"Soalnya waktu itu gue lagi suka sama seseorang" ucap Clara.
"Sama siapa?" tanya Ana.
"Kalau itu gak bisa gue jelasin, karena itu privasi banget. Maaf ya" ucap Clara.
"Oh yaudah gak apa-apa kok" ucap Ana.