
Jam 18.00
Ana terbangun dari tidurnya.
Kemudian ia segera keluar dari kamar.
Pada saat keluar, Ana melihat Lino, Felisa dan juga Gilang yang sedang melihat kearah Ana.
Felisa langsung menghampiri Ana sambil memberikan kantong plastik kepada Ana.
"Ini apa?" tanya Ana.
"Pakaian" ucap Felisa.
"Pakaian punya siapa?" tanya Ana.
"Punya luh" ucap Felisa.
"Tadi sekitar jam 4 Lino nyuruh gue beliin itu buat luh, soalnya kata Lino luh mau nginep disini" ucap Felisa.
"Na, kamu mandi dulu sana! nanti udah itu baru makan" suruh Lino.
"Ya udah kalau gitu aku mandi dulu ya" ucap Ana.
"Iya" ucap Lino.
Ana kembali masuk kedalam kamar.
Felisa segera menghampiri Lino dan Gilang.
"Kasihan banget Ana, matanya sampe sembab gitu" ucap Felisa sambil duduk disebelah Gilang.
"Emang mamahnya Ana pulang kapan, No?" tanya Gilang.
"Besok kali" ucap Lino.
"Oh iya, No! gue harus pulang dulu sekarang, soalnya gue belum beres-beres buat nanti malam" ucap Felisa.
"Emang luh mau kemana?" tanya Lino.
"Gue mau ke Bandung" ucap Felisa.
"Berdua sama Gilang?" tanya Lino.
"Enggak, gue ke Bandung bareng orang tua gue" ucap Felisa.
"Ya udah gue pulang dulu ya" ucap Felisa.
"Iya" ucap Lino.
"No, jagain Ana ya. Awas kalau luh macem-macemin dia" ucap Gilang.
"Iya, gue bakal jagain dia kok" ucap Lino.
Lalu Felisa dan Gilang segera pergi.
...****...
Setelah selesai mandi, Ana segera keluar dari kamar. Lalu ia segera berjalan menghampiri Lino.
"No, Felisa sama Gilang mana?" tanya Ana sambil duduk disebelah Lino.
"Mereka berdua udah pulang" jawab Lino.
"Kenapa pulang?" tanya Ana.
"Soalnya Felisa belum beres-beres, makanya dia pulang" ucap Lino.
"Beres-beres rumah?" ucap Ana.
"Bukan, tapi beres-beres barang. Soalnya kan malam ini dia mau ke Bandung" ucap Lino.
"Oh iya, Na! itu aku udah beli makanan buat kamu" ucap Lino.
"Aku gak lapar, No" ucap Ana.
"Loh! sayang nanti kalau gak dimakan" ucap Ana.
"Kalau kamu udah makan belum?" tanya Ana.
"Aku udah makan kok tadi bareng Gilang sama Felisa" ucap Lino.
"Ya udah sekarang makan lagi aja" ucap Ana.
"Enggak, aku udah kenyang" ucap Lino.
"Ya udah buat besok aja makanannya" ucap Ana.
"Sekarang aja makannya! nanti kalau kamu telat makan, kamu bisa sakit" ucap Lino.
"Gak apa-apa sakit juga, biar cepet mati" ucap Ana.
"ANA! GAK BOLEH NGOMONG GITU!" ucap Lino.
Ana langsung menunduk.
"Awas aja ya kalau aku denger kamu ngomong gitu lagi" tegas Lino.
"Ya udah cepet makan!" ucap Lino.
"Gak mau!" tolak Ana.
"Atau kamu mau aku suapin?" tanya Lino.
Ana hanya menggelengkan kepalanya.
"Ayo makan! nanti sakit kalau gak makan" ucap Lino.
"Gak mau" ucap Ana.
"Na, banyak loh anak-anak diluar sana yang kelaparan. Harusnya tuh kamu bersyukur masih bisa makan" ucap Lino.
"Ya udah sama kamu kasih aja makanannya ke anak-anak diluar sana" ucap Ana.
Lino langsung menepuk jidatnya karena mendengar ucapan Ana.
"Kenapa, No?" tanya Ana.
"Gak kenapa-napa" ucap Lino sambil menatap datar kearah Ana
Lino berjalan menuju ruang makan.
"No, mau kemana?" tanya Ana.
"Ke Mars" teriak Lino.
Beberapa menit kemudian Lino kembali menghampiri Ana.
"Ayo makan!" ucap Lino sambil meletakan piring yang berisi nasi dan ayam goreng.
"Gak mau" ucap Ana.
"Cepet! kalau gak makan aku bakal-" ucap Lino.
"Bakal apa?" tanya Ana.
"Aku bakal pergi" ucap Lino.
"Pergi kemana?" tanya Ana.
"Pergi keluar, aku mau jalan-jalan sendirian" ucap Lino.
"Ikut" ucap Ana.
"Ya udah makan dulu, baru habis itu kita jalan-jalan" ucap Lino.
"Tapi makan nya dikit aja ya, soalnya aku males makan" ucap Ana.
"Gak! pokoknya harus dihabisin semuanya" ucap Lino.
"Ya udah gak jadi ikut deh" ucap Ana.
"Ya udah iya, makannya dikit aja" ucap Lino.
"Ya udah kalau gitu aku cuci tangan dulu" ucap Ana sambil pergi.
Tidak lama, Ana kembali lagi menghampiri Lino.
"Ya udah cepet makan" ucap Lino.
Ana langsung memakan nasi dan ayam goreng.
Lalu Lino berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum untuk Ana.
Setelah mengambil air minum, Lino kembali menghampiri Ana dan ia langsung meletakkan air minum tersebut di meja.
"Na" panggil Lino.
Ana hanya diam saja sambil menguyah makanannya.
"Kamu nangis ya?" tanya Lino saat melihat air mata Ana terjatuh.
"Enggak kok" ucap Ana.
"Oh iya, jalan-jalannya mau kemana?" tanya Lino.
"Ke pantai" ucap Ana.
"Yakin mau ke pantai jam segini?" tanya Lino.
Ana hanya mengangguk.
"No, makannya udah ya" ucap Ana.
"Baru aja tiga suap, masa udah lagi" ucap Lino.
"Kan katanya sedikit" ucap Ana.
"Dua suap lagi" suruh Lino.
"Ya udah iya" ucap Ana.
Ana melanjutkan makannya.
Skip
Mereka berdua segera pergi menuju pantai dengan mengendarai mobil.
(Diperjalanan)
"Na, mau beli snack sama minuman dulu gak buat nanti disana?" tanya Lino.
"Enggak" ucap Ana.
"Mau beli seblak gak?" tanya Lino.
"Enggak" ucap Ana.
"Tumben gak mau, biasanya dulu kalau sedih atau marah kamu selalu mau kalau aku tawarin seblak" ucap Lino.
"Emang aku suka seblak ya?" tanya Ana.
"Iya, kamu suka banget sama seblak" ucap Lino.
"No" ucap Ana.
"Kenapa?" tanya Lino.
"Orang tua aku kenapa cerai?" tanya Ana.
"Aku gak tahu penyebabnya, Na" ucap Lino.
"Kirain kamu tahu" ucap Ana.
"Enggak, aku gak tahu penyebabnya" bohong Lino.
"Berarti aku gak cerita tentang masalah keluarga aku ya ke kamu" ucap Ana.
"Iya, kamu enggak pernah cerita tentang penyebab orang tua kamu cerai" bohong Lino.
"Aku pernah cerita masalah lain gak ke kamu?" tanya Ana.
"Gak pernah" bohong Lino.
"Berarti aku tertutup banget ya orangnya" ucap Ana.
"Iya" ucap Lino.
"Kalau kamu orangnya terbuka atau tertutup?" tanya Ana.
"Aku orangnya terbuka" ucap Lino.
"Berarti kamu sering nyeritain masalah kamu ke aku dong" ucap Ana.
"Iya" ucap Lino.
* Pantai
Setelah sampai, mereka berdua segera turun dari mobil.
"Ayo" ajak Ana sambil menarik tangan Lino.
Lalu mereka berdua segera duduk diatas pasir pantai.
"Na, disini nya jangan terlalu lama ya soalnya takut kemaleman pulangnya" ucap Lino.
"Iya" ucap Ana sambil memandangi ombak.
"Kayaknya enak banget ya tinggal di deket pantai" ucap Ana tiba-tiba.
"Yang ada takut bukan enak" ucap Lino.
"Oh iya, Na! aku mau ke warung itu dulu ya, soalnya aku mau beli minum" tunjuk Lino.
"Oh ya udah" ucap Ana.
Lino segera pergi menuju warung.
2 menit kemudian...
"Permisi" ucap seseorang yang menghampiri Ana.
"Iya, ada apa?" tanya Ana.
"Kamu lagi ada masalah ya?" tanya orang itu.
"Kok kamu tahu sih" heran Ana.
"Soalnya aku lihat kamu lagi sendirian disini, jadi aku yakin kalau kamu ada masalah" ucap orang itu.
"Aku gak sendirian kok, aku sama pacar aku" ucap Ana.
"Pasti kamu kangen banget ya sama pacar kamu. Makanya kamu datang kesini" ucap orang itu.
Kening Ana berkerut karena ia bingung dengan ucapan orang itu.
"Kamu yang sabar ya, pacar kamu pasti udah tenang kok disurga" ucap orang itu.
"Pacar aku belum meninggal" ucap Ana.
"Aku ngerti kok sama perasaan kamu, tapi kamu harus ikhlas-in dia ya" ucap orang itu.
Lino pun datang menghampiri Ana.
"Luh siapa?" tanya Lino.
Orang itu hanya terdiam.
"Dia siapa?" tanya orang itu ke Ana.
"Dia pacar saya" ucap Ana.
"Oh maaf ya, kirain pacar kamu udah meninggal" ucap orang itu.
"Anj*ng luh, pake ngira gue meninggal segala" kesal Lino.
"Maaf mas, saya gak tahu" ucap orang itu.
"No, udah!" ucap Ana sambil memegang pergelangan tangan Lino.
"Sekali lagi maaf ya, mas" ucap orang itu.
"Mas...mas, emangnya gue emas apa!" kesal Lino.
"No, udah!" ucap Ana.
Cowok tadi langsung berlari karena takut Lino menghajarnya.
"Kamu?" kesal Lino karena Ana memanggil cowok tersebut dengan sebutan kamu.
"Kan aku baru kenal, masa langsung manggil luh gue" ucap Ana.
"Tadi dia godain kamu kan?" tuduh Lino.
"Enggak kok" ucap Ana.
"Udah jangan bohong! tadi dia pasti godain kamu" ucap Lino.
"Serius, No! dia tadi cuma nanya kenapa aku sendirian disini" ucap Ana.
"Udah ih jangan marah! serem tahu!" ucap Ana.
"Ya udah ayo pulang!" ucap Lino.
"Kok pulang sih, baru juga jam 7 malam" ucap Ana.
Tanpa aba-aba, Lino langsung menggendong Ana dan membawanya menuju mobil.
Setelah itu, Lino langsung menurunkan Ana.
"Ya udah cepet masuk!" ucap Lino sambil membukakan pintu mobil.
Ana segera masuk kedalam mobil.
Lalu Lino juga segera masuk kedalam mobil.
"No, kamu marah ya?" tanya Ana.
"Ya iyalah marah" ucap Lino.
"Masa aku dibilang udah meninggal" sambung Lino.
"Dia kan gak tahu, No. Lagian dia juga udah minta maaf kan ke kamu" ucap Ana.
Lino langsung melajukan mobilnya tanpa membalas ucapan Ana.
"No, kamu marah ke aku atau ke orang yang tadi sih?" tanya Ana.
"Ya ke orang yang tadi lah" ucap Lino.
"Terus kenapa kamu kayak kesel ke aku?" tanya Ana.
"Aku gak kesel kok" ucap Lino.
"Oh iya, itu minum dulu air mineral nya" ucap Lino.
Ana segera meminum air mineral tersebut.
"Oh iya, nanti kamu tidur di kamar aku aja" suruh Lino.
"Gak mau! masa kita tidur bareng" ucap Ana.
"Kita tukeran tempat tidur. Kamu tidur di kamar aku, sedangkan aku tidur di ruang tamu" ucap Lino.
"Emang kenapa tukeran tempat?" tanya Ana.
"Soalnya kasur dikamar aku lebih empuk. Jadi kamu tidurnya di kamar aku aja, supaya tidurnya nyenyak" ucap Lino.
"Enggak ah! aku tidur di kamar tamu aja, lagian aku nyenyak kok tidurnya" ucap Ana.
"Ya udah deh kalau itu mau kamu" ucap Ana.
Tiba-tiba rintik hujan berjatuhan.
"Yah hujan" keluh Ana.
"No, bawa mobilnya hati-hati ya" ucap Ana.
"Iya" ucap Lino.
...****...
* Rumah Lino
Setelah sampai, Lino segera turun dari mobil. Lalu ia segera membuka pagar rumahnya. Setelah itu, ia kembali masuk kedalam mobil.
Kemudian Lino segera memasukan mobilnya kedalam garasi.
"Na, kamu jangan dulu turun" perintah Lino.
"Kenapa gak boleh turun?" heran Ana.
"Udah kamu tunggu dulu aja disini" ucap Lino.
Lino segera keluar dari mobilnya dan ia langsung mengunci pagar rumahnya. Sehabis itu, Lino segera masuk kedalam rumah untuk mengambil payung.
Sesudah mengambil payung, Lino kembali menghampiri Ana.
"Ayo turun" ucap Lino sambil membuka pintu mobil.
"Ya ampun, No! segitunya banget kamu" ucap Ana saat Lino memayungi Ana.
"Kan biar kamu gak kebasahan" ucap Lino sambil menutup pintu mobil.
"Ya udah ayo masuk" ajak Lino.
Akhirnya mereka berdua segera masuk kedalam rumah.
"No, kamu ganti baju sana! biar gak masuk angin" ucap Ana.
"Iya, ini juga aku mau ganti baju kok" ucap Lino sambil mengunci pintu rumahnya.
"Oh iya! kalau kamu bosen, nyalain tv aja ya" ucap Lino.
"Iya" ucap Ana.
"Ya udah kalau gitu aku ganti baju dulu ya" ucap Lino.
"Iya" ucap Ana.
Lino segera pergi menuju kamarnya. Sedangkan Ana, ia segera pergi menuju kamar tamu.
Ana segera mengambil ponselnya.
"Yah baterai nya habis lagi" keluh Ana.
Ketika akan men-charge handphone nya, tiba-tiba mati lampu.
"No!!!" teriak Ana karena ia sangat ketakutan.
"Iya, Na" teriak Lino.
"Aku takut!!!" teriak Ana.
"Kamu dimana?" teriak Lino.
"Di kamar" teriak Ana.
Lino datang menghampiri Ana sambil menyalakan senter di handphone nya.
Ana segera mendekat kearah Lino.
"No, takut" ucap Ana.
"Ya udah sekarang kita tunggu dulu di ruang tengah ya" ucap Lino.
Ana hanya mengangguk mengiyakan ucapan Lino.
Lino segera menuntun Ana menuju ruang tengah.
"Na, kamu tunggu disini dulu ya. Aku mau nyari lilin dulu didapur" ucap Lino.
"No, aku takut" ucap Ana sambil memegang pergelangan tangan Lino.
"Ya udah handphone nya aku taruh aja ya disini biar kamu gak takut" ucap Lino.
"Udah kamu disini aja, No" ucap Ana.
"Ya udah deh" pasrah Lino.
DUARRR
Suara petir pun terdengar sangat keras hingga membuat Ana reflek memeluk Lino.
"Maaf" ucap Ana sambil melepaskan pelukannya.
"Iya gak apa-apa" ucap Lino.
"Kamu ngantuk ya, Na?" tanya Lino saat melihat Ana yang sedang menguap.
"Iya" ucap Ana.
"Oh iya, No! kamu jangan dulu tidur ya. Soalnya aku takut" ucap Ana.
"Iya, aku tidurnya nanti kok setelah kamu nya udah tidur" ucap Lino.
"Ya udah lebih baik sekarang kamu tidur ya" ucap Lino.
"Gak mau! nanti kalau aku tidur, kamu pasti ninggalin aku" ucap Ana.
"Ya iyalah kan kita beda kamar, jadi pasti aku bakal tidur di kamar aku" ucap Lino.
"No, aku tidurnya nanti aja deh setelah lampu nya nyala" ucap Ana.
"Udah sekarang aja. Nanti kalau lampu nya udah nyala, aku bakal bangunin kamu kok" ucap Lino.
"Tapi pas aku tidur, kamu bakal pergi atau disini?" tanya Ana.
"Aku bakal nunggu disini kok sampe lampu nya nyala" ucap Lino.
"Serius?" tanya Ana.
"Iya" ucap Lino.
Ana segera mengambil bantal kecil yang ada di sofa. Setelah itu ia segera menaruh bantah kecil tersebut di lantai.
"Ngapain di taruh di lantai?" tanya Lino.
"Kan aku mau tidur" ucap Ana.
Lino segera mengambil bantal kecil dan ia meletakkan bantal kecil tersebut di paha nya.
"Tidurnya di sofa aja" ucap Lino.
"Enggak ah! nanti kalau tidur disofa, bisa-bisa aku jatuh ke lantai" ucap Ana.
"Gak bakal, soalnya kan ada aku yang jagain" ucap Lino.
"Ya udah sini tidur" perintah Lino.
Ana segera menuruti perintah Lino.
"No" panggil Ana.
"Apa?" ucap Lino.
"Jangan macem-macem ya" ucap Ana.
"Iya gak bakal, Na" ucap Lino.
"Ya udah cepet tidur!" suruh Lino.
Ana segera menutup matanya.
Trining...trining
Lino segera mengambil ponselnya.
"Siapa, No?" tanya Ana yang kembali membuka matanya.
"Udah kamu tidur aja, Na" ucap Lino.
Lalu Lino segera mengangkat panggilan telepon dari Raka.
"Hallo, Ka" ucap Lino.
"No, Ana udah makan belum?" tanya Raka.
"Udah, tapi makannya sedikit" ucap Lino.
"Dia masih nangis gak?" tanya Raka.
"Enggak" ucap Lino.
"Sekarang Ana lagi ngapain?" tanya Raka.
"Dia lagi tidur" ucap Lino.
"Aku belum tidur, No" ucap Ana.
"Katanya tidur, tapi kok itu ada suara Ana" kata Raka.
"Dia emang belum tidur, tapi sebentar lagi dia tidur kok" ucap Lino.
"Luh berdua tidur di kamar ya?" tuduh Raka.
"Enggak" ucap Lino.
"Jangan mentang-mentang Ana nginep, luh jadi seenaknya ke Ana" ucap Raka.
"Gue gak tidur bareng kok" ucap Lino.
"Gak tidur bareng tapi kok ada suara Ana bareng luh" ucap Raka.
"Ya udah kita video call aja biar luh percaya" ucap Lino.
Lino segera mematikan panggilan teleponnya. Lalu Lino segera mem-video call Raka.
Tidak menunggu lama, Raka langsung mengangkat panggilan video call dari Lino.
"Tuh lihat! kita gak dikamar" ucap Lino sambil menyorotkan senter handphone dan mengarahkan kameranya kearah Ana.
"No, silau!" ucap Ana sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kok gelap sih, No" ucap Raka.
"Soalnya lagi mati lampu" ucap Lino.
"Kok di gue gak mati lampu sih" ucap Raka.
"Kan kita beda daerah beg*" ucap Lino.
"No, gak boleh ngomong kasar!" ucap Ana.
"Iya maaf" ucap Lino.
"Sekarang luh udah percaya kan, Ka?" tanya Lino.
"Belum seratus persen percaya sih" ucap Raka.
"Terus gue harus gimana lagi biar luh percaya?" tanya Lino.
"Luh harus kayang dulu, baru gue percaya" ucap Raka sambil tertawa.
"Ogah banget!" ucap Lino.
"No, bisa kecilin dikit gak suaranya" ucap Ana.
"Iya bisa" ucap Lino pelan.
"Ka, gue matiin dulu ya teleponnya soalnya takut ngeganggu Ana yang mau tidur" ucap Lino.
"Iya" ucap Raka.
Lino segera mematikan panggilan teleponnya.
15 menit kemudian...
"Na, bangun! udah nyala lampu nya" ucap Lino sambil menepuk pundak Ana.
Karena Ana tidak bangun, akhirnya Lino segera menggendong Ana menuju kamar tamu.
Sesampainya di kamar, Lino segera menidurkan Ana di kasur. Lalu Lino segera menarik selimut sampai ke dada Ana.
"Good night" ucap Lino sambil mencium kening Ana.
Setelah itu, Lino segera pergi menuju kamarnya.