
Hari ini Amel terbangun di tempat tidurnya seorang diri. Matanya terbuka, mengamati matahari yang mulai terbit. Berjalan ke luar kamar perlahan,"Kenzo..." panggilnya beberapa kali, berjalan menuruni tangga.
Hingga langkahnya terhenti, mengamati semangkuk bubur dan segelas teh jahe di atas meja. Serta sebuah catatan...
'Sayang... untuk pertama kalinya aku memanggil sayang, aneh ya? Hari ini aku harus ke Filipina, aku sudah mengirim pelayan untuk menjagamu sementara, sore ini pelayan yang menjagamu akan tiba. Aku akan segera pulang...aku janji...'
'Suami yang mencintaimu'
'Kenzo...'
Amel tersenyum, membaca catatan yang dituliskan suaminya. Memakan bubur seorang diri tidak mengetahui hal yang terjadi.
Tepat hari ini, dirinya akan ke rumah sakit, memeriksakan kesehatannya secara total. Tubuhnya lebih cepat letih, serta sakit kepala yang sering terjadi.
Mungkin janin kecil sedang tumbuh di rahimnya? Itu sempat terlintas di benaknya. Namun, jika benar, ini akan menjadi kejutan untuk suaminya, saat kembali dari Filipina nanti.
Filipina? Visa yang diurus Kenzo hanyalah tujuan Singapura dan Jepang. Visa dan pasport yang sejatinya masih berada di laci samping tempat tidur mereka.
***
Pemuda yang berusaha tersenyum, memakai pakaian petugas kargo. Menaiki kapal pengangkut di hadapannya. Kapal expedisi, banyak box besi besar di atasnya, dengan tujuan negara lain.
Langkahnya terhenti, meraba salah satu box expedisi, box raksasa yang terkunci. Isinya? Manusia yang akan diselundupkan, beberapa orang dalam kondisi tidak sadarkan diri.
Mencari bukti? Itulah yang akan dilakukannya, hanya dapat menyusupkan dua orang pengawal profesional, mengingat ketatnya penjagaan.
Angin laut menerpa rambutnya, seakan merelakan segalanya, tidak pernah memiliki apapun. Pulang? Dirinya ingin pulang, memasak bersama istrinya, bergurau, mengerjakan pekerjaan yang tidak ada habisnya, hingga akhirnya terlelap menutup mata dalam pelukannya.
Apa dia bisa pulang? Entahlah, seorang pemuda yang sejatinya akan menjadi seorang ayah. Bukan hanya ayah angkat lagi, namun dua pasang tangan kecil dengan darah merahnya mengalir di tubuh mereka.
***
Nindy mengenyitkan keningnya, berusaha menghubungi kakaknya berulang kali. Setelah mengetahui berita kecelakaan Gilang dari akun media sosial yang pemuda itu miliki. Tidak ingin sang kakak menjenguk sahabat yang bagaikan mantannya.
Sahabat macam apa yang dimiliki kakaknya biar dia membeberkannya sendiri. Namun, handphone Amel tidak aktif, aneh bukan? Mungkin karena semalaman di rumah sakit, handphone yang dimilikinya lowbat.
"Tidak apa-apa, asalkan kak Kenzo tidak mengetahui tentang orang yang pernah disukai si tahu bulat di goreng 500an adalah Gilang..." komat-kamit mulut itu menenangkan diri.
"Nindy, kamu sedang menelfon siapa?" Brenda datang menghampirinya mengenyitkan keningnya, penuh kecurigaan.
"Teman..." jawab Nindy tersenyum.
"Pria atau wanita?" mode ibu-ibu kompleks yang tengah menanyai anak perempuannya di bonceng siapa, tiba-tiba muncul.
"Pria, sedikit lebih dewasa dariku, mapan, dari keluarga baik-baik..." dustanya tersenyum, berjalan meninggalkan Brenda.
"Kak Brenda, ayo kita perawatan ke salon bersama lain kali..." lanjutnya, tengah melepaskan pakaian pria pada manekin.
"Bre... Brenda?" panggilan yang masih asing baginya. Entah kenapa dirinya lebih nyaman jika gadis kecil tidak tahu malu itu memanggilnya Brandon. Ke salon bersama? Seolah jiwanya meronta-ronta. Aku tidak ingin menjadi sahabat wanitanya! Lalu ingin menjadi apa?
Menjadi bagaikan ibunya? Saudari perempuannya? Atau...
Pandangan Brenda beralih, menatap Nindy yang tengah memindahkan manekin berbentuk tubuh pria, dengan cara bagaikan memeluknya. Kancing kemeja manekin itu dibuka jemari tangan kecilnya.
Brenda tertegun, entah kenapa mungkin karena usia yang sudah cukup matang, hormon sebagai seorang pria timbul mempengaruhi otaknya. Bagaikan merasakan sensasi, kancing kemejanya lah yang dilepaskan.
Hingga tangan kecil itu merayap hendak membuka kancing celana panjang, yang dipakai manekin.
Aneh, benar-benar aneh... Brandon sejatinya pria normal yang merasa jijik dengan sentuhan wanita. Memakai identitas Brenda agar tidak ada wanita yang mau mendekatinya, dalam artian menolak secara halus. Menyadari ketidakmampuannya.
Namun gadis ini benar-benar membuatnya mati kutu. Mempermainkannya bagaikan layang-layang yang dapat ditarik ulur. Dan sialnya dirinya terjerat, terikat dengan permainannya.
"Nindy...." Bara (teman SMU Nindy) tiba-tiba muncul. Pemuda yang bertubuh tegap, ayahnya seorang petinggi militer, sedangkan dirinya sendiri masih mengikuti pendidikan militer TNI AU.
Angkatan Udara? Benar, itulah cita-cita Bara mengikuti jejak ayahnya. Pemuda yang gagah merangkul bahu ibunya yang terlihat modis ke dalam butik milik Nindy.
Apa yang akan dilakukan jelly nata de coco? Apa dia akan dikalahkan oleh tentara gagah. Brenda terdiam dengan wajahnya yang pucat.
Apalagi kala Nindy yang terbiasa tinggal di France, refleks mencium pipi kanan dan kiri pemuda itu.
"Maaf, kebiasaan. Aku terlalu lama tinggal di negara lain..." ucapnya tertawa kecil.
"Tidak apa-apa, tante ngerti. Aduh cantiknya, jadi kamu Nindy. Bara sering cerita tentang kamu. Pintar, mandiri, cantik, lulusan luar negeri dan sekarang ditambah dengan sukses di usia muda. Calon menantu idaman..." ucapnya bagaikan mengokohkan Nindy sebagai calon menantu incarannya. Merangkul bahu sang gadis muda.
"Cuma kebetulan, kakak ipar yang membiayai kuliah dan memberikan modal, membuka butik..." Nindy berucap penuh senyuman. Seketika suasana hening sejenak, Bara serta ibunya terdiam, menatap ke arah Nindy.
"Suami kakakmu Amel yang lulusan S1? Yang gemuk?" tanya Bara, dijawab dengan anggukan oleh Nindy.
"Kakak iparmu tidak bermaksud menjadikanmu istri kedua kan?" lanjutnya.
Plak...
Nindy langsung melayangkan pukulan ke bahu sang calon tentara muda. Sedangkan, Brenda yang mendengar semuanya, hanya dapat menipiskan bibir menahan tawanya.
"Mana mungkin!! Kakakku Amel si tahu bulat sekarang secantik model majalah dewasa, kulitnya seputih selebriti Korea. Dicarikan madu!? Kakak iparku itu, pria panutan yang setia!!" ucapnya, mencubit pipi Bara, bagaikan harga diri sang calon tentara muda hilang dihadapan pembullyan Nindy.
"Syukurlah, tante juga mengira hal yang sama. Zaman sekarang, jarang ada suami yang baik ke keluarga istrinya," wanita paruh baya itu kembali tertawa, penuh senyuman hendak mencairkan suasana.
Brenda mengenyitkan keningnya, berjalan layaknya bunga Peony mendekati mereka,"Siang..." sapanya. Benar-benar membenci sosok Bara.
"Kamu mempekerjakan waria?" Bara mengenyitkan keningnya, bertanya pada Nindy.
Waria kepalamu? Aku ingin memperlihatkan kemampuan karateku sekali-kali... kesalnya dalam hati merasa tersaingi. Bisa karate? Tentu saja, Brenda memegang sabuk hitam dari usia 17 tahun. Sekali lagi dirinya tidak cemburu, hanya mencemaskan Nindy. Dengan hati yang terasa panas ingin memiliki, tidak ingin Nindy direbut orang lain.
"Perkenalkan dia Brenda, pemilik setengah butik ini, sekaligus desainer berpengalaman. Kami juga membuka cabang di kota lain, tapi masih tahap pembangunan..." jelas Nindy memperkenalkan Brenda.
Kak Brandon!! Ayo keluar!! Cemburulah!! Dia calon tentara lho ... suami idaman, gadis pecinta pria kekar perkasa. Untung saja masih ada Nindy mu tersayang yang memiliki selera menyimpang!! Karena itu keluarlah!! Tunjukkan kamu bukan nata de coco... Nindy memberikan semangat dalam hatinya. Penuh harap, perasaannya akan berbalas.
"Bara..." ucap Bara bagaikan enggan memperkenalkan dirinya.
"Brenda," Brenda tersenyum padanya,"Nindy ayo bawa mereka berkeliling. Aku akan melayani customer yang baru datang..." ucapnya mempersilahkan mereka masuk lebih dalam.
"Iya..." Nindy tersenyum, tapi siapa tahu yang ada dalam hatinya.
Kak Brandon, kamu tidak cemburu? Tidak menyukai Nindy? Merelakan Nindy naik pesawat perang bersama Bara... tangisannya dalam hatinya, merangkul ibu Bara untuk masuk lebih dalam.
Sementara Brenda mengenyitkan keningnya, memanggil salah seorang pegawai. Memberinya beberapa jimat, maaf salah beberapa lembar uang dengan gambar tokoh proklamator.
"Ikuti Nindy ke dalam, jika mereka berpelukan, atau berciuman, bahkan membicarakan masalah pernikahan. Langsung berlari ke luar temui aku..." ucapnya dengan suara kecil. Tapi bukan suara cantik mendayu-dayu lagi. Suara bariton seorang Brandon.
Jelly nata de coco tidak dapat terima miliknya ingin diterbangkan ke langit ke tujuh oleh sang calon tentara. Membayangkannya saja menyesakkan bagi Brandon. Tunggu Brandon? Apa Nindy akan dapat membangunkan pria yang sudah menghilang selama 11 tahun?
Bersambung