
"Dimana alamatmu? Aku akan kesana bersama Agler, lagi pula ini hari minggu, kalian tidak bekerja kan?" ucapnya dengan suara bergetar, berusaha untuk tidak menangis.
"Kalian mau kesini? Bagus, nanti aku kirimkan alamatnya..." Amel terdengar penuh semangat, dengan segera mematikan panggilannya. Mengirimkan alamat mereka pada Cindy.
Wanita itu menghela napas kasar, bersiap melepaskan perusahaan milik almarhum sang ayah. Anak? Itulah prioritasnya saat ini, tidak mempedulikan apapun lagi. Biaya pengobatan Agam tidaklah kecil, ditambah dirinya yang harus menemani Agam di sanatorium.
Berperang melawan George untuk memperebutkan perusahaan, dengan meninggalkan Agam sendiri di sanatorium? Tidak, hal itu tidak akan dilakukan olehnya. Peluang terlalu kecil, untuk menang melawan George, selain itu Agam dan Agler masih memerlukannya.
Satu-satunya cara yang difikirkannya adalah meminta bantuan pada antagonis kejam yang bersembunyi di perusahaannya.
Wanita yang akan depresi berhari-hari setelah mengetahui perselingkuhan suaminya? Bukan itulah sosok seorang Cindy. Wanita itu cukup cerdas di masa mudanya, wanita terdidik, memutuskan meninggalkan perusahaan untuk kedua putranya, mempercayakan semuanya pada sang suami yang dianggapnya dapat menjaga mereka.
Cinta? Sesuatu yang sebenarnya begitu berarti baginya, namun saat ini dua malaikat kecilnya lah yang utama. Mereka memerlukan uang untuk hidup, memerlukan uang untuk masa depannya, dan memerlukan dirinya untuk menjaga mereka.
***
Beberapa puluh menit perjalanan, akhirnya villa itu terlihat juga. Rencananya? Hal pertama adalah mengendalikan hati si iblis. Iblis? Sejak kapan iblis punya hati, mungkin sejak memiliki boneka Teddy Bear raksasa.
"Ayo kita turun ..." Cindy membukakan sabuk pengaman putranya.
"Ibu ini dimana?" tanya Agler yang baru terbangun.
"Kamu ingat pangeran iblis dan boneka beruangnya. Kita akan menemui mereka, yang harus Agler lakukan, peluk bibi Amel yang erat jangan lepaskan! Jadi anak yang baik, bermanja-manja lah padanya. Ini demi Agam, lakukan dengan baik..." ucapnya dijawab dengan anggukan oleh Agler.
"Tidak boleh melibatkan Amel? Kamu mengancamku karena itu satu-satunya kelemahanmu kan?" kumat-kamit Cindy bergumam sendiri, meraih jemari tangan putranya.
Jangan kira Cindy wanita bodoh, dirinya adalah anak tunggal pemilik perusahaan yang didik sendiri oleh almarhum ayahnya. Mundur disaat harus mundur, bertahan di saat harus bertahan untuk tetap menjadi kalangan atas.
Mengambil alih FIG Group kembali? Tidak, jikapun bisa, dirinya harus menanggung kerugian besar menghadapi George. Kemudian menyingkirkan Kenzo, seseorang yang jauh lebih berbahaya. Meninggalkan putranya yang sakit karena sibuk mengurus kekacauan di perusahaan yang akan dibuat pailit oleh Kenzo.
Pilihan yang bodoh, jadi pilihan terakhir yang ada di benaknya adalah...
"Bibi..." Agler memeluk Amel dengan erat menuruti perintah ibunya.
"Agler kenapa?" tanyanya.
"Aku ingin bersama bibi..." jawaban dari mulut kecilnya.
"Iya, kita main sama-sama nanti," Amel tersenyum ramah, sejenak perhatiannya teralih menatap luka di wajah Cindy."Cindy, wajahmu..."
Pemeran utama novel yang diselingkuhi? Wanita lemah tidak berdaya. Itulah peran yang coba diperlihatkan Cindy, wanita itu menitikan air matanya. "Suamiku berselingkuh, memukuliku karena akan menampar selingkuhannya,"
Dan benar saja sang Dugong mulai iba, "Duduk dulu ya, coba kamu ceritakan bagaimana bisa terjadi..."
Kata-kata Amel terpotong pada akhirnya tokoh antagonis terkejam turun juga, melangkah menuruni anak tangga, membawa selembar koran serta secangkir kopi. Rambutnya terlihat basah usai berenang, hanya mengenakan celana renang dan jubah mandi,"Amel kamu sudah selesai membersihkan gudang..." ucapnya haru mengalihkan perhatiannya dari koran yang dibacanya.
Mau apalagi hama ini, sudah aku bilang jangan melibatkan mempelaiku ... gumamnya dalam hati menahan kekesalannya.
"Iya setelah ini aku kerjakan!!" bentak Amel yang tidak pernah dibiarkan diam sehari saja oleh Kenzo.
Tanpa disadari, kaos XL pria yang sering digunakannya mulai longgar. Hanya longgar. Entah kaosnya yang membesar atau tubuhnya yang mengecil.
Kenzo menatap lekat pada Cindy, penuh kekesalan. Sedangkan, Cindy menatapnya sebagai harapan terakhirnya.
Amel melambaikan tangan di tengah mereka berdua. Kemudian mengenyitkan keningnya, tidak mendapatkan reaksi... Apa ini seperti di novel-novel atau film? Istri teraniaya, diselingkuhi suaminya, menemukan pria muda yang lebih sempurna, kemudian menikah dengannya... hingga sang suami menyesal...
Gadis itu benar-benar mengira Cindy dan Kenzo memiliki perasaan terlarang yang aneh. Pada akhirnya memberanikan dirinya untuk bicara,"Cindy, kamu pilih pasangan baru yang lain ya? Dia ini raja neraka, aku sebagai bantal gulingnya saja sudah muak padanya..." komat-kamit mulut itu tidak bisa di rem.
"Ada perlu apa?" Kenzo mulai duduk penuh kharisma, meminum secangkir kopi di tangannya. Kemudian meletakkannya serta koran yang sebelumnya dibacanya.
Mereka akan mulai bicara berdua? Memadu kasih? Apa Kenzo benar-benar menyukainya? Tapi... tangan Amel mengepal, cemburu? Anggaplah bukan, hanya perasaan tidak ingin Kenzo berdekatan dengan wanita lain. Perasaan protektif, kita anggap saja bukan cemburu... hanya jealous...
"Amel, bermainlah game dengan Agler di lantai dua..." perintah tenang dari mulut Kenzo.
"Tidak mau!! Pria dan wanita berdua satu ruangan, yang ketiga adalah setan," komat-kamit kata-kata aneh keluar dari mulutnya.
"Kita satu kamar setiap hari, satu tempat tidur, bahkan beberapa hari yang lalu di kolam renang..." dengan cepat Amel menutup mulut Kenzo menggunakan tangannya, tidak ingin dirinya dipermalukan lebih dalam di hadapan Cindy.
"Aku akan naik ke lantai dua!! Puas!?" bentak Amel pada Kenzo, melepaskan bekapannya, meraih jemari tangan kecil Agler, "Ayo kita main game..."
Langkah demi langkah, kedua orang itu akhirnya naik ke lantai dua. Kenzo hanya menghela napas, menatap Amel hingga menghilang sepenuhnya dari pengelihatannya.
"Pengusaha keji sepertimu, menyukai wanita sepertinya. Sungguh suatu kejutan..." Cindy mulai tersenyum, bertepuk tangan.
Tidak mengenal langsung sosok Kenzo? Benar, Kenzo tidak pernah menunjukkan dirinya di hadapan media. Namun, reputasinya sebagai pemilik W&G Company, memang cukup mengerikan, pemilik perusahaan keji, yang menyerang perusahaan lain hingga pailit, kemudian membelinya sebagai anak cabang.
"Jangan menghina, kehidupanmu lebih buruk daripada kehidupanku. Kamu anak pemilik FIG Group bukan? Menikah hanya melihat fisik. Bagaimana hasilnya? Tuan putri yang menikahi kesatria..." Kenzo tertawa kecil menghina.
"Bagaimana kamu bisa jatuh cinta pada Amel? Dia berukuran panjang kali lebar kali tinggi. Dengan kekayaanmu, pastinya akan banyak wanita cantik yang mengantri untukmu..." ucapannya penasaran.
"Bukan masalah fisik, ketika kamu menemukan hati yang hangat. Maka di tempat itulah mungkin kamu dapat pulang..." kata-kata ambigu keluar dari mulut Kenzo."Sudahlah, kenapa kamu kemari? Seharusnya mulai berperang dengan suamimu dan aku kan!?" tanyanya.
"Aku menyerah, dengan hanya 40% saham, serta pemegang saham lainnya yang berpihak pada George. Jika menang melawan kalian berdua pun, seluruh harta dan waktuku akan terkuras habis. Kedua putraku masih memerlukan uang serta waktu yang cukup bersama ibu mereka..." ucapnya tertunduk sembari tersenyum.
"Lalu? Apa rencanamu?" Kenzo mengenyitkan keningnya.
"Suamiku sudah setuju untuk bercerai. Tolong beri waktu seminggu lagi, jangan hancurkan FIG Group. Aku akan menjual seluruh sahamku, kemudian berinvestasi di perusahaanmu..."
"Kurang dari seminggu, kami akan berpisah. Setelah aku menjual seluruh saham dan berinvestasi di W&G Company. Kamu boleh melakukan apapun pada FIG Group setelahnya..." pintanya.
"Tidak punya royalitas? Perusahaan itu didirikan oleh ayahmu. Kamu tidak ingin berjuang untuknya?" Kenzo mengenyitkan keningnya.
Cindy menggelengkan kepalanya, air matanya mengalir, "Almarhum ayahku akan lebih mencintai cucunya dari pada perusahaan,"
Berusaha untuk tegar, itulah yang dilakukannya, menyeka air matanya,"Kami dapat hidup dari hasil investasi saham. Lagipula aku dengar-dengar W&G Company bertambah besar setiap tahunnya,"
"Keputusan yang bagus, kita bekerja sama. Aku akan mengulur waktu kehancuran seminggu untukmu. Klien baru-ku..." Kenzo tersenyum, berjalan menuju lemari pendingin, melempar minuman kaleng bersoda berwarna orange padanya.
Cindy segera menangkap, dan meminumnya. Seminggu cukup untuknya, melepaskan segalanya, menggantungkan hidupnya pada investasi di perusahaan lain.
***
Sementara itu Amel yang semakin penasaran, mengintip dari lantai dua bersama Agler.
"Bibi sedang apa?" tanyanya.
"Mengamati, apa Kenzo akan menjadi ayah barumu..." ucapnya, yang tidak dapat mendengarkan pembicaraan mereka.
Agler mengenyitkan keningnya...
Orang buta pun tau, paman Kenzo tidak mungkin menjadi ayah baruku. Seperti kata ibu pangeran iblis dan boneka beruangnya... Agler menghela napas berkali-kali menatap tingkah Amel.
Bersambung
Catatan: Proses perceraian di Malaysia berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan di Indonesia, jika kedua belah pihak telah sepakat untuk berpisah dengan sama-sama menandatangani surat perceraian. Ini menurut sebuah artikel yang aku baca, jadi maaf jika ada kesalahan.