
Model wanita belum juga sampai hingga saat ini.
Entah sebagai ibu yang mencemaskan anaknya, sahabat wanita yang mencemaskan rekannya, atau saudari yang mencemaskan adiknya.
Tapi pastinya perasaan jengkel, kesal, merasa dikhianati, merasa memiliki, tidak terima pria lain menyentuh Nindy. Bukanlah perasaan cemburu seorang pria pada wanita, bagi Brenda.
Entah disebut apa, jika ingin tahu dapat tanyakan langsung pada Brenda, yang tengah menusukkan potongan buah bagaikan potongan buah tersebut adalah pria yang tengah merangkul Nindy.
Semakin dekat dan semakin mesra, karena tema yang diusung, adalah pasangan kekasih.
Hingga pada akhirnya, foto model wanita yang mereka sewa datang dengan terburu-buru."Maaf, tadi malam aku pulang larut. Jadi terlambat bangun..." ucapnya gelagapan.
"Tinggal beberapa set gaun pesta dan pernikahan. Aku akan melanjutkannya..." ucap Nindy penuh semangat.
"Tidak boleh begitu, kami sudah membayarmu. Mau makan gaji buta!! Lagipula kamu juga!! Anak kecil tidak boleh centil," cibir Brenda, komat-kamit mulut ibu-ibu kompleks itu berkicau.
"Iya, aku ganti pakaian sekarang," ucap sang fotomodel, hendak meraih pakaian yang disediakan.
"Waktu kami tinggal satu jam lagi!! Belum pengambilan gambar pakaian pesta, belum lagi pakaian pernikahan. Ada model pria lain tidak!? Supaya jeda waktu pergantian pakaian lebih cepat!!" kesal sang fotografer, pasalnya waktu yang telah mereka sepakati menjadi mundur akibat sang fotomodel wanita yang tidak profesional.
"Aku akan ganti pakaian dengan cepat!! Nanti pakaian pestanya pada model yang baru datang saja. Aku akan ikut sesi foto pengantin..." usul Nindy.
"Sayangnya model pria hanya satu," sang fotografer menghela napas kasar, menatap hasil pengambilan gambarnya."Nindy!! Karena kamu yang akan mengenakan set pengantin nanti, harus terlihat lebih mesra, lebih natural. Apalagi dengan gaun yang memberikan kesan keseksian. Kita buat sesi yang mendekati ciuman..." arahannya pada Nindy.
Mendekati ciuman!? Mereka akan berciuman... badan Brenda bagaikan panas dingin mendengarnya. Wajahnya pucat pasi.
"Baik!! Aku akan menjadi pengantin penggoda!!" Nindy memberi hormat layaknya tentara militer pada atasannya.
Brenda mengalihkan pandangannya menatap Nindy. Wanita murahan!! Sialan... geramnya dalam hati mengepalkan tangannya. Hingga akhirnya kata-kata itu terucap juga.
"Aku!! Aku akan mencoba pakaian pengantin prianya!! Jangan salah paham, ini hanya untuk mempercepat proses pemotretan!!" kekesalan yang benar-benar diubun-ubun. Membuat makhluk jadi-jadian itu nekat.
Sekali lagi Brenda tegaskan dirinya tidak cemburu, hanya saja hatinya panas, jantungnya bergemuruh menatap wanita tidak tahu malu itu tersenyum merangkul seorang pemuda rupawan.
"Kak Brandon, jangan muntah lagi ya? Perlu aku carikan vitamin di dokter kandungan..." mulut kecil gadis itu tidak henti-hentinya membuatnya kehabisan kata-kata.
Brenda berjalan cepat mengambil setelan tuxedo dan rambut palsu pria. Berjalan menghentakkan kakinya ke ruang ganti.
Wanita k*parat....
***
Penampilan Nindy? Gadis itu memakai pakaian pengantin dengan bagian belakang yang terbuka, berbalut kain putih transparan. Bagian depan berhiaskan rangkaian kristal dan manik, rambutnya ditata indah. Menunggu dengan sabar kedatangan mempelai pria.
Hingga pintu ruang ganti dibuka. 11 tahun sudah, pemuda rupawan itu menghilang bagaikan telah mati. Brandon, yang selalu memakai pakaian wanita semenjak dirinya berusia 17 tahun. Kini melangkah mengenakan setelan tuxedo. Rambut yang dipanjangkannya tertutup rambut palsu pria yang jauh lebih pendek.
Pemuda rupawan yang melangkah keluar, siapa menyangka dirinya adalah Brenda. Si makhluk jadi-jadian, tapi itulah cara sesungguhnya untuk melindungi dirinya, yang tidak mau menjalin hubungan kekasih atau suami istri. Cara ekstrim yang dimilikinya.
Sang fotografer terdiam, pemuda yang bahkan lebih rupawan daripada model pria yang sebelumnya mengambil foto pasangan dengan Nindy.
"Nah, begini..." Nindy mendekatinya, merapikan dasinya yang miring,"Jika kak Brandon memakai pakaian ini, aku tidak perlu mengatakan akan mengantarkanmu ke dokter kandungan,"
Brandon sedikit tertunduk mengamati wajah rupawan gadis yang tengah merapikan dasinya. Darahnya berdesir, bibir tipis itu terus-menerus tidak menghilang dari tatapannya.
Nindy menonggakkan kepalanya tersenyum, menatap pemuda yang tengah memakai pakaian mempelai pria. Wajah yang sejenak terlihat saling menyelami.
"Bagus..." sang fotografer tersenyum diam-diam mengambil beberapa foto mereka. Pasangan yang benar-benar terlihat serasi baginya.
Hingga mulut berbisa itu berucap lagi,"Kak Brandon memakai pakaian pria. Bagaimana jika aku yang memeriksakan diri ke dokter kandungan. Mungkin setelah kejadian kemarin, aku yang hamil, dan kakak muntah-muntah akibat mengalami couvade syndrome (bapak-bapak ngidam)" candaan dari Nindy penuh senyuman.
Semua orang menatap sinis pada Brenda, bahkan fotografer hampir menjatuhkan kameranya. Diluar berpura-pura menjadi pria yang memiliki kelainan, tapi didalam memanfaatkan seorang gadis kecil lugu hingga hamil?
"Ti... tidak seperti yang ada di fikiran kalian!!" Brenda gelagapan, bahkan tidak sengaja mengeluarkan suara baritonnya.
"Kak Brandon tidak mau bertanggung jawab?" Nindy memperkeruh suasana, terlihat memelas.
Sedangkan semua kru saat ini memandang Brenda dengan tatapan mengintimidasi. Bagaikan setelah melecehkan gadis kecil, meninggalkannya yang tengah hamil dengan hati yang terluka.
Kini pandangan semua orang berubah, melirik ke arah celana panjang putih yang dikenakan Brenda. Mungkin dalam hati mereka bertanya-tanya, menolak bahkan mendorong wanita secantik Nindy? Wanita yang bahkan melompat ke dalam pelukannya. Apa pusaka berharga yang tersembunyi itu berfungsi?
Sang fotografer menghela napasnya, mungkin Brenda benar-benar sudah belok, menyukai pedang pedangan, atau istilah lainnya pisang makan pisang."Nindy ayo lanjutkan pengambilan gambarnya..."
Bahkan model pria yang sebelumnya menjadi pasangan pengambilan gambar dengan Nindy, menatap iba padanya,"Masih banyak pria normal dan perkasa di dunia ini. Jangan menggantungkan nasibmu pada jelly nata de coco, carilah pisang segar yang masih sehat," ucapnya, berjalan mengambil stelan jas pria ke ruang ganti.
"Je ... jelly nata de coco?" Brenda benar-benar kehabisan kata-kata. Sementara Nindy menipiskan bibir menahan tawanya.
"Ayo ..." ucapnya tersenyum menarik Brenda ke lokasi pemotretan mereka yang memang berada di villa mewah yang disewakan sehari.
Jantung pemuda itu benar-benar berdegup cepat, kala Nindy yang menegang buket bunga pernikahan, mengalungkan tangannya pada leher Brenda. Wajah cantik yang benar-benar ditatapnya dalam-dalam.
Ekting? Kita anggap saja dirinya tidak jatuh cinta, hanya terlalu menghayati sesi pemotretan.
"Begini?" Nindy berjinjit mengikuti arahan fotografer. Wajah mereka semakin dekat saja, debaran hati Brenda semakin terpacu.
"Brenda, bisa sedikit menunduk? Buat seakan bibir kalian akan bersentuhan..." arahan sang fotografer pada Brenda.
"A...aku..." Brenda terlihat ragu, namun senyuman di wajah Nindy menyungging, menangkup pipinya, memberi jarak yang semakin dekat.
"Jika jijik pada bibir, lihat mataku saja...." kata-kata dari Nindy.
Mata itu ditatap Brenda semakin dalam, tidak terasa bibirnya berada di jarak yang begitu dekat. Sesuatu yang selalu dihindarinya...
Aku menyukaimu.... Wajah, mata, dan mulutmu yang berisik.... tanpa disadarinya matanya terpejam, mungkin satu milimeter lagi bersentuhan langsung dengan bibir Nindy.
Bagaikan debaran di hatinya yang mengambil alih tubuhnya.
"Bagus!! Kita ganti lokasi!!" kata-kata dari sang fotografer membuatnya kembali membuka mata.
"Apa hasilnya bagus?" tanya Nindy tertawa mendekati sang fotografer. Mengamati hasil dari gambar yang diambil.
Semua manusia ditakdirkan memiliki pasangan. Kecuali aku...
Tau kenapa...
Karena aku tidak dapat memberikan hal yang semua wanita inginkan dari pasangannya...
Bercinta? Berciuman saja aku masih jijik, hingga kini...
Karena itu jelly nata de coco? Anggaplah aku memang jelly nata de coco...
Kata-kata yang tertahan dalam dirinya, tersenyum bagaikan merelakan Nindy untuk berakhir mencintai orang lain.
Hingga...
"Apa aku cantik? Menurutmu CEO muda seperti Gilang dari Bold Company akan tertarik padaku atau tidak?" tanyanya bagaikan bergurau pada sang fotografer. Ingin menyingkirkan Gilang yang bagaikan gulma pengganggu di pernikahan kakaknya.
"Hah!? Kamu masih kecil!! Tidak boleh pacaran!! Aku akan mengawasimu belajar..." bentak Brenda. Untuk yang kesekian kalinya dirinya tidak cemburu. Hanya hatinya yang panas, penuh rasa protektif seakan Nindy adalah miliknya.
"Bisa ajari aku mendesign gaun?" tanya Nindy.
"Bisa!!" Brenda menjawab cepat.
"Bisa ajari aku mendesign tas?" Nindy melangkah semakin mendekat.
"Bisa!!" jawab Brenda penuh keyakinan.
"Bisa ajari aku caranya pacaran?" tanyanya menggoda, menemukan pria yang membuatnya benar-benar berjuang. Pria yang sulit di dapatkannya, hati yang terus berdebar ketika memikirkannya. Nindy telah ditaklukkan.
"Bisa!!" Brenda mengenyitkan keningnya, baru menyadari pertanyaan Nindy yang berubah. Salah menjawab, itulah yang terjadi."A...aku..." ucapnya ingin merevisi kata-katanya.
"Satu tahun ini, jika aku tidak dapat melampaui kemampuanmu. Kakak akan benar-benar menjadi suamiku..."
Bersambung