
Suasana seketika gaduh, pengunjung restauran berjongkok, berlindung di bawah meja. Bahkan yang ada di dekat pintu keluar, segera berlari menyelamatkan diri. Seseorang yang masih berdiri, memakai setelan jas rapi menodongkan senjatanya pada kepala Juwita.
"A...aku ti... tidak akan melukainya. Febria dia siapa!? Apa bawahan keluargamu?" tanya Juwita ketakutan. Sementara Benjamin, sang pemuda rupawan berbadan tegap, bertubuh atletis, yang berprofesi sebagai pramugara bersembunyi di bawah meja, berjongkok memegangi kepalanya.
"Tidak tau!! Aku tidak mengenalnya..." ucap Febria, yang juga berjongkok di samping kursinya ketakutan.
Dor...dor...dor...
Suara tembakan terdengar, semua kamera CCTV pecah, rusak berantakan. Peluru kembali dimasukan kedalam senjatanya, menodongkan pada punggung Juwita.
"Nona tolong berdiri, bagaimana jika saat anda berjongkok perut anda tertekan..." kata-kata dari mulut sang pemuda yang awam tentang wanita hamil. Sedikit gerakan yang salah mungkin akan melukai janin, begitulah yang ada dalam fikirannya.
Bagaikan seorang kasim yang menjaga calon putra mahkota, janin yang mewarisi tahta kaisarnya nanti.
"Kamu bicara padaku?" Febria mengenyitkan keningnya tidak mengerti, menoleh ke arah sekitarnya.
Pemuda yang tidak dikenalnya itu mengangguk, "Duduklah, anda tidak boleh kelelahan, pemimpin akan segera datang..." jawaban darinya.
"Pe... pemimpin? Siapa?" tanyanya, masih berjongkok, ketakutan tidak ingin berdiri.
"Orang yang menghabiskan malam bersammu. Mungkin kini janinnya sedang berada di perutmu ..." jawaban ambigu dari mulutnya.
"Febria kamu tidur dengan pimpinan orang ini!? Suruh dia menurunkan senjatanya!!" teriak Juwita ketakutan.
Apa hasil tesnya salah? Apa aku hamil? Bagaimana jika mama tau? Bagaimana jika harus menikah dengan anggota mafia yang pastinya sering berganti pasangan. Mencicipi banyak wanita... batinnya, dengan wajah pucat.
"A...aku tidak hamil!! Aku sudah ke rumah sakit. Hanya tidur bersama tidak mungkin hamil, tidak ada bercak darah juga..." ucapnya kesal, mengepalkan tangannya, tidak rela jika harus mengandung anak dari anggota mafia.
"Kamu benar-benar tidur dengan pimpinan orang ini?" Benjamin yang berjongkok di bawah meja, bertanya pada Febria
Dor...
Satu tembakan menembus meja, hampir mengenai Benjamin, hanya selisih jarak beberapa sentimeter saja. Pemuda yang semula berjongkok, kini duduk di lantai dengan wajah pucat, bau pesing mulai tercium, cairan bening, bergelimangan membasahi celana, merembes ke lantai tempatnya duduk.
"Ingin berebut wanita dengan tuan Hudson (nama belakang Steven yang tidak pernah diberi tahu pada keluarga angkatnya)? Aku akan mengulitimu..." ucapnya kesal.
"Febria!! Tolong suruh dia menurunkan senjatanya..." pinta Juwita mulai menangis.
Pintu restauran terbuka, Steven datang dengan seorang pengawalnya. Memakai pakaian santai, dengan earphone masih tergantung di lehernya. Sweater hitam berpadu dengan jeans hitam. Kontras dengan kulit putih pucatnya, softlens hitam menutupi mata birunya. Rambut coklat yang tertata rapi.
"Tuan!?" Alex, sang bawahan menurunkan senjatanya, tertunduk memberi hormat.
Tekanan darahku benar-benar naik. Memusingkan, satu lagi, kesan buruk yang memalukan di mata Febria... batinnya. Semua orang tiba-tiba menoleh padanya, ingin mengetahui wajah pimpinan sang pria bersenjata.
Pria bertato, berbadan besar, bagaikan Rambo ada dalam bayangan mereka. Tapi siapa menduga, ternyata hanya seorang pemuda rupawan yang terdiam menghela napas kasar.
"Ka...kamu tolong jelaskan kita hanya tidur bersama. Tidak mungkin sa... sampai hamil," ucap Febria gelagapan.
Steven menatap keadaan sekitar,"Sita handphone mereka," perintahnya, pada pengawal yang mengikutinya. Tidak ingin kejadian hari ini terekam.
Mata Juwita menelisik, mengamati Steven dari atas hingga bawah. Penampilan yang jauh melebihi Benjamin, dan terlihat lebih berkuasa. Sejenak perhatiannya beralih pada Febria yang berjongkok ketakutan.
Apa kelebihannya hingga selalu dapat melampauiku? Tidak, aku tidak boleh kalah... batinnya.
"Awww..." pekiknya pura-pura terjatuh mencari perhatian Steven. Duduk di lantai mengundang rasa iba.
Tapi siapa yang menduga, paha Juwita diinjaknya. Melompatinya, mengulurkan tangan pada Febria yang berjongkok di dekat kursi, di balik tubuh Juwita. "Sudah merindukanku? Bujuklah mamamu untuk segera mengatur pernikahan kita," ucapnya mengulurkan tangan.
Febria menampik uluran tangannya, segera bangkit,"Siapa yang mau menikah dengan orang jahat sepertimu!! Aku Febria putri dari Kenzo, pemilik..." kata-katanya terpotong bibirnya dibungkam dengan ciuman, menjelajahi bibirnya singkat.
Jantung Febria tiba-tiba berdebar cepat, menatap sang pemuda rupawan. Terlihat bagai berdarah campuran Asia-Eropa, perasaan serupa yang dirasakannya kala Steven yang memiliki mata biru memberikan ciuman perpisahan. Apa dirinya jatuh cinta? Namun perasaan berdebar ini tidak dapat dikendalikan olehnya.
Mungkin tidak buruk juga, jika berakhir menikahi pria ini, itulah yang mulai ada dalam fikirannya.
"Enak..." puji Steven, merasakan sedikit rasa makanan restauran itu dari bibir Febria.
"Alex, beli saham restauran ini. Rasa makanannya lumayan," perintahnya, mulai berjalan pergi meninggalkan Febria yang terpaku.
Tunggu dulu, dia tadi bilang apa? Enak...dia mencicipi rasa makanan yang tersisa dari mulutku... gumamnya dalam hati mulai menyadari semuanya.
"Br*ngsek!! Seenaknya saja mengejekku!!" teriaknya pada Steven yang tetap pergi berjalan berlalu dengan kedua pengawalnya. Kesan hati yang berdebar dalam diri Febria, menghilang begitu saja.
***
"Tuan, kenapa tuan meninggalkannya, bagaimana jika wanita itu mengandung..." kata-kata Alex terpotong.
"Dia akan mengandung anak-anakku. Tapi tidak saat ini. Aku membawa Dark Wild mundur dari dunia bawah. Akan ada banyak orang yang ingin memberontak, tidak setuju. Ingin membunuhku dan menggatikanku menjadi pimpinan sementara,"
"Karena itu jika ingin hidup tenang, harus berhasil melewati masa krisis. Aku tidak ingin meninggalkan istri dan anakku, dalam ancaman untuk dibunuh karena perebutan kekuasaan," jawabnya di dalam mobil yang melaju, menatap ke arah jendela. Merasakan angin menerpa rambut coklatnya.
Ciuman singkat yang benar-benar menyenangkan baginya. Tubuh kecil yang sering dimandikannya itu kini telah berubah menjadi tubuh wanita dewasa.
Wajahnya tersenyum tidak menentu, entah kapan dirinya dapat benar-benar memiliki anak dengannya. Jika saja, ayah kandungnya tidak mencarinya mungkin Febria telah melahirkan seorang anak untuknya. Menikahinya segera saat usia Febria matang.
Membujuk Amel dan Kenzo bagaimana pun caranya. Benar-benar aneh, namun itulah kenyataannya, menyelinap setiap malam ke dalam kamar anak berusia 7 tahun, mengelus rambutnya hingga tertidur. Tidak pernah ingin terpisah darinya.
Jika mereka melewati masa remaja bersama? Mungkin dugaan Amel benar, Febria akan sudah melahirkan anak Steven diusia 20 tahun.
***
Sementara itu di restauran...
Pengunjung sudah kembali berdiri, salah satu pengawal Steven memberikan uang ganti-rugi. Sekaligus membicarakan kesempatan penanaman modal si restauran tersebut dengan sang pemilik.
Febria meraih tasnya melangkah dengan kesal,"Benjamin!! Juwita!! Jangan pernah menggagu hidupku lagi..." ucapnya.
Juwita mulai bangkit,"Kamu bahkan hamil di luar nikah!! Masih berani mengatakan aku murahan!!" sindirnya pada Febria yang telah berbalik berjalan pergi.
"Hidung jambu!! Aku tidak hamil!! Kalian mau lihat hasil tes kesehatanku!!" bentaknya kesal, melangkah pergi, namun masih saja mengelus perutnya ketakutan, dilema... Apakah dirinya akan datang bulan di bulan ini? Bagaimana jika tidak datang bulan? Bagaimana jika janin kecil benar-benar ada di perutnya?
Sedangkan, Juwita, mengibas-ngibaskan roknya yang sedikit basah."Air darimana ya? Apa vas bunganya tumpah?" gumamnya, yang terkena air di lantai.
Benjamin mulai bangkit, menahan rasa malunya, dengan celana panjang yang basah. Hingga Juwita berucap, penuh kecurigaan,"Kenapa airnya bau pesing?" jemari tangan menyentuh air menguning yang membasahi roknya dan lantai.
Akhirnya pandangan matanya beralih, menatap ke arah Benjamin yang tertunduk dengan celana yang basah,"Kamu ngompol!?"
Bersambung