My Kenzo

My Kenzo
Musim Keempat : Dua Wajah



Erlang sampai saat ini masih mencoba menghubungi phoncell putri dan istrinya yang tidak aktif sama sekali. Menjambak rambutnya sendiri terlihat frustasi.


Sementara Ferrell menatap tajam padanya."Aku bisa menuntutnya atas pencemaran nama baik. Menunggu usia kandungannya cukup, untuk melakukan tes DNA, melempar hasil tesnya di hadapan media dan meja pengadilan..." geramnya.


"Ferrell kamu yakin tidak pernah menyentuhnya!?" Damian mengenyitkan keningnya, menatap kepercayaan diri Grisella saat di wawancara.


"Yakin, standarnya terlalu tinggi dia tidak mungkin menyukai Ken, jadi aku tidak mungkin melecehkannya di sekolah. Sedangkan sepulang sekolah kamera dasboard mobilku akan merekam, aku pergi kemana saja. Jika tidak ada kerjaan, kalian boleh menonton kegiatanku tiga bulan ini..." jawabnya memijit pelipisnya sendiri.


"Jika mama dan papa tau, maka aku akan dikirim ke negara terpencil di tengah gurun. Menjadi relawan medis disana selama lima tahun. Saat aku pulang nanti Glory sudah menikah dengan calon perawat, mempunyai 10 orang anak dengannya. Kemudian karena rasa depresi, aku menderita stroke di usia muda, duduk di kursi roda. Tinggal selamanya dengan mama dan papa di luar negeri..." lanjutnya nya menakut-nakuti Damian.


"Kakek akan menghubungi orang untuk menghapus berita tentangmu," ucap Damian cepat.


Ferrell menghela napas kasar, mulai bangkit."Tidak perlu, cukup bantu aku menjelaskan pada keluarga Glory nanti. Tentang mama dan papa, aku yakin mereka sedang mengatur jadwal untuk segera pulang, mengingat mulut Febria yang cerewet..."


"Aku akan menghubungi Kenzo." Damian mencari nomor kontak putra angkatnya pada phoncellnya.


Ferrell menggeleng."Handphone papa tidak akan aktif, dia ada di pesawat penumpang kelas ekonomi dengan mama sekarang. Agar bisa duduk menempel sambil saling bersandar."


"Masalah ini kalian yang mengatur, aku mau meminum vitamin di lantai dua, dulu. Selamat malam kakek..." ucapnya sopan, melangkah naik ke lantai dua, diikuti pelayan yang membawa sebuah troli berisikan makanan. Hendak menemui sumber asupan nutrisinya.


"Anak itu..." Damian menghela napas kasar, menatap cucunya yang menang sering membuat ulah.


***


Sementara itu di lantai dua, Vanya masih berdiri di depan pintu kamar, mendengarkan tangisan dari seorang remaja labil yang ketakutan. Ferrell perlahan berjalan mendekatinya."Nenek turunlah, aku akan bicara baik-baik dengannya..."


"Ingat bicara baik-baik!! Dia masih remaja, untukmu dan saudara-saudaramu yang sudah seperti monster sejak kecil tidak akan berpengaruh. Tapi dia berbeda, dia hanya gadis biasa," saran dari Vanya mengingat Ferrell tidak pernah memiliki teman sebaya atau bergaul dengan orang lain kecuali saudara-saudaranya.


Ferrell mengangguk, tersenyum pada sang nenek. Vanya melangkah turun dari lantai dua dengan ragu, menatap sekilas cucunya yang memasukkan ke dalam lubangnya. Maaf kurang satu kata, memasukkan kunci ke dalam lubangnya.


Perlahan pintu itu terbuka, Ferrell memberi isyarat pada pelayanan untuk pergi. Sementara dirinya masuk, menutup pintu kembali menguncinya dari dalam, mendorong troli makanan mendekati Glory yang duduk di tempat tidur masih saja menangis.


"Makanan untuk si nomor tiga..." ucapnya tersenyum, mengingat peringkat gadis itu kini.


"Aku ingin pulang, dimana phoncellku?" pinta Glory menadahkan tangannya, dengan mata yang sembab.


Ferrell berjalan mendekatinya, duduk di sampingnya. Menghela napas kasar, berusaha berbicara baik-baik."Aku mencintaimu, jangan pulang. Aku akan membawa kedua orang tuamu kemari. Kita akan menikah ya?" pintanya.


Glory menggeleng, masih takut akan dilecehkan terlalu memalukan karena telah dipermainkan dengan sosok Ken. Pemuda yang hanya ada dalam sandiwara Ferrell, sebuah kekasih imajinasi bagi Glory. Menerima bunga apa saja pemberian sang pemuda miskin yang memiliki orang tua renta dengan banyak saudara.


"Apa yang kamu sukai dari Ken?" tanya Ferrell kembali.


Glory mengalihkan pandangannya pada Ferrell."Aku ingin pulang..." ucapnya dengan mata memerah menahan tangisannya.


Ferrell mengepalkan tangannya putus asa, kenapa bisa seperti ini? Hanya akhir indah yang ada dibenaknya, Glory akan senang, langsung mengangguk menerima lamarannya. Bagaikan Cinderella yang langsung mengangguk ketika pangeran akan mempersuntingnya membawanya ke istana.


Tapi ini berbeda, dia hanya seorang Glory, seseorang yang hanya ingin menjalani hidupnya dengan baik.


"Aku mencintaimu," ucapnya lagi, menunggu jawaban.


Glory kembali menggeleng, menangis menahan luka di hatinya. Sosok pemuda impiannya hanya semu, Ken tidak pernah ada, hanya kebohongan seorang Ferrell.


"Setidaknya katakan kenapa kamu tidak mencintaiku lagi?" tanyanya.


Ferrell menangkup pipinya, agar menatap hanya padanya."Lihat aku, Ken bukan imajinasimu, aku juga Ken..." ucapnya dengan air mata tertahan di pelupuk matanya. Tidak ingin gadis yang dicintainya seperti ini, menolak, bahkan membencinya.


Glory hanya terdiam, air matanya masih mengalir. Mata orang ini memanglah mata Ken, tapi juga mata Ferrell."Aku tidak kaya, orang tuaku lah yang kaya. Aku merasa miskin karenamu, aku sudah gila karena mengemis cinta dan ciumanmu,"


"Dan wajah? Dalam wajah manapun aku tetap mencintaimu," lanjutnya, menghapus air mata Glory.


"Sifat, aslimu juga berbeda..." kali ini bibir Glory yang kering memberanikan dirinya untuk bicara.


Ferrell menggeleng,"Sama saja, aku tidak sedang berekting. Aku terlalu malu memegang tanganmu, apalagi berciuman dengan wajahku yang berlumuran makeup, karena itu aku hanya menggenggam tanganmu,"


"Membawa bunga yang aku petik dari perjalanan ke rumahmu. Itu juga karena aku harap dapat menjadi orang biasa yang kamu inginkan. Berkencan dengan seorang Ferrell tidak membuatmu luluh, jadi aku mencoba berkencan dengan cara remaja SMU biasa....Aku mencintaimu..." lanjutnya.


Glory mengepalkan tangannya memejamkan matanya sejenak."Aku juga..." ucapnya tertunduk kembali menangis.


"Jika mencintaiku, jangan menangis..." Ferrell mulai tersenyum, memeluk tubuhnya erat.


"Aku ingin pulang," pinta Glory, membalas pelukan Ferrell.


"Aku akan mengantarmu pulang besok. Tapi sekarang yakinkan aku kalau tidak akan ada pria lain yang kamu cintai," ucapnya menyentuh dagu Glory, mendekatkan bibir mereka.


"Tapi ayah bilang," kata-katanya disela.


Napas Ferrell terdengar dari jarak yang benar-benar dekat menerpa kulit wajahnya."Paman, hanya tidak ingin kita terbawa suasana untuk melakukannya sebelum pernikahan..."


Ferrell memejamkan matanya kala sepasang bibir itu kembali bersentuhan, mengecup bibir yang terasa kering itu pelan. Dengan ragu Glory membuka mulutnya, membiarkan Ferrell mempermainkan bibirnya, menikmati setiap debaran yang dirasakannya."Aku hanya pernah menciummu, tidak pernah berciuman dengan wanita lain. Dan aku menjadi gila, semakin aku mengenal dan menginginkanmu," bisik sang pemuda dengan suara berat kala ciuman itu terlepas sesaat.


Dua pasang mata yang kembali terpejam, menjelajah pelan. Di atas tempat tidur dalam ruangan yang gelap.


***


Beberapa belas menit kemudian...


Mulut gadis itu dipenuhi dengan makanan."Aku harus makan yang mana berikutnya? Apa chicken teriaki atau steak? Aku tidak pernah makan steak..." ucapnya makan dengan lahap."Apa boleh dibungkus?"


Ferrell menipiskan bibir menahan tawanya, seraya mengangguk.


Sementara itu di tempat lain...


"Dia bisa menghamili wanita?" suara tawa Scott terdengar, tengah melangkah ke area keberangkatan penumpang, dengan Rafa (putra pertama Farel) yang berjalan dengan asisten cantiknya.


"Aku ikut satu pesawat denganmu, karena tidak ingin penerbangan jet pribadimu sia-sia akibat adanya kursi kosong..." ucap anak pertama pemilik JH Corporation yang sejatinya hanya ingin menghemat pengeluarannya saja. Kita anggap saja dia bukan pelit tapi kikir.


"Ya...ya...! Omong-ngomong, adikku saja sudah bisa menghamili wanita. Lalu kamu kapan?" pertanyaan dari Scott pada relasi bisnisnya.


"Secepatnya," jawabnya tersenyum tidak tahu malu, dengan asistennya yang menarik koper mengikuti langkah kaki panjangnya.


"Bersabarlah," Scott menepuk bahu asisten Rafa.


"Aku sudah cukup bersabar menghadapinya, semenjak aku dilahirkan dia selalu mengatur hidupku..." geramnya, berusaha untuk tersenyum menyusul majikannya.


Bersambung