
Angin menerpa rambutnya yang kini berwarna coklat keemasan. Menatap ke arah jendela mobil entah apa yang ada di fikirannya.
Hingga pada akhirnya taksi yang ditumpanginya sampai pada acara pembukaan sebuah butik, yang memberikan diskon besar hanya pada hari ini. Anaknya berada di sana dalam asuhan orang lain. Bermain dan bergurau, tidak dapat disentuhnya.
Butik impian? Ini benar-benar bagaikan sebuah mimpi baginya dapat memiliki butik sebesar ini. Namun, ini bukan miliknya, milik seorang gadis yang baru saja lulus di universitas ternama. Saudari tiri Amel, itulah Nindy, seorang gadis yang tengah melayani pelanggannya.
Bersama dengan seorang pria yang memakai pakaian wanita. Matanya menelisik, hingga sosok itu disapanya,"Kamu Nindy kan? Perkenalkan aku Marina, sahabat baik kakakmu,"
"Iya, tetangga kost kak Amel?" Nindy bagaikan mengingat-ingat kemudian senyuman menyungging di wajahnya.
"Boleh aku bicara denganmu?" tanya Marina. Matanya menelisik, menatap keberadaan putrinya yang kini memakai pakaian indah bagaikan peri kecil dalam gendongan Wina.
"Tentu..." gadis berotak cerdas itu tersenyum. Kewaspadaannya benar-benar meningkat saat ini. Mengetahui ibu kandung dari Sany telah berada di hadapannya saat ini. Entah firasat apa, tapi ada hal yang tidak baik dari orang ini.
"Kak Brandon akan menemaniku bicara," lanjutnya, menarik pemuda berpakaian wanita itu.
"B*jingan kecil..." kesal Brenda, membiarkan customer yang datang, dilayani pegawai lain. Dirinya telah lelah menghadapi Nindy dan pemikiran gilanya. Bagaimana tidak, bila ditolak gadis itu semakin menjadi-jadi. Pernah ada saatnya set pakaian dalam wanitanya, ditukar dengan boxer aneh bermotif ular oleh Nindy, ketika Brenda tengah mandi.
Benar-benar wanita menyebalkan yang tidak bisa diam...
***
Wina masih bermain dengan cucunya di area depan butik. Sedangkan ketiga orang itu berada di ruangan Brenda. Tiga cangkir teh hangat dihidangkan oleh pegawai butik.
"Kak Marina mau berbelanja kemari, atau meniru design?" pertanyaan menusuk penuh senyuman, mengawali percakapan mereka. Sifat Nindy? Berbeda dengan Amel yang baik hati, atau Glen yang idealis.
Gadis itu dapat dibilang wanita yang fokus pada satu tujuan, pandai menilai karakter orang lain. Satu lagi, tidak mudah untuk ditindas, mencintai kedua kakaknya, walaupun Glen maupun Amel hanya saudara tirinya.
"Jangan bercanda..." Marina tersenyum, tertawa kecil, menganggap Nindy bergurau.
"Aku tidak bercanda, tapi jika ada satu saja design kami yang kamu tiru. Aku tidak akan segan-segan membuatmu viral di media sosial," ucapnya tersenyum, membenci Marina? Tentu saja. Ibu yang memberikan putrinya sendiri pada orang lain, tau enaknya menanam kecebong, tapi tidak mau menjadi seorang ibu.
Satu kalimat terdalam untuknya dari dasar hati Nindy yang paling keji... Semoga Tuhan tidak mempercayakan malaikat kecilnya lagi untuk turun, pada rahim Marina. Membuang anak? Dasar wanita gila!! Bahkan ibuku membesarkan tiga orang anak dengan bermodalkan mesin jahit tua...
"Jangan begitu, aku sekarang bekerja di Bold Company, lagipula dari usia dan pengalaman, aku lebih baik dari andik kecil sepertimu," ucap Marina, meraih cangkir tehnya.
"Kita langsung saja, apa tujuanmu kemari...?" tanyanya.
"Aku tidak ingin Kenzo menjadi ayah dari putriku. Kamu ingat Gilang? Orang yang disukai kakakmu. Dia juga menyukai Amel, lagipula Kenzo seorang pengidap bipolar bagaimana jika Sany dianiaya suatu saat..." kata-kata Marina terhenti, wajahnya diguyur menggunakan teh hangat yang mengucur langsung dari teko.
"Aku tidak peduli, itu hidup kakakku. Siapapun orang yang dicintainya, mau tidak mau harus menjadi ayah dari Sany," ucapnya tersenyum.
"Nindy!!" Marina hendak menamparnya, namun tangan Nindy lebih cepat mencengkram pergelangan tangan Marina,"Jadi apa maumu dengan datang kemari..."
"Gilang akan menjadi ayah yang lebih baik, bujuk Amel untuk berpisah dengan suaminya. Jika tidak, aku akan mengambil Sany dari tangan kalian..." ancaman dari mulut Marina.
Raut wajah Nindy berubah, seketika terlihat cemas,"Kakak Kenzo adalah orang baik, bagaimana jika aku memberikan butik ini untukmu? Sebagai ganti kami memiliki Sany,"
Marina tertunduk, benar-benar butik impiannya. Berada di pusat kota, design interior yang menawan, ruangan pribadi untuk designer bahkan terdapat beberapa ruang ganti VVIP untuk kalangan atas.
Brenda mengenyitkan keningnya kesal, dengan suara baritonnya, makhluk jadi-jadian itu berbisik,"50% butik ini milikku!! Aku dapat menuntutmu untuk..." kata-kata Brenda tiba-tiba terhenti.
"Kak Brandon, jangan berbisik-bisik di leherku seperti itu, aku jadi ingin kan? Jika ingin menggodaku, langsung saja rebahkan aku di tempat tidur. Aku akan pasrah..." mulut dari seorang perawan yang tidak tahu malu. Membuat Brenda kehabisan kata-kata, setiap kalimat dari mulutnya, bagaikan setan penggoda.
Orang gila ini, aku... Benar-benar membencinya... geramnya, mencoba menetralkan rasa kesalnya.
"Aku mengerti jika kamu tidak bersedia menukar putrimu dengan butik ini jadi..." kata-kata Nindy disela.
Marina menjawab dengan cepat tidak ingin kehilangan kesempatan sekali seumur hidupnya. Impian yang mungkin akan menjadi nyata,"Aku tidak akan menuntut hak asuh Sany, aku bersedia menukar hak asuh, dengan butik ini. Mungkin ini yang terbaik untuk kami..."
Nindy menghela napas kasar, menatap tajam pada wanita di hadapannya. Kemudian mengutak-atik handphonenya, mengirim rekaman suara pada phonecell ibunya.
Dari tadi gadis itu merekam pembicaraan mereka. Picik? Begitulah Marina dimatanya, mementingkan masa depannya, tidak memikirkan anaknya, atau memikirkan Amel yang tidak berasal dari keluarga berada. Memberikan anak yang dianggapnya sebagai aib, kemudian mengambilnya kembali sesuka hati.
"Maaf, setengah dari butik ini, milik pacarku..." ucapnya mengecup pipi Brenda tiba-tiba.
Makhluk jadi-jadian itu segera berlari ke toilet ruangan tersebut. Membasuh wajahnya berkali-kali. Ingin rasanya mengumpat menggunakan kata... Sialan... pada Nindy.
"Kami tidak memerlukannya..." Nindy meminum teh di cangkirnya.
"Hah?" Marina mengenyitkan keningnya tidak mengerti.
"Kami tidak memerlukan putrimu. Menurut WHO hanya 8-10% pasangan di seluruh dunia yang memiliki kesulitan untuk mendapatkan keturunan. Hanya 8-10%, tidak mungkin kebetulan kakak dan kakak iparku, bukan? Jikapun iya, masih banyak anak yatim-piatu yang dapat mereka pilih untuk diadopsi. Kenapa kami harus hanya berfokus pada putrimu? Jika kamu mencemaskannya, bawalah pulang..." jawabnya tenang.
"Aku akan mengatakan ini pada Amel!!" Marina meninggikan intonasi suaranya.
"Katakanlah, aku juga akan mengatakan kamu meminta butik yang baru aku buka..." Nindy benar-benar tenang, tersenyum tanpa beban.
"Butik ini pemberian kakak iparmu bukan? Kamu menjual kakakmu untuk uang?" Marina tersenyum sinis.
"Aku menjual kakakku, memangnya kenapa? Apa kamu tau rasanya hampir dilecehkan? Tubuhmu dijilati orang yang menjijikkan? Apa kamu tau rasanya ketika melihat kakak laki-laki yang menyelamatkanmu terkurung di penjara!?" Nindy membentak, menatap tajam pada wanita di hadapannya.
"Aku tidak sepertimu yang dari keluarga menengah ke atas. Untuk kuliah saja aku tidak memiliki uang. Dengar, kamu lebih rendah dariku. Aku hanya adik tiri yang menjual kakaknya, sedangkan kamu ibu yang membuang anaknya demi karier..." lanjutnya.
Marina mentralkan deru napasnya, kemarahannya benar-benar diubun-ubun."Ini kartu nama Gilang. Untuk terakhir kalinya, aku berharap kamu menggunakan hatimu. Tidak membiarkan Sany dan Amel mendapatkan ayah dan suami yang buruk," ucapnya meletakkan kartu nama Gilang di atas meja.
"Aku tidak peduli, kakak iparku hanya Kenzo. Selain itu, aku tegaskan sekali lagi, jika kamu keberatan dengan pilihan kakakku, ambil putrimu kembali. Karena masih ada banyak anak yang memiliki nasib lebih malang untuk kami rawat. Pergilah..." Nindy membuka pintu ruangan Brenda, mengusir Marina.
Kesal? Tentu saja, walaupun dalam asuhan Wina, Sany dibesarkan dengan baik. Memiliki kamar anak yang indah, banyak mainan, sakit sedikit saja akan dibawa ke dokter spesialis anak. Kasih sayang? Walaupun tidak memiliki hubungan darah mereka menyayangi Sany.
Tidak ada yang kurang, apa Marina dapat membesarkan Sany lebih baik daripada mereka? Tentu saja tidak, wanita egois itu terlalu terpaku pada kariernya. Satu kecurigaan Nindy, mungkin Marina menginginkan Gilang untuk bersama dengan Amel demi meningkatkan jabatannya.
Marina melangkah pergi, dengan pakaian dan rambut yang basah. Meninggalkan area butik, hanya sekedar sedikit melirik putrinya yang tengah tertidur di pangkuan Wina.
Merindukan putrinya? Kita anggap saja begitu, tapi jika merindukannya, dan tidak rela sang putri diasuh oleh seorang ayah pengidap bipolar. Bawa anak itu pulang, asuh dengan tangan sendiri, lagipula Nindy telah mengijinkan nya, bukan?
Tapi, Marina tidak mengambil putrinya, tidak dapat membesarkan. Namun ingin ikut campur jalan hidup orang yang membesarkan putrinya.
***
Sementara itu di ruangan Brenda...
Nindy tengah sibuk mengutak-atik phoncellnya, memperlihatkan wajah rupawan seorang CEO di layar phonecellnya. Gilang, pria yang dahulu dicintai kakaknya.
Namun, saat ini Nindy akan melakukan apapun, agar Amel tidak meninggalkan Kenzo. Kenzo? Mungkin hanya dia yang membatu mereka kala rumah digeledah oleh keluarga almarhum Alwi. Kala mereka di hina, dengan kata-kata keluarga pembunuh, kala dirinya harus berfikir untuk mengubur cita-citanya.
"Kamu pernah hampir dilecehkan?" tanya Brenda yang baru datang. Samar-samar mendengar percakapan mereka dari kamar mandi.
"Iya, oleh ayah tiriku. Kakak laki-lakiku membunuhnya..." jawabnya, menghela napas kasar.
"Karena itu otakmu jadi mesum? Sering berfikir menjijikkan?" tanyanya kembali, duduk bersebrangan dengan Nindy.
"Otakku memang mesum, tau kenapa? Aku juga berasal dari rahim ibuku, dengan sel telur yang dibuahi ayahku. Tidak apa-apa berfikiran mesum, asalkan tidak menyerahkan tubuh, pada orang yang bukan bersetatus suami saja..." jawabnya kembali.
"Aku sering membaca novel, jika berciuman dengan orang yang dicintai jantung akan berdegup cepat, akan ada perasaan nyaman juga. Aku ingin mencobanya pada orang yang aku sukai..." lanjut Nindy antusias.
"Ciuman itu menjijikkan, entah air liurnya bekas makan apa atau..." kata-kata Brenda terhenti, Nindy dengan cepat menyambar bibirnya. Lidahnya dengan cepat menerobos masuk, tidak memberi kesempatan Brenda untuk melawan.
Jantung mereka berdegup dengan cepat, sentuhan lidahnya perlahan dibalas Brenda. Perasaan nyaman yang aneh menjalar, seiring pergerakan lidahnya.
Namun hanya sesaat, hingga bayangan tentang mulut mantan pengasuhnya yang tanpa busana, mengulum benda yang mengantarkan benih, membuat sang pria kekasih mantan pengasuhnya mengerang, memejamkan mata, menonggakkan kepalanya...
Sangat menjijikkan, membayangkan mulut gadis di hadapannya juga melakukannya, mengulum benda yang tidak seharusnya. Brenda segera mendorong tubuh Nindy. Berlari ke toilet, memuntahkan seluruh isi perutnya.
Trauma yang begitu terasa nyata hingga saat ini...
Nindy tiba-tiba ikut berlari ke toilet,"Kak Brandon muntah karena aku cium. Apa kakak hamil? Jika begitu aku akan bertanggung jawab..." gurauan dari mulut Nindy. Membuat Brenda tidak dapat berkata-kata, kekesalannya benar-benar diubun-ubun.
"Gadis br*ngsek!!" suara bariton menggelegar bagaikan petir itu akhirnya keluar juga, membuat Nindy melarikan diri dengan cepat. Usai mempertaruhkan ciuman pertamanya.
Tapi hamil? Apa benar Brenda muntah karena tengah hamil? Berarti Nindy harus bertanggung jawab.
Bersambung