My Kenzo

My Kenzo
Musim Kedua : Hatake Kakashi



"Tidak..." ucap Vanya gelagapan.


Dava hanya tersenyum, menghela napas kasar. Kembali makan dengan tenang.


Pasangan suami-istri yang saling melirik, merasa bersalah dan bingung saat ini.


Pagi kembali menyapa, hari ini dirinya kembali melangkah, memulai aktivitas paginya dengan berjalan kaki, mengingat rumahnya yang memang terletak dekat dengan taman hiburan.


Hingga seorang wanita bertubuh menggoda mengendarai mobil, menghentikan mobilnya di sampingnya."Mau aku antar? Dasar miskin tidak punya mobil..." Kiki yang entah ada angin apa membeli rumah dekat dengan rumah kontrakannya saat ini.


Dava mengenyitkan keningnya... Kenapa aku bisa mau pacaran dan bertunangan dengan idiot sepertinya? Bahkan menyerahkan surat tanah dan rumah... Mungkin dulu otakku sudah rusak... gumamnya dalam hati tidak mengerti.


"Tidak terimakasih, tempatku bekerja lumayan dekat..." ucapnya tersenyum.


"Apa benar wajahmu dioperasi? Semakin tampan saja, sayangnya cuma jadi badut..." tawa Kiki terdengar kencang.


Dava ikut tertawa,"Aku dengar dulu aku pernah menyentuh tubuhmu, membuatmu puas di ranjang. Apa kamu belum menikah dengan pacar kayamu hingga sekarang, karena menginginkanku? J*lang murahan..."


"A...a...aku tidak...!!" kata-kata Kiki yang terlihat gugup terhenti, pemuda itu telah berjalan menjauh.


"Kamu benar, aku menyukaimu, terutama semenjak wajahmu berubah. Aura yang mendominasi...aku ingin dikuasai di tempat tidur..." gumamnya gemas. Bukan sosok Dava si anak manja yang selalu memberinya uang namun sosok Dava dengan wajah berbeda. Pria mandiri yang tidak mudah ditindas, tidak mudah didapatkan.


"Bad boy ..."gumamannya tersenyum, mulai melajukan mobilnya.


***


Tidak banyak aktivitas yang dilakukannya, hanya menghibur anak-anak di taman bermain. Saudara? Anggaplah tidak punya, jika hanya seorang saudara sepupu manager taman hiburan yang tidak memberinya pekerjaan sesuai ijazahnya.


Dava hanya dapat menghela napas berusaha bersabar. Sebagai kalangan bawah, hanya harus menunduk saat menunduk dan melawan jika harus. Tidak memiliki kekasih? Diusianya saat ini bisa disebut bujang lapuk, bukan?


Bukannya tidak ada yang menyukainya, namun dirinya entah mengapa tidak ingin. Tidak memiliki keinginan untuk mendekati wanita, bagaikan sebuah kutukan. Kutukan? Kita anggap saja sebagai janji masa kecil seorang Kenzo pada Fero.


Hingga kini, wajahnya yang rupawan tersengat cahaya matahari. Mengumpulkan uang adalah prioritas utamanya untuk membeli rumah agar kedua orang tuanya dapat hidup dengan layak.


"Kali ini kamu menjadi Hatake Kakashi (salah satu tokoh animasi Jepang. Seorang ninja yang sebagian wajahnya tertutup masker), kita ikut konsep event cosplayer," ucap sahabatnya memberikan kostum.


Dava perlahan membuka pakaiannya, tiga bekas luka terlihat disana. Punggung, dada dan pundaknya, bukan bekas luka memanjang. Namun, bagaikan bekas luka tembakan.


"Badanmu bagus juga ya? Tapi sayangnya banyak bekas lukanya!! Sebaiknya tutupi dengan riasan..." teman pemuda itu tersenyum, memberikan peralatan untuk menutupi bekas lukanya.


"Kata orang tuaku karena terkena baling-baling kapal Ferry. Wajahku juga banyak berubah," ucapnya tersenyum, mulai mengoleskan riasan di tubuhnya, sebelum memakai kostum yang disediakan.


"Aneh, itu bukan seperti luka terkena baling-baling kapal. Tapi luka tembakan, kakakku pernah tertembak peluru nyasar jadi aku tau..." ucap temannya tersenyum, tengah merias wajahnya di depan cermin.


"Mungkin aku dulu sering melakukan misi menghancurkan jaringan mafia seperti di film-film..." Dava bergurau, mulai memakai pakaian dan rambut palsu melengkapi penampilannya. Sembari tertawa kencang.


"Jangan banyak berkhayal, dulu kamu anak nakal pembuat masalah. Lulus dengan IPK pas-pasan, sering mabuk-mabukan bersama Kiki, menghambur-hamburkan uang tidak pernah bekerja. Bahkan video syur kalian pernah tersebar..." kata-kata teman Dava yang memang dulu satu universitas dengan Dava asli terhenti.


Dava menutup mulut temannya menggunakan tangannya,"Hentikan!! Aku sudah menonton videonya, walaupun berbeda dengan wajahku saat ini. Tapi itu benar-benar memalukan..."


Temannya yang memakai pakaian tokoh animasi Naruto, melepaskan bekapan tangan Dava,"Tapi syukurlah ada baling-baling bambu Doraemon yang melukaimu. Otakmu yang oleng karena Kiki jadi waras, bahkan sekarang terlalu berbakti pada orang tuamu. Wajahmu juga berubah dari terakhir kita bertemu saat wisuda. Lebih tampan, banyak wanita yang kagum padamu. Omong-ngomong apa karena baling-baling bambu pisangmu tidak berfungsi?" tanyanya melirik pangkal paha Dava. Mengingat pemuda itu masih belum menikah hingga sekarang.


"Masih berfungsi, tapi belum menemukan sarang yang cocok..." gumamnya mengenakan softlens sembari tertawa.


***


Sementara itu di tempat lain, sarang yang cocok, eh salah maksudnya Amel tengah berjalan di area kedatangan penumpang. Diikuti sepasang anak kembarnya, serta Scott dan Steven.


Tujuan? Mencari informasi lebih banyak tentang Kenzo. Pasalnya ada orang yang memanfaatkan nama itu untuk bersenang-senang dan melakukan transaksi bisnis. Mereka hanya sesekali kembali ke villa, tinggal beberapa minggu kemudian kembali berangkat.


Alasan? Amel tidak ingin tinggal berlama-lama, semenjak Kenzo tidak ada, wanita itu menjadi gila kerja. Tidak menjabat sebagai CEO atau komisaris namun dirinya ikut serta mengembangkan perusahaan yang lebih dari 60% sahamnya dimiliki suaminya.


Perusahaan yang semakin berkembang saja setiap tahunnya. Perusahaan yang ditakuti perusahaan lain, bukan karena CEO-nya yang kompeten atau komisaris yang mampu mengendalikan pemegang saham. Tapi karena keluarga pemilik perusahaan yang ditakuti, terutama nama Kenzo yang selalu mereka pergunakan. Walaupun sudah 7 tahun berlalu, wujud pemuda itu tidak pernah terlihat juga.


"Mama, nenek dan Sany tidak menjemput kita?" tanya Febria.


"Tidak, Sany hari ini harus sekolah. Nenek kalian menungguinya..." Amel, mengacak-acak rambut Febria.


"Sudah berusia 9 tahun, masih seperti anak taman kanak-kanak. Dia terlalu manja," keluh Ferrell.


"Bagaimanapun Sany adalah kakak kalian. Hormati yang lebih tua, tapi jangan tunduk dan mengalah. Sayangi dia, tapi jangan ikut memanjakannya..." nasehat aneh dari seorang ibu pada kedua anaknya.


Amel tidak dapat terus-menerus kembali untuk menjaga Sany. Membawa Sany ikut ke negara lain dengan mereka, pernah dilakukannya. Namun, hasil akhirnya, anak itu merengek ingin kembali pada Wina, bagaimanapun Amel dan anak-anaknya memperlakukannya dengan baik.


Hingga dua unit taksi online yang dipesannya sampai. Melaju mengantarkan mereka menuju villa, tempat bulan madunya dengan Kenzo dahulu.


Villa dengan pemandangan yang asri. Penjaga villa merawatnya dengan baik, dua remaja dan dua orang anak itu mulai bergerak cepat, berlomba memilih kamar terbaik di villa tersebut.


Satu persatu barang dimasukkannya ke dalam lemari pakaian. Amel menghela napas kasar menghapus air matanya, hingga suara ketukan pintu terdengar.


"Mama..." Steven berlari ke arahnya, kemudian berbisik,"Hari ini ulang tahun Ferrell dan Febria..."


"Sial aku lupa!!" Komat-kamit ibu itu kebingungan, menghubungi toko kue serta persiapan seadanya. Mengingat limit waktu yang singkat.


Hingga Steven kembali menghentikannya. "Mama, aku boleh memesan cosplayer tidak?" tanyanya tersenyum.


"Cosplayer?" Amel kembali memastikan pendengarannya.


"Iya, semacam menirukan tokoh animasi atau fiksi. Ferrell diam-diam menyukai Hatake Kakashi (salah satu tokoh animasi Jepang) dan aku menyukai..." kata-kata Steven terhenti, Amel menatap tajam padanya.


"Kamu yang menyukai cosplayer atau Ferrell?" tanyanya curiga.


"Aku dan Ferrell..." jawab Steven antara jujur dan tidak.


***


Tidak memiliki pilihan lain, dirinya menyetir mobil sewaan. Membeli kue, hiasan seadanya, hingga berakhir melewati taman hiburan yang mengadakan event cosplayer. Dimana banyak tokoh orang berpakaian ala animasi berkeliaran. Selain memang pegawai taman hiburan tentunya yang juga diwajibkan.


Amel menginjak rem mobilnya, memarkirkan mobilnya asal, bertanya pada karyawan disana,"Ada cosplayer yang berperan menjadi Hatake Kakashi dan Uchiha Sasuke?" tanyanya mengingat nama tokoh animasi yang dipesan kedua putranya.


"Ada nona ingin berfoto?" tanyanya.


"Tidak, aku ingin menawarkan untuk menyewa malam ini saat ulang tahun anakku..." ucapnya.


"Tunggu sebentar ya..." sang pegawai wanita berpakaian wanita kucing yang cantik, berjalan menembus kerumunan. Hingga datang bersama dua orang pemuda.


"Ini teman saya, sesama pegawai disini juga. Mungkin mereka mau, maaf saya ke dalam dulu..." ucap sang pegawai wanita.


"Begini apa kalian mau menghadiri acara ulang tahun kedua anakku? Aku janji bayarannya lumayan tinggi..." ucap Amel bicara dengan cepat, masalahnya waktu untuk mempersiapkan segalanya terlalu sempit.


"Berapa?" tanya pemuda yang memakai masker yang menutupi separuh wajahnya. Mengenakan kostum ala Hatake Kakashi.


"500.000..." Amel menawar.


"Setuju!!" orang yang berpakaian ala Uchiha Sakuke menjawab dengan cepat terlihat antusias. Mendapatkan pekerjaan sampingan, dengan bayaran beberapa jamnya yang lumayan.


"Tunggu..." Dava yang memakai kostum Hatake Kakashi dengan masker menutupi separuh wajahnya tidak setuju, mengenyitkan keningnya, menatap penampilan Amel dari atas sampai bawah. Radar sumber uangnya bagaikan bereaksi."2.000.000 per orang..." tawarannya.


Mau memeras ku? Tidak segampang itu... Amel mengenyitkan keningnya kesal, masih berusaha untuk tersenyum.


"550.000..." ibu dua anak itu menawar.


Dava ikut mengenyitkan keningnya... Wanita menyebalkan, lumayan tangguh juga...


"1.975.000," Dava mulai lebih pelit lagi, entah kenapa bibirnya yang tertutup masker tersenyum. Bagaikan terhibur menatap wanita perhitungan di hadapannya.


Amel terlihat benar-benar serius kali ini, pasalnya waktunya cukup sempit,"600.000!!" bentaknya.


"1.950.000" Dava kembali tersenyum cerah dibalik maskernya.


"700.000!! Dasar br*ngsek!!" geram Amel.


"1.925.000," ucap Dava tenang.


Amel belum menyadarinya, sedikit familiar baginya. Rasa kesal yang benar-benar diubun-ubun bagaimana pun dirinya mentralkan tetapi tetap sulit. Kekesalan yang berasal dari satu sumber, namun dilupakannya.


"Kalian seperti pasangan suami istri yang sedang menawar uang saku suaminya..." pemuda berpakaian Uchiha Sakuke tertawa kecil.


"A...a...aku dasar ibu-ibu aneh!!" Dava entah kenapa gelagapan, tiba-tiba membentak.


"1.000.000 terima atau tolak!? Siapa yang mau punya suami perhitungan sepertimu!! Aku bisa membayangkan yang menjadi istrimu kaya atau miskin pasti super pelit!!" Amel ikut meninggikan intonasi suaranya.


"Oke!! 1.000.000 deal!!" Dava mengulurkan tangannya, hendak berjabat.


"Deal!!" Amel menyambut jabatan tangannya. Beberapa lama, keduanya terdiam sejenak merasa ada yang janggal.


Hingga Amel menetralkan dirinya, kemudian memberikan alamat villanya pada teman Dava yang memakai costplay Uchiha Sasuke.


Mobil wanita itu mulai melaju, bersamaan dengan Dava yang membuka maskernya. Memegangi dadanya, darahnya berdesir, jantungnya berdegup cepat tidak terkendali hingga saat ini. Hanya dengan menyentuh tangannya rasanya seperti ini? Tidak dipungkiri mungkin sosok Kenzo masih ada dalam dirinya.


Bersambung