My Kenzo

My Kenzo
Musim Keempat : Ditolak



Dua orang yang duduk di kursi penumpang bagian belakang saling menoleh. Menatap punggung sahabatnya yang terlihat mulai mengenakan headset, mendengarkan musik. Beberapa saat kemudian suara notifikasi tanda pesan masuk terdengar.


Ferrell meraih tasnya mengeluarkan phonecellnya. Dan lambang apel digigitlah yang terlihat."Gadis genit sudah sampai di rumah...aku juga mencintaimu..." gumamnya tersenyum-senyum sendiri membalas pesan yang diterimanya dari Glory.


"Gadis genit?" Budi mengenyitkan keningnya tidak mengerti, sifat yang berubah ditambah dengan mobil yang mereka naiki ini pastinya berharga tidak murah. Dan handphone itu...


"Dia crazy rich?" bisik Ira dengan suara kecil.


Budi mengangguk tertegun, menatap teman mereka yang penampilannya terlihat bagaikan kalangan menengah ke bawah.


Hingga mobil melaju, memasuki kediaman yang cukup besar, seorang security membukakan pintu gerbang, tidak kalah heran lagi. Bahkan rumah Grisella, yang terletak di sebelah rumah Glory tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rumah besar di hadapan mereka.


Beberapa mobil terlihat di garasinya, memasuki pekarangan luas yang dilengkapi dengan gazebo yang cukup besar. Rumah megah berlantai tiga. Tentu saja, semua dirawat dan disediakan oleh Damian kala keluarganya berkumpul, mengingat kesibukan mereka masing-masing yang tidak tinggal menetap di satu negara. Cicit? Mereka telah memiliki banyak cicit hingga area permainan anak lengkap berada di sana.


Keluarga yang lengkap, cukup sering mengunjungi mereka. Namun waktu pasti berkumpul untuk anak, menantu, cucu-cucu dan cicit-cicitnya hanya saat tahun baru dan perayaan hari besar.


Seorang pelayan berlari dari dalam, membukakan pintu, meraih tas Ferrell, serta tas mereka, berjalan memasuki pintu utama yang cukup besar. Hingga mata mereka menelisik, benar-benar seperti tempat syuting film. Lampu kristal yang cukup besar tergantung disana. Sofa berwarna krem yang cukup luas dan nyaman.


"Ken ini rumahmu?" tanya Budi menyusul langkahnya.


"Ini rumah kakekku, aku ingin membeli rumah sendiri. Tapi tidak ada yang menemani mereka, karena itu aku menumpang hidup jadi benalu tinggal disini..." gumamnya tertawa, menertawakan dirinya sendiri.


Budi mengenyitkan keningnya."Jadi kakekmu konglomerat?"


"Jangan dibahas, kita disini untuk makan," jawaban darinya.


Hingga pada akhirnya mereka sampai di ruang makan dengan belasan kursi berjejer rapi di hadapan meja yang kokoh. Dekorasi berupa buah dan bunga berada di tengahnya, seorang pelayan profesional terlihat menata meja.


Hingga seorang wanita tua membawa hidangan lobster serta undang yang dimasak dengan kentang. menyajikannya diatas meja. Perlahan tangan Ken merayap ingin meraihnya.


Plak...


"Mandi dulu..." perintah dari Vanya, mengenakan pakaian yang cukup sederhana namun dengan warna dan motif tidak mencolok, tubuhnya terlihat masih cukup sehat untuk wanita seusianya.


"Iya," Ferrell menghela napas kasar, beralih menatap kedua temannya, menunjuk ke sebuah pintu coklat."Tunggu disini, jika bosan di sana ada home teather..."


Budi dan Ira sama-sama mengangguk masih mencerna segalanya. Anak orang kaya? Salah satu teman mereka selain Lily adalah anak orang kaya? Bahkan mengalahkan yang dimiliki Grisella? Mereka sedang tidak bermimpi kan?


"Nama kalian siapa? Untuk pertama kalinya bocah kaku itu membawa teman kemari, duduklah disini sementara meja makan masih di tata," ucap Vanya, menuntun mereka untuk di sofa.


Perlahan Budi mulai duduk terlihat canggung, melirik ke arah Ira yang juga sama canggungnya. Dua gelas mix juice dingin dihidangkan pelayan, lengkap dengan dua porsi cheese cake."Saya Ira dan ini Budi," jawabnya.


"Duduklah dulu, sudah lama rumah ini tidak kedatangan tamu. Kecuali rekan bisnis Damian..." keluh Vanya tersenyum, menatap dua orang remaja yang manis dan sopan menurutnya."Kalian disini sebentar, nenek harus mengurus dapur..."


Dua orang remaja itu mengangguk sopan, kemudian menghela napas kasar."Nenek? Biasanya orang kaya ingin dipanggil oma, atau grandma..." Budi mengenyitkan keningnya.


"Terserahlah, yang penting ini mengejutkan!!" Ira meraih gelas juicenya meminumnya langsung tanpa menggunakan sedotan. Masih dalam keadaan syok mental.


Hingga Ira mulai bangkit, beberapa foto keluarga terpajang di sebuah rak kayu. Satu persatu diamati olehnya. Ada beberapa foto anak kembar dengan orang tua dan kakak-kakak mereka. Namun ada yang aneh, mereka terlihat dari ras yang berbeda, sedangkan hanya sepasang anak kembar dan orang tua mereka yang terlihat memiliki ras serupa.


Satu persatu foto diamatinya hingga."Ferrell! Budi! Ada foto Ferrell!" panggil Ira pada sahabatnya yang masih sibuk membungkus cheese cake milik Ira menggunakan tissue.


Budi segera bangkit mendekati Ira, mengamati beberapa foto yang berada di sana."Mungkin Ken atau keluarganya Fans berat Ferrell..." jawabnya enteng.


"Tapi tidak ada foto Ken disini," Ira mengenyitkan keningnya tidak mengerti.


"Dia mungkin tidak suka di foto..." ucapnya menarik tangan Ira agar kembali duduk di sofa. Beberapa belas menit berlalu, dua orang remaja itu kembali sama-sama sibuk dengan phoncellnya.


Hingga seorang pemuda turun dengan makeup spesial efek yang telah menghilang. Menampakan wajahnya yang sebenarnya, rambut setengah kering, menggunakan celana jeans dan kaos putih bermerek, tentunya didapatkannya cuma-cuma sebagai brand ambassador produk.


Terlihat rupawan dengan senyuman dinginnya. Melangkah mendekati kedua orang remaja yang tidak menyadari kehadirannya."Maaf kalian jadi lama menunggu,"


"Tidak apa-apa," Budi menoleh sejenak, kembali mengirimkan pesan di phoncellnya. Namun sesaat kemudian menyadari ada hal yang janggal.


"Ferrell?" pekiknya, terkejut menepuk-nepuk pundak Ira.


Ira menoleh pada Budi, yang menunjuk ke depan mereka. Gadis itu tertegun diam menjatuhkan phoncellnya, benar-benar Ferrell, orang yang berdiri di hadapannya benar-benar Ferrell. Pangeran pesugihan, yang dibicarakan Glory, pria berprestasi meraih gelar Doctorate di usia 19 tahun, dan tahun ini telah berusia 21 tahun, memiliki rumah sakit sendiri. Penyanyi yang tengah naik daun, namun beberapa minggu ini jarang tampil di TV, bagaikan menghilang.


"Fe... Ferrell?" gumamnya.


Ferrell menghela napas kasar."Ayo kita makan," ucapnya, memimpin jalan kedua remaja itu kembali ke ruang makan.


Ira mulai mendekati Budi kemudian berbisik,"Dia Ferrell? Apa Ken adiknya Ferrell?"


"Mungkin, sedikit mirip dari bentuk tubuh, tapi wajah dan warna kulit jauh berbeda..." jawabnya ragu.


"Mereka kakak beradik yang menyukai wanita sama. Namun, sang adik yang berakhir mendapatkan Glory. Aku jadi ingin punya pacar..." sindirnya secara halus pada Budi.


Namun, pemuda itu tidak bergeming, berjalan melewati Ira."Makanya cari pacar..."


"Tidak peka..." Ira menatap jenuh, mengikuti langkah Budi.


Mereka mulai duduk dengan canggung, berbagai hidangan terlihat disana. Vanya dan Ferrell makan tanpa ragu sedikitpun. Sedangkan Budi sesekali melirik ke arah tangga menunggu kedatangan Ken yang tidak kunjung turun.


Ira menghela napas kasar, setelah makan beberapa suap."Kak Ferrell, maaf soal Glory yang menolakmu..." ucapnya tidak ingin ada dendam antara kakak sempurna dan si adik buluk.


Seketika Ferrell terbatuk-batuk tersedak, bahkan sempat mengeluarkan air dari hidungnya. Dengan segera meraih segelas air dan tissue.


Vanya menjatuhkan garpunya terdiam sejenak, hingga suara tawa lepas dari sang nenek terdengar."Dokter kaku menyatakan cinta, lalu ditolak? Pantas saja selimut dan sprei kamarmu tidak ada noda darahnya..."


Bersambung