My Kenzo

My Kenzo
Bunga Hydragea



Dinginnya udara malam membuatnya terbangun, matanya menelisik menyadari ketidak beradaan suaminya. Perlahan Amel bangkit, melilitkan handuk di tubuh polosnya.


Berjalan memasuki kamar mandi, membersihkan dirinya. Tanda keunguan yang dibuat suaminya semakin banyak saja pada tubuh putihnya.


Amel terdiam sesaat, dalam bathtub yang dipenuhi busa. Perlakuan suaminya masih diingatnya, sentuhannya benar-benar membuat Amel menggila. Apa begini rasanya?


Hatinya berdebar tiada henti, tidak disangka dirinya berakhir menyerahkan diri pada makhluk penindas gila. Pemuda yang benar-benar memanjakannya.


***


Beberapa belas menit berlalu, seprei sudah kembali di ganti, pakaian mereka yang berserakan juga telah tidak berada di lantai. Namun, siapa yang melakukannya? Apa tadi Kenzo masuk ke kamar?


Amel menghela napas kasar, menggunakan lotion di tubuhnya, mini dress dikenakannya. Pakaian terkutuk yang berikan Nindy? Tentu saja wanita itu tidak akan menggunakannya.


Perlahan melangkah menuruni tangga, mengenyitkan keningnya, menatap adanya keanehan. Balon-balon pink berbentuk hati ada dimana-mana, di tengah ruangan bahkan ada kelopak bunga mawar dibentuk dengan lambang hati, hingga Amel menghela napas kasar. Foto dirinya yang dicetak besar mungkin 1,5x1 meter berhiaskan bunga.


"Apa aku sudah jadi almarhum?" gumamnya, mengenyitkan keningnya, tidak henti-hentinya menatap foto raksasa dirinya sendiri. Foto yang benar-benar dikelilingi banyak bunga. Bagaikan foto duka cita, dari almarhum yang ditinggalkan.


Sedangkan di salah satu pojok ruangan, suaminya tengah duduk dengan tampilan mempesona, memangku sebuah gitar akustik. Mata tajam yang menatap ke arahnya, senyuman yang menaklukkan hati wanita manapun. Hingga gitar akustik mulai dimainkannya. Di hadapan Kenzo saat ini ada sebuah buku lagu kecil.


Nada awal yang sempurna, kemudian mulai kacau. Hingga beberapa kali Kenzo yang sejatinya tidak pernah menyentuh gitar mencoba memainkannya. Tujuannya? Ingin menarik perhatian istrinya. Namun sepertinya gagal total.


Pemuda itu, mulai kembali berusaha, tertunduk,"Maaf, akan aku ulangi..."


Hingga kembali salah memaikan nada lagi,"A... aku akan mengulanginya..."


Kenapa sulit, memainkan benda sialan ini... gumamnya dalam hati. Kembali mencoba dan mencoba, tidak ingin istrinya memikirkan pria lain, hanya boleh dirinya. Jika aku berusaha dia akan mencintaiku...


Jemari tangan yang tidak terbiasa memetik senar pada akhirnya tergores, darah sedikit menetes dari lukanya, "A... akan aku ulangi," ucapnya kembali, setelah memainkan nada yang salah.


Namun, tanpa diduga Amel meninggalkannya kembali ke kamar. Jemari tangan Kenzo mengepal, kecewa? Tentu saja dirinya kecewa pada kemampuannya sendiri. Wanita seusia Amel menyukai pria yang pandai bermain gitar, setidaknya itulah yang tertulis dalam salah satu forum diskusi di Internet yang baru diikutinya.


Tapi Amel pergi setelah mendengar permainan gitarnya yang kacau. Mungkin jenuh akan dirinya yang memang menjadi suami hanya karena rasa terimakasih.


Bagaimana caranya merebut hati istrinya? Kenzo terdiam, tertunduk bingung tidak tahu harus bagaimana lagi. Hingga jemari tangan yang dikenalnya mengoleskan obat luka padanya.


"Kenapa bermain gitar jika tidak bisa?" tanyanya.


"Agar kamu tersenyum hanya padaku, tidak pada orang lain..." ucapnya menatap mata Amel.


Amel tertawa kecil,"Tidak perlu begini, disana ada piano. Kamu membelinya karena bisa memainkannya bukan? Kenapa harus belajar bermain gitar," wanita itu membalut lukanya dengan plaster kemudian tersenyum,"Selesai,"


"Wanita seusiamu akan menyukai pria yang pandai bermain gitar. Jadi aku..." kata-kata Kenzo disela.


Istrinya tertawa kencang memegangi perutnya, bahkan hingga terduduk lemas di lantai. "Jadi ini semua untuk menyenangkan ku?" tanyanya lagi, dijawab dengan anggukan oleh Kenzo.


Sedangkan Amel kembali tertawa tiada henti,"Fotoku dikelilingi bunga, seperti upacara pemakaman..."


"Aku juga berfikiran begitu, tapi orang-orang di forum mengatakan itu romantis," jawabnya polos.


Amel, menghela napas kasar berusaha menetralkan tawanya,"Jangan menyamakan kita dengan orang lain, kelopak bunga dan foto berukuran besar, hanya akan menggangu waktu kita bersama. Kita harus menyapu dan membereskannya, sama seperti gitar ini, hanya akan melukai tanganmu..."


"Aku mencintaimu..." lanjutnya. Mengecup bibir suaminya.


"Aku juga," pada akhirnya Kenzo dapat tersenyum.


"Kita makan apa? Aku lapar..." Amel mulai memegangi perutnya.


"Aku memesan dua porsi spaghetti, dan satu botol wine secara online. Tapi belum sampai, hingga sekarang..." Kenzo menghela napas kasar, telah mempersiapkan meja beserta lilinnya. Menganggap Amel akan menyukai makan malam romantis, hanya mereka berdua, seperti yang ada di forum, cara untuk merebut hati wanita.


"Kita buat mie instan, batalkan saja pesanan spaghetti dan winenya," ucap Amel menarik jemari tangan suaminya ke dapur.


***


Makan malam romantis? Amel yang kagum padanya? Tidak, tidak ada makan malam romantis, hanya memakan dua mangkok mie instan penuh senyuman.


Namun, rasa kagum wanita itu semakin dalam pada suaminya. Mengapa? Bukan hal memikat, serta perbuatan romantis yang membuatnya mencintai Kenzo. Namun, kesungguhan pemuda yang membawa retakan kue saat ulang tahunnya tanpa mempedulikan tubuhnya yang terluka.


Kenzo... pemuda yang membuatnya kembali percaya dengan arti rasa kasih sesungguhnya. Pria dingin dengan hati yang paling hangat.


Pemuda yang kini bersetatus suaminya itu berusaha tersenyum,"Malam ini kita berangkat ke suatu tempat. Agar saat pagi sudah sampai..."


"Kemana? Aku tebak, pantai kan? Melihat matahari terbit?" Amel mengenyitkan keningnya tertawa kecil, mengingat tempat kencan yang mungkin akan disebut romantis oleh orang-orang.


Aku tidak begitu menyukai pantai, membersihkan kaki dari pasir. Belum lagi, sinar matahari yang menyengat... tapi aku tidak akan mengecewakannya... tekat Amel.


Kenzo tersenyum padanya,"Bukan, tapi kali ini aku tidak menemukan tempatnya di forum. Aku mencari tempat ini dengan memikirkan hal yang kita sukai..."


***



Beberapa jam perjalanan, bahkan sempat memarkirkan mobil mereka hanya untuk tidur. Akhirnya hamparan bunga hydragea terlihat, kala matahari mulai terbit.


Tetesan embun di udara yang dingin, membasahi bunga indah terkena cahaya tipis dari sinar matahari.


Pasangan yang berjalan perlahan saling merangkul dalam udara dingin."Suka?" Kenzo tersenyum padanya.


"Iya..." Amel tertawa kecil.


"Tunggu sebentar," pemuda itu berlari memasuki hamparan tanaman bunga. Entah apa yang dicarinya.


Amel menghela napasnya sembari tersenyum, menggosok-gosokkan jemarinya yang dingin. Tempat yang indah baginya, lebih indah dari pantai di pagi hari.


Bunga hydragea putih akhirnya terlihat di hadapannya.



"Aku tidak membeli, aku mencurinya di kebun orang..." pemuda itu tertawa, menertawakan perbuatan tercelanya.


"Suamiku, si pencuri," Amel tersenyum, meraih bunga putih yang terlihat indah. Matanya menatap lekat pada suaminya.


"Aku mencintaimu..." lanjutnya. Mengalungkan tangannya pada leher Kenzo, mata yang terlihat sayu menyerahkan segalanya, mulai berjinjit, memejamkan matanya.


Bibir mereka bertaut perlahan, tangan Kenzo kini berada di pinggang Amel, menahan tubuhnya di tengah udara dingin. Tanpa terasa lidahnya saling membelit memberikan kepuasan dan rasa nyaman.


Sapuan lidah itu terhenti, mata saling menatap di tengah hamparan bunga hydragea. Sinar tipis matahari bagaikan mengintip, pasangan yang tiada hentinya menunjukan rasa kasih mereka.


"Aku menginginkanmu..." ucapnya dengan deru napas tidak teratur.


"Aku juga..." Amel tersenyum, mengecup sekilas bibir Kenzo. Menariknya ke dalam mobil yang terparkir di tengah perkebunan luas di pagi yang dingin.


Belum ada penduduk yang melintas, hanya mereka yang memasuki kursi penumpang bagian belakang. Menikmati segalanya, kala seluruh tubuh mereka bagaikan menyatu di ruangan sempit yang dingin.


Bunga hydragea putih dijatuhkan Amel di kursi penumpang bagian depan, bersama dengan pakaian mereka yang berserakan.


Bunga Hydragea bermakna, maaf ....


Karena aku ingin kamu memaafkan ku, menjadi suami yang tidak sempurna, menjadi kekasih yang tidak romantis...


Maaf, aku akan tetap egois, menahanmu dalam kebahagiaanku sendiri...


Amel masih berada di pangkuan suaminya merasakan penyatuan mereka, tubuh bagian atasnya tidak ada hentinya dimainkan, digagahi. Hingga dirinya melenguh tiada henti, merasakan lemas, kala rasa hangat dalam penyatuan tercipta. Memberikan sensasi rasa kepuasan, berdenyut mengantarkan benih-benih kecil.


Kapan mereka akan memiliki keturunan? Siapa yang akan tau, makhluk keji seperti apa yang akan terlahir. Namun yang pasti, anak yang terlahir sejatinya malaikat kecil yang dititipkan Tuhan pada mereka.


Dua pasang jemari tangan yang entah dapat atau tidak merasakan kasih sayang ayahnya.


***


Sementara itu di tempat lain, Nindy mengenyitkan keningnya kesal. Model wanita untuk pemotretan pasangan katalog butik mereka terlambat datang, bukan beberapa menit, tapi sudah satu jam.


"Aku yang akan turun tangan untuk pemotretan!!" kesalnya, mengambil pakaian couple wanita membawanya ke ruang ganti.


Cantik? Tentu saja, wajah rupawan seorang gadis berusia 20 tahun. Tubuh yang indah, saling merangkul dengan model pria yang memiliki aura maskulin. Pasangan yang sempurna.


"Wanita murahan yang menggoda banyak pria..." kata-kata cibiran dari mulut Brenda, menatap pasangan serasi, pria dewasa yang maskulin dengan Nindy memiliki wajah cantik yang terkesan manis.


Hingga tiba saat berganti pakaian, gadis itu berjalan melewati Brenda. Namun, tangan makhluk jadi-jadian itu, tiba-tiba menghentikannya."Kenapa kamu jadinya yang mengikuti pemotretan!? Seharusnya model yang kita sewa, bukan? Lagi pula kenapa harus dekat-dekat? Kamu sengaja ya supaya model prianya menyentuhmu!!" geramnya bagaikan ibu-ibu kompleks yang anak gadisnya pulang pada pagi hari diantar seorang pria.


"Model wanitanya belum datang jadi aku yang gantikan sementara. Tapi kenapa kak Brandon jadi sensitif? Atau jangan-jangan..." Nindy dengan sengaja menghentikan kata-katanya.


"A...aku tidak cemburu!!" ucap Brenda cepat gelagapan.


"Siapa yang bilang kak Brandon cemburu. Aku cuma mau bilang, katanya orang hamil sensitif. Mungkin kakak menjadi lebih sensitif karena mengandung anakku..." ucapnya mengelus perut Brenda kemudian melarikan diri secepat mungkin. Mengunci dirinya dalam ruang ganti.


"Ha... hamil!! Bocah menyebalkan itu, benar-benar membuatku kehabisan kata-kata..." geramnya.


Bersambung