
Seorang pemuda menonggakkan kepalanya, menatap ke arah bintang. Kemudian menghela napas kasar,"Jadi nama lengkapmu Amel Anggraini? Usiamu bahkan lebih muda dari Seina, andai jika dia masih hidup hingga sekarang..."
Amel mengangguk, memperlihatkan foto dirinya yang memang gemuk semenjak Sekolah Menengah Pertama. Kemudian kembali memasukkan phoncellnya, tidak membaca belasan pesan yang dikirimkan serta tidak mengangkat puluhan panggilan dari Kenzo. Alasannya? Isi pesan, semuanya adalah omelan.
"Handphonemu berbunyi lagi, tidak mengangkatnya?" Tatewaki mengenyitkan keningnya.
"Tidak, dia hanya akan terus mengomel. Tanpa sebab..." ucapnya.
"Dia hanya cemas," Tatewaki kembali melanjutkan langkahnya bersama Amel.
Tempat pemakaman? Disanalah mereka saat ini setelah menempuh sekitar satu jam perjalanan menggunakan mobil.
"Cemas?" tanya Amel mengenyitkan keningnya.
Tatewaki mengangguk,"Dia memperlihatkan perasaannya dengan cara yang berbeda. Tidak semua pria pandai merayu dengan berkata-kata manis, membelikan banyak hadiah. Ada beberapa diantaranya yang menunjukkan perhatian mereka dengan sikap posesif,"
Amel menghela napas kasar,"Posesif? Bukankah berarti mengekang pasangan? Lagipula hubungan kami sebenarnya hanya pelayan pribadi dan bos-nya,"
"Posesif, bisa berarti melindungi. Apa kamu nyaman, merasa diperhatikan olehnya yang menghubungimu berkali-kali? Apa kamu merasa nyaman saat Kenzo selalu ada di sampingmu?" tanya Tatewaki menatap ke arah Amel.
Gadis itu menunduk, terdiam sejenak, mengingat segalanya. Untuk pertama kali, dirinya dibela saat keluarga almarhum Alwi mengacak-acak rumah mereka. Seperti payung, melindunginya memberikan rasa aman.
Satu-satunya pria yang mempercayainya, bahkan saat dirinya belum menjelaskan sedikitpun. Amel menghela napas kasar, dirinya menyadari perasaan itu ada. Menyukai tindakan-tindakan posesif dari Kenzo. Mulai selalu menginginkan keberadaannya. Tapi apakah Kenzo bersungguh-sungguh padanya?
Tanah pekuburan yang sepi di malam hari. Rumput basah diinjak mereka, Tatewaki menghela napas kasar tersenyum di depan nisan makam yang telah berlumut.
8 tahun tidak ada yang mengunjungi makam itu, terutama setelah kematian ibu kandung Seina 8 tahun yang lalu. Wanita paruh baya yang sakit-sakitan akibat kematian putri tunggalnya.
Buket bunga lavender dibaginya menjadi dua, meletakkan di vas kecil depan nisan kedua makam yang bersebelahan. Makam Seina dan ibu dari gadis yang ceria.
Air matanya mengalir, tidak dapat menerima kematiannya, membuat Tatewaki tidak pernah mendatangi kuburan Seina. Berharap Seina masih hidup, sepuluh tahun sudah dirinya melarikan diri dari kenyataan.
"Seina ..." ucapnya lirih.
Tidak ada jawaban dari nama yang dipanggilnya, nama indah yang dirindukannya."Apa disana gelap? Apa kematian itu menyakitkan?"
Kembali tidak ada jawaban, hanya batu makam dengan nama gadis itu diatasnya ditulis menggunakan huruf kanji.
Jemari tangan Tatewaki meraba ukiran nama kekasihnya hatinya berdebar, namun terasa menyakitkan. Amel yang berdiri di belakangnya bukanlah Seina, seseorang yang abunya terkubur di bawah tanah adalah Seina sesungguhnya.
Hatinya tidak dapat berbohong, tidak pula tertipu oleh rupa fisik. Kini pemuda itu yakin Seina telah pergi.
Sakit tidak tertahankan? Itulah yang dirasakannya, memukul-mukul dadanya sendiri mengalihkan rasa sesak dalam tangisannya.
"Seina, bisa aku menarik kata-kataku untuk berpisah? Apa kita masih dapat bersama?" tanyanya.
Seina tidak menjawab, sebuah nama yang terukir diatas batu nisan tidak mungkin dapat menjawab. 10 tahun sudah napas itu terhenti, hanya butiran abu dari sisa kremasi yang terkubur di dalam sana. Atau mungkin bahkan abunya pun tidak tersisa.
"Aku mencintaimu, jangan marah lagi padaku. Aku akan lebih sering mengunjungimu..." ucapnya mulai memejamkan mata berdoa di hadapan makam kekasihnya, air matanya mengalir tiada henti. Menginginkan yang terbaik untuk Seina, seorang gadis lugu yang takut pada kegelapan.
Hanya satu-satunya gadis yang diharapkannya menjadi seorang istri. Angan tinggal angan, membesarkan anak mereka bersama dalam sebuah rumah kecil.
Seina masih terlalu muda, kenapa Tuhan harus mengambilnya? Mungkin Tuhan terlalu menyayangi gadis lugu itu, melebihi kasih sayang Tatewaki padanya, hingga menarik jiwanya untuk tinggal bersama orang-orang yang juga di kasihi Tuhan.
Mungkin dengan anggapan itu Tatewaki dapat merelakan kepergian Seina. Belajar menjadi manusia yang lebih baik, agar suatu saat nanti dapat bertemu dengannya, tersenyum bersama seorang gadis bodoh yang mencintainya.
Pemuda itu mulai membuka matanya, bangkit, kembali mengusap ukiran nama Seina."Jika takut kegelapan, datanglah padaku, bersembunyi di kamarku. Karena seperti dahulu, aku tidak pernah mematikan lampu ketika tertidur..." candaannya pada batu nisan yang terdiam. Melangkah pergi, tidak menyadari seekor kupu-kupu putih kecil terbang turun dengan sayapnya yang rapuh. Hinggap pada bunga lavender di hadapan makam Seina.
***
Pemuda itu merasa lebih tenang, melangkah ke area parkir bersama Amel. Tidak ada pembicaraan di antara mereka, mengingat Tatewaki yang masih berusaha menerima kenyataan.
Hingga, mobil miliknya terlihat, seorang pria berdiri didekatnya. Terlihat kekesalan dan tidak suka di raut wajahnya.
"Amel Anggraini... kamu tau apa akibat perbuatanmu!?" tanyanya menatap tajam.
"Berikan kunci mobilmu!! Aku yang menyetir!!" Frans menadahkan tangannya pada Tatewaki.
"Ta...tapi," Tatewaki terlihat ragu.
"Berikan saja, aku adalah asisten Kenzo..." ucapnya.
***
Beberapa puluh menit perjalanan, sebuah hotel yang lumayan besar terlihat. Frans menghela napas kasar, memberikan kunci kamar terbaik dalam hotel tersebut pada Amel.
"Kamar nomor 801!!" ucapnya menatap tajam penuh kekesalan.
"Ada apa di sana? Kamu tidak akan menjualku kan?" tanya Amel ketakutan, meraih kunci kamar dengan tangan gemetar.
"Masuk!! Jangan banyak bertanya!! Jika tidak, aku akan meninggalkanmu di Jepang seorang diri tanpa uang dan tiket pulang..." ancamnya.
Dengan setengah berlari, Amel menembus lobby hotel yang cukup besar. Menekan tombol lift, wajahnya pucat pasi. Ketakutan pada ancaman Frans.
Sedangkan Frans hanya terdiam sesaat, kembali menghela napas, melirik pada Tatewaki,"Sudah makan? Jika belum, kita makan malam di restauran hotel,"
***
Cukup tenang, dua tenderloin steak terhidang di meja. Minuman hanya berupaya dua gelas air putih dingin. Frans hanya terdiam menikmati makanan di hadapannya. Namun, tidak dengan Tatewaki, pria itu menghela napas berkali-kali, mengiris setiap fillet ikan dengan ragu.
Hingga akhirnya makanan di piring Frans telah habis setengah porsi, barulah pria itu mulai untuk bicara,"Jangan mendekati Amel dengan alasan mirip dengan kekasihmu atau Kenzo tidak akan segan padamu," ucapnya masih mengiris steak di hadapannya.
Tatewaki menghentikan aktivitas makannya. Menatap ke wajah Frans yang masih tertunduk konsentrasi pada makannya.
"Jika kamu menjauhinya, aku akan membantumu menemukan penyebab sebenarnya dari kematian kekasihmu..." tawaran darinya, tidak ada henti-hentinya mengiris daging.
Kesal? Tentu saja, setelah satu tahun dirinya hidup damai. Hari ini Frans kembali terusik karena pemuda di hadapannya ini.
"Seina tidak mati karena jatuh ke dalam jurang?" tanya Tatewaki.
Frans menghela napas kasar,"Beberapa hari yang lalu, Kenzo membuat kesepakatan dengan putri seorang pebisnis yang telah memiliki jabatan tinggi di perusahaan keluarganya. Tentang suplai barang dari perusahaan milik Hiasi..."
"Dengan imbalan menangkap saudarinya, sebelum dirinya benar-benar mati," Frans menghentikan aktivitas makannya.
Hiasi? Tatewaki masih terdiam mencerna setiap kata-kata yang keluar dari mulut Frans. Mengetahui orang yang membuat kesepakatan dengan Kenzo mungkin Aika yang telah menduduki jabatan yang lumayan tinggi di perusahaan milik Hiasi. Tapi apa hubungan semuanya dengan penyebab kematian Seina?
"Hati manusia sulit untuk menebaknya, saudari dan sahabat yang baik, mungkin dapat menyimpan dendam, iri dan dengki dalam hatinya..." lanjut Frans, kembali menggerakkan pisaunya.
***
Seseorang yang menyimpan rasa iri dan dengki selama bertahun-tahun. Dapat tersenyum di bibirnya, tapi hatinya yang putih sejatinya berlumuran darah segar, membusuk, menjalar ke seluruh tubuhnya. Iri pada Seina yang memiliki Tatewaki, iri pada kakaknya yang selalu dielu-elukan sang ayah.
Pintu yang setengah terbuka, mulai terbuka lebar. Hiasi berdiri disana menatap punggung putrinya.
"Aiko, sedang apa dikamar Aika?" tanyanya, dapat mengenali wajah putrinya yang serupa.
Gadis itu tersenyum, meletakkan paperbag kecil,"Kakak terlalu sibuk mengurus perusahaan, jadi aku membuatkannya topi rajutan. Tapi hasil rajutanku terlalu jelek, iya kan ayah?"
Hiasi tersenyum berjalan mendekat, menatap isi paperbag,"Aika akan menyukai buatanmu. Sudah, ayo kita makan malam..." ucapnya membimbing Aiko meninggalkan kamar saudarinya.
Tidak menyadari ada beberapa butir obat berada dalam saku Aiko. Gadis yang tengah tersenyum pada ayahnya.
Bersabar menunggu, sang kakak meminum suplemen kesehatan. Botol obat suplemen yang sama, namun isi yang sudah diganti.
Berjalan menuruni tangga bersama sang ayah,"Aika..." ucapnya menyambut kedatangan sang kakak. Adik polos, baik hati yang hanya menebar rasa kasih pada semua orang.
Bersambung