
Malam semakin menjelang, butik belum juga tutup, karyawannya masih disana. Namun ruangan desainer kosong. Lalu dimana sebenarnya kedua bos mereka?
"Kenapa kita kemari?" Brenda mengenyitkan keningnya, menatap gedung pencakar langit di hadapannya dari dalam mobil.
"Aku ingin merasakan tubuh seorang CEO muda..." jawabnya ambigu.
"Jangan!! Kamu masih kecil. Nanti dipermainkan, diluar sana banyak pria hidung belang," makhluk jadi-jadian itu menahan tangan Nindy.
"Tidak akan, aku adalah saudara tiri yang jahat. Jadi harus merebut pria yang disukai kakakku..." ucapnya turun dari mobil, mengedipkan sebelah matanya.
"Wanita murahan!!" teriaknya.
"Marah? Keluar dari mobil? Mengejar ku? Berarti bersedia menjadi pacarku..." ucap Nindy meninggikan intonasi suaranya, agar didengar Brenda, dirinya kini berjalan menjauhi mobil.
Bagaikan kertas mantra yang melekat di mobil, jika Brenda menyusul Nindy artinya dirinya mengakui diri cemburu dan bertekuk lutut di hadapannya. Hingga Brenda memutuskan membuka media sosial guna mengisi waktu, namun lama-kelamaan jemari tangannya gemetar.
Dalam bayangannya, Nindy naik ke atas pangkuan Gilang, CEO muda rupawan.
"Aku ingin merasakan nikmatnya surga dunia bersamamu..." bisiknya, pada leher Gilang. Pemuda yang hanya membalas dengan senyuman, mengecup leher Nindy pelan.
Hingga akhirnya, pakaian mereka berserakan, bibir saling berpangut. Benar-benar imajinasi gila dari Brenda.
Makhluk jadi-jadian itu membanting handphonenya. Setelah menatap wajah Gilang dari foto media sosial, membayangkan pemuda itu menyentuh tubuh Nindy.
"Tidak boleh!!" bentaknya dengan suara bariton. Bunga Peony yang mendayu-dayu terkena tetesan embun menghilang entah kemana. Berganti dengan Brandon pemuda rupawan yang menghilang 11 tahun lalu.
***
Nindy melangkah dengan cepat, setelah menghubungi Gilang dari nomor yang tertera di kartu nama yang diberikan Marina.
Hingga ruangan itu terlihat juga, mengetuk pintu, perlahan membukanya. Tampan? Tentu saja, namun dimata Nindy tidak ada yang lebih tampan dan cocok untuk kakaknya, kecuali Kenzo. Pemuda yang dengan kejinya menginjak keluarga Alwi dibawah kakinya. Bahkan menghina balik mereka dengan memberi perintah menjilati ludahnya sendiri atau satu lantai sekalian.
Karena kekayaan? Benar...tapi tidak sepenuhnya, sosok Kenzo yang mencintai kakaknya saat masih berbentuk tahu bulat yang digoreng 500 an, pemuda keji yang mungkin dapat menjaga kakaknya yang lugu. Itulah Kenzo dalam fikiran Nindy.
Gilang? Pria yang tidak dikenalnya, namun satu hal yang diketahuinya, rasa kasih kakaknya tidak pernah berbalas 2 tahun lalu.
"Kamu Nindy? Adiknya Amel?" ucap pemuda yang tengah duduk di sofa tersenyum. Sementara seorang pria paruh baya (Leon) duduk di kursi kebesaran putranya. Tengah mengerjakan sesuatu di laptopnya entah apa.
"Perkenalkan, aku Nindy..." gadis itu tersenyum ramah, mulai duduk tanpa sungkan berhadapan dengan Gilang.
Prilaku terlihat baik, kuku tidak menguning berarti bukan pecandu alkohol atau suka merokok, jabatan CEO... jika aku tidak mengetahui dia pernah mengacuhkan kakakku selama dua tahun, mungkin aku akan tertipu... geram Nindy masih berusaha tersenyum.
Dari luar, Gilang memang terlihat bagaikan pria idaman. Namun, tidak bagi Nindy kebahagiaan kakaknya yang utama. Hanya Kenzo yang mengangkat mereka di titik paling buruk dalam hidup mereka.
Rasa kasih? Pengidap Bipolar? Nindy mengetahui segalanya, namun baginya tidak ada manusia yang sempurna. Pengidap Bipolar itulah, satu-satunya yang mengasihi kakaknya, saling memerlukan.
"Iya...kita langsung bicara saja..." Nindy tiba-tiba menunduk di hadapan Gilang."Jangan ganggu kehidupan kakakku lagi..." pintanya.
Gilang menggelengkan kepalanya,"Kenzo tidak akan dapat membahagiakan Amel, dia ..."
Gerakan tangan Leon pada keyboard terhenti, melihat segalanya. Semua hal yang dilakukan untuk menjadikan putranya, bagaikan dirinya di masa lalu, ternyata percuma. Ini bahkan lebih buruk...
35 tahun lalu...
Jangan kira Leon berpenampilan rupawan dari awal. Tidak, dirinya memakai kacamata tebal, menaiki sepeda tua dengan rambut berlumuran pome, menyerupai putranya dahulu.
Ayahnya Suki selalu menuntut yang terbalik darinya hingga Leon memilih kuliah di luar daerah jauh dari sang ayah. Hidup serba kekurangan, tidak memiliki apapun.
Namun satu hal, dirinya memiliki seorang sahabat bernama Harnum. Seorang gadis dengan rambut pendek, poni berada di dahinya. Cantik? Tentu saja, Leon mencintainya dalam diam.
Wanita itu bukan miliknya, namun milik pria lain. Seorang pemuda rupawan anak dari pemilik yayasan kampus. Cinta? Harnum sangat mencintainya, membawakan bekal yang dibuatnya susah payah, membantunya mengerjakan tugas kampus. Wanita bodoh yang mengejar pria yang memalingkan wajah darinya.
Leon menyaksikannya sendiri, kala makanan itu dibawa kembali oleh Harnum ke tempat kostnya, kekasinya yang br*ngsek tidak menyukai buatannya.
"Kamu yang makan saja..." ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Menghela napas menahan air matanya agar tidak tumpah.
"Belum bisa, aku menunggu saat, dimana sudah terlalu lelah. Mencintai seorang diri, cepat atau lambat aku mungkin akan menyerah, pergi meninggalkannya tanpa berbalik untuk kembali..." jawabnya tersenyum pada Leon.
Leon tertegun kemudian tersenyum, memakan dengan lahap masakan gosong dari Harnum. Berandai-andai jika gadis ini adalah miliknya, cara mencintai yang tulus, masakan tidak beraturan ini sungguh enak di lidahnya. Benar, Leon mulai mencintai sahabatnya sendiri.
Bukan karena rupa Harnum yang cantik, gadis cantik ada lebih banyak dari kalangan atas, cantik dengan perawatan tentunya. Leon telah dua tahun meninggalkan rumah, hidup sederhana kuliah di luar kota kelahirannya. Tidak ada yang tau status sosialnya disini.
Tidak ada yang bersedia bersahabat dengannya kecuali Harnum. Gadis yang perlahan dikaguminya. Jemari tangannya ingin menggengam tangan Harnum, namun urung, karena status mereka yang hanya sahabat.
Ingin diberi kesempatan lebih, untuk belajar mencintai. Hingga kesempatan itu tiba padanya...
Hujan lebat melanda, namun Harnum belum pulang dari kampus juga. Cemas, begitulah perasaan Leon saat ini. Pemuda itu membawa payungnya ke area gedung kampus.
***
Hujan gerimis tidak menyurutkan langkah Harnum. Hari ini adalah ulang tahun Roman, kekasihnya. Berjalan membawa rantang dengan masakan buatannya. Hingga langkahnya terhenti, beberapa orang pria memukuli kekasihnya.
"Roman..." teriaknya, mencoba melerai, bahkan beberapa kali tidak sengaja terkena pukulan. Hingga pada akhirnya, Harnum dan Roman masing-masing dipegangi dua orang dalam keadaan terluka.
"Dia pacarmu?" tanya salah seorang dari mereka.
"Tolong ampuni aku..." Roman memohon.
"Kamu berani berselingkuh, meniduri pacarku hingga hamil!! Dan sekarang kamu minta dilepaskan?" bentak sang pria membawa tongkat kayu.
Tangan Harnum mengepal, apa kekurangan dirinya? Mungkin hanya status sosial dan menjaga kesuciannya saja, tidak ingin Roman menyentuhnya sebelum melakukan pernikahan.
Tapi menghamili wanita lain? Hati benar-benar terasa sakit. Air matanya ingin menetes namun ditahan olehnya. Matanya tidak lepas dari sosok pemuda yang dikasihinya.
Brak ...
Punggung Roman dipukul, darah mengalir dari punggungnya, bajunya sedikit terkoyak.
"Ampuni aku, jangan membunuhku, sebagai gantinya kamu boleh meniduri pacarku. Dia masih perawan, a...aku belum menyentuhnya..." ucapnya sembari meringis.
"Roman!!" Harnum berteriak sembari menangis, kata-kata yang benar-benar menyakitkan baginya.
"Perawan? Si cantik ini belum kamu tiduri?" tanyanya dijawab dengan anggukan oleh Roman tidak tahan dengan penyiksaan yang dialaminya lagi.
Lagipula, dirinya tidak benar-benar mencintai Harnum, walaupun cantik tidak bisa di giring ke tempat tidur. Benar-benar wanita yang munafik, jadi wajar saja dirinya memiliki kekasih lain. Mungkin itulah yang ada dalam fikirannya saat ini.
"Lepaskan dia!! Kita nikmati pacarnya malam ini..." ucapnya.
Roman yang telah dilepaskan hanya melangkah sembari tertunduk.
"Roman!!" gadis itu memanggilnya lagi, kali ini air matanya mengalir.
Pemuda yang telah babak belur itu menghentikan langkahnya.
"Aku mencintaimu selama tiga tahun ini," air matanya mengalir tiada henti, jemari tangannya mengepal, sakit? Tentu saja, pria yang dibanggakannya, mengorbankan kehormatannya,"Aku tau kamu menyukai dan berhubungan dengan banyak wanita. Dan aku masih juga terlalu bodoh untuk mencintaimu,"
Mulut itu bergetar tangisannya terisak."Karena itu aku menyerah pada hari ini. Jika kamu melangkah satu langkah lagi, aku tidak akan pernah mencintaimu lagi. Walaupun setelah hari ini aku akan berakhir masih hidup atau akan mati,"
Tangan Roman gemetar, kemudian mengepal baru menyadari perasaan tulus Harnum padanya. Mata pemuda itu menatapnya dari jauh,"Maaf, tolong tetap cintai aku. Berikan tubuhmu malam ini saja pada mereka. Aku akan bertanggung jawab dan menikahimu. Tolong selamatkan nyawaku agar kita bisa bersama..." pintanya.
Berjalan keluar tanpa berbalik lagi, Harnum tersenyum. Kemudian tertunduk,"Jika aku berakhir matipun, aku tidak ingin dia menyentuh kuburanku..." gumamnya menangis tiada henti.
Tidak ada satu orangpun di area belakang kampus itu. Hujan lebat melanda, salah seorang dari mereka, pergi ke area apotik dekat kampus, membeli, kemudian mencekoki minuman bercampur obat pada Harnum. Tujuannya? Tentu agar berinisiatif melayani napsu bejat mereka, agar lebih bertahan menghadapi mereka yang terdiri dari lima orang pria.
Sinar lampu remang kala tubuh itu akan digagahi. Gadis itu tidak henti-hentinya meneteskan air mata. Menyaksikan para pria yang tidak dikenalnya, mulai melepaskan ikat pinggang mereka.
"Tolong..." lirihnya, dalam tangisan. Pakaiannya dirobek menggunakan silet, rok panjang yang dikenakannya, hendak ditanggalkan.
Bersambung