
Febria tersenyum, memeluk tubuhnya satu-satunya pria yang dapat membuatnya merasakan kerinduan. Satu-satunya pria yang dapat menyentuhnya. Apa perasaan ini cinta? Mungkin inilah perasaan berdebar itu.
"Agresif..." cibir Steven gemas, mengamati pakaiannya sendiri yang berantakan.
"Baru kali ini aku melakukan ini! Sebelumnya selalu kamu yang agresif!" komat-kamit mulut manis itu mengomel.
"Memang, bantu aku merapikan pakaianku..." pintanya menggoda.
"Iya!!" Febria memungut dasi yang dijatuhkannya diatas pasir, mulai memakaikan pada Steven. Pemuda itu hanya dapat tersenyum, tertawa kecil, menatap wajah Febria dari dekat.
Hingga tangan sang gadis mencapai kancing jasnya. Memasangnya satu persatu.
Tangan Steven mengarahkan tangan Febria pada dada kirinya,"Ini berdegup cepat hanya karenamu, jadi jangan tinggalkan aku, agar jantungku ini dapat terus berdetak,"
"A... aku..." Febria terdengar gugup menarik tangannya, kembali merapikan ikat pinggang Steven. Namun, pemuda itu tidak berkata apapun lagi. Membelai pucuk kepalanya, kemudian mencium keningnya. Hanya itu...
Perasaan yang tumbuh bukan karena napsu, tapi hatinya yang selalu dapat ditaklukkan seorang anak yang terlahir dari rahim ibu angkatnya.
"Kapan kita akan bertemu mama?" tanyanya.
"Aku akan menghubungi mama, ja... jadi kita akan benar-benar menikah?" ucapnya memastikan.
Steven mengangguk,"Aku akan menjagamu, hingga maut memisahkan kita,"
Pasangan yang masih duduk di atas pasir menikmati dinginnya udara laut. Febria bagaikan enggan turun dari pangkuan Steven, mendekatkan telinganya pada dadanya, merasa nyaman berada disana."Aku mencintaimu, tidak tau dari kapan..." ucapnya.
"Aku juga, mencintaimu, entah dari kapan,"
***
Janji untuk bertemu? Hari ini Amel tinggal di villa miliknya, biasa disewakannya jika tidak ditempati. Villa yang tidak begitu besar, hanya tempat singgahnya jika berkunjung ke negara tersebut dilengkapi dengan tiga kamar, dapur serta ruang tamu.
Villa kecil yang lumayan asri. Hal yang dikatakan Febria? Akan membawa seorang tamu untuk ibunya. Hingga Amel benar-benar mengosongkan jadwalnya. Siapa sangka wanita yang masih terlihat cantik, tengah meminum tehnya, telah hampir berusia 50 tahun.
Mungkin jika dirinya pergi keluar dengan putrinya, akan terlihat bagaikan kakak beradik.
"Aku merindukan Kenzo," keluhnya menghela napas berkali-kali, sudah hampir satu bulan tinggal di negara yang berbeda dengan suaminya.
Damian dan Vanya? Mereka tinggal bersama Ferrell kini. Damian telah lama pensiun, hidup tenang di bekas rumah yang telah dibeli Amel dari Diah.
Diah sendiri? Entah dimana sekarang, setelah terkena tuduhan menjual tas branded palsu. Mungkin bersembunyi di daerah terpencil, tinggal seorang diri. Sementara mantan suami dan putranya tinggal berdua mengelola toko mereka.
Sosok itu kembali terbayang dimata Amel, suami yang selalu membuatnya bertekuk lutut untuk merindukannya. "Astaga! Aku sudah tua..." ucapnya malu sendiri bagaikan remaja yang yang baru jatuh cinta, merindukan kekasihnya, hanya Kenzo seorang.
Suara mobil terdengar memasuki gerbang villa, seorang pelayan, membukakan pintu utama villa. Amel yang duduk di ruang tamu dengan laptop dan secangkir teh di hadapannya, mengenyitkan keningnya menatap aneh.
Febria datang bersama dengan seorang pemuda, mulai duduk di hadapannya.
"Febria kamu?" Amel mengenyitkan keningnya.
"Mama, aku menemukan Steven. Mama masih mengingatnya?" ucapnya tersenyum.
"Mama, maaf sudah melarikan diri dari rumah, aku..." kata-kata Steven terpotong, wanita berkulit putih dengan tubuh bagaikan masih berusia 30 tahun itu tiba-tiba memeluknya.
"Kamu masih hidup? Mama kira kamu sudah mati? Mama dan papa merindukanmu," ucapnya meneteskan air mata, terharu.
"Iya, aku juga merindukan kalian," jawabnya tersenyum, membalas pelukan ibu angkatnya.
Febria mengenyitkan keningnya kesal, menatap mama dan anak angkatnya itu terlihat serasi. Bahkan sangat serasi, jika ditanya mana yang lebih cantik Fransisca atau Amel tentu saja Amel.
"Lepas..." Febria melerai pelukan mereka.
"Tidak!! Tapi kalian tidak ada hubungan darah! Jangan dekat-dekat!" bentaknya tidak terima.
Amel menghela napas kasar menatap ke arah putrinya. "Mama hanya bernapsu pada papamu, kamu tidak ingat. Bagaimana mama menunggunya?"
"Bisa saja mama yang cantik bagaikan dayang Sumbi menyukai anak sendiri..." ucap Febria bersungut-sungut.
Amel memijit pelipisnya sendiri, menghela napas kasar tidak mengerti dengan putrinya yang kini sudah hampir dewasa."Sekarang katakan apa keinginan kalian? Kalian menemui mama pasti memiliki maksud lain kan?" tanyanya mengamati gerak-gerik Febria dan Steven.
"Mama, Febria sudah ada di usia yang cukup, karena itu aku ingin..." kata-kata Steven terpotong.
"Apa yang kamu miliki? Kamu sudah bekerja?" tanyanya bagaikan berubah dari seorang ibu angkat menjadi ibu mertua.
"Sudah, aku baru mendirikan perusahaan farmasi. Rencananya juga akan bekerja sama dengan pemerintah membuat pabrik senjata. Aku akan menjaga Febria dengan baik!!" ucapnya menunduk, meminta seorang anak perempuan dari ibu yang melahirkan dan membesarkannya.
Amel menghela napas kasar,"Jaringan di Eropa dan beberapa negara Asia, Dark Wild menutup bisnis dunia bawahnya. Membuka beberapa perusahaan dan membeli aset bergerak. Kamu ada hubungan apa dengan kelompok itu?" ucapnya menatap tajam.
"Aku ketua Dark Wild yang baru," ucapnya tanpa ragu, sudah mengetahui keluarga yang dahulu mengadopsinya tidak menyukai semua yang berhubungan dengan mafia.
"Masih berani ingin meminta Febria!? Kamu mau Febria mati oleh musuh-musuhmu!?" bentaknya.
"Mama..." Febria hendak menyela, namun tatapan Amel membuatnya tertunduk.
"Kamu memiliki banyak aset dan kekayaan di beberapa negara, intelegen semuanya ada. Tapi seberapapun kekuasaanmu tidak akan dapat mendesak mama untuk menyerahkan Febria. Kenzo dan aku tidak akan tinggal diam," ucap Amel penuh penekanan.
Steven, menitikan air matanya berusaha tersenyum,"Aku tau, karena itu aku akan melakukan segalanya untuk menjaga Febria. Mama dapat membunuhku dengan tangan mama sendiri jika aku melukainya atau membuatnya menangis,"
"Bukan itu intinya, apa kamu dapat menjaga Febria atau tidak? Itulah intinya..." Amel terdiam sejenak, kembali menghela napasnya,"Diusiaku yang sudah semakin tua harus memikirkan masalah anak muda seperti ini," keluhnya.
"Febria, apa tidak bisa dengan Hitoshi saja agar lebih mudah!? Begini saja, besok mama akan menemui Frans, minggu depan kamu dan Hitoshi menikah," lanjutnya menatap tidak suka.
"Mama!!" bentak Febria, tidak menyetujui kata-kata ibunya.
Tangan Steven mengepal, orang yang paling di hormati di kelompoknya itu berlutut, menurunkan harga dirinya serendah rendahnya. "Mama aku akan menjaga Febria! A...aku mencintainya," ucapnya cepat, dengan mata memerah, air matanya terurai membasahi pipinya, tidak ingin perasaan mereka berakhir begitu saja.
"Steven, mama tau kamu bukan orang yang jahat. Tapi situasi saat ini tidak aman untuk Febria, selain itu bagaimana jika kamu bertemu wanita yang lebih cantik dan meninggalkan Febria nantinya," kata-kata Amel disela.
"Aku tidak menyukai wanita lain selain Febria!! Aku berjanji akan mempertaruhkan hidupku untuk melindungi dan mencintainya..." ucapnya.
Wanita di hadapannya nampak berusaha tersenyum,"Pegang janjimu! Karena jika dalam pernikahan kalian, sedikit saja Febria terluka. Maka mama akan memisahkan kalian..."
"Aku berjanji!!" ucap Steven penuh keseriusan.
"Steven..." Febria ikut berlutut mensejajarkan tubuhnya memeluk tubuh Steven.
Sementara ibu mertua berwajah tegang itu berusaha semaksimal mungkin untuk tidak tertawa. Benar-benar sebuah hal yang menyenangkan menatap pimpinan salah satu kelompok mafia berlutut di hadapannya.
Sengaja? Tentu saja, jika ini untuk kebahagiaan Febria tidaklah mengapa. Dua orang yang sudah saling mengenal di usia dini. Masih teringat jelas dibenaknya kala dirinya yang harus mengurus anak dan perusahaan tanpa kehadiran Kenzo, meninggalkan Febria bermain sendiri di ruangan keluarga sebuah villa di negara lain yang disewanya.
Pintu sekat kaca yang tidak tertutup rapat, membuat anak berusia 4 tahun itu leluasa melangkah ke kolam renang luar ruangan. Namun salah memasuki, Febria melangkah ke dalam kolam renang dewasa, seketika anak yang baru belajar berenang itu kesulitan untuk naik dan bernapas.
Steven yang masih berusia 11 tahun memasuki kolam, dirinya tidak memiliki tenaga yang cukup untuk berenang membawa Febria ke pinggir kolam. Akhirnya berenang menyelam ke bawah tubuh Febria, menjadikan dirinya pijakan agar gadis kecil itu dapat mencapai permukaan, menghirup napas.
Amel yang baru mengambil cemilan di dapur untuk anak-anaknya segera berlari menyadari semuanya. Menyelamatkan Steven dan Febria yang hampir kehabisan napas.
Menikahkan mereka? Tentu Amel menyetujui dari awal, Steven lah yang membuat putrinya masih hidup hingga kini. Namun, kesungguhan seorang pria harus diuji bukan?
Bersambung