
Apa arti perasaannya ini? Entahlah, namun perasaan yang tidak asing. Wanita itu membalut luka Dava. Tertunduk, menyentuhnya,"Apa kamu khawatir akan dipecat?" tanyanya.
"Tidak...aku bisa mencari pekerjaan lain ..." jawab Dava pura-pura acuh.
"Kamu tidak akan dipecat, mau jadi manager?" tanyanya tersenyum.
Dava menggeleng dengan cepat, malu? Tentu saja, harga dirinya sebagai pria seakan tidak ada di hadapan wanita yang dicintainya. Melunasi hutang orang tuanya sudah cukup memalukan baginya.
Hingga pemuda itu merogoh sakunya, mengambil dompet yang diberikan Ferrell."Aku kembalikan, hanya terpakai 20.000 untuk membeli gulali dan minuman, nanti akan aku ganti..." ucapnya, berusaha memiliki harga diri di hadapan Amel.
Amel menipiskan bibir menahan tawanya. Mengembalikan? 20.000? Entah sejak kapan suaminya berubah menjadi begitu polos dan lugu.
Gemas? Tentu saja, kala wajah dingin dan tatapan mata tajam itu merasa tidak memiliki harga diri menggunakan uang miliknya sendiri, hingga...
"Aku mencintaimu..." Amel mencium bibir dan pipinya, hanya kecupan singkat.
"Aku juga..." mulut Dava refleks menjawab.
Sial!! Kenapa aku menjawab juga mencintainya... dia itu istri orang, aku ini simpanan yang miskin... gumamnya dalam hati berfikir cepat untuk melanjutkan kata-katanya.
"A...aku juga akan mengembalikan pakaian suamimu..." ucapnya gelagapan.
Ingin memilikinya, namun telah menjadi milik orang lain. Salahkah? Tapi wanita ini terasa berbeda, dirinya merasa gugup setiap mendengar suara mobil memasuki villa. Ingin mengetahui sosok yang bernama Kenzo.
Apa lebih tampan darinya? Kenapa Amel menjadikan dirinya simpanan? Kenapa bukan pria lain saja? Pria miskin yang hanya bisa menyusahkan, itulah dirinya...
"Tidak perlu..." Amel naik ke pangkuannya, menautkan bibirnya sesaat. Jantung Dava bergemuruh, berdebar dengan cepat. Hingga mata itu kembali terpaku saling menatap.
"Aku akan mencari pekerjaan lain, dalam beberapa tahun akan menyaingi suamimu..." ucapnya, meraih tengkuk Amel menjelajahi bibir itu dengan serakah.
Aku ingin tertawa, tidak akan ada yang menyaingimu. Karena kamulah suamiku... gumamnya dalam hati.
***
Hal yang terjadi setelahnya? Ruang tamu itu telah kosong, tidak ada seorangpun disana, ini terjadi lagi. Dava menatap langit-langit kamar, berbalut selimut dengan wanita ini lagi. Dirinya tidak pernah dapat menahan diri.
Wajah Amel yang mulai akan tertidur kelelahan akibat ulahnya ditatapnya, memeluknya erat tidak ingin kehilangannya. "Kapan suamimu akan pulang?" tanyanya.
Wanita yang rupawan dengan rambutnya tergerai lembut, kontras dengan kulit putihnya, mendekap Dava lebih dalam,"Dia marah padaku, tidak ingin menemuiku sementara waktu..." jawaban ambigu darinya.
Bibir Dava bergetar, tidak ingin rasanya bertanya, namun dirinya tetap ingin mengetahui,"Apa kamu mencintainya? Suamimu? Seseorang yang bernama Kenzo..."
Amel membuka matanya, kemudian tersenyum,"Jika aku berkata aku mencintainya, apa kamu akan cemburu?"
"A...aku tau diri, aku hanya simpanan. Aku..." kata-katanya disela Amel menggosokkan kepalanya pada dada bidang tanpa busana suaminya.
"Aku mencintainya, menunggunya pulang. Jadi cemburulah, agar dia segera pulang..." ucapnya ambigu.
Dava terdiam, menatap guratan mata wanita dalam pelukannya. Seorang istri yang mengharapkan suaminya. Apa hanya Kenzo yang ada di fikirannya? Tidak boleh!! Hanya boleh ada dirinya.
Dava mencium bibirnya, mendekap tubuhnya, tidak ingin kehilangannya. Entah mengapa...
"Jangan fikirkan tentang pria lain, jangan berbicara tentang pria lain, jangan menyentuh pria lain..." bisiknya terdengar arogan, kala dua napas itu saling memburu, menghirup udara penuh rasa serakah.
Posesif? Bukankah itu sifat Kenzo? Menghukumnya jika berani memikirkan atau berbicara dengan pria lain. Suaminya perlahan kembali.
Dava mencumbui lehernya perlahan, kembali memberi tanda disana,"Aku mencintaimu...aku mencintaimu...aku mencintaimu..." bisiknya.
Kembali menyatukan tubuh mereka. Menatap mata Amel, seakan tidak pernah puas, kembali membelit lidah dalam penyatuan.
Apa kamu mencintainya? Tidak apa-apa, karena perlahan kamu akan mencintaiku. Aku akan menyainginya, menjadi orang keji yang merebut istri orang lain...
Ini salah aku tau, tapi aku tidak dapat menghentikannya...
"Uggh..." erang mereka hampir bersamaan, napas mereka kembali terengah-engah, saling memburu Dava melakukannya lagi dan lagi. Perbuatan yang salah menurutnya, namun entah kenapa bukan karena keindahan tubuhnya. Namun rasa nyaman kala mendekapnya membuat semua logikanya menjadi lumpuh.
Aku melakukannya lagi, dosa yang besar bukan? Tapi aku tidak menyesalinya, karena memilikimu... gumamnya dalam hati, bibir Amel dikecupnya berulang kali saling menatap.
"Dengar, aku tidak berbohong saat mengatakan yang kamu lakukan ini bukan kesalahan," Amel tersenyum simpul, tenaga mereka terasa telah terkuras, dengan Dava yang masih mendekapnya.
"A...aku..." Dava terdengar gugup, seakan Amel mengetahui yang ada di fikirannya.
Amel tertawa kecil,"Kita sudah melakukan kesalahan selama dua malam. Mau melanjutkan ke malam berikutnya?" tanyanya.
Menggoda suami sendiri adalah hal yang menyenangkan. Dosa? Meniduri suami sendiri dosa? Suamiku yang polos... batin Amel.
"Memang kamu bisa menghentikan, jika aku besok aku menciummu?" tanyanya berbisik di leher Dava.
"Tentu saja bisa..."
Tentu tidak ... wanita sialan!! Tapi kenapa aku bisa dengan mudah jatuh cinta padamu... kesalnya.
***
Suara burung telah terdengar, namun matahari belum juga terbit.
Dava menghela napas kasar, usai mengirimkan pesan pada kedua orang tuanya. Duduk di sofa ruang tamu kembali memakai pakaian Kenzo. Entah kenapa, Amel selalu menyembunyikan pakainya dengan alasan masih dicuci.
Rambutnya belum benar-benar kering, satu-persatu lowongan kerja di internet dicatatnya. Sudah bersiap-siap akan dipecat dari pekerjaannya.
Hingga pandangan matanya beralih, menatap Amel yang tengah memasak. Harum aroma makanan yang tidak asing baginya.
Dirinya mulai melangkah, meraih salah satu appron yang tergantung. Memakainya memasak dengan fokus dan cepat.
Aneh? Benar-benar aneh selama 7 tahun Dava tidak pernah ke dapur. Bahkan sebelum ingatannya menghilang, semua orang membicarakannya sebagai tuan muda kaya raya yang manja.
Tapi ini tidak, dirinya bagaikan sudah terbiasa, bahkan mengetahui rasa dari bumbu-bumbu khusus, seperti Rosemary, atau jenis berbagai kecap fermentasi. Dua orang ini bergerak dengan cepat, bahkan membuat pie apel. Hingga beberapa hidangan mulai disajikan di atas meja.
"Mama, Elisha mengirim e-mail tadi malam. Katanya penting..." Scott tiba-tiba datang, memakai pakaian santai.
"Mama lupa membalasnya," Amel hendak mencuci tangannya yang berlumuran adonan.
"Diatas mejakan? Biar aku yang mengambilnya, tanganmu kotor..." Dava tersenyum, mengambil tissue mengeringkan tangannya yang usai membersihkan peralatan masak.
Pemuda itu melangkah menapaki tangga, hingga sampai di lantai dua kamar utama. Laptop yang masih menyala itu hendak di tutupnya, hingga sebuah foto pernikahan terlihat menjadi wallpaper nya.
Gaun yang sama, Amel terlihat cantik, wajah Dava tersenyum, sekaligus kesal. Pasalnya foto pernikahan yang dilihatnya, adalah foto berciuman.
Sang mempelai pria memangut bibir Amel di hadapan semua orang. Wajah yang tidak terlihat jelas, pria yang memakai tuxedo putih, memiringkan kepalanya, ketika melakukan ciuman panas. Hanya wajah Amel yang terlihat jelas pada kamera.
Namun, sekilas pria itu memang terlihat rupawan.
Dava, menutup laptop dengan kesal, berjalan cepat. Cemburu? Pantaskah cemburu pada istri orang?
Hingga ketika hendak menuruni tangga ingatan yang tumpang tindih, terasa.
"Tinggalkan Kenzo, jangan korbankan hidupmu hanya untuk rasa terimakasih," seorang pemuda yang memunggunginya berbicara dengan seorang wanita,"Aku akan menerimamu kembali, maaf... mengabaikan perasaanmu sebelumnya,"
"Aku tidak akan meninggalkannya..." jawab sang wanita tanpa menoleh pada sang pria sedikitpun.
"Uang? Berapa yang Kenzo habiskan untukmu. Aku akan mengembalikan padanya. Aku mencintaimu," sang pria melangkah lebih dekat.
Hingga akhirnya sang wanita menatap padanya,"Inilah yang aku benci dari protagonis sepertimu. Tidak dapat sepenuhnya mempercayai, cinta? Jangan bercanda, bahkan sekarang kamu menganggapku sebagai wanita murahan yang hatinya dapat dibeli dengan uang,"
Pria itu menggengam tangan sang wanita.
"Aku tidak bermaksud begitu, hanya saja Kenzo..."
Air mata Dava mengalir, entah apa yang terjadi terasa menyakitkan baginya. "Aagghh...." teriaknya menjatuhkan laptop, menjambak rambutnya sendiri. Memukul-mukul dadanya yang terasa sesak. Hingga kesadarannya tiba-tiba menghilang.
"Papa!!"
Bersambung
Hal yang paling menyakitkan? Mengetahui perasaanmu hanya untuk orang lain...
Menyadari kekuranganku sendiri...
Jika itu pria lain, aku akan merebutnya, melindungimu agar dia tidak menyentuhmu...
Namun, pria yang kamu cintai, orang yang juga berarti dalam hidupku. Karena itulah, aku ingin mengunci segalanya...
Tertidur, karena terlalu lelah dan menyakitkan...
Kenzo...