My Kenzo

My Kenzo
Musim Kedua : Aku Tidak Terima



Satu tahun kemudian...


"Nindy..." ucap seorang pemuda melambaikan tangan menjemputnya.


Gadis itu mulai melangkah sembari tersenyum, membalas lambaian tangannya. Berjalan meninggalkan area butik, sudah satu tahun kepergian Brandon. Nomor phoncell, akun media sosial, semua sudah diganti oleh Nindy memulai kehidupan baru. Sebagai gadis berusia 23 tahun...


"Kita kemana sekarang?" tanyanya pada sang pemuda.


"Wish you baby...(sesuai keinginanmu, sayang)" ucapnya membukakan pintu mobil.


"Baby...!? Aku tidak punya ayah sepertimu," Nindy mengenyitkan keningnya kesal bersamaan dengan mobil yang mulai melaju meninggalkan area parkir.


Kaca jendela mobil dibukanya, move on? Apa semudah itu? Matanya menelisik mengamati Bara (teman SMU Nindy), yang kini telah menjadi tentara muda. Tepatnya menjadi prajurit angkatan udara, walaupun masih dalam pangkat terendah. Mengingat pemuda itu baru saja lulus.


"Andai kamu memegang pensil, tidak memegang senjata..." gumamannya, menatap tubuh tegap berotot seorang tentara. Terlihat lebih gagah lagi, dengan seragam yang melekat pada tubuhnya. Wanita mana yang fikirannya tidak konslet melihat Bara. Tentu saja kecuali Nindy...


"Memang kamu menyukai orang yang memegang pensil?" tanya Bara tersenyum, masih konsentrasi pada jalan raya.


Nindy terdiam sejenak, angin menerpa rambutnya. Seorang pemuda terbayang dalam benaknya, pemuda yang tangannya serius memegang pensilnya. Menggoreskan kertas design di hadapannya... Tidak boleh!! Dia hanya jelly nata de coco yang tidak setia... batinnya.


Satu tangan Bara masih memegang stir, sedangkan satu lagi, mulai merayap hendak memegang jemari tangan Nindy."Kapan kamu akan menerimaku?" tanyanya.


Gadis itu menghela napas kasar, tidak ada perasaan berdebar seperti saat menyentuh jemari tangan Brandon yang halus, tangan Bara memang berbeda, terlihat lebih besar, hangat dan dapat melindunginya.


Tapi, hambar...


"Aku terima perasaanmu sebagai teman..." ucapnya tersenyum.


Entah kapan dirinya dapat kembali membuka hati. Setelah kepergian jelly nata de coco, namun inilah dirinya.


Hingga mobil itu terhenti di garasi rumah Bara. Garasi yang luas, beberapa mobil terparkir disana. Tujuannya kesana? Tentu saja bekerja, kerabat Bara ingin membuat pakaian seragam untuk keluarga besarnya.


Dari kalangan atas, itulah keluarga pemuda itu, ibunya memiliki beberapa kos-kosan, dan beberapa ruko untuk disewakan. Sedangkan ayahnya sendiri seorang petinggi militer, memiliki beberapa usaha sampingan.


Bug...


Suara pintu mobil ditutupnya, mereka mulai berjalan memasuki rumah. Semua anggota keluarga besar Bara ada disana, termasuk ibu dari pemuda itu.


Wanita paruh baya yang dengan bangga merentangkan tangannya,"Nindy..." ucapnya tersenyum mencium pipi kanan, pipi kiri, calon menantu idamannya.


"Tante apa kabar?" gadis itu tersenyum ramah, hanya sekedar basa basi.


'Ini calon menantunya?' 'Tidak, cuma teman dekat Bara, tapi mereka sebenarnya saling suka, masih malu-malu saja. Biasa anak muda...' Bibi menyebalkan ini, pasti akan berkata begitu dengan wajah malu-malu, membuat semua orang salah paham... batin, Nindy sudah sering mengalami hal serupa kala, ibu sahabatnya itu datang ke butik bersama teman atau keluarganya.


Dan benar saja ...


"Cantik, calon menantunya ya?" tanya salah seorang kerabat Bara.


"Cuma teman dekat Bara..." kata-katanya terhenti, sedikit berbisik bagaikan malu atau menyembunyikan sesuatu,"Mereka sebenarnya sudah saling suka, cuma masih malu-malu..."


Benarkan... kesal Nindy dalam hati berusaha tetap tersenyum, mulai mengeluarkan buku design, katalog, catatan, serta alat ukurnya. Berharap bisa dapat segera keluar dari semua orang yang mulai mengelu-elukannya.


"Kerja dimana?" tanya salah seorang kerabat lainnya.


"Dia punya usaha sendiri, butiknya sudah ada tiga cabang," jawab ibu Bara tertawa kecil, bangga.


"Bukan milikku, hanya separuh sahamnya diberikan almarhum kakak iparku. Bagaimana dengan ini?" ucapnya masih sibuk memperlihatkan model katalog yang cocok.


"Desainmu, semuanya bagus-bagus," salah seorang kerabat Bara terlihat kagum.


"Terimakasih..." ucapnya tersenyum.


***


"Mungkin dia sudah menikah..." Brandon menghela napas kasar.


Plak...


Area belakang kepalanya dipukul, "Makanya!! Kalau dia bilang hubungan berakhir, jangan terima begitu saja!! Ikat dia dengan kata status pacar!!" Wilson menghela napas kasar, berjalan melewati putranya yang pesimis.


"I...iya!! Papa mau kemana!?" tanyanya berlari mengejar.


"Ke rumah mesin produksi cucu!! Menghadapi calon kakak iparmu!" teriak Wilson menghentikan taksi.


"Mesin produksi cucu!? Nindy itu wanita, bukan mesin!!" kesalnya mengejar sang ayah.


"Makanya hargai dia!! Jadilah suami yang baik kelak..." Wilson tersenyum, menghela napas kasar. Masih teringat di benaknya, kala dirinya bercerai dari mantan istrinya. Bukan suami yang baik? Dirinya tidak memiliki penyesalan setelah berpisah, karena telah berusaha membahagiakannya, telah berusaha menjadi suami yang baik. Namun, ada kalanya seberapa pun berusaha akan sulit jika kebahagiaannya berada bersama orang lain.


***


Butik adalah tujuan pertama dari Brandon. Satu tahun sudah... dirinya telah mengatur orang profesional untuk mengelola butiknya di Singapura. Mempersiapkan segalanya, hingga mobil kembali terhenti di depan area butiknya di negara ini.


Pegawai yang dikenalnya menunduk padanya, pemuda rupawan dengan kondisi psikologis yang lebih baik. Bagaikan charger yang sebelumnya rusak telah di perbaiki, mencari pasangan phoncellnya untuk diisi daya."Dimana Nindy...?" pertanyaan pertama yang keluar di bibirnya.


"Emmm... Nindy..." pegawai yang ditanyainya terlihat menunduk ragu untuk berucap. Mengetahui hubungan dua orang pemilik butik yang kini telah berubah status menjadi mantan.


"Dia dimana!?" tanya Brandon lagi, dengan nada yang lebih tinggi.


"Di...di rumah pacarnya. Orang yang sering mengantarnya pulang, kalau tidak salah namanya Bara. Ada pemesanan pakaian khusus dalam jumlah banyak disana!!" jawab sang karyawan gelagapan, menatap raut wajah tidak senang dari Brandon.


Satu tahun... dalam satu tahun aku sudah dilupakan? Lalu beralih pada tentara angkatan udara yang akan membawanya terbang ke langit ke 7? Tidak boleh!! Nindy-ku tidak boleh disentuh pria lain... geramnya, menggenggam kunci mobil pink-nya.


"Dimana alamat Bara api, menyebalkan itu!?" kesalnya berusaha tetap tersenyum.


"I...ini..." sang karyawan gemetaran menyerahkan kartu nama Bara.


***


Kesal tentu saja, pedal gas diinjaknya dalam-dalam. Kekasih? Itulah hubungan mereka, memakan kue bersama, mendengarkan musik bersama, saling melengkapi ketika membuat desain. Walaupun tidak pernah benar-benar berkencan karena di setiap tempat Glen selalu ada.


Bioskop, taman, bahkan apartemen Brandon. Glen akan duduk diantara mereka. Tapi tetap saja, dibelakang punggung Glen mereka masih bisa berpegangan tangan.


Sekarang melupakannya? Lebih memilih tentara angkatan udara? Anak petinggi militer?


"Aku tidak terima!!" teriaknya, menginjak pedal gasnya lebih dalam. Jelly nata de coco sudah benar-benar sehat saat ini, dengan berbagai konseling yang dilakukannya bersama psikiater satu tahun ini.


Hingga gerbang rumah besar terlihat, seorang penjaga ada disana,"Ada keperluan apa?" tanyanya.


"Aku ingin menjemput pacarku," jawabnya dari kursi pengemudi.


"Maaf, orang yang tidak memiliki kepentingan yang jelas, tidak boleh masuk..." tegas sang penjaga gerbang.


Brandon menghela napas kasar, berusaha bersabar, mengeluarkan suara Brenda,"Aku Brenda, dari DaNy butik, ini kartu namaku..." ucap sang pemegang sabuk hitam karate.


Sang penjaga mengenyitkan keningnya,"Ganteng-ganteng tapi ternyata belok..." cibirnya, mengijinkan Brandon masuk.


Senyuman di wajah Brandon menghilang. Setelah memarkirkan mobil, turun dari mobil pink-nya. "Apa dia menyukai pria penuh keringat yang memegang senjata...?" gumamnya, cemas mengingat tipe ideal kebanyakan wanita memang seperti Bara.


Bersambung