My Kenzo

My Kenzo
Anak Katering



Cindy melangkah keluar berjalan terpisah dengan George dan Sera. Surat perceraian sudah ada dalam map yang saat ini dibawanya. Wanita itu tidak menangis, sudah cukup baginya perasaan itu telah mati. Perasaan yang dibangunnya dengan susah payah.


Berusaha menerima cinta pria yang menyelamatkan nyawanya. Namun, pada kenyataannya pria itulah yang membuatnya hidup sendiri di dunia yang dingin selama lima tahun.


Lima tahun sudah, semenjak kelahiran putra kembar mereka. Mungkin semenjak itu juga hati George berpaling pada Sera, sang sekretarisnya.


Tidak pernah menyentuh atau peduli padanya lagi. 21% saham? Itulah yang sudah beralih ke tangan George, saat ini. Saham yang sejatinya milik Cindy, sesuatu yang diwariskan sang ayah.


Namun, 40% mungkin sudah cukup untuknya. Biarlah 21% saham yang direbut dianggapnya sebagai balasan telah menyelamatkan nyawanya 10 tahun yang lalu.


Lega? Hanya itulah perasaannya saat ini. Terbebas dari jeratan pernikahan yang menyakitkan. Wanita itu melangkah kembali, hendak memasuki mobilnya.


Tidak menyadari George yang terdiam terpaku menatapnya. Mencintai Cindy? Dahulu memang iya, perasaan itu benar-benar ada. Anak dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Seorang pemuda yang keluar dari kobaran api yang menyerahkan gadis cantik itu padanya.


George membawanya menuju ambulance, ayah dari sang gadis salah sangka padanya. Namun, saat itu George tidak membatah, menatap kecantikan anak dari atasan tempatnya bekerja. Mendekatinya perlahan, hingga menikahinya, namun entah kenapa setelah kehamilan anak mereka Cindy tidak semenarik dahulu lagi. Tidak pernah dapat memuaskannya lagi.


Kecantikan yang memudar baginya, saat itulah Sera hadir, menghangatkan harinya. Apakah perasaan cinta ini salah? Tidak, tidak salah karena Cindy bukanlah istri yang baik. Tidak pernah dapat mengurusnya.


Apakah memiliki sebagian kecil saham warisan almarhum mertuanya hal yang salah? Tidak, dirinya telah bekerja keras selama 7 tahun ini. Itu pantas didapatkannya, bahkan dirinya termasuk berbaik hati tidak mengambil lebih.


Merebut, jabatan komisaris walaupun telah bercerai, memiliki FIG Group apakah hal yang salah? Tidak, jabatan komisaris hanya pantas, dan berhak untuknya. Orang yang mengabdi selama 7 tahun, memimpin perusahaan hingga lebih berkembang.


Sebuah pembenaran yang aneh. Bunga secantik atau sesegar apapun suatu saat akan layu. Begitu pula wanita, secantik apapun suatu saat nanti rupa itu akan pudar. Hanya hati tulus yang akan tetap menganggapnya cantik bagaimana pun rupanya.


Memiliki saham? Menjadi pimpinan? Apakah salah? Tindakan benar, bagi orang yang tidak tahu malu. Tanpa kebaikan hati ayah dan anak itu mungkin George dahulu masih menjadi imigran ilegal, bahkan dideportasi. Membuat perusahaan lebih maju? Memang maju, karena kebijakan yang tidak menguntungkan karyawan kecil.


George memandang dunia dengan cara yang berbeda. Namun, ada perasaan sakit tersendiri kala, tubuh itu berbalik dengan tegas meninggalkannya. Wajah canggung Cindy penuh senyuman dan rasa terimakasih tidak ada lagi. Wajah canggung nya yang terbangun di kamar rumah sakit usai peristiwa kebakaran. Wajah canggung kekasih, serta istri yang melayaninya.


Kini kembali seperti semula, wajah tegas wanita kalangan atas anak pemilik perusahaan yang acuh tidak mudah didekati. Bagaikan perceraian, mengembalikan sosoknya yang dulu, wanita arogan yang tidak dikenalnya.


"George..." Sera menggengam jemari tangannya, menghentikan dari lamunannya.


"Em," George menoleh.


"Cindy akan menjual sahamnya, apa kamu akan ikut membelinya kembali!?" tanyanya.


George mengangguk, "Gajiku sebagai komisaris, aku simpan untuk ini. Kita beli setengahnya..." ucapnya tersenyum, membukakan pintu mobil untuk Sera.


Tidak ada yang salah, begitulah dalam hatinya. Perasaan sakit yang disimpannya, mungkin hanya karena rasa bersalah. Rasa bersalah? Mereka saling mengenal selama 10 tahun. Cinta tidak pernah tumbuh di hatinya? Atau perasaan sebenarnya tertutup ambisi dan keserakahan...


***


Cindy menghapus rasa sakitnya, meninggalkan dokumen di dalam mobil. Menyusuri area kantor perusahaan yang didirikan almarhum ayahnya. Perusahaan yang akan runtuh diambil alih oleh Kenzo.


'Ini putriku, mulai sekarang dia akan menduduki jabatan manager,' ucap sang ayah saat itu pada karyawannya, 'Cindy, belajarlah perlahan, tapi ingat!! Ada yang lebih penting dari perusahaan yang ayah dirikan ini. Keluarga...'


Cindy hanya tersenyum setelah puas berkeliling, melanjutkan perjalanannya, kembali melajukan mobilnya ke tempat dimana dirinya untuk pertama kalinya diberikan kesempatan oleh sang ayah, mengatasi masalah yang cukup sulit. Masalah di pabrik, tempatnya bertemu untuk pertama kalinya dengan George.


Perasaannya untuk pria itu sudah mati, namun dirinya hanya ingin menelusuri langkah masa lalunya. Untuk dapat menghapus sepenuhnya luka lamanya. Hanya ingin...


"Bu Cindy..." seorang pria paruh baya memanggilnya.


"Dahlan..." ucapnya tersenyum, mengingat salah satu karyawan terbaik disana.


"Sepuluh tahun tidak ketemu, bu Cindy sudah berkeluarga sekarang, kita bicara disana saja," pria yang cerewet itu membimbingnya menuju tempat makan siang karyawan.


Tempat yang tidak begitu besar di pabrik tersebut. Pria itu mengambilkan teh hangat untuknya. Sejenak menghela napas kasar, sebenarnya enggan untuk bicara. Namun, Cindy sudah disini, ini harus dikatakan olehnya, selaku karyawan biasa yang tidak dapat banyak bicara kepada atasannya.


"Bu, karyawan berencana menuntut perusahaan," ucapnya tertunduk, langsung pada pokok pembicaraan.


"Menuntut?" Cindy mengenyitkan keningnya.


Dahlan mengangguk,"Semenjak kematian tuan (ayah Cindy) keamanan karyawan tidak diperhatikan, bahkan jaminan kesehatan tidak diberikan. Jika terlalu banyak bicara, kontrak kerja akan diputuskan sepihak,"


"Tapi George mengatakan..." kata-kata Cindy terhenti.


Dahlan menghela napas kasar,"Perusahaan makin berkembang, tapi sudah berapa karyawan pabrik yang jatuh sakit? Banyak, setelah itu diberhentikan sepihak, merekrut karyawan baru,"


"Ada seseorang yang bersedia membiayai persidangan dan pengacara untuk menuntut perusahaan. Jika tidak, selamanya karyawan kelas rendah ini akan menjadi korban," lanjutnya.


Kenzo... Cindy ikut menghela napasnya, mengetahui siapa dalang yang membiayai karyawan untuk menuntut perusahaan, mungkin memang lebih baik FIG Group diambil alih. Mungkin dengan begini, tidak akan ada karyawan yang menjadi korban lagi.


Mata Cindy menelisik, menatap seisi pabrik besar itu. Bukan satu-satunya pabrik FIG Group, apa semuanya sama? Memperlakukan karyawannya dengan buruk, berbeda dengan almarhum ayahnya yang menghargai perkerjanya.


"Saya mengatakan ini karena menghormati almarhum tuan. Maaf, kami harus menuntut perusahaan..." ucapnya tertunduk.


"Tidak apa-apa..." senyuman menyungging di wajah Cindy.


Dahlan kembali menghela napasnya,"Tidak disangka bu Cindy pada akhirnya menikah dengan George. Dia dulu karyawan yang baik, tapi kini menjadi pemimpin yang buruk, berbeda dengan almarhum tuan..."


"Omong-ngomong kamu sudah berterimakasih pada orang yang membawamu keluar dari kebakaran. Luka bakar di badannya lumayan parah..."


Cindy tertegun diam mendengarkan kata-kata Dahlan, luka parah? George tidak terluka sama sekali. Kenapa terluka parah?


"Setidaknya, sebagai rasa terimakasih, bantu pengobatannya hingga sembuh. Sekalian operasi plastik. Bu Cindy kan orang kaya..." lanjutnya bergurau.


"George tidak terluka," Cindy mengenyitkan keningnya, tidak mengerti.


"George? Yang membawa bu Cindy keluar anak ketering. Yang selalu membawa pesanan dari Mentari restauran... bu Cindy tidak ingat?" tanyanya, dijawab dengan gelengan kepala oleh Cindy.


"Almarhum tuan selalu mentraktir karyawan makan siang setiap hari sabtu. Anak ketering itu tiba-tiba menyiram dirinya dengan air, masuk kembali seorang diri. Keluar, dengan luka bakar parah, menggedong bu Cindy,"


Ingatan berputar dalam dirinya. Petugas katering? Pegawai restauran Mentari? Kenapa menolongnya? Cindy termenung sejenak, mengingat-ingat kejadian yang telah lama.


10 tahun yang lalu bukan waktu yang singkat. Hingga, satu ingatannya berputar. Pemuda itu, orang yang duduk di pojok ruangan menatapnya. Roy?


Bersambung