My Kenzo

My Kenzo
Musim Keempat : Aku Salah



"Kamu juga seorang ibu! Sekaligus juga seorang wanita! Kenapa kamu bisa berkata begitu!?" bentak Ratna meninggikan intonasi bicaranya.


"Kamu juga seorang ibu, coba bayangkan jika kamu berada di posisiku, memiliki seorang anak laki-laki yang dituduh menghamili seorang wanita hanya karena sembarangan memarkirkan mobilnya,"


"Satu lagi, karena aku seorang wanita, aku menghargai putrimu. Karena itu, agar kita sama-sama nyaman lakukan tes DNA sebelum pernikahan saat bayi masih ada di dalam kandungan," lanjutnya tersenyum tenang.


"Ibu, aku tidak..." kata-kata Grisella disela.


Ratna berfikir sesaat, yang dikatakan Amel mungkin benar. Jika ada di posisinya sebagai seorang ibu, mungkin akan sulit mempercayai tanpa adanya bukti nyata yang kuat."Aku setuju, kita lakukan tes DNA, untuk membuktikan anak dalam kandungan Grisella adalah anak dari putramu."


"Ibu!! Aku tidak setuju dengan tes DNA sebelum pernikahan!! Saat itu perutku akan sudah membuncit!! Aku malu!!" bentak Grisella pada Ratna, mengepalkan tangannya. Takut kebohongannya akan terbongkar.


"Kamu tidak memiliki pilihan, lakukan tes DNA sebelum pernikahan atau aku akan mengirim Ferrell ke negara lain untuk menghindari pernikahan..." Tersenyum tenang? Itulah yang dilakukannya, tidak terlihat ketakutan sedikitpun.


Grisella menunduk sejenak, uang yang diberikan Tio masih tersisa cukup banyak. Mungkin akan cukup jika hanya untuk menyuap orang-orang di laboratorium rumah sakit."Aku setuju! Ini memang anak Ferrell!!"


"Bagus, kita lakukan tes DNA di Singapura beberapa bulan lagi, agar lebih netral. Kita dapat memilih rumah sakitnya nanti saat dalam perjalanan..." ucapnya, tersenyum ganjil."Jika hasilnya ada kecocokan maka, kita dapat langsung berbelanja keperluan bayi disana."


"Singapura? Kenapa tidak disini saja..." ucap Grisella gelagapan.


"Supaya tidak ada kecurigaan salah satu dari kita menukar hasil. Kami hanya memiliki kantor cabang di sana, kalian juga tidak memiliki kekuasaan yang cukup. Ini kartu namaku, jika usia kandungannya sudah cukup aku akan menghubungi kalian kembali..." Kartu nama diberikan olehnya, semua berjalan sesuai keinginannya.


Grisella mengepalkan tangannya, Singapura? Apa uangnya akan cukup? Tapi bukan itulah masalahnya, dirinya tidak mengetahui rumah sakit mana yang akan menjadi tempat dilakukannya tes DNA.


"Aku menyetujui semuanya bukan tanpa alasan, jika itu benar-benar cucuku, kamu akan menjadi menantu sekaligus putriku. Akan aku beri ajaran dan didikan yang baik. Tapi jika janin dalam kandunganmu bukan cucuku, nama putraku yang sudah terlanjur tercoreng. Aku akan mengadakan konferensi pers untuk membersihkannya,"


"Menaikan kasus ini melalui jalur hukum. Bukan hanya penjara, tapi juga kerugian finansial yang tidak sedikit yang akan aku tuntut. Mungkin bisa mencapai jutaan dolar, karena harga saham W&G Company sempat menurun hingga 0,0012 persen, akibat kasus ini,"


"Jika ini hanya kebohongan seorang fans, maka wanita hamil miskin yang akan ada di penjara. Tapi jika ini cinta tulus seorang kekasih yang dihamili di luar nikah, aku pastikan akan membawamu ke keluargaku, bagaimanapun Ferrell akan mengelak... permisi..." Amel tersenyum, menunduk, menarik tangan Kamila untuk pergi.


"Grisella kamu memang mengandung anak Ferrell. Jadi tidak perlu takut..." ucap Ratna pada putrinya yang terlihat tertunduk pucat ketakutan.


"Tu... tunggu... jika ini bukan anak Ferrell apa yang akan bibi lakukan!?" tanyanya.


Amel menghentikan langkahnya, sedikit melirik."Aku hanya akan mengambil jalur hukum. Tapi berbeda dengan suamiku dan kakak-kakak Ferrell yang lain, mereka lebih brutal dari kamu fikirkan,"


"A...aku..." Grisella mengepalkan tangannya.


"Aku apa?" Amel mengenyitkan keningnya.


Grisella hanya terdiam sejenak bimbang ketakutan, tertunduk memilin jemarinya."Jika ini bukan anak Ferrell, bibi tidak akan berbuat buruk padaku kan..." ucapnya ragu.


"Grisella, kamu membohongi ibu!?" Ratna menatap putrinya yang masih saja tertunduk.


Amel menghela napas kasar."Sebaiknya aku pulang..." ucapnya melanjutkan langkahnya pergi meninggalkan rumah Ratna.


***


"A...aku tidak berbohong, aku hanya bertanya..." ucap Grisella menitikkan air matanya, mengepalkan tangannya. Ingin melanjutkan kebohongannya, pada satu-satunya orang yang membelanya.


Ratna menghela, napas kasar memegang pundak putrinya."Kamu tau ayah dan ibu ada diambang perceraian? Itu karena ibu ingin selalu berada di sisimu. Katakan dengan tegas bahwa ibu ada pihak yang benar..." pintanya dengan tangan gemetar. Menyadari perubahan sikap putrinya semenjak Amel meminta tes DNA sebelum pernikahan.


"Ini anak Ferrell dia..." kata-kata Grisella terhenti, Ratna menyelanya.


"Kapan kalian bertemu, tolong ceritakan pada ibu..." ucapnya penuh harap, akan mendapatkan kejujuran di sana.


"Aku bertemu di belakang panggung, juga..." Grisella masih tertunduk.


Ratna mengepalkan tangannya, selama ini dirinya enggan bertanya karena menyangka putrinya masih mengalami trauma psikologis. Tidak ingin memaksanya, tapi ini?


"Juga apa? Ceritakan pada ibu," pintanya.


Grisella mengepalkan tangannya, gelagapan."Aku, di club'malam, kami..."


"Club'malam!? Kamu mengatakan tidak pernah ke sana!?" Ratna kembali menghela napas, matanya memerah, air matanya terlihat hampir mengalir.


Ratna terdiam air matanya mengalir, cerita yang berubah dari sebelumnya. Dari kekasih diam-diam menjadi one night stand akibat di jebak. Sejak kapan putri tunggalnya yang paling dibanggakannya dapat membohongi ibunya sendiri?


Ibu yang memakluminya, memaafkan apapun kesalahannya. Tapi putrinya menganggap kehormatannya sebagai lelucon?


"Katakan pada ibu!! Pria mana saja yang pernah menidurimu!? Kenapa putriku bisa jadi seperti ini..." Ratna berteriak menjerit dalam tangisannya. Berlutut di hadapan putrinya yang masih terdiam duduk di sofa.


"Katakan!! Siapa yang membuat putri kebanggaanku berubah!!" lanjutnya.


Grisella menangis lirih, kali ini benar-benar air mata yang berasal dari dalam hatinya."Galuh, guru privat bahasa Inggris yang ibu sewa. Dia datang ke rumah, saat ibu dan ayah pergi ke luar kota selama tiga hari, menghadiri acara pernikahan bibi..."


"Dia membawaku ke club'malam, ka... katanya hanya untuk bertemu dengan temannya. Aku diberikan alkohol olehnya. Aku merasa terhina dan kesakitan, dia tidak membiarkanku pergi, menarikku ke hotel merobek pakaianku menggunakan cutter. Dia melakukannya berkali-kali mengancam dengan foto dan video saat melakukan hubungan pertama secara paksa dengannya,"


"Mulai saat itu kami melakukannya, hingga dia menikah dengan wanita lain pada akhirnya dan berhenti menjadi guru privat-ku," ucapnya tertunduk mengingat saat-saat terburuk dalam hidupnya. Dipaksa untuk bertemu bahkan di tengah malam, dengan ancaman sebuah video dan beberapa foto.


"Ibu..." tangisan lirih darinya.


Perlahan Ratna menghela napas kasar, memeluknya menangis bersamanya."Kenapa kamu tidak mengatakannya pada ibu? Ini sudah lebih dari satu tahun dari pernikahan bibimu..."


"Dia mengancamku untuk berbohong. Setelah itu aku terlalu malu untuk bercerita. Bahkan teman-temannya juga ikut melakukan..." lirihnya mengingat prilaku berhubungan menyimpang yang dialaminya. Remaja belia berusia 17 tahun, kala itu. Terjerat dalam sebuah perangkap yang tidak dimengertinya.


Ratna menyeka air mata putrinya."Katakan semuanya pada ibu, jangan pernah berbohong, betapapun memalukannya bahkan jika kamu yang salah. Ibu akan tetap melindungimu," ucapnya tersenyum tidak marah sedikit pun.


"Sekarang ceritakan semuanya yang terjadi..." lanjutnya, menuntun putrinya untuk berbaring di sofa. Menjadikan pahanya sebagai bantal.


"Ini kesalahanku, ibu tidak akan marah?" tanyanya dengan rambut disisir jemari tangan Ratna.


Ratna menggeleng."Ibu tidak marah, katakan semuanya. Buat dirimu lebih lega,"


Menyakitkan? Bukan karena putrinya yang berbohong. Tapi mendengar kejadian buruk yang dialaminya. Mungkin suaminya benar, putri mereka tidak mungkin berubah begitu saja. Anak cantik yang tidak pernah berbohong, itulah putrinya dahulu.


"Aku kembali ke club'malam, menghilangkan semua masalah dan penat juga ingatan buruk. Tentang Galuh yang pernah mengurungku di dalam ruangan melayani tiga pria sekaligus. Aku mulai mengganggap dicintai banyak pria adalah sebuah kebanggaan, ditiduri merupakan hal yang biasa. Aku tidak tau akan seperti ini... maaf..." gumamnya dengan air mata mengalir. Menatap ke arah ibunya yang berusaha tersenyum juga mengalirkan air matanya.


"Siapa ayah dari cucu ibu?" tanyanya pelan.


"Namanya Tio, tapi aku takut akan dicibir karena berbohong. Dia memberikan tawaran uang atau bertanggung jawab untuk menikah. Aku memilih uang, untuk membuat kabar miring tentang Ferrell, sebagian sudah aku gunakan untuk menyewa orang membuat komentar negatif. Ibu aku malu...aku ingin tetap menikah dengannya..." ucapnya lirih.


Ratna menggeleng."Ini tidak akan adil untuk anakmu dan untuknya. Dia memang menantu impian ibu, semenjak melihatnya di acara perjamuan bisnis. Karena itu ibu ingin kalian dijodohkan. Tapi, jika pun kamu mencintai pria lain dan menikah dengannya, ibu tidak akan malu. Karena kamu tetap putri kebanggaan ibu..." air matanya kembali mengalir, jemarinya menyisir rambut putrinya. Satu-satunya anak yang dapat dilahirkan olehnya, putri kebanggaannya.


"Ibu...apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanyanya memeluk tubuh Ratna.


"Kemasi barang-barangmu. Ibu punya tanah warisan kakekmu. Kita akan menjualnya..." jawaban Ratna tersenyum.


"Kita akan pergi ke mana? Semua orang akan membicarakanku! Bahkan di desa sekalipun! Aku hamil di luar nikah! Aku akan diusir di semua tempat!" suara tangisannya masih terdengar, mendekap ibunya lebih erat.


"Tidak semua daerah, wanita hamil di luar nikah akan dihujat. Teman ibu yang mengatakannya, di tempatnya ada cukup toleransi, kita akan tinggal sementara di tempatnya hingga anakmu dewasa..." ucapnya, mengelus punggung putrinya.


"Tapi ayah dan media..." Grisella tertunduk ragu.


"Buat video klarifikasi, akui kesalahanmu. Setelah itu kita segera pergi... jangan fikirkan tentang ayahmu dia akan menyusul," dustanya, melirik ke arah surat gugatan perceraian yang diletakkannya di dalam rak kaca.


Kamu benar dan aku salah... Erlang... batinnya, menggenggam jemari tangan putrinya.


***


Sementara seorang pria terdiam dalam sebuah apartemen. Menenggak sedikit minuman keras.


Masih mencintai istrinya? Tentu saja, ingin kembali bersamanya. Perasaan yang terjalin bertahun-tahun tidak lenyap hanya karena dua buah tamparan.


"Ratna... Grisella..." lirihnya seorang diri di dalam kamar yang gelap.


Bersambung