My Kenzo

My Kenzo
Tidak Tanggung



Amel menghela napasnya berkali-kali, menjelaskan juga melelahkan untuknya,"Kami tidak melakukan apapun. Orang gila itu cuma tidak bisa tidur, jika tidak ditemani,"


"Jadi kalian tidak melakukan apa-apa?" tanya Wina antusias.


Amel mengangguk, kembali berbaring, menatap langit-langit ruangan,"Selama dua tahun ini aku harus mengikutinya kemanapun dia pergi. Beberapa hari lagi dia akan ke Malaysia..." ucapnya.


"Malaysia? Kirimkan oleh-oleh untuk ibu...Ibu akan menjaga Sany dengan baik..." Wina terlihat antusias.


"Ibu tidak sedih? Tidak merindukanku?" tanya Amel dengan mata berkaca-kaca.


"Kamu meninggalkan rumah ketika SMU, sambil membawa beberapa kotak makanan dan uang tabunganmu. Mengatakan akan merantau ke kota lain, bekerja sembari kuliah, jangankan sering pulang, menelfon pun jarang selama 4 tahun. Tidak memikirkan ibu yang cemas di rumah. 4 tahun!! Yang mana lebih lama dengan 2 tahun..." Wina menghela napas kasar, kemudian tersenyum, memendam sesalnya.


"Maaf, kamu menerima pekerjaan aneh ini karena ibu ..." lanjutnya,


"Tidak apa-apa, ibu bekerja mati-matian untuk kami selama bertahun-tahun. Ini tidak seberapa," ucap Amel, menggengam jemari tangan Wina yang duduk di sofa sebelahnya.


Singgel parent dengan tiga orang anak, menyekolahkan mereka, memberi mereka makan dengan uangnya sendiri. Tidaklah mudah, setelah kematian Fero. Amel dan Glen menjaga Nindy. Sementara Wina harus bekerja menerima order jahit hingga larut malam.


Memasak, untuk mereka, mengurus rumah dan keperluan rumah. Memang cukup beruntung Nindy tidak begitu rewel ketika kecil, begitu pula Amel dan Glen, tidak pernah meminta apapun. Menjadi anak yang penurut, bagaikan ketiga anak itu memahami kehidupan sulit ibunya dari kecil.


Keluarga di bawah garis kemiskinan yang kompak. Tidak ada perebutan uang, makanan, atau mainan, hanya tawa di tengah kehidupan mereka yang keras. Hingga kini ketiga anak itu telah dewasa, ketiga anak yang menyayangi seorang Wina.


***


Taksi online berhenti di area depan gedung pengadilan. Amel yang mendekap Sany turun bersama Nindy dan Wina. Terlihat kegelisahan dalam raut wajah mereka.


Keluarga besar almarhum Alwi mulai berdatangan, menatap mereka penuh dendam bercampur rasa jijik. Mungkin dalam anggapan mereka, itulah keluarga seorang pembunuh.


Sebagian besar dari mereka datang menggunakan mobil walaupun bukan mobil berharga fantastis.


Surya menghentikan langkah mereka, menatap tajam,"Akan aku pastikan, Glen harus membusuk di penjara. Biar mendapatkan hukuman mati sekalian..."


Amel mengepalkan tangannya,"Kakakku memang membunuh, tapi dia menyelamatkan nyawaku dan adikku yang hampir dilecehkan..." ucapnya menatap tajam.


"Bagaimana pun, satu nyawa telah melayang, jaksa yang bertugas adalah kerabat kami. Dia berjanji agar Glen mendapatkan hukuman seberat-beratnya, bahkan jika bisa hukuman mati, karena pembunuhan berencana," Surya mulai tertawa kecil, tawa yang menghina.


"Memang kalian punya uang untuk menyewa pengacara? Atau... hanya mengandalkan LBH..." lanjutnya.


Nindy tersenyum, diam-diam remaja cerdas itu merekam segalanya menggunakan handphone yang dipegangnya,"Dia berjanji, tapi bagaimana caranya? Kakak tidak pernah berencana membunuh ayah (Alwi),"


"Bocah kecil, kamu tau apa, jika tidak ada bukti, kami akan membuat bukti sendiri..." ucap Surya penuh senyuman.


Handphone yang digenggam Nindy dalam posisi terbaik, segera dipergunakannya, mengirim rekaman yang baru rampung pada handphone Wina dan Amel. Bahkan mengunggah rekaman suara tersebut di media sosial.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Surya mulai curiga.


"Merekam pembicaraan paman," ucapnya dengan nada polos. Dengan cepat Surya merebut handphone Nindy kemudian membantingnya.


"Kamu fikir kamu pintar!? Sekarang tidak ada bukti lagi," ucapnya merasa menang."Tidak punya pengacara, lebih baik menyerah saja..."


Amel menghela napas kasar melirik ke arah adiknya. Setelah melihat nama pengirim pesan.


Dia memang jenius... Amel berdecak kagum dalam hatinya.


Kriit...


Koper dibawa oleh asistennya, pria paruh baya yang sering muncul di TV sebagai pengacara dengan bayaran tinggi, bahkan selebriti pun menggunakan jasanya.


"Maaf, apa anda nyonya Wina? Saya kemari selaku pengacara putra anda. Saya sudah mendapatkan data-data tentang kasus ini, namun saya ingin bicara lebih banyak dengan keluarga kalian..." ucapnya tersenyum.


Seberapa kaya orang gila itu hingga bisa menyewa pengacara dengan tarif tinggi seperti ini... Amel terdiam mengenyitkan keningnya.


Satu? Tidak, beberapa mobil lagi terhenti. Bukan satu, namun satu tim pengacara. Terdiri dari beberapa pengacara terkenal.


Kenzo benar-benar tidak tanggung-tanggung melakukannya.


"Kami akan membebaskan putra anda mengingat ini termasuk pembelaan diri demi menyelamatkan nyawa orang lain. Bahkan kami berniat menuntut balik, keluarga korban memasuki kediaman tanpa ijin, melakukan penjarahan. Mari kita bicarakan lebih rinci, di tempat lain, mungkin ada hal lagi yang dapat dijadikan bukti," ucap salah satu pengacara tersebut.


Amel menghela napas kasar, menatap beberapa orang yang hanya dapat dilihatnya di televisi kini akan berdiri membela kakaknya. Amel menyerahkan handphonenya, yang berisikan rekaman percakapan yang dikirimkan Nindy. "Bukti berharga untuk mengganti jaksa yang menangani kasus ada disini," ucapnya.


Surya tertegun diam dengan wajah pucatnya, tidak dapat berkata-kata, tuduhan penjarahan? Apa akan menjeratnya?


Amel perlahan memasuki gedung besar di hadapannya bersama keluarga dan beberapa pengacara sewaan Kenzo.


Membunuh adalah perbuatan salah, namun kakak telah menyelamatkan nyawaku. Berkorban untuk keluarga kita, kakak... gumamnya dalam hati tidak dapat membenarkan perbuatan Glen, namun juga tidak dapat menyalahkannya.


Nyawa dirinya selamat berkat sang kakak, masa depan sang adik tidak hancur juga karena sang kakak. Bahkan ibunya tidak perlu hidup dalam ketakutan lagi.


Haruskah dirinya bersyukur orang itu sudah mati? Amel benar-benar merasa bimbang saat ini. Jemari tangan Nindy menggengamnya, menatapnya seolah saling memberikan kekuatan. Glen tidak sengaja melakukannya, hanya untuk menyelamatkan mereka. Keluarga yang dikasihinya...


***


Persidangan berlangsung alot, Glen hanya tertunduk ketakutan dengan wajah pucat. Kasus yang pada persidangan sebelumnya hanya diambil oleh LBH, kini kembali diambil alih oleh tim pengacara, yang terdiri dari beberapa pengacara terkemuka. Hingga pada akhirnya sidang yang berlangsung lama itu berakhir dengan putusan hakim.


Glen dinyatakan bebas menurut pasal 49 ayat 1 berbunyi: "Tidak pidana, barang siapa melakukan perbuatan pembelaan terpaksa untuk diri sendiri maupun orang lain, kehormatan kesusilaan atau harta benda sendiri maupun orang lain, karena ada serangan atau ancaman serangan yang sangat dekat, pada saat itu yang melawan hukum"


Glen menangis saat itu mendengar keputusan hakim. Tertunduk, dirinya tau perbuatannya salah, namun jika untuk menyelamatkan keluarganya semua akan dilakukannya. Kedua orang adik yang dicintainya, serta ibu yang dikasihinya.


Pahlawan? Apakah dia pahlawan atau pembunuh? Glen hanya dapat tertunduk sembari menangis tiada henti.


***


Sebuah pesan masuk di handphone Amel yang tengah menitikan air matanya. Dari seorang pemuda yang menyebalkan.


Amel mengusap air matanya, pergi keluar ruang sidang, menitipkan Sany pada ibunya. Berjalan ke area parkir bawah tanah pengadilan tersebut. Area yang cukup sepi, Amel melangkah perlahan.


Suara tangisan terdengar samar-samar, seorang pemuda rupawan tertunduk disana. Perlahan Amel mendekatinya, "Aku tidak berhasil menyelamatkannya," gumamannya setelah membawa seorang ibu hamil ke rumah sakit, di tengah perjalanannya ke pengadilan.


Ibu hamil yang tidak dapat diselamatkan nyawanya. Hanya sang bayi yang selamat, telah dijaga pihak keluarga saat ini.


Kenangan buruk tentang cerita kematian almarhum ibunya berputar. Tangan pemuda itu mengeluarkan darah, mungkin setelah memukul dinding berkali-kali, menghukum dirinya sendiri.


"Menyelamatkan siapa?" Amel melangkah lebih dekat lagi. Namun Kenzo menarik jemari tangannya, memeluknya erat.


Perlahan melonggarkan pelukannya, menatap wajah Amel lekat. Matanya sayu tanpa semangat hidup sedikitpun, wajah Amel ditangkupnya mencium bibirnya. Melampiaskan rasa dukanya.


Amel membulatkan matanya terkejut, perlahan mata itu tertutup entah kenapa. Membiarkan Kenzo menjelajahi bibirnya, jas pemuda itu dicengkram nya erat...


Bersambung