
Mobil miliknya mulai terparkir di Queen restauran. Gilang berlari kecil keluar dari mobil, menatap keberadaan Frans disana yang telah menunggunya.
Menunggu? Bukan hanya restauran, tempat itu juga hotel, tempat Frans menginap selama berada di negara ini. Duduk diam tanpa memesan apapun dengan tenang.
"Bagaimana? Sudah ada informasi?" tanyanya, mulai duduk.
"Akan aku jawab, dimana keberadaan Amel, tapi temani aku malam ini. Fikiranku sedang suntuk," Frans tersenyum, mulai mengangkat tangannya memanggil waiters.
"Kenapa tidak katakan sekarang?" tanya Gilang, menghela napas kasar mencoba untuk bersabar, meraih buku menu.
"Aku tanya sekali lagi, kamu akan memilih memberi ucapan selamat pada Kenzo atau mengetahui keberadaan Amel dariku!?" kesempatan terakhir bagi Gilang, pemuda itu akan menyayangi sang kakak atau tidak.
"Aku sudah mengirim ucapan selamat pada Kenzo. Katakan dimana keberadaan Amel..." keputusan buruk yang diambilnya.
Frans sudah cukup geram dengannya, entah kenapa wajah tidak berdosa itu, sangat tidak disukainya."Kita pesan makanan dulu, bermain biliar, kemudian aku akan mengatakan keberadaan Amel padamu..." janjinya, mulai memesan makanan.
***
Tema garden party? Acara itu telah usai, hanya sampai pukul 10 malam. Mengingat mereka yang hanya mengadakan private party, perlahan melangkah menuju mobil yang telah dihias.
Mobil yang tidak begitu mewah, melaju meninggalkan daerah perkotaan.
Villa? Itulah tujuan mereka, Kenzo benar-benar menyiapkan segalanya, membeli sebuah villa, sebelum pernikahan. Tidak tinggal menetap, namun saat ini dirinya memiliki keluarga, harus memiliki tempat untuk berteduh di manapun mereka berada.
Beberapa jam perjalanan mobil terparkir juga ...
"Ini?" Amel mengenyitkan keningnya, menatap dari jendela mobil.
"Aku membelinya, jika sedang tidak ditempati kita dapat menyewakannya. Tapi jika ingin berlibur, kita dapat membawa ke 8 anak kita kemari..." Kenzo berucap penuh senyuman, membukakan savety belt yang dikenakan Amel.
"Delapan? Bukannya 6?" tanyanya tidak mengerti.
"Anak angkat kita 6 orang, dan sepasang anak kembar yang akan ada di perutmu..." Kenzo menggigit bagian bawah bibirnya sendiri, menatap tajam pada gadis yang dicintainya.
"Aku akan..." kata-kata Kenzo terhenti. Menatap wajah pucat Amel.
"Apa akan sakit? Bagaimana jika tidak bisa? Bagaimana caranya?" tanyanya ragu.
"Kita akan belajar bersama-sama..." Kenzo tersenyum, berjalan keluar dari mobil, membukakan pintu mobil untuk Amel.
Menariknya keluar, mengecup bibirnya sekilas. "Jangan takut..."
Gadis itu hanya mengangguk, mengikuti langkah suaminya. Punggung kokoh itu terlihat, berjalan bergandengan saling mengeratkan tangan. Rasa tegang sejatinya tengah mengalir di perasaan mereka berdua.
Tidak ada istilah bridal style, yang ada canggung dan tidak tau harus berbuat apa.
Langkah demi langkah anak tangga dinaiki. Hingga akhirnya sampai di lantai dua, tidak ada lilin romantis, atau kelopak bunga mawar yang berserakan. Alasannya? Mereka pasangan yang simpel.
Tidak menginginkan kamar yang dihias indah. Hanya kebersamaan mereka berdua di tengah udara dingin. Lagipula apa fungsi lilin jika sinar bulan telah cukup. Apa fungsi kelopak bunga, jika akan membuat mereka bangun lebih awal untuk mengambil sapu membersihkan segalanya.
"Aku ingin mandi..." Amel tersenyum mulai melepaskan kain tipis di rambutnya serta, beberapa hiasan rambut. Duduk di meja rias, sementara, Kenzo membantunya menghapus makeup tipis yang melekat di wajah cantiknya.
"Kenzo, apa kamu masih merindukan kedua orang tuamu?" tanyanya, dijawab dengan anggukan oleh Kenzo.
"Aku merindukan mereka, ingin memiliki seorang ibu dan ayah..." jawabnya tertunduk, berusaha tersenyum."Mandilah..." resleting gaun Amel diturunkannya. Berjalan keluar dari kamar, entah kemana tujuannya.
Amel terdiam menatap pantulan wajahnya di cermin, menghela napas kasar. Jemari tangannya mengepal, ingin sepenuhnya menghapus luka di hati suaminya.
***
Beberapa puluh menit berlalu, perlahan Amel keluar, dari kamar mandi. Matanya menelisik, menatap keberadaan suaminya di balkon kamar, tirai tipis menyingkap wajah pemuda yang kini masih mengenakan jubah mandi dengan rambut yang basah.
Perlahan Amel duduk di meja rias, menyisir rambutnya yang basah, mengganti pakaiannya, menggunakan yukata tipis pendek, bermotif bunga.
Hingga, dirinya ikut melangkah mendekati sang pemuda."Sedang apa?" Amel tersenyum, meraih soda yang tersisa setengah dari tangan Kenzo.
"Bukan apa-apa..." Kenzo tertunduk, kemudian berusaha tersenyum."Aku berubah fikiran, aku sedang merindukanmu..." ucapnya mendekatkan wajahnya.
Jika aku berkata merindukan kedua orang tuaku, Gama, Dewi dan mama. Kamu akan iba padaku, maaf...tapi aku benar-benar merindukan mereka ...
"Aku juga, merindukanmu. Kita akan membangun keluarga kita sedikit demi sedikit jadi..." kata-kata Amel terpotong. Kenzo membungkam bibirnya, bertautan perlahan di bawah cahaya rembulan.
Air mata pemuda itu mengalir, sedikit bersinar melewati pipi putih pucatnya. Seakan ingin berbagi rasa sakitnya.
"Kenzo, kenapa mena..." bibir Amel kembali dibungkamnya, tidak membiarkannya bertanya. Perlahan, membimbingnya masuk ke dalam kamar dengan pencahayaan lebih redup.
"Aku mencintaimu...aku mencintaimu... aku mencintaimu..." bisiknya di leher Amel, kala bibir dingin itu menjelajah. Perlahan yukata dan jubah mandi putih, teronggok tidak beraturan di lantai.
Menyisakan dua tubuh, bertaut tanpa penghalang. Dingin yang menusuk dari hawa pegunungan bagaikan ribuan jarum di tubuh mereka. Perlahan seiring dua tubuh saling bersentuhan, hawa hangat terasa dengan deru napas tidak teratur.
Sentuhan perlahan dari tangan dingin seorang pemuda yang tiada hentinya, memaikan tubuh istrinya.
"Aku..." ucapnya dengan deru napas tidak teratur,"Tolong bahagialah bersamaku..." lanjutnya penuh kesungguhan.
Mata mereka sejenak saling bertatap, bibir yang kembali bertaut.
Tubuh Amel perlahan dibaringkan, lidah dan bibirnya menelusuri semua lekuk tubuh indah di bawahnya.
"Kenzo..." lenguhnya, kala tidak dapat menahan semua debaran yang diberikan. Logika? Semuanya lumpuh saat ini. Tubuhnya terasa menegang dan nyaman bersamaan.
Punggung pemuda itu dicakarnya tanpa sadar, begitu terhanyut menikmati semua sentuhannya.
Mulai saat ini, kamulah ibu dari anak-anakku. Kita akan membangun keluarga perlahan, keluarga yang aku mimpikan...
"Aggrrhh..." Amel memekik, namun bibir itu kembali didekatkan. Tidak ingin tubuh rapuh yang dijaganya, kesakitan, menenangkannya dengan pangutan perlahan.
Kenzo mengangkat wajahnya, tubuh mereka telah menyatu. Mata Amel di tatapnya lekat, kedua jemari tangan mereka saling menggenggam, deru napas tidak teratur bersautan.
"Maaf..." ucapnya, kembali membungkam bibir Amel, menggerakkan tubuh mereka senada. Mengantar suara decitan tempat tidur.
Punggung dengan banyak bekas cakaran, bukan rasa sakit kali ini. Namun perlahan telah berubah, mendamba menginginkan lagi dan lagi.
Masih terlihat jelas, tangan mereka saling menggenggam diatas sprei putih. Mengantarkan rasa kasih dan keinginan tubuh yang menjalar.
Tolong cintai aku, lebih dan lebih... Amel mengalungkan tangannya perlahan, menatap mata itu dalam setiap keinginan tubuh mereka.
Merelakan dirinya, merelakan tubuhnya, jika untuk pemuda yang telah memiliki hatinya.
Suara racauan yang bersautan, mengantarkan pada getaran panjang. Deru napas yang tidak teratur, kedua tubuh itu telah lelah.
Namun, hati mereka tidak kembali bertaut, saling menatap dan mendamba. "Aku..." Amel kembali terdiam tidak tau harus berucap apa.
Sakit, tadi benar-benar sakit, namun setelahnya? Wanita itu terpaku tidak dapat menjelaskannya, tubuhnya telah terkoyak, tapi merasa dicintai dan diinginkan. Getaran yang membuatnya menginginkan juga penyatuan.
Sementara Kenzo masih berada di atas tubuhnya."Amel Anggraini... tolong temani hingga aku mati..." ucapnya tidak menunggu jawaban, kembali menyapu bibir gadis dalam kungkungannya.
Jangan bicara tentang kematian, karena aku tidak akan melepaskanmu. Walau, suatu hari nanti malaikat maut menjemputmu, aku akan mengusirnya menggunakan sapu...
Bersambung