My Kenzo

My Kenzo
Mengikuti



Perlahan pesawat mulai lepas landas, seperti pemeran utama novel atau film, menatap jendela penuh kesedihan? Tidak, Amel kini tengah berdoa memejamkan matanya.


"Ya Tuhan, biarkanlah pesawat ini lepas landas dan mendarat dengan selamat," ucapnya komat-kamit, hingga akhirnya pesawat mulai mencapai angkasa. "Aku akan mati tanpa menyisakan mayat..." gumamnya yang terlalu sering menonton kasus kecelakaan pesawat.


Kenzo membuka kacamata hitamnya, sedikit melirik pada Amel. Headset dikeluarkan dari sakunya, memutar musik dari MP3. Menyelipkannya pada telinga Amel,"Jangan berisik aku ingin tidur..." ucapnya, berpura-pura acuh.


The Rain: Terlatih Patah Hati


Aku sudah mulai lupa, saat pertama rasakan lara


Oleh harapan yang pupus, hingga cidera serius


Terimakasih pada kalian, barisan para mantan


Dan semua yang pergi tanpa sempat ku miliki


Tak satupun yang aku sesali


Hanya membuatku semakin terlatih, oh


Terlatih patah hati


(Hadapi getirnya) Terlatih disakiti


Bertepuk sebelah tangan (Sudah biasa)


Ditinggal tanpa alasan (Sudah biasa)


Penuh luka itu pasti, tapi ku tetap bernyanyi


Lama tak kudengar tentangnya


Yang paling dalam tancapkan luka


Satu hal yang aku tau terkadang dia juga rindu


Terimakasih pada kalian, barisan para mantan


Dan semua yang pergi tanpa sempat ku miliki


Amel mulai terdiam menyenderkan tubuhnya pada kursi pesawat, memejamkan matanya. Hal yang ada di fikirannya? Mungkin dirinya sudah mulai terbiasa hidup tanpa kehadiran Gilang. Memikirkannya? Mungkin, namun seperti peringatan Gilang. Mencintai tidak diperbolehkan, karena hanya Amel satu-satunya sahabatnya.


Perlahan hatinya lebih tenang, melupakan ketakutan? Tentu saja, sekaligus melepaskan rasa sakitnya. Yang mungkin entah berapa kali telah dikecewakan.


"Frans..." panggilnya pada sang asisten. Frans menoleh padanya yang memang duduk bersebrangan dengan mereka di kursi kelas bisnis.


"Sama seperti kita, pastikan informasi tentang keberadaannya sulit di lacak," ucapnya.


"Baik tuan..." Frans menyanggupi.


"Satu lagi..." Kenzo mengutak-atik phoncellnya, memperlihatkan sebuah foto model rambut serta penampilan, yang di download-nya asal dari internet sebelum pesawat lepas landas.


"Tolong carikan style list untuk merubah penampilanku. Seperti di foto..." ucapnya.


Frans mengenyitkan keningnya, menatap Kenzo dengan tidak mengerti,"Apa tidak salah?" ucapnya refleks, menatap foto model pria culun.


Kenzo mengangguk,"Jika ingin disukai, maka aku harus berubah," ucapnya mulai kembali memakai kacamata hitamnya, menyenderkan tubuhnya. Hingga pada akhirnya tertidur.


Disukai? Dia mulai ingin disukai wanita? Tapi wanita mana? Apa suster Annette di rumah sakit? Atau Dokter Fatimah? Friska, anak pengusaha? Setidaknya sekarang aku yakin dia pria normal yang menyukai wanita... gumam Frans dalam hati, menebak semua wanita cantik yang diingatnya, kecuali Amel yang kini mulai tertidur di samping Kenzo tentunya.


Gajah gemuk yang tidak terlihat, padahal berada di depan matanya.


***


Sekitar 3 jam perjalanan, pesawat akhirnya mendarat di Bandara Internasional Kuala Lumpur.


Mata Amel menelisik, benar-benar untuk pertama kali dirinya pergi ke luar negeri. Berjalan mengikuti Kenzo yang melangkah cepat dengan kaki panjangnya.


"Tunggu... aku..." kata-katanya terhenti napasnya terengah-engah. Namun, pemuda di hadapannya tetap berjalan cepat.


Psikopat...aku tidak sarapan dengan cukup. Dan harus berjalan cepat mengejarnya? Benar-benar psikopat... geram Amel menahan kekesalannya.


Hingga sebuah mobil terlihat, salah satu mobil dinas milik W&G Company (perusahaan milik Kenzo) Kenzo dan Frans memasukinya...


Bug...


Menutup pintu membiarkan Amel, terpaku seorang diri,"Buka!!" ucapnya menarik pintu yang telah terkunci.


Jendela mobil dibuka Kenzo, menyodorkan sejumlah uang Ringgit Malaysia, serta alamat sebuah villa."Aku menyewa villa, ini alamatnya. Pergilah naik bus, halte sekitar 500 m dari sini, jika tidak ketemu cari di geogle map," ucapnya tersenyum tanpa dosa, menutup jendela mobil.


"B*ngsek!! Pria mesum!! Aku membencimu!!" teriaknya, penuh kekesalan, menatap mobil melaju penuh kekesalan.


Beberapa ratus meter mobil melaju, dari bandara tidak ada pembicaraan antara dirinya dan Frans. Hingga satu kata keluar dari mulutnya,"Berhenti!! Aku turun disini..." ucapnya tersenyum.


"Tuan, kita belum sampai di villa..." Frans mengenyitkan keningnya tidak mengerti.


"Aku bertemu wanita cantik di pinggir jalan, aku ingin mengikutinya. Kamu ke villa duluan..." ucap Kenzo tersenyum.


Frans menghela napas kasar, tidak mengerti tentang perubahan Kenzo, pemuda itu tersenyum, mengambil topi, masker, dan jaket lain dari kopernya. Berjalan pergi meninggalkan mobil, berlari kecil entah kemana.


Pemuda berhati batu itu mengatakan ada wanita cantik? Mata Frans menelisik, memang ada beberapa anak sekolah junior high school yang berlalu-lalang dekat sana,"PE-DO-FIL" cibirnya.


"Jalan!! Kita kembali ke villa!!" ucapnya kumat-kamit menahan kekesalannya. Menyangka Kenzo menyukai wanita yang jauh lebih muda.


Tapi sekali lagi, gajah di pelupuk mata tidak akan terlihat bukan? Pemuda itu berlari menuju halte terdekat. Mendapati Amel duduk disana, meminum air mineral dengan napas tidak teratur.


Tahan sedikit lagi, kamu pasti bisa. Maaf, aku melakukan ini untuk dapat bersama denganmu lebih lama... gumamnya, melirik Amel bagaikan penguntit.


Bus berhenti di hadapan mereka...


Amel menaikinya, membayar dengan uang pemberian Kenzo. Tidak menyadari Kenzo berada di belakangnya.


Amel mulai duduk sedangkan Kenzo berdiri di dekatnya. Hingga di halte berikutnya, seorang wanita hamil menaiki bus, berdiri di sana tanpa mendapatkan tempat duduk.


"Buk... apa ya?" Amel bergumam sendiri bingung harus memanggil apa,"Makcik," akhirnya satu kata itu membuat sang wanita hamil menoleh.


"Biar saya yang berdiri, buk, maksudnya makcik boleh duduk..." ucapnya mulai berdiri menggunakan bahasa gado-gado.


Kenzo menipiskan bibir menahan tawanya. Wanita hamil itu mulai duduk, sedangkan Amel berdiri.


Kebaikan hatinya, membuat pemuda itu tersenyum, berjalan mendekat. Berdiri tepat di belakang Amel. Masih dengan topi dan maskernya.


Krit...


Seekor anjing yang terlepas ke jalan membuat sang pengemudi bus mengerem mendadak.


"Aaaakh..." Amel yang tidak berpegangan erat, berguling, jatuh di lantai.


Kenzo mengulurkan tangannya membantunya berdiri,"Are you ok?" tanyanya, dengan suara samar yang ditutupi master. Mata itu diamati Amel, menerima uluran tangan tanpa mengucapkan terimakasih.


Berdiri tidak mengerti, mungkin hanya perasaannya saja. Namun benar-benar mirip, perawakan, dan matanya... Kenzo... gumamnya


Tapi semua pemikiran itu ditepisnya, beranggapan sang pria yang dianggapnya keji kini tengah makan dengan tenang. Dalam villa luas yang indah.


Hampir satu jam perjalanan, bus berhenti di halte tujuan Amel. Wanita itu menepuk-nepuk kakinya yang pegal, kembali berjalan menuju area villa.


Pemuda aneh itu masih mengikutinya tanpa disadarinya.


Jalan sepi yang luas, dedaunan kecil berguguran. Kenzo tersenyum, masih mengikuti langkah demi langkah wanita gemuk yang sesekali merajuk mengumpat tentang kekejiannya.


Bisa aku mengikutimu seperti ini saja? Kamu terlihat cantik, bukan hanya fisik tapi juga yang ada di dalam dirimu... sama seperti mama ...


***


Villa itu akhirnya terlihat, Kenzo berlari cepat, masuk melalui area belakang. Membuka seluruh pakaiannya, meraih jubah mandi. Frans hanya terpaku tidak mengerti dengan majikannya yang terlihat terburu-buru.


Adegan penuh gengsi pun dimulai...


"Baru sampai?" tanyanya pada Amel yang baru memasuki pintu depan, meminum segelas air dingin.


"Dasar!! Kamu menyebalkan!! Keterlaluan!!" umpatnya, berjalan cepat meninggalkan Kenzo.


Pemuda itu tertegun, menatap Amel menarik kopernya menuju lantai dua,"Frans, kamarku dimana?" tanyanya.


"Pintu hitam sebelah kiri..." jawab Frans, yang berpapasan dengan Amel.


Dia marah... apa dia akan membenciku karena ini ... fikir Kenzo.


Kriet...


Pintu dibukanya, Amel telah tertidur dengan posisi tengkurap. Masih memakai pakaian lengkap. Sepatu gadis itu dibukanya,"Lecet..." ucapnya.


Sang pemuda berjalan turun mengambil kotak P3K kembali melangkah ke dalam kamar. Luka di kaki gadis itu diobatinya perlahan.


Maaf... aku mencintaimu, aku harap kamu akan mengerti...


Bersambung