
"Ini sepadan, kita seri, sekarang keluar!!" bentakan keluar dari mulut Sera.
Amel mengepalkan tangannya, dirinya memang gemuk, memangnya kenapa? Kenapa hanya wanita cantik saja yang dibela dan diperebutkan banyak pria? Semua pertanyaan itu ditahannya. Mulai berjalan perlahan, hendak keluar dari ruangan George.
Namun, ketika membuka pintu, entah ada angin apa. Sera mendorong Amel hingga tersungkur di lantai, sembari tersenyum puas.
"Aku sudah bersabar, wanita sialan!!" umpatnya berteriak dengan tubuh basah, tersungkur di lantai, dengan segera bangkit. Tidak dapat menahan emosinya lagi. Mengambil wadah air pel, melemparkannya tepat ke kepala Sera.
Penyebabnya? Saat berhadapan dengan Keyla, Amel dapat menahan emosinya. Namun, entah kenapa dengan Sera tidak, mungkin kejadian beberapa hari yang lalu masih diingatnya. Ketika Kenzo pergi dengan Sera, ingat ini bukan cemburu. Amel hanya jealous.
Kenzo yang tengah berjalan menelusuri lorong, menghentikan langkahnya, mengenyitkan keningnya menahan tawa,"Phill (salah satu bawahan Kenzo), pergi ke lantai satu, bagian keamanan, matikan dan hapus semua rekaman CCTV..."
"Baik tuan..." ucapnya, kembali berjalan menuju lift.
Kenzo menghela napas kasar, "Aku akan menghabisi mereka kali ini..." gumamnya tersenyum, melangkah menuju tempat ruangan Amel tersungkur dan kini kembali masuk.
***
"Kepalaku sakit!! Honey..." Sera merengek, memegangi pelipisnya yang sedikit berdarah, terkena wadah bekas air pel.
"Kamu yang mulai duluan!! Aku sudah bersabar, dari tadi!! Aku..." kata-kata Amel terpotong.
"Aku akan menuntut mu secara hukum!! Wanita tidak bermoral!!" bentak George pada Amel.
"Aku...aku akan..." Amel tertunduk mengepalkan tangannya, tidak memiliki koneksi, bukan dari kalangan atas, memiliki rupa yang tidak menawan. Sekali? Tidak, hal ini pernah terjadi padanya, bahkan dari sekolah dasar. Entah kenapa, orang yang tidak akan melawan atau balas dendam sepertinya menyenangkan untuk diganggu.
Tidak pernah ada yang melindunginya, bahkan dahulu sahabatnya Gilang tidak mempercayai kata-katanya. Bodoh bukan? Karena diam menyenangkan untuk dimaki. Karena baik hati, didorong pun tidak apa-apa. Karena jelek, hatinya akan sama busuknya, hingga tidak ada orang yang membela atau mempercayai kata-katanya.
"Wah... ada keributan disini..." suara makhluk penindas menyebalkan itu terdengar dari pintu yang terbuka.
Ketiga orang yang berada di dalam ruangan menoleh, Kenzo datang diikuti beberapa orang. Dengan tidak tau malunya, pemuda itu berjalan, duduk di kursi komisaris.
Menatap tajam pada Sera dan George yang duduk di sofa.
"Siapa kamu?" George meninggikan intonasi bicaranya.
"Calon pemilik perusahaan yang baru, pemilik W&G Company, Kenzo..." jawabnya tersenyum."Frans berikan bunga dan coklat padanya..." lanjutnya.
Frans mengenyitkan keningnya, menatap pada Sera... Kenzo menyukai wanita ini? Body-nya lumayan, tapi kenapa tidak menyukai brand ambassador produk kita saja? Lebih cantik dan bodynya juga lebih bagus... fikir Frans salah paham, berjalan ke arah Sera, melewati Amel yang tertunduk sembari menangis, tidak dapat membela diri.
Sera tertegun, office boy yang dikejarnya ternyata bos dari perusahaan besar. Pria rupawan yang lebih cocok bersanding dengannya dari pada seorang George.
Bahkan mempersembahkan bunga dan coklat untuknya. Jemari tangannya hendak menerima, namun terhenti sejenak,"Sera dia akan menghancurkan perusahaan ini!!" George membentak.
Wanita itu seakan tidak peduli,"Aku menyukainya dan dia menyukaiku!!" Sera merebut bunga dan coklat dari tangan Frans dengan cepat.
"Sera!! Kita sudah lama bersama dan..." kata-kata dengan intonasi tinggi dari mulut George terpotong.
"Tidak peduli apapun, aku sudah menyukai orang lain!! Benarkan Kenzo..." ucap Sera dengan cepat, memiliki kepercayaan diri yang tinggi.
"Frans, kamu salah orang..." kata-kata itu yang malah keluar dari mulut Kenzo.
"Kamu dengar sendiri kan dia salah orang," Sera yang mengulang kata-kata Kenzo tanpa mencerna artinya mengenyitkan keningnya tidak mengerti,"Salah orang?" tanyanya lagi memastikan pendengarannya, dengan wajah pucat.
Frans menatap ke arah Imposter gila,"Salah orang?"
Salah orang? Siapa lagi wanita di ruangan ini... tidak mungkin Amel kan ... iya tidak mungkin kan... fikirnya.
Semua orang menoleh pada Kenzo menatap tidak mengerti,"Berikan pada Amel..."
Dan benar saja bagaikan tersambar petir rasanya, Kenzo menyukai si buluk? Menyukai wanita gemuk? Orang gila itu jatuh cinta pada Amel.
Suasana hening, hanya Frans yang mulai bergerak, meraih bunga dan coklat dari tangan Sera.
"Setelah ini kita makan di restauran Itali," ucapnya tersenyum pada Amel.
Amel menoleh pada Kenzo menghapus air matanya sendiri menatap haru. Bahkan Kenzo berpura-pura menyukainya di hadapan umum untuk mempertahankan harga dirinya. Untuk pertama kalinya dirinya dibela dari pembullyan, jika difikir-fikir memang hanya Kenzo si penindas, playboy, psikopat, gila yang pernah membelanya.
"Iya, kita makan malam..." Amel meraih bunga dan coklat, menitikan air mata penuh haru kali ini.
"Kemarilah..." Kenzo menarik kursi lain di dekatnya, agar Amel duduk disampingnya.
Amel melangkah berjalan dan duduk di sampingnya tanpa ragu. Wajahnya nampak tersenyum, tidak tertunduk lagi. Benar-benar suatu keajaiban makhluk penindas ini bersedia berpura-pura menyukainya.
Berpura-pura? Mungkin itu hanya anggapan Amel. Siapa yang akan tahu isi hati manusia.
"Kita mulai saja, aku ingin menunda niatanku membeli seluruh saham perusahaan ini..." ucap Kenzo terlihat tidak senang.
Mengambil sekaleng soda berwarna bening dari kantong jasnya, membuka, kemudian meminumnya.
"Tapi kamu sudah menghancurkan perusahaan ini!! Kerugian..." kata-kata George disela.
"Makin lama aku mengambil alih. Maka makin besar kerugian yang harus kamu tanggung, makin jatuh juga harga sahamnya. Aku ingin berbaik hati dengan datang lebih awal. Tapi apa yang kalian lakukan!?" bentaknya murka.
"Kenzo, bukan seperti itu, Amel yang menyiramku duluan, kamu lihat sendiri kan aku berlumuran orange..."
Prang...
Sebuah pajangan keramik hancur berantakan, membentur dinding. Hampir satu sentimeter mungkin jaraknya melewati wajah Sera. Membuat wanita itu seketika pucat pasi, ketakutan.
"Apa aku menyuruhmu bicara? Apa aku memberimu kesempatan bicara?" tanyanya menatap tajam.
Jemari tangan Sera gemetaran, melirik pajangan keramik yang berserakan di lantai.
"Kenzo, kamu memasuki perusahaanku!! Menghancurkannya dari dalam dan sekarang ini perlakuan mu!? Psikopat!! Br*ngsek!!" George yang tidak dapat menahan emosinya lagi, menarik kerah pakaian pemuda yang duduk di kursi komisaris.
Namun, Kenzo hanya tersenyum, senyuman yang terlihat keji,"Hajar dia..." instruksinya.
Seorang pengawal pribadinya masuk, seorang mantan tentara bayaran, pria yang bahkan dapat mengalahkan belasan orang, seorang diri.
Tangan George dicengkram nya kuat. Hingga berteriak kesakitan.
"Buat dia cacat seumur hidup..." senyuman menyungging di wajah Kenzo.
Jemari tangan Frans gemetaran saat ini. Mencoba menghubungi psikiater, sembari merogoh sakunya mengambil obat-obatan yang biasa dikonsumsi Kenzo. Mengetahui majikannya berada dalam kondisi terlalu emosional.
Membuat George cacat seumur hidup? Perbuatan melanggar hukum secara terang-terangan dengan banyak bukti dan saksi. Tugas Frans salah satunya mungkin menghindarkan Kenzo dari perbuatan melanggar hukum.
Namun apakah psikiater dapat sampai tepat waktu? Mungkin tidak, maka habislah...
Satu hal yang tidak disadari Frans semenjak kehadiran Amel. Pemuda itu tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan, atau menemui psikiater lagi.
Amel menarik, ujung jas Kenzo dengan ragu,"Cacat seumur hidup? Kenzo mereka hanya menyiramku,"
Amel kamu cari mati, tuan mungkin akan menamparmu... gumam Frans dalam hati, bergerak cepat, ingin menghentikan tindakan impulsif Kenzo. Akibat bipolar-nya, tangannya bergerak cepat hendak memegangi majikannya.
Namun...
"Lalu kamu inginnya bagaimana?" tanyanya tersenyum pada Amel. Emosi yang benar-benar menghilang.
Seketika Frans yang hendak memegangi tubuh Kenzo terjatuh, akibat menghentikan gerakannya di tengah jalan.
Jadi Imposter gila benar-benar menyukai Dugong... gumamnya dalam hati, mulai duduk di lantai. Merutuki tingkah bodohnya, membatalkan panggilannya pada psikiater.
Bersambung